Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 25 (Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

"Baiklah jika kamu memang tidak ingin membahasnya maka aku tidak akan membahasnya lagi," ucap Jenny


Dia tersenyum dengan menganggukkan kepalanya memahami maksud ucapan Adrian yang melarang dirinya untuk membahas Afikah.


Sebenarnya Adrian tenang menyebut nama Afikah namun Dia sadar bahwa Dia bisa melihat bencinya apa seorang Jenny pada gadis yang bernama Afikah jangankan menyebut nama Afikah, membahas hal Afikah pun sama sekali tidak sudi dibahas oleh seorang Jenny, Dari raut wajah Jenny sudah menjelaskan semuanya.


Adrian tahu betul seperti apa sifat Jenny yang keras kepala jika dia tidak menyukai seseorang berarti tidak akan menyukainya, dari pada memperkeruh suasana yang semakin buruk lebih baik jangan membahas nama Afikah.


Hati Adrian mengatakan Jenny Kamu tahu bahwa dibalik sikap cerobohnya gadis itu dia banyak menyimpan misteri kehidupannya entah itu apa, batin Adrian. saat melirik lagi ke arah Jenny yang sedang menatap dan menikmati keindahan alam di atas sana.


Di tengah-tengah kebisingan yang kembali terjadi antara Adrian dan Jenny dengan suasana yang romantis tiba-tiba datanglah para bodyguard suruhan Sekertaris Kim yang berhasil menemukan tuan muda mereka itu.


"Itu tuan muda! Ayo kita sampari! Ingat jika tuan muda menolak maka kita harus mengunakan cara paksa," ucap salah satu bodyguard yang saat itu sedang berdiskusi di pinggiran jalan taman tidak jauh dari tempat Adrian dan Jenny duduk.


"Baik tuan," jawab serentak bodyguard yang lain Lalu, mereka segera menghampiri Adrian di sana.


"Maaf tuan muda kami menggangu. Kami diperintahkan nona Kim untuk segera membawa tuan muda pulang sekarang juga! ucap salah satu bodyguard saat dia dengan rombongan sudah sampai di tempat Adrian.


Di mana saat itu Adrian sedang tidur di bawah rerumputan dengan menikmati suasana malam itu, Adrian yang kaget dan juga Jenny segera bangkit berdiri dengan emosi mulai terlihat di wajah Dia.


"Apa?"


"Sekertaris Kim sudah pulang? Kapan?" tanya Adrian.


Cowok itu yang kaget mendengar bahwa sekertaris Kim sudah pulang Dia pun langsung bangun.


"Tadi tuan satu jam yang lalu. Setelah tuan muda dengan nona Jenny pergi disaat itulah beliau memerintah kami untuk menjemput tuan muda," jawab pimpinan bodyguard itu.


"Dia pikir siapa dia! Berani sekali memaksa aku pulang! ucap Adrian dengan tatapan membunuh pada para bodyguard itu.


"Aku tidak akan pulang! Hei kalian itu anak buah aku bukan si sekertaris itu jadi pergilah! Nanti aku pulang sendiri!" kata Adrian tegas dengan sombong dan tidak menghargai siapa seorang sekertaris Kim.


"Tidak bisa tuan. Anda harus ikut dengan kami sekarang juga! Jika tuan muda tidak mau pergi bersama kami maka, tidak ada cara lain kami akan memaksa tuan muda dan jangan salahkan kami jika kami berlaku kasar pada tuan muda," tegas seorang bodyguard menatap tajam Adrian.


"Berani sekali kamu!!" ucap Adrian emosi dengan melotot matanya sangat tajam membunuh pada bodyguard itu.


"Kamu pikir siapa kamu beraninya menatap dan menga..." ucapan Adrian terhenti ketika Jenny memotong perkataanya.


"Pergilah Adrian! Mungkin ada hal penting yang ingin dibahas sekertaris Kim padamu," seru Jenny tersenyum pada Adrian.

__ADS_1


"Tapi Jenny... bagaimana dengan dirimu?" tanya Adrian kwartir akan keadaan Jenny yang ia tinggali sendirian di taman.


"Adrian. Aku sudah kabari grab online mungkin sebentar lagi akan datang jadi kamu tidak perlu kwartir akan keadaan aku," seru Jenny menenangkan Adrian.


"Tuan muda kita tidak banyak waktu lagi ikutlah dengan kami!" ucap salah satu bodyguard pada Adrian.


"Baiklah aku akan ikut dengan kalian. Tapi dua dari kalian jagain Jenny hingga supirnya datang baru kalian boleh pulang! Apa kalian mengerti!!" Adrian memerintah para pengawal itu.


Lalu dua bodyguard pun mengikuti ucapan tuan muda mereka Sebelum masuk ke dalam mobil Adrian masih memutar tubuhnya melihat Jenny yang menatapnya dengan dalam dan sedang tersenyum sebenarnya rasa khawatir jelas terlihat dikedua mata Adrian namun, Ia tidak bisa berbuat apa-apa entah mengapa Adrian melangkah kembali memutar kakinya menghampiri Jenny kedua tangan Pria itu memegang lembut bahu Jenny dengan tatapan yang sangat dalam.


"Berjanjilah untuk kembali bertemu dengan aku di sini sebelum kamu pulang ke luar negeri" ucap Adrian dengan tatapan yang sangat dalam pada Jenny.


"Cepatlah jawab! Aku tidak punya banyak waktu," seru Adrian lagi masih menatap dalam wanita yang ada di hadapannya itu.


Jenny yang belum paham akan maksud Adrian hanya menatap bingung Pria itu dan tidak lama ia sangat kaget ketika mobil pribadi Adrian yang sudah menunggu Adrian dari kejauhan.


"Cepatlah! Aku tidak banyak waktu lagi!" Suara berat Adrian.


Dia masih dengan pertanyaan yang sama.


"Hem. Aku akan berjanji akan menemui kamu lagi di sini," jawab Jenny.


Dia pun masuk ke dalam mobil dan pintu mobil tertutup lalu melaju pergi meninggalkan Jenny yang di sana dimana sedang menatap mobil Adrian yang semakin jauh dari tatapannya.


Perjalanan menempuh ke rumah Adrian butuh dua puluh menit. Lalu mobil yang tadi menjemput Adrian akhirnya sampai di rumah istana Adrian semua pelayan dan para bodyguard yang ada di sana segera keluar di depan rumah istana itu dengan berbaris rapi memanjang dan berhadapan satu sama lain.


Ada dua yang memegang air dan handuk untuk cuci tangan untuk Adrian, mereka menundukkan kepala mereka ke bawah ketika kaki Pria itu mulai menurunkan kakinya dari pintu mobil tepat di karpet merah yang sudah disiapkan bagaikan penyambutan layaknya duta besar. Adrian melangkah dengan santai dan tatapan wajah dingin dan sikap sombongnya.


Mata Adrian tertuju pada Afikah yang di ujung barisan pertama dekat dengan pintu utama rumah. Matanya membulat dan penuh dengki ketika melihat Afikah yang sama sekali tidak menundukkan kepalanya ketika ia datang.


Melihat hal itu emosi Adrian mendominasi hatinya yang sebenarnya merindukan sosok Afikah pada hal baru ditinggal Dai sebentar pergi.


Berani sekali dia tidak menunduk menyambut kedatangan aku. Wanita sampah itu benar-benar bikin mud aku memburuk terus, batin Adrian yang meremas jari jemarinya dengan sangat kuat dan menahan giginya kuat di dalam sana dengan tatapan membunuh pada Afikah.


Adrian melangkah dengan sangat elegan dan berkharisma tangannya mengancingkan kancing jasnya lalu kedua tangannya kembali di sembunyikan dalam saku celananya. Dari jarak 10 jengkal jari tangan Dia memangil nama Afikah menghampirinya.


"Hei gadis kampung sini kamu!" panggil Adrian.


Adrian mengeluarkan suara berat dengan nada dingin seperti biasa pada Afikah.

__ADS_1


Kampung? Dasar pria sombong berani sekali dia merendahkan aku di hadapan semua orang seperti ini, batin Afikah kesal menahan luka di dalam hatinya sambil melangkah pergi menghampiri Adrian yang tidak jauh dari barisan yang ia tepati


Seribu mata dan mulut melihat dan berkomat kamit satu sama lain saat Afikah yang melangkahkan kakinya menghampiri Adrian.


"Anda pikir anda siapa? Berani sekali anda tidak memberi hormat pada saya ketika saya melangkah dari sana," ucap Adrian dengan nada dingin sangat dingin yang menakutkan.


"Maaf tuan sa- Saya ta-d ( suara Afikah putus-putus.


Afikah terhenti ketika Adrian kembali memotong ucapan nya.


"Menunduk!" perintah Adrian dingin.


"Apa?" tanya Afikah kaget.


"Menunduk! SAYA BILANG MENUNDUK APA KAMU TULI!!!" geram Adrian.


Nada suara yang berat seperti orang bangun tidur dan sangat keras hingga urat-urat di lehernya muncul dan wajahnya tampan sangat merah saking emosinya dia.


"Jangan membuat saya mengulangi perkataanku yang ke dua kali," kata Adrian masih dingin penuh emosi.


Afikah yang kaget akan teriakan Adrian segera menundukkan tubuh ke bawah namun, Adrian mengatakan tubuhnya belum menunduk sempurna.


"Tunduk lebih sempurna setidaknya bayar kesalahanmu itu dengan mencium karpet merah dibawah sana!" kata Adrian masih sangat dingin.


Afikah yang mendengar ucapan Adrian akhirnya menundukkan kepala sangat ke bawah hingga jarak wajahnya dengan karpet merah hanya satu jengkal saja.


Sram...


siraman air bekas cuci tangan Adrian pada tubuh Afikah hingga gadis itu basah kuyup.


"Itulah tempat kamu wanita kampung seperti kamu!" kata Adrian.


Pria dingin ini merendahkan Afikah dengan nada dingin lalu ia melangkahkan kakinya melewati tatapan mata Afikah di bawah sana.


Perih dan hancur hati Afikah ingin rasanya ia menangis namun, ia masih menahan air mata di bawah sana. Seribu mata pelayan kaget dengan hal itu tapi apalah daya mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka hanyalah seorang pelayan yang berkasta kelas bawah sama seperti Afikah.


Brengsek...


batin Afikah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2