Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 10(Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

"Siapa kalian beraninya menguping di pintu kamar tuan muda?" tanya sekertaris Kim saat melihat para pelayan yang berkerumun di depan pintu kamar Adrian.


"Maafkan kami nona Kim, tadi kami mendengar tuan muda meminta tolong makanya kami takut terjadi sesuatu atau hal buruk dengan tuan muda," jelas pelayan yang satu dengan ketakutan.


Sepertinya kecanduan tuan mulai lagi seperti biasanya. Untung aku datang cepat bagaimana jika para pelayan itu melihat yang sebenarnya terjadi pada tuan muda, batin sekretaris Kim yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Adrian.


"Tetap saja apa yang kalian lakukan ini salah! Bubar dari sani sekarang juga!"


teriak sekertaris Kim.


Sekertaris Kim menjerit dengan nada tinggi dan tegas sambil melotot kedua mata membuat para pelayan ketakutan berlari menuruni anakan tangga satu persatu.


Setelah mengusir semua pelayan pergi akhirnya sekertaris Kim secepatnya melangkah ke depan pintu kamar Adrian lalu, mengetuk pintu kamar Adrian. Karena tidak mendapat respon sekertaris Kim secepatnya membuka pintu yang dikunci oleh Adrian dari dalam dengan kunci cadangan yang dimiliknya.


Sekertaris Kim memang memiliki kunci cadangan kamar Adrian sejak ia mengetahui bahwa tuan mudanya itu mengunakan obat terlarang.


Kamar yang sangat luas itu kini berantakan seperti tidak terus perabotan kamar, Lukisan dan pajangan di kamar Adrian semuanya hancur berantakan walau pun ruang kamarnya gelap karena lampu kamar dimatikan oleh Adrian wanita paru baya itu masih bisa melihat kehancuran di kamar tuan mudanya ini ketika ia yang sudah masuk dan berdiri di dalam kamar Adrian yang sangat luas itu.


"Tuan muda! Di mana kamu!?" tanya sekertaris Kim yang tidak melihat sosok Adrian di kamar.


"Tolong aku! Aku tidak ingin semakin masuk ke dalam kelamnya narkoba! Kenapa dia membuat aku frustasi! Aku Ingin memakannya terus menerus! Tolong aku! hiks..." tangis Adrian ketakutan.


Saat ia yang baru saja habis mengonsumsi nikotin lagi setelah tadi ia hampir dibuat gila karena ia tidak bisa menemukan obat tersebut.


Adrian yang ketakutan dan bersembunyi dengan kecemasan dan tangisan seperti anak kecil di pojokan kamar dengan kegelapan dan kekelaman dalam diri.


Ia menangis terus menerus seperti anak kecil, pada hal aslinya jika sadar dalam normal seperti biasanya Adrian bersikap layaknya pria dingin, sombong, mandiri, tegas dan berwibawa. Namun, jika malam hari saat kesakitan akan kecanduannya datang kembali maka, dia akan kesakitan sendiri, menangis sendiri dalam kamar dengan kegelapan di sana.


"Tuan muda marilah aku obati dirimu! Tangan dan wajahmu terluka berbahaya untuk dirimu tuan muda," ucap sekertaris Kim saat dia tiba di hadapan Adrian.


Adrian yang menangis dengan ketukatan dan tangannya yang gemetaran, jari-jemari lentiknya bergetar gelisah dimana kedua tangannya langsung memeluk kedua lutut kaki sekertaris Kim.


"Tolong aku! Bawa aku keluar dari sini! Aku ingin kembali normal ini sangat menyiksa!" seru Adrian.


Adrian memohon di bawa kaki sekertaris Kim dengan air mata seperti layaknya seorang pelayan pada hal ia adalah bos besar perusahaannya.


Sekertaris Kim yang melihat sikap Adrian kembali membungkuk tubuh untuk memeluk Adrian, Wanita paru baya itu memang sangat menyayangi Adrian layaknya anak kandung sendiri dan menganggap Adrian adalah anak kandung karena ia sudah merawatnya sejak masih bayi.


"Marilah Tuan! Aku obati lukamu!" tawar sekertaris Kim saat melepaskan pelukannya pada Adrian.


Pria tampan yang ada di bawah sana menuruti ucapan sekretarisnya bagaikan anak yang kecil yang mendapatkan hadiah setelah dimarahi, Adrian bangkit berdiri melangkah dengan kaki tertatih-tatih kesakitan di bagian lututnya untuk segera mendekat ke kasur kamarnya yang sangat luas itu seperti luasnya satu ruang tamu.


Sedangkan sekertaris Kim mengambil kotak P3k untuk mengobati luka-luka yang ada di tangan dan wajah Adrian.


Saat sekertaris Kim yang datang sambil membawa kotak obat P3K untuk segera mengobati luka Adrian namun, entah mengapa sikap Adrian yang tadi ketakutan kini kembali normal seperti biasa.


"Simpan saja kotak obat itu di sini! Biar aku yang mengobatinya sendiri!" perintah Adrian.


Dengan nada dinginnya dan sikap sombong Adrian menatap tajam sekertaris Kim.

__ADS_1


" Tidak apa-apa tuan muda. Biarkan aku saja yang mengobatinya tuan muda hanya perlu istirahat saja," jawab sekertaris Kim.


Wanita tua itu menolak perintah Adrian saat ia yang berdiri di hadapan Adrian sambil memegang kotak obat P3K di tangan.


Adrian yang mendengar ucapan sekertaris Kim mendengus kesal mengangkat wajahnya yang dingin dengan tatapan emosi sambil menatap wajah sekertaris Kim yang sedang menundukkan kepala ke bawah sebagai rasa hormat ketika Adrian menatapnya.


"Berani sekali kamu! Membantah perintah aku! Pergilah! aku bisa obati luka aku sendiri dan aku tidak suka mendongak kepala leherku sakit!" ucap Adrian emosi.


dengan kekesalan dan sikap sombong jelas dilihat dari wajah saat Ia mengangkat alis menatap sekertaris Kim.


Sifat Adrian memang selalu berubah-ubah setiap kali hormon otak alam bawa sadarnya kembali maka, ia akan bersikap sangat dingin dan kaku. Namun, jika alam pikiran otak alam bawa sadar dipengaruhi oleh obat terlarang itu maka, ia akan melakukan hal yang sangat berbahaya pada dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya tanpa sadar.


"Tapi tuan muda," suara sekertaris Kim terdiam.


Sekertaris Kim yang mulai duduk di atas tumpuan sofa yang ada di kamar Adrian.. Karena ia sadar dan tahu bahwa alam bawa sadar pria itu sudah kembali maka sifatnya yang tidak suka berbicara dengan seseorang saat dirinya duduk. Adrian memang paling tidak suka jika lawan bicaranya berdiri saat dirinya duduk.


"Apa kamu tuli sekertaris Kim! Letakkan saja di sana! Aku sendiri yang akan mengobati luka aku."


"Pergilah! Aku tidak suka berdebat!" perintah Adrian.


Adrian yang emosi tapi masih dengan nada rendah dan tatapan dingin pada sekertaris Kim.


"Baiklah. Maaf jika aku berdebat dengan kamu," sahut sekertaris Kim mengalah pamit pergi.


Sekertaris Kim yang sudah pergi ke luar namun, Dia tidak pergi jauh. Dia masih berdiri di depan pintu kamar Adrian untuk berjaga-jaga Karena, Dia tahu jika Adrian sudah kembali normal seperti itu maka ia akan menangis dalam kegelapan dengan kesepian hidupnya.


Adrian yang sudah melihat sekertaris Kim tidak ada lagi di kamarnya mulai mengambil kotak obat P3K yang ada di kasur dengan sikap santai. Ia mengambil beberapa lembar perban untuk mengobati luka yang ada di tangannya akibat memukul tembok berulang-ulang dan terakhir adalah cermin lemarinya saat merasa kesakitan akan apa yang ia alami tadi.


Adrian kembali berpikir bahwa mengisi kesepian dirinya bermalam bersama seorang wanita Adrian segera mengambil jas hitam tebalnya lalu memakai menutup tubuhnya setelah Ia selesai mengobati luka di tangan sambil Memakai sendal jalan lalu melangkah pergi meninggalkan kamar.


Saat membuka pintu Adrian kaget melihat sekertaris Kim yang belum pergi dan masih berdiri di depan pintu kamar.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Tugasmu sudah selesai pergi sana?" perintah Adrian.


Pria itu masih bersikap dingin sambil memerintah sekertaris Kim pergi dari pintu kamar.


"Tuan muda anda mau ke mana malam-malam begini?" tanya sekertaris Kim menghiraukan ucapan tuan mudanya itu dan kembali bertanya saat melihat Adrian yang mulai melangkah pergi menuruni anakan tangga menuju lantai satu.


"Bukan urusanmu! Pergi sana istirahat!" jawab Adrian tegas.


Adrian terus melangkah menuruni anakan tangga satu per satu tidak peduli dengan sekertaris Kim lagi, sedangkan sekertaris Kim hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dengan mendengus kesal pada Adrian.


***** flashback (Afikah).


"Kakak kamu pergilah dari sini! Dan masuk ke dalam hutan sana. Di dalam hutan ada pondok rumah tunggulah aku di sana! Setelah selesai mengalihkan warga di sini maka, aku akan menemui kamu di pondok rumah itu," papar Seli yang sudah tidak tahu bagaimana caranya menyelamatkan nyawa kakaknya lagi.


"Lalu bagaimana dengan kamu dan ibu? Tidak biar aku hadapi mereka maka, semua masalah selesai," tolak Afikah.


Afikah yang tidak menyetujui ucapan dan saran dari adiknya.

__ADS_1


"Kakak, Aku mohon kali ini dengarkan aku! Pergilah! Cepetan kakak," mohon Seli.


Seli yang sudah membuka pintu belakang dapur mereka dimana dari pintu itu Afikah akan melewati sebuah jalan tikus menuju ke hutan yang dimaksud oleh Seli.


"Tidak. Aku akan bersama kamu dan ibu," ucap Afikah menolak lagi.


Afikah tidak mau pergi, saat Seli yang sudah mendorong tubuhnya keluar dari rumah mereka.


"Pergilah! Kita tidak punya banyak waktu lagi dan tidak ada cara lain selain ini," perintah Seli.


Seli kembali memotong ucapan Afikah saat ia mendorong kakaknya keluar dari pintu dapur rumah mereka.


"Pergilah! Aku akan menemui kamu," ucap Seli dengan air mata terbendung di sana.


Dengan terpaksa Afikah berlari kencang tanpa menoleh ke belakang lagi, Seli menghapus air matanya sambil melihat tubuh Afikah yang sudah berlari dengan kencang dan masuk ke dalam hutan belantara sana.


Sedangkan di luar Siska sudah kewalahan meladeni para warga kampung yang mulai memaksa dengan cara kasar untuk menyeret Afikah keluar dari dalam rumah.


Kakak aku pasti akan menghampirimu. Jaga dirimu di sana hiks... air mata mengalir begitu deras dari wajah Seli saat melihat Afikah yang berlari dan sudah mulai masuk ke arah hutan.


"Ibu hiks...!" Panggil Seli dengan menangis keras sambil jatuh tersungkur dilantai.


Seli sengaja melakukan hal itu setelah melihat tubuh Afikah yang sudah jauh dari rumah dan perkampungan mereka.


Siska yang mendengar jeritan Seli memutar bola mata dengan kaget karena kwartir ia pun lari masuk ke dalam rumah mereka yang juga diikuti para warga.


"Ada apa Seli? Apa yang terjadi?" tanya Siska panik.


Siska yang melihat Seli yang sudah menangis di bawah lantai sedang memegang tali tambang.


"Kakak kabur ibu hiks... Dia memotong tali yang tadi ibu ikat padanya dengan pisau saat dengar bapa-bapa dan ibu semua datang."


"Aku tadi pergi ke kamar mandi sebentar namun, saat aku balik kakak sudah tidak ada lagi hiks..." ucap Seli.


Seli sengaja berakting menangis sejadi mungkin di depan para warga agar tidak curiga.


"Apa? Beraninya sekali dia! ucap Siska emosi.


Siska mengikuti rencana anaknya itu.


"Beraninya sampah itu membawa aib kampung kita keluar kota! Ayo cari dia! Dia pasti belum jauh dari sini!" perintah warga yang lain pada yang lain untuk mulai mencari Afikah.


Sedangkan Siska menatap emosi Seli karena ia tahu bahwa apa yang dilakukan putrinya itu salah dan akibatnya akan jatuh fatal pada dirinya sendiri.


"Karena kalian sudah membohongi kami akan kehamilan Afikah yang sudah masuk dua minggu maka, kami akan membakar rumah sampah ini dengan kamu Seli sebagi akibat menyembunyikan aib kakakmu!" jerit salah ketua warga dengan obor api ditangannya dan menatap tajam Seli dengan amarah wajah yang menakutkan.


Seli dan Siska yang mendengar ucapan ketua warga itu kaget dan ketakutan.


"Saya mohon bapak.... jangan bakar anak saya..." pinta Siska menangis sambil merendahkan dirinya berlutut di bawah kaki ketua warga tersebut Sedangkan Seli mulai menangis ketakutan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2