
Gabriela duduk sambil memegang uang cash yang kemarin belum jadi dia serahkan pada Marco. Gimana mau diserahkan, belum lagi gabriela bicara Marco sudah menyumpal bibir istrinya dengan ciuman panas. Kan Gabriela mana bisa lagi berkutik kalau sudah begitu. Mana tidak bisa melawan lagi. Ditolak marah, kemarahannya kan selalu membuat Gabriela takut sekaligus merinding dengan tatapan iblisnya itu.
Tapi entar dulu kenapa pak Haris melarang ku tadi memegang apapun di rumah ini ya. Apa itu tadi katanya? nona silahkan naik saja, anda harus istirahat yang banyak. Jangan menyentuh apapun pekerjaan baik di dapur maupun disini. Lah kenapa? Gadis itu protes. Gadis? Gabriela masih gadis gak sih. wkwk
Saat Gabriela melakukan protes yang berat pak Haris hanya menghela nafas. Anda kan nyonya dirumah ini lantas apa yang mau anda lakukan. Ucapan pak Haris membuat Gabriela terpingkal. Apa sih pak Gabriela menutup mulutnya dengan gerakan imut. Pak Haris mengernyit heran karena Gabriela memukul lengannya dengan keras.
Aku itu istri berkedok budak tau. Aku bahkan lebih hina dari sampah. Ahh jangan Gabriela! jangan rendahkan dirimu. Cukup fakta aja yang berbicara kau jangan ikut ikutan.Tapi aku kesal disebut nyonya.
Pasti manusia alien itu menyuruh pak Haris agar melarang ku tapi jangan sebut aku Nyonya jugalah! aku kesal tau!
Hehehe pak aku hanya mau membantu kak Lisa sebentar kok. Gabriela masih ingin melanjutkan kemauannya. "Tidak nona tuan Marco akan marah besar jika mengetahui nona bukannya istirahat malah berkeliaran"
"Tapikan manusia alien itu tidak dirumah pak" Gabriela menutup mulutnya,keceplosan.
Jadi nona menganggap tuan Marco alien!
"Pak jangan kasi tau ya!" aaahh bagaimana ini aku keceplosan. Mampus aku kalau ketahuan mengatai raja sebagai alien. "Istirahatlah nona, Sekitar satu atau dua jam lagi tuan Marco akan pulang". Tuan marco akan pulang itu artinya aku harus siap siap, untuk apa? ya untuk melayaninya lah. Aku kan budaknya. Wajah Gabriela kesal. Pak haris membungkukkan kepala ketika melewati Gabriela. Gadis itu melirik ke arah dapur sebentar sebelum dia naik ke lantai dua.
Dan disinilah dia sekarang. Gadis itu masih duduk walau lamunannya sudah ambiyar. Hah! Enak ya jadi orang kaya bisa punya uang sebanyak ini. Gabriela memegang uang di tangannya. Rencananya uang itu akan kembali nanti pada tuan marco. Setelah pulang kerja, habis itu dia mandi,makan malam nah pas mau tidur saja uang ini ku serahkan. cocok kan.
Gabriela duduk di sofa kamar. Sore ini kamar terlihat sudah normal kembali. Bersih dan juga rapi, tadi dia juga sudah memasukkan sprei ke dalam mesin cuci. Aku tidak mau
siapa pun melihat bercak itu.
__ADS_1
Aku bahkan malu walau hanya melihat wajahku di cermin. Gabriela berjalan menuju kamar mandi. Dia melirik lehernya di cermin. Bercak merah itu masih ada. Apa pula ini tanda kepemilikan katanya semalam! gadis itu mengusap bekas merah di lehernya namun bukannya hilang malah semakin merah. Aaa dia alien atau drakula gak sih.
Setelah lama di kamar mandi dia kembali ke kamar dengan wash lap kecil di tangan. Sambil mengompres leher
Gabriela membuka laci berniat akan memasukkan uang ke dalam namun suara bariton mengejutkannya. "Apa yang kau lakukan?" gadis itu refleks menoleh ehh si alien sudah pulang ternyata. Ini masih jam berapa tadi kata pak Haris satu jam atau dua jam mana yang benar.
Dia buru buru berdiri. "Selamat sore tuan maaf aku tidak tau anda sudah pulang".
Eh kenapa dia melepaskan sepatunya sendiri?
Pake sendal sendiri juga. Baguslah kau sudah mandiri. Gabriela tadinya akan membungkuk melakukan seperti yang dia lakukan biasanya.
Nah gitu dong! sana masuk ke kamar mandi dan mandi sendiri. Anak pintar!
Gabriela bertepuk tangan dalam hatinya melihat marco masuk kedalam kamar mandi. Dia akan menyiapkan baju rumahan Marco.
Apa Sih bikin kaget saja. Gabriela tidak jadi masuk kedalam walk in closet. Sialan! dia memaki sambil membuka pintu kamar mandi. Marco berdiri belum juga membuka baju atau apapun. Huh! mandiri apanya.
"Kau sudah mulai lupa ya tanggung jawabmu?" Marco menyeringai. Ketakutan dan wajah kesal Gabriela adalah hiburannya.
"Bukan seperti itu tuan" Aku mana tau kau belum buka baju gila! makanya ngomong! dasar php!
"Lama lamakan saja geby" Suara datar penuh sindiran. Dasar! Gabriela mulai membuka kemeja Marco. Ini bajunya yang kekecilan atau ototmu yang berlebihan. Setelah kemeja itu lepas Gabriela terlihat ragu untuk membuka ikat pinggang Marco. Demi tuhan aku jantungan, apa benar aku akan membuka celananya? "Tuan?" lebih baik bertanya dulu. "Apa tuan yakin saya akan membuka semua pakaian anda?"
__ADS_1
"hm"
Ya tuhan iya? Aku yang akan membuka semua bajunya ah memalukan. Gabriela mulai membuka ikat pinggang Marco sambil memalingkan muka. Laki laki itu tergelak. "Kenapa wajahmu merah geby?" Gadis itu tersentak hah! dia buru buru mengusap wajahnya. "Apa yang kau pikirkan geby?" Kumohon tuan kali ini saja bukalah baju anda sendiri dan sana mandi sendiri. Biarkan aku menetralkan jantungku di luar.
Bagaimana ini tuan marco meraba pinggangku naik ke punggungku aku gemetar. Mau kutepis nanti dia marah. Sepertinya Gabriela sudah cukup tau apa yang dibenci Marco.
"Padahal kau sudah menikmatinya semalam tapi kau pura pura lupa" Apa! hei kau jangan mengarang siapa yang menikmatinya gila. Aku hanya takut kau marahi makanya aku diam.
Tidak terima Marco yang duluan memulai dan juga menginginkan hingga membuat sedikit pemaksaan namun dia cuci tangan agar terlihat cool. Kurang ajar!
Gabriela buru buru melepas ikat pinggang Marco habis itu dia berjalan menuju pintu. Rasanya malu sekali harus melihat tubuh sempurna tuan Marco.
"Hei tugas mu belum selesai" Marco menghentikan langkah Gabriela sambil menunjuk pakaian terakhirnya yang masih menempel. Dia tergelak lagi saat Gabriela berjalan mundur. Marco benar benar memaksimalkan kesempatan ini. Kedua tangannya sudah mendekap tubuh mungil Gabriela di dadanya. "Kenapa kau masih malu semalam bahkan kau lebih ganas dariku" Marco memutar tubuh gabriela dan menarik tangan gadis itu agar melihat hasil perbuatannya.
Aaaa kenapa gila mu tidak ada obatnya. Gadis itu bersemu malu. gila!!! tunggu kenapa leher tuan marco mengerikan begitu? bentar apa itu karena? Gabriela menelan ludahnya. Apa aku yang Gadis itu menutup wajahnya mengintip dari sela jarinya memastikan itu benar adalah bekas kecupan.
"Itu bukan saya yang buat kan tuan?" Takut takut gadis itu bertanya. Bodoh! seharusnya kau tidak perlu bertanya geby.
"Jadi kau menuduhku melakukan perbuatan tercela itu dengan wanita di luaran sana? iya? kau menganggap aku sebiadap itu?" Kan udah aku peringatkan kau geby jangan bertanya. "Hebatnya kau menuduhku untuk menyembunyikan perbuatanmu" Marco sudah menunjukkan wajah kesalnya.
Gadis itu menggeleng cepat sambil mengibaskan tangannya "Bu...bukan begitu tuan. Maksud saya bukan seperti itu"
Marco mendorong tubuh Gabriela ke tembok dan hanya dengan kekuatan satu tangan sekarang dia sudah didudukkan di samping wastafel. Ciuman lembut itu mulai menggelora. "aku akan membuat lehermu sama dengan leherku, itu hukuman mu karena berani menuduhku" aaaa Gabriela menjerit tak bersuara saat Marco menggigit ceruknya. Teriakan teriakan terdengar dari dalam. "Suka suka ku mau melakukan apa padamu kau sudah ku beli"
__ADS_1
Brak pintu terbuka. Bibir masih bertautan Marco menggendong Gabriela ke atas tempat tidur. Kegiatan olahraga sore dilakukan saat baju yang menempel di tubuh gabriela satu persatu beterbangan. Putaran babak kedua dimulai.
Bersambung.....