
"Kenapa kamu memeluk aku?" tanya Adrian.
Pria ini sadar akan hal yang Dia lakukan sendiri secepatnya melepaskan pelukannya dari tubuh Afikah dan menyalakan Afikah.
"Apa?" Afikah mengerutkan keningnya 😕.
"Bukanya tuan muda yang..." ucapan Afikah terhenti
Aduh...
Afikah kesakitan mengelus dahi dengan pelan ketika Adrian yang langsung menyentil jidat Afikah dengan tangan kekarnya.
"Mengapa kamu menempelkan tubuh jelekmu itu padaku? Seenaknya saja main pelukan sama aku," ucap Adrian.
Dia sadar akan hal aneh itu dan seketika itu juga Dia langsung menjauh sedikit dari tatapan Afikah lalu bangkit berdiri dari sana.
"Apa? Bukankah.."
"Ohh...jadi kamu mau salahkan aku? Berani sekali anda dasar wanita kepedean" ucap Adrian.
Yang langsung secepatnya melangkah pergi meningalkan Afikah.
Apa aku sudah gila? Ni jantung juga ngapain berdebar dengan kencang? Lihatkan Gadis bodoh itu berpikir aku menyukai Dia...
Bungkam Adrian menyalahkan jantungnya yang berdegup kencang saat tadi beberapa menit Dia berpelukan dengan Afikah.
Sesampai di kamar Adrian merasakan hal aneh dalam dirinya, Ia kembali memikirkan kejadian semenit yang lalu di mana Afikah mengobati luka Adrian perban yang sempat tadi Gadis itu perban di tangan Dia.
Jujur ini pertama kali pria itu melihat sisi baik Afikah entah mengapa sebuah senyuman tipis terukir di bibir Adrian namun, memory semenit yang lalu itu hilang saat Adrian kembali memikirkan Jenny.
Tidak lama kemudian Pria ini sadar bahwa Afikah tidak ada selimut di gudang hujan diuar semakin deras, bunyi kilat petir semakin kencang dari langit yang membuat Adrian sedikit kwatir akan kondisi Afikah.
Tapi...untuk apa aku kwatirkan Dia? Persetan dengan Dia aku tidak peduli mau Dia kedingan ke, masuk angin ke bodoh AMAT, batin Adrian yang tidak tenang.
(Note: Dasar manusia gengsi 😬)
Tapi jika Dia sakit bagaimana? Hem baiklah ini sebagai balas budi kamu Adrian karena Dia sudah mau obati tanganmu anggap saja ini balas hutang kebaikan.
Adrian yang tidur tidak tenang di tempat tidur akhirnya mengambil selimut baru dan tebal di tempat lemari selimut dan Ia kembali mengenakan jaket kulit yang tebal karena udara malam itu memang sangat dingin, Pria itu melangkah pergi menuju gudang.
Sesampainya di gudang Adrian kembali terdiam merasakan ada yang berbeda dengan dirinya.
Tunggu. Sejak kapan aku menjadi pria peduli? Bagaimana bisa aku berjalan di hujan hanya demi antarkan selimut untuk wanita kampung itu? Adrian apa yang kamu pikiran ini bukan dirimu yang sebenarnya ayo pulang.
Saat Adrian yang ingin memutar kakinya untuk pergi tiba-tiba suara salah satu bodyguard memangil yang berjaga-jaga di sekitar gudang memanggil Adrian.
"Tuan muda." tutur pengawal tersebut.
__ADS_1
Sambil menyalakan lampu di pintu untuk memastikan apakah dia salah melihat.
Sial.
Ngapain juga pengawal bodoh itu menyebut namaku? Pakai acara nyalakan lampu lagi, bisik Adrian memaki habis-habisan pengawal yang memangil namanya itu dalam hati.
Afikah yang kaget ikut melihat ke arah pintu dan benar di sana ada Adrian yang berdiri seperti orang bingung sendiri mengaruk kepalanya entah gatal atau tidak dengan memasangkan senyuman masam yang sama sekali bukan seorang Adrian di mata Afikah.
"Maaf tuan. Ada apa tuan muda kembali? Apa ada yang ketingalan?" tanya pengawal.
Ya ada yang ketingalan karena bodoh pala botakmu itu...
kesal Adrian sendiri.
"Emang kenapa kalo aku kembali? Apa tidak boleh? Ini wilayahku, ini rumahku, ini hak aku, ini kakiku mau jalan ke mana saja bukan urusanmu!?" jawab Adrian.
dengan nada kesal dan sikap dingin namun salah tingkah di hadapan Afikah yang sedang menatapnya.
"Tidak tuan. Hanya saja tidak biasanya tuan jalan malam-malam seperti ini."
"SUKA-SUKA AKU DONG! RUMAH-RUMAH AKU? KENAPA KAMU YANG REMPONG!" ucap Adrian.
Yang semakin emosi berlagak tegas di hadapan pengawal itu dengan lototan mata menajam pada hal Dia memaki hancur dirinya karena membawa selimut di tanganya.
Ngapain juga aku bawa ini selimut aduhh... Adrian habislah harga diri kamu hari ini.
"Maaf tuan..."
"Jangan berdebat apa kamu bodoh atau tolol!" lirih Adrian.
Dengan nada tinggi hingga suaranya bagaikan petir yang menyambar seluruh ruangan.
Pengawal tersebut diam seribu kata hanya melihat selimut tebal yang disembunyikan Adrian di belakang punggung.
Jujur saja napa sih kalo kesini mau antar selimut untuk nona muda ngapain juga sembunyiin itu dibelakang pungungmu pada hal jelas apa maksud tujuan kamu ke sini, Hem dasar pria kaku kaya lem.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Adrian.
Pada pengawal yang satu lagi karena terus melihat selimut di tangan Adrian yang diumpat di belakang punggungnya.
"Tidak tuan muda."
"Aku bawa ini karena diluar dingin jadi aku memakainya," jelas Adrian.
Dia seperti paham akan pikiran itu pengawal pada hal pengawal ini pun tidak bertanya soal selimut pada Adrian.
Pada hal dalam hati Dia habis-habisan memaki dirinya sendiri yang terlihat seperti orang bodoh.
__ADS_1
Adrian, apa yang kamu lakukan bodoh bangat kamu lagian tidak ada yang tanya juga, batin Adrian.
Afikah hanya diam dengan menatap bingung akan sikap yang benar-benar malam itu bukanlah seorang Adrian.
Dia jelas bertingkah seperti orang lain.
Namun, karena sangat cape Afikah akhirnya malas untuk menyaksikan apa pun yang ada di hadapannya ini, Gadis itu tidak peduli dengan sikap Adrian atau apa pun pun tentang Pria itu.
Afikah mulai membaringkan diri untuk tidur di atas karung sebagai tempat tidur dan kedua tanganya sebagai alas bantal di kepala, Posisi tubuh Afikah tidur membelakangi Adrian dan para pengawal.
"Karena aku sekarang tidak memerlukanya lagi ambil selimut jelek ini dan baluti tubuh wanita itu! aku tidak mau dibilang seorang yang paling kejam pada Dia!" kata Adrian.
Dia mengucapkan dengan nada suara yang sedikit keras agar suaranya itu didengar oleh Afikah.
Lalu Adrian memerintah anak buah untuk segera menutup tubuh Afikah dengan selimut yang tadi dibawa.
Baru sadar kamu?
Cih...
Pada hal selama ini kamu memang sangat kejam pada nona Afikah mengapa baru sadar? batin seorang pengawal.
"Jaga Dia! Pastikan Dia benar-benar aman karena mulai besok ada hukuman lain untuknya! Jika Dia kabur akan aku pastikan kalian semua yang bertugas menjaganya malam ini akan menangung semuanya!"
"Siap laksanakan tuan muda!" jawab serentak semua bodyguard.
Adrian melirik sebentar ke Afikah yang sedang tertidur di sana dengan membelakangi Adrian.
Entah mengapa rasa tidak tega muncul di tatapan mata Adrian, hatinya seperti ingin membawa tubuh itu keluar dari sana namun, karena merasa itu hanyalah pikiranya saja Ia pun kembali memutar tubuh pergi meninggalkan Gadis itu.
Afikah membuka kedua bola mata saat sadar akan langkahan sendal kamar Adrian yang sudah menjauh, Sebuah ukiran tipis di bibir Afikah saat Gadis ini memegang selimut yang lembut sedang membaluti tubuhnya.
Rasanya seperti mimpi Tuhan melihat Adrian yang memberikan sendiri selimut ini padaku, entah apa tujuan Dia di balik selimut ini cuma satu hal yang aku rasakan saat ini, aku bahagia akan sikap hangat Adrian malam ini walau mungkin ini hanyalah sebuah akal untuk menjatuhkan harga diriku.
Jika ada maksud tertentu aku tidak peduli. Namun, dari lubuk hatiku hanya kebencian padamu tuan muda aku tidak akan jatuh dalam cinta yang begitu kejam ini karena, bagiku semua sikapmu hanyalah ancaman untuk aku jika Tuhan berkehendak pun aku tidak mau mencintaimu yang ada hanyalah kebencian, kebencian dan kebencian bungkam Afikah kembali larut dalam bunga tidurnya.
Setetes bening pun ikut mengalir dari sana seakan menjelaskan bagaimana luka yang begitu menyakitkan dari Adrian untuk Afikah.
BERSAMBUNG.
Halo selamat malam semua apa kabar semoga baik-baik saja ya. Jangan lupa jaga kesehatan dan patuhi protokol kesehatan karena kesehatan itu mahal dan keluarga itu sangat berharga...
Gimana apa buat Tuan muda Adrian jatuh cinta? Hemmm... nantikan part selanjutnya...
jangan lupa komen, like dan tambahkan difavorite buku biar bisa gampang dan pemberitahuan masuk saat author up terimakasih untuk semuanya...
selamat menikmati berkat Tuhan untuk hari ini😍🥰😘😇😇🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1