
"Nona muda, tuan muda meminta anda untuk istirahat dan makan dulu katanya dari pagi nona muda belum makan," ucap kepala pelayan.
Tina menatap Afikah yang dibuat semakin bingung dengan sikap Adrian hari ini.
Ada apa dengan Dia sebenarnya mengapa dia bersikap sangat baik padaku? Apa dia memiliki rencana lain untuk menyiksa aku? Perasaanku sangat tidak enak,
pikir Afikah.
"Nanti saja aku masih kenyang. Terimakasih untuk perhatian anda," jawab Afikah tersenyum manis namun, pikirannya di lain tempat.
"Nona muda jika kamu tidak mengikuti kemauan tuan muda nanti saya yang dipecat nona. Kalo dipecat saja saya bisa mencari kerja di tempat lain masalahnya jika sudah dipecat oleh tuan muda maka bukan karir saya saja yang hancur keluarga saya pun akan ikut diseret dalam hukuman dengan kantor polisi," seru kepala pelayan memohon dengan mata yang cemas.
"Apa? Mengapa sampe segitunya? Ya Tuhan. Kejam sekali tuan muda," jawab Afikah.
Dia kaget dan tidak percaya akan pengaruh seorang Adrian Arifin.
"Intinya tuan muda Adrian sangat berpengaruh di kota A ini, dan tolong anda jangan mengucapkan kata-kata tidak baik dibelakang tuan muda karena di rumah ini ada banyak seribu mata, telinga yang mengawasi gerak-gerik kita."
Wanita paruh baya berucap dengan suara pelan sambil matanya melihat sana sini takut ada yang mencurigai mereka.
Seribu mata dan telinga... ahhh pantas saja dia hanya meminta aku yang melakukan pekerjaan ini. Karena dia ingin melihat apa aku benar-benar melakukan perintahnya.
"Baiklah aku akan makan. Maaf membuat anda sedikit menunggu lama," jawab Afikah.
Gadis ini mulai bangkit berdiri dari tumpuan bibir keramik kolam yang Dia duduki dan mengikuti kepala pelayan dari belakang.
****
"Makanlah yang banyak minumlah yang menghangatkan tubuhmu, karena habis ini kamu akan merasakan perih dan sakit dalam kolam renang malam ini," bicara Adrian.
Dia yang tersenyum manis dan tawa dengan sorot mata tajam saat ia yang duduk dengan santai di kursi kantornya sambil melipat kedua tangannya dengan alaskan di dagunya saat melihat layar monitor cctv rumah yang ada di ruang kantor pribadinya yang juga memperlihatkan Afikah sedang di bawa oleh kepala pelayan untuk menikmati makan siang.
"Kenapa tuan muda sangat eksistensi sekali dengan Gadis itu. Pada hal dia sama sekali tidak melakukan kesalahan untuk anda," kata sekertaris Kim.
Wanita berambut pendek ini yang berdiri di belakang Adrian saat mengantar berkas-berkas untuk pria itu tandatangani.
"Siapa yang eksistensi?"
" Aku?" Hahahaha..."
"Hei! sekertaris Kim kamu juga tahu tipe ideal aku seperti apa? Untuk apa kamu mempertanyakan hal yang tidak masuk akal," ucap Adrian menangapi ucapan sekertaris Kim.
"Aku tidak lupa tuan muda. Hanya terkadang hal yang membuat kita eksistensi berlebihan maka akan menjerumuskan diri kita sendiri dalam perangkap itu," jawab sekertaris Kim sambil menyodorkan berkas-berkas di tangannya di hadapan meja Adrian.
__ADS_1
"Dia wanita menjijikan dan sampah. Dia jauh berbeda dari semua tipe aku atau mantan aku bagaikan langit dan bumi. Melihat tubuhnya yang menjijikan itu membuat aku selalu ingin memakannya."
"Kamu tenang saja sekertaris Kim aku tahu wanita mana yang pantas untuk diriku. Namun, berkatmu aku ada mainan baru di rumah terimakasih," kata Adrian
Dia yang mulai menandatangani surat-surat yang tadi berikan oleh sekertaris Kim dengan mengukir senyuman lebar di sana.
"Apa wanita itu adalah nona muda Jenny?" tanya sekertaris Kim menebak.
"Intinya aku tahu wanita mana yang pantas untuk aku bukan seperti gadis sampah itu," jawab Adrian.
Dia tidak menangapi pertanyaan sekertaris Kim.
"Kita boleh memilih tapi hati tidak bisa kita kendalikan. Aku pegang ucapanmu tuan muda jangan sampai sampah yang dikatakan dan benci jadi benih cinta suatu hari nanti."
Hahahaha...
Tawa ledak Adrian lucu.
"Kamu kebanyakan nonton drama Korea shi sekertaris Kim jadi baperan sampe dunia nyata," jawab Adrian kembali tertawa merasa lucu.
"Buktinya tanpa tuan muda sadari senyuman yang hilang selama 20 tahun lalu kini kembali muncul tertawa saat aku membicarakan tentang gadis itu."
"Maksudmu?"
Seketika ekspresi wajah Adrian berubah dengan nada dingin dan senyuman di wajahnya dalam sekejap hilang.
"CUKUP!!!"
"Jangan membandingkan senyumanku dengan sampah jalanan seperti DIA!Karena aku bukanlah sampah! Semua berkas sudah aku tandatangani pergilah! sebelum amarah aku makin menjadi!" ucap Adrian.
Adrian berucap dengan emosi dan mengambil kasar semua berkas di meja yang tadi ditandatangani olehnya lalu di berikan pada sekertaris Kim yang menarik nafas dalam-dalam akan keras kepala Adrian yang sama sekali tidak menyukai ucapan sekertaris Kim.
"Maaf. Aku pamit," ucap sekertaris Kim melangkah pergi dengan membungkukkan tubuh ke bawah.
Setelah sekertaris Kim sudah menghilang dari pandangan Adrian, Pria itu masih duduk dengan emosi yang mulai reda namun, tetap saja sikap dinginnya tidak berubah.
Lihat saja bagaimana malam ini aku mempermalukan Dia seperti apa, bungkam Adrian.
Dering...
Suara bunyi telpon menyadarkan Adrian.
"Hem!" ucap Adrian berdehem dengan malas.
__ADS_1
" Maaf Tuan muda klien kita dari China sudah datang," suara dari telpon sana dia adalah karyawan resepsionis.
"Baiklah. Beritahu sekertaris Kim untuk membawanya ke ruang khusus tamu istimewa! Aku segera ke sama!" jawab Adrian dengan suara beratnya.
"Baik tuan muda," jawab karyawan resepsionis namun, telpon sudah dimatikan dahulu oleh Adrian
Kebiasaan deh si bos es batu bata untung big bosku kalo bukan sudah aku teriakin dari dulu...
Sekertaris Kim pun tidak lama sudah menemani klien China itu pergi ke ruang khusus tamu luar negri yang disebut ruang spesial.
Tidak lama mereka berbincang dengan fasi bahasa inggris Adrian pun datang dengan menyapa mereka dengan bahasa China karena memang Adrian menguasai semua bahasa termasuk bahasa China.
Mereka saling membahas bisnis ada tawa, lucu dan serius hingga percakapan klien memang selalu menyenangkan untuk semua orang hingga pukul 04.00 wib.
****Flashback rumah Adrian.
Afikah akhirnya bisa istirahat dengan tenang karena tugasnya menguras air kolam akhirnya selesai juga. Walau kedua telapak tangannya banyak luka hingga lebam biru akibat mengangkat kuras air kolam dengan ember, dan sekarang Dia sedang mengisi air kolam dengan air baru.
Namun, di luar nalar Afikah yang tidur santai karena kecapean Dia tidak tahu bahwa dari tadi semua pelayan rumah sedang sibuk mendekorasi rumah untuk pesta acara Adrian dan teman-temanya.
Sebelum bertemu dengan klien terakhirnya hari ini Adrian menelpon kepala pelayan bahwa hari ini akan ada acara pesta di rumah dan meminta kepala pelayan Tina untuk mendekorasi rumah sebelum pukul 07.00 wib. Sebelum Adrian pulang tamu undangan akan datang pada jam delapan malam.
Pukul 05.30 wib.
Afikah sedang membersihkan tubuhnya dan Afikah lupa aturan menyambut pulang Adrian dari perusahaan seperti biasa karena itu sudah kewajiban Afikah. Tidak lama kemudian mobil Adrian dan mobil bodyguardnya mengklakson di depan pintu gerbang utama.
Semua pelayan dan para bodyguard seperti biasanya berbaris rapi memanjang samping kiri dan kanan berhadapan satu sama lain dengan karpet merah yang sudah disediakan dari jalan setapak halaman rumah yang menuju ke dalam rumah.
Ke mana dia? Berani sekali dia tidak menyambut kepulangan aku...
"Di mana Afikah kepala pelayan Tina?" tanya Adrian.
Dengan suara berat dan dingin.
"Nona muda sedang mandi tuan muda karena baru selesai menguras air kolam tanpa bantuan kami," jawab kepala pelayan Tina seadanya.
"SIAPA YANG MEMINTA DIA MANDI? KAMU TAHU AKU PULANG! UNTUK APA KAMU MEMINTA AFIKAH MANDI!!!" geram Adrian mulai emosi dengan nada tinggi.
"Maaf tuan muda bu--" suara terhenti karena Adrian memotongnya.
"CUKUP!!!"
"Panggil dia sekarang JUGA!" perintah Adrian.
__ADS_1
Dia berucap dengan dingin dan melotot mata wajah yang emosi tinggi hingga nada tinggi suaranya bergemuruh di seluruh halaman rumah bagaikan petir saat itu.
BERSAMBUNG.