
Gerald melirik sedikit tuannya yang sedang mengotak ngatik ponsel barunya yang canggih. Ponsel semalam ternyata dia lempar ke dinding dan layarnya pecah. Masih bisa di pakai untuk standar orang kalangan menengah. Tapi kalangan atas seperti Marco itu adalah sampah.
Gerald bisa melihat perubahan signifikan laki laki yang duduk di sampingnya ini.
Wajah sangar dan menegaskan itu memang masih lengket di tambah lagi pembawaannya yang serius menyempurnakan Marco sebagai pria dingin yang ekstrim.
Namun, Gerald mengingat kembali kejadian semalam. Setelah nyonya Gabriela menghardik mereka berdua Marco dan Gerald keduanya kembali ke kamar masing masing.
Gabriela menutup pintu, Marco berjalan ke Paviliun, lalu aku kemana? Gerald berjalan ke rumah belakang tempat para pelayan tinggal. "Gunakan kamar yang di lantai dua saja Ger" ucap pak Haris.
Akhirnya malam semakin larut. Gerald iseng iseng menyibak tirai kamar. Dia mengerutkan keningnya. Tuan Marco keluar lagi dari kamar? Karena dua bangunan itu berhadapan jadi Gerald bisa melihat Marco yang menuruni tangga.
Keisengan itu berlanjut, Gerald mengikuti kemana langkah tuannya. Anda ke kamar tamu? berarti mau menemui nona?
Sampailah Marco didepan pintu kamar tamu. Pria itu mengetok pintu dan nona Gabriela terlihat membuka. Tuan Marco masuk begitu saja sambil menarik istrinya ke dalam. Gerald tersenyum tipis kemudian kembali lagi ke rumah belakang.
Gimana tuan? anda sudah jadi budak cinta nona kan? Bahkan saat tidur pun anda tidak mau jauh dari nona. Dan lucunya anda belum sadar juga. Gerald tersenyum hangat memandangi langit langit kamar. Lalu kapan anda akan memperkenalkan nona ke media tuan?
Kembali ke hari ini. Mobil menepi di basement perusahaan. Marco dan Gerald turun bersamaan. "Tuan..."
"Hem"
"Presdir ingin bertemu dengan anda pagi ini"
Dahi Marco mengerut, berarti ada yang penting kan sampai papa mau bertemu aku. "Atur saja Ger" Mereka memasuki lift.
"Oh iya katakan pada pengawal di rumah agar lebih memperhatikan mama. Kaki mama sudah sehat Sepertinya namun, aku bisa melihat itu belum sempurna" Ucap Marco.
"Nyonya sedang berjalan jalan dengan nona Gabriela di taman belakang tuan, dan nyonya menggunakan kursi roda"
"Ada videonya?" Wajah sangar Marco menghilang.
Gerald memberikan rekaman video Nyonya reva dan Gabriela sedang duduk di taman belakang. Nyonya Reva memang sudah sering berjalan, namun kadang kakinya kebas jadi kursi roda itu masih dia butuhkan sesekali.
"Sebaiknya suruh saja Gabriela agar jangan dekat dekat dengan mama" Ketus Marco kesal. Gerald langsung penuh dengan tanda tanya? kenapa tuan?
"Gara gara mama aku jadi jarang kan menghabiskan waktu dengan Geby" Cih tidak lucu sekali anda tuan. Kupikir tadi gara gara apa. Gerald pias, ada ya anak seperti anda tuan.
"Nyonya nyaman dengan nona Gabriela tuan. Dan pertemuan pagi ini nyonya punya andil mendesak Presdir"
"Pasti masalah istriku lagi" Ketus Marco.
Setelah Marco masuk kedalam ruangan Presdir, Gerald menutup pintu dengan perlahan. Agenda terberat sudah selesai pengerjaannya. Sekarang agenda sedang harus aku selesaikan. Huh! merepotkan sekali dunia ini. Gerald menghubungi Danri.
"Pastikan dia mengaku dengan benar. Jangan berbelit belit. Aku tunggu informasinya sekarang, aku akan kembali menemuinya nanti" Ponsel mati. Gerald membuka pintu ruangan sambil memeriksa beberapa laporan.
.....
"Bagaimana mungkin kau menikahi istrimu tanpa tau latar belakangnya" Presdir menyeringai. Walaupun Marco anaknya adalah orang yang selalu teliti namun tuan Andika ayahnya berada satu langkah di atasnya.
Kertas yang di genggaman Marco sudah mengeriput. Geby! sosok kecil mungil yang selalu berakting palsu di depannya langsung menari nari. Tubuh kecil yang dulunya lusuh tak berdaya terasingkan oleh waktu.
Pikiran Marco langsung dihantui rasa bersalah. "Argghhh sial sial" Marco memukul kepalanya sendiri.
"Tahan dirimu!" Presdir menyeringai. "Ini belum selesai. Temui wanita yang menyekap istrimu kemarin dan Pastikan dia mengaku. Karena jawaban dari keseluruhan istrimu ada di tangannya" Presdir bisa melihat anaknya yang terduduk dengan pikiran kosong.
Aku ingin memeluk Geby dengan erat
Marco merasa bodoh satu langkah. "Aku menikahinya karena" Akhirnya Marco menceritakan kenapa Gabriela datang dalam hidupnya.
__ADS_1
Mahalini menggadaikan gadis kecil padanya. Setelah itu terjadilah konspirasi yang akan menyeret Geby. Marco yang mengetahui Gabriela penakut dan polos tidak mau sampai gadis itu membuka mulut soal kehidupannya.
Tiga bulan jadi budak membuat Gabriela paham lika liku kehidupan Marco walaupun tidak semua. Bahkan sudut sudut rumah pun sudah dia ketahui.
Gabriela yang di jadikan mata mata untuk mengembangkan pergerakan mereka. Akhirnya Marco kasihan. Rasa kasihan itu bercampur dengan dendam. Mahalini memang biadap.
Marco sempat ingin menyingkirkan Gabriela namun itu terlalu beresiko dan juga dia tidak tega. Sebenarnya pada sesi ini Marco sudah tertarik dengan istrinya namun dia belum menyadari hal itu.
Akhirnya Marco mengikat gadis kecil yang masih remaja itu menjadi istrinya di atas kontrak. Biar bagaimanapun Gabriela tidak akan berani berkhianat apalagi kehidupan ibunya menjadi tanggung jawab Marco.
Gabriela menjadi kelinci jinak yang akan patuh padanya. Marco tidak mau sampai ada yang mencium aroma pernikahan ini untuk melindungi istrinya dan juga kehidupan Marco.
"Ternyata semua bukan kebetulan" Marco mengepalkan tangan. Begini rupanya manusia berhati iblis. Marco menyandarkan punggungnya mencoba untuk tidak melakukan apa-apa di luar akalnya.
"Aku tidak suka membuat keributan papa, tapi ini keterlaluan!"
Presdir melihat anaknya sudah berubah menjadi manusia bertajuk serigala.
"Jangan berlebihan nak, pikirkan dengan baik jangan gegabah. Keselamatan istrimu yang paling utama. Jangan gunakan dendam mu, tapi selesaikanlah semua dengan akal sehatmu. Papa tau kau harus berbuat apa" Pesan Presdir memang selalu mengutamakan perdamaian.
"Seharusnya kalau ibu Gabriela dalam keadaan sehat, semua akan lebih mudah. Karena ibu Gabriela pasti tau semua hal. Namun bagaimana lagi ibunya tidak ingat apa apa setelah depresi parah yang dia alami" Presdir mengatakan hal yang mengejutkan lagi perihal ibu Gabriela.
Sampai sejauh itu papa menyelidiki semua?
Pikiran Marco jadi bercabang cabang. "Kalau kehadiran Gabriela dan juga Mahalini bukan kebetulan aku jadi curiga mengenai kesehatan ibu Gabriela"
Setelah mendapatkan informasi tentang istrinya dan juga perusahaan yang sedang di perebutkan itu dendam semakin membara
"Ger! keruangan ku sekarang!" Marco sudah meninggalkan ruangan presdir.
"Kau sudah tau kan!!!!" Marco menyeringai. "Sejak kapan kau tau ini!" Marco ingin menerjang Gerald, namun dia masih menahan diri.
"Kenapa kau diam!"
"Kurang ajar!" Marco menarik kerah baju Gerald. "Bagaimana bisa kau menghianatiku Ger! menyembunyikan masalah sebesar ini dariku! bagaimana kalau Geby kenapa kenapa hah!"
Kalau Kau melaporkan ini semua dari awal maka penculikan kedua Geby tidak akan terjadi. Dasar tidak patuh! Marco melepaskan cengkeramannya.
"Kalau aku melaporkan pada anda, maka informasi mengenai Sheila tidak akan terdeteksi tuan" Alasan tersendiri ini memang wajar namun tetap saja salah.
"Kau menumbalkan istriku?" Marco semakin kesal. "Jadi Kau tidak memikirkan resiko pada istriku? Bagaimana kalau dia tertembak dan mati!"
" Maafkan saya tuan. Aku tidak tau kalau anda sudah mencintai nona tuan!"
Wajah Marco langsung tersambar.
"Apa maksudmu gila! bicara yang jelas jangan berputar-putar!"
"Aku pikir ini satu satunya cara memancing Max kemudian kita bisa menjebak mereka, karena Sheila adalah suruhan Max. Dia diberikan iming iming pernikahan kalau Nona menandatangani surat pengalihan hak perusahaan itu"
Kening Marco semakin mengerut.
"Perusahaan Index Asia adalah perusahaan tuan Herman ayah kandung dari Nona Gabriela. Dan nama nona Gabriela tertulis sebagai ahli waris"
Marco bagaikan di sambar petir di siang bolong. Meskipun presdir sudah memberi tahu jika istrinya adalah putri kandung Herman teman baik ayahnya namun dia tidak menyangka dengan kebenaran kedua ini.
"Perusahaan itu dulunya adalah PT Global index Kemudian berganti menjadi Index Asia setelah perkembangan yang cukup pesat. Hal itu membuat saya sulit untuk mendapatkan informasi Valid tuan"
"Apa pembunuhan paman Herman ada kaitannya dengan....
__ADS_1
"Benar tuan. Anda benar" Gerald mulai membacakan laporan demi laporan yang dia teliti beberapa Minggu ini.
"Periksa laporan kesehatan ibunya Geby! Dan pecahkan misteri pembunuhan dan penembakan lima belas tahun silam!" Rahang Marco sudah mengeras itu artinya dia sudah kembali pada dirinya sendiri.
"Jalan satu satunya adalah Mahalini tuan, namun beliau berhasil kabur"
"Kebodohan apa lagi yang kau laporkan Ger!!!!!!" Kenapa wanita sialan itu bisa kabur. Itu inti pertanyaan Marco.
"Felix tertipu iming iming kedudukan dan uang tuan. Mahalini menjanjikan beberapa hal padanya dan dia di lepaskan begitu saja" Gerald merutuki kebodohannya telah memilih orang yang lemah.
"Bunuh semua pengkhianat di bumi ini Ger! jangan sisakan udara bagi mereka!!" Suara Marco memenuhi ruangan. Bagaimana bisa konspirasi berjalan dengan perlahan di belakangku.
Gerald keluar dengan keringat di dahinya. Selain Marco dia adalah orang yang paling emosi mendengar kenyataan ini. Kau bisa di andalkan Danri!
Mengingat soal Danri, Gerald masuk lagi menemui Marco yang sudah terduduk lemas dengan berkas berkas berserak di mana mana. "Tuan, izinkan Danri memohon maaf pada anda"
Malam hari menyambut. Setelah menyelesaikan pekerjaannya dan menyusun skenario untuk memecahkan misi besar Marco melepaskan jasnya.
"Istriku dimana mah?" Marco sudah tiba di rumah. Rasanya selama di kantor pembawaannya selalu emosi dan marah marah. Aku ingin menemui istriku.
"Ada sayang di kamar" Nyonya Reva mengelus rambut Marco yang sujud di pangkuannya.
"Cepat sembuh mah. Aku sayang mama dan papa begitu juga dengan istriku. Semoga mama panjang umur agar bisa melihat aku dan Geby memiliki kehidupan baru"
"Kamu sudah tau mengenai istri mu, papa pasti sudah bicara padamu kan" Nyonya Reva tersenyum lega. "Perkenalan istrimu pada dunia nak itu saran papa dan mama. Jangan takut"
Marco seperti mendapatkan suplai energi baru. "Kenapa nasibku begini ma?"
"Tidak sayang. Ini takdir, ini takdir kau harus menikahi putri dari malaikat yang luar biasa. Sekarang temui istrimu dia sedang istirahat di kamar kalian" Marco berdiri kemudian memberikan kecupan di dahi nyonya Reva.
Marco berjalan mondar mandir di depan kamar. Rasanya dia tidak tau harus bicara apa duluan pada istrinya.
Bagaimana kalau tiba tiba aku menangis karena menyesal telah memperlakukan dia tidak manusia di awal awal kedatangan ke rumah ini.
Hancur sudah harga diriku kalau itu terjadi. Gabriela pasti menilai aku lebay dan imageku rusak sebagai Marco tampan penuh kharisma pemimpin yang di segani semua orang.
Jadi apa yang harus aku katakan pada terlebih dahulu. Cih! Bagaimana bisa aku jadi bimbang begini.
Marco memutar handle. Penampakan pertama yang dia lihat adalah istrinya di bawah gulungan selimut. Jam berapa ini? kok dia langsung tidur sih?
Marco mendudukkan bokongnya di samping tempat tidur. Dia menelisik wajah mungil Gabriela sedang terlelap. Tidak ada wajah bodoh dan keras kepala serta penuh drama.
Saat tidur begini Gabriela terlihat seperti bayi yang terlelap sehabis mengandaskan susu. Hahaha mulutnya kok mengangak. Marco iseng menusuk pipi Gabriela namun gadis itu hanya mengenakan bibirnya setelah itu tidur lagi.
Marco membuang jas nya. Kenapa menggangunya membuatku ketagihan ya? Lupa sudah dengan masalah tadi siang. Sekarang dia sibuk menjahili istrinya yang terlelap.
Wah air liurnya bahkan jatuh. Hahaha cekrek, cekrek. Marco mengabadikan gambar untuk digunakan menjahili Geby Besok.
Tangan Marco menelusup di balik punggung istrinya. Satu tangan mulai mendaki perbukitan kembar yang dilindungi dengan undang undang pernikahan.
Kami kan sah menikah. Jadi tidak ada larangan lagi. Marco membuka akses menuju jalur pelabuhan perahu cinta di bawah sana. Hahahah dia menggeliat.
"Apa yang kau lakukan tuan" Gabriela refleks menutup tubuhnya yang sudah tidak tertutupi dengan sehelai benang pun.
"Tentu saja menyelesaikan urusan kita Geby"
"U...urusan apa" Tangan mu tuan, kondisikan tangan mu. Aaaa apa yang kau pegang gila. Kesadaran Gabriela langsung terkumpul karena Marco meremas sesuatu.
"Kau kan kalah semalam, dan aku sedang meminta hadiah ku" Marco menyeringai seketika. Gabriela pasrah suhu di kamar sudah mulai memanas. Bantal dan selimut sudah entah dimana melayang.
__ADS_1
Malam panas akan berlanjut...
Bersambung....