
Gerald menggeram kesal saat menerima laporan. Ya tuhan demi apapun kenapa semua semakin rumit. Masalah nona Gabriela belum selesai sekarang sudah ada masalah baru. Gerald hanya bisa menggeram kesal di dalam hatinya. Apa memang sudah ini saatnya? Kalau iya okelah. Aku akan siap siaga.
Mobil memasuki sebuah kawasan farm house, markasnya pengawal yang bekerja di bawah naungan Marco. Wilayah kecil di sebuah lokasi yang jauh dari kerumunan kota. Mungkin bangunan itu terlihat tua dan kuno bahkan kalau sekilas dilihat itu hanya bangunan kosong tanpa penghuni. Namun tampilan luar dan dalam berbeda jauh.
Jangan menilai sesuatu dari luarnya saja. Mungkin ungkapan ini cocok menggambarkan penampakan bangunan tersebut.
Didalam bangunan tidak terlihat benda benda aneh, namun ruangan itu eleganĀ sekali bersih dan rapi. Setiap sudut adalah tempat senjata dan hanya mereka yang tau titik titik dimana senjata itu terletak. Ada kamar kamarnya juga serta pintu menuju ruang bahwa tanah.
"Tuan besar sudah kembali" Gerald duduk sambil memandangi setiap lider dalam kelompok. "Jangan ada yang lalai. Kalian semua tau kan kenapa tuan besar selama ini di luar negeri? dan sekarang tuan kembali jadi semua waspada. Kesiapan kita harus bisa di jalankan" Musuh di luaran sana banyak yang mengincar perusahaan dan umpan perusahaan sudah datang ke tanah air. Serangga akan datang mengganggu kapan yang mereka mau. Dan waktu inilah yang sulit di prediksi Gerald.
Gerald melirik Danri yang berdiri tidak jauh dari tim lider. "Awasi semua pergerakan laporkan padaku"
Danri hanya mengangguk sambil menerima salep kecil yang di lempar Gerald padanya. huh! kau bisa juga merasa bersalah ya. Baiklah akan ku gunakan seleb pemberian mu ini.
"Olesi pipimu"
Gerald keluar dari ruangan khusus miliknya di sudut sana. Tampak dia sedang mencoba senjata miliknya yang sudah lama terkurung di dalam brankas pribadi. Kemudian pria itu menyelipkan di belakang punggungnya.
Gerald sudah keluar dari kawasan. Sekarang dia menuju bandara. Tuan Andika pasti sudah menungguku.
Namanya adalah Gerald Ford, orang kepercayaan sekaligus tangan kanan Marco Adicipta. Layaknya seorang bawahan Mafia jangan tertipu dengan tampang wajahnya yang mirip dewa.
Dibalik wajah tampannya ada darah dingin yang siap membekukan jantung orang tanpa ampun. Darah dinginnya bahkan lebih dingin dari Marco. Dia tidak akan berpikir dua kali menebas leher orang yang main main dengannya. Sosok tinggi tegap yang di segani kelompoknya.
Nama Gerald mulai tercatat menakutkan ketika usianya baru menginjak 12 tahun tapi kriminalitas yang dia bekuk di luar akal anak seusianya.
Tubuh tegap itu menyambut sepasang suami istri. "Selamat datang kembali tuan besar, maafkan aku terlambat"
"Wah wah wah... Badanmu sudah lebih besar dari Marco ya" Nyonya besar menepuk pundak Gerald dengan bangga. Dulu kau masih remaja kecil yang pendiam. Gerald menundukkan kepala. "Selamat datang juga nyonya"
Mereka sudah berada di dalam mobil. "Aku merindukan Indonesia" Ucap tuan Andika sambil terus melihat kaca mobil. "Apa menantu kami sudah baikan?" tuan Andika penuh tanya.
__ADS_1
"Laporan dokter sudah lebih baik tuan tinggal pemulihan saja beberapa hari ke depan"
"Aku penasaran wajah menantu kita pah" Nyonya Reva nimbrung sambil terus membayangkan waktu yang tepat bertemu gadis yang sudah berhasil menumbangkan serta mencairkan gunung es anak laki lakinya.
"Mama tenang saja kita akan menemui mereka hari ini juga"
"Lalu bagaimana dengan Marco pah" Anaknya tidak setuju mereka kembali ke Indonesia. Marco selalu khawatir dengan kedua orangtuanya.
Namun apa boleh buat Andika tidak mau selalu seperti itu. Diam di tempat tanpa melawan.
Dengan tekat yang kuat dia akhirnya memutuskan kembali ke tanah air.
Mobil sudah memasuki kawasan perumahan. Ada yang bergetar di hati andika saat mobil berhenti. Rumah ini, wilayah ini adalah saksi bisu dalam sejarah kepergiannya ke luar negeri puluhan tahun lalu. Dan sekarang semua tidak berubah.
Marco tetap merawat rumah mewah yang klasik itu dengan baik. Walau ada bangunan yang bertambah tapi tidak mengubah bentuk rumah ini dari semula.
"Rumah kita pah, rumah penuh kenangan kita" Reva memeluk pinggang suaminya sambil memasuki rumah. Andika mengecup ujung kepala Reva sekilas sambil tersenyum getir. Aku tidak pernah menyangka akan kembali ke sini lagi.Pelayan sudah berjejer dengan rapi sambil menundukkan kepala menyambut Tuan dan nyonya besar rumah ini.
"Kau tampak sehat seperti dulu" Andika menepuk pundak Haris dengan bangga. "Dimana anak itu?"
"Tuan Marco sedang mengurus kepulangan nona tuan, sebentar lagi mereka akan tiba" Pak Haris merasa ada yang hangat di hatinya. Apa keluarga ini akan kembali seperti dulu?
Saat semua masih dalam kepolosan dan tidak ada yang mengganggu. Rasanya Tuhan seperti mengabulkan doa doa mereka selama ini.
.......
Marco membuka perban di pelipis Gabriela. Lukanya sudah mengecil, memar di wajah juga sudah berkurang bahkan tidak begitu terlihat lagi. Dokter Andre sudah mengizinkan gadis itu pulang.
"Mama dan papaku sudah kembali, nanti kalian akan bertemu. Jangan lupa sapa mereka seadanya"
Gabriela mengerutkan keningnya. Kita menikah sudah berbulan-bulan tapi aku bahkan tidak tau menahu mengenai orang tuamu yang ternyata masih ada.
__ADS_1
"Perbanyak mengonsumsi air dan juga banyak istirahat" Hanya ini saja pesan dan saran dokter. Gabriela merasa senang walau sebenarnya di pinggangnya rasa sakit kadang terasa. Namun dia bahagia keluar dari RS. "Kulit nona juga masih sangat sensitif, jadi hindari dulu pemakaian kosmetik yang berlebih ya" Ternyata pesan kedua masih ada.
Dokter Andre telah berlalu bersama perawat. "Resep kan obat dan vitamin untuk dibawa nona Gabriela pulang" Dokter mengetik beberapa menit di depan komputer kemudian berlalu.
Gabriela terkejut saat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat bugar dan cantik tiba tiba datang memeluknya. "Jadi ini menantu kami" Dia melirik Marco yang tidak bergeming. Kenapa mama dan papa malah menyusul kesini.
"Hai cantik kenalkan ini papa mertuamu" Reva melirik suaminya yang juga tidak bergeming. Melihat Gabriela dia seperti melihat sosok lain. Tapi entahlah. Gabriela mengulurkan tangan sambil melirik Marco yang masih tak bergeming.
Jadi ini orangtua tuan Marco. Tapi Kenapa wajah mereka datar begitu.
"Halo papa dan mama, aku Gabriela istri anak kalian" Ucap Gabriela sambil menundukkan kepalanya sekilas. Marco hanya menarik senyumnya tipis.
"Ah manisnya menantuku" Reva tersipu ingin memeluk gadis itu lagi namun Marco berdehem. "Kamu sudah baikan sayang? sudah di izinkan dokter pulang kah" Reva mengelus rambut Gabriela dengan penuh kasih sayang.
Cih mama sibuk dengan Geby dan melupakan aku. Marco memutar bola matanya dengan malas. Aku bahkan tidak di anggap disini.
Sebenarnya anak mama siapa sih?
Lagi lagi Marco hanya bisa terdiam saat nyonya Reva hanya berfokus pada Gabriela yang terlihat canggung.
Kenapa tangan mamanya Marco hangat ya. Ada yang menggenang di pelupuk matanya. "Aku sudah sehat kok ma"
"Baguslah menantuku memang strong, ah manisnya" Reva tak hentinya mengusap kepala Gabriela.
"Sudah mama bisa lanjut mengobrol di rumah sekarang kita pulang" Marco langsung menggendong Gabriela layaknya seorang bayi tanpa mempedulikan tatapan orang orang.
"Turunkan aku...aku bisa jalan sendiri" Gabriela sudah mengepulkan asap di wajahnya. Aku malu! aku malu gila!
"Hati hati keningmu jangan asal kamu pegang nanti berdarah lagi" Ucap Marco meniup kening altea yang masih terlihat adanya luka kering.
Bersambung
__ADS_1