
Afikah terdiam Ia tidak mau mendengar suara yang saat ini sedang memanggil dirinya, Gadis malang itu menghiraukan ucapan Adrian.
Dalam diam Afikah menarik kaki saat menyadari kesalahan yang dilakukanya namun, karena kehilangan keseimbangan kekuatan kaki Afikah bergoyang dan ia hampir jatuh ke bawah sana saat Afikah masih memperbaiki keseimbangan tubuh tiba-tiba Ada tangan seseorang yang langsung menarik kasar tangan Afikah hingga mereka jatuh tertimpa di atas aspal jalan dekat pinggiran sungai dengan posisi kepala Afikah di atas tumpuan bidan dada Adrian bidan dada yang kekar membuat Afikah mendengar detak jantung dan suara yang indah namun sedikit ngos.
"Syukurlah! Aku sedikit lebih cepat," ucap Adrian
Afikah yang mendengar ucapan tersebut segera bangun dari sana dengan cepat dan berdiri di hadapan Adrian yang masih tiduran di atas aspal jalanan sana.
Adrian pun bangun dengan tinggi badan 180cm, wajah tampan sedikit ada luka Karena tadi terbentur di aspal jalan namun, itu tidak menghilangkan ketampanan seorang Adrian Arifin.
Rambutnya yang basah karena hujan deras.
"Kenapa kamu menolong saya? Biarkan saya mati saja? Hidup saya sudah tidak ada artinya," ucap Afikah.
Afikah berkata dengan nada dingin dan tatapan dingin pada Adrian.
"Hei wanita bodoh! Jalanmu masih panjang. Mengapa kamu memilih jalan buntu hanya untuk lari dari masalah?" tanya Adrian emosi.
"Apa?" Afikah bingung.
"Di luar sana banyak orang yang ingin hidup lebih lama seperti kamu. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang hidupnya divonis kanker dengan jarak waktu yang tidak lama untuk bertahan di dunia ini, Kamu tahu setiap malam mereka dihantui dengan kematian bahkan mereka menangis karena masih ingin hidup."
"Kehidupan adalah hal yang sangat penting dan berharga bagi mereka, bahkan mereka iri dengan kita yang hidup normal. Mengapa? Karena kita bisa menikmati hidup dengan bebas tanpa berpikir akan hari esok masih bisa bernafas tidak? Hari esok apa semua baik-baik saja tidak? Sedangkan kamu masih berpikir untuk mengakhiri hidupmu dengan hal ini. Aku tidak tahu apa masalahmu namun, perlu kamu ketahui ada malam ada pagi sesulit apa keadaan dan masalah yang kamu hadapi percayalah akan ada jalan yang indah asalkan kamu ingin bertahan."
Adrian berucap dengan sangat bijak dan dirinya sendiri tidak menyangka bahwa Ia bisa berucap seperti ini.
Sambil menatap dalam Afikah Ia mengukir senyuman dengan tulus sambil melihat Afikah yang diam membisu seribu kata seperti sadar akan ucapan Pria yang pertama merenggut mahkotanya.
"Pikirkan ini baik-baik dan kamulah penentunya, Aku tidak akan menolong lagi karena apa yang kamu putuskan itulah yang terbaik," ucap Afikah melangkah pergi.
Adrian merapikan jas baju yang ia kenakan karena kusut akibat tadi jatuh bersama Afikah tadi.
"Tunggu!" panggil Afikah Adrian.
"Maaf. Dan terimakasih sudah membantu aku, jika tidak ada kamu mungkin aku sudah kehilangan harapan," jawab Afikah.
Gadis itu berterimakasih dengan tatapan sendunya penuh penyesalan di sana.
"Jangan berterimakasih pada aku!Terimakasih pada takdirmu, Aku hanya pengantar yang diutus untuk menolong kamu!"
"Tapi bukankah kamu sendiri yang mau aku hilang dari kota ini? Kenapa kamu mau menolong aku?" tanya Afikah penasaran.
__ADS_1
"Jahatnya aku masih memiliki hati!" jawab Adrian dingin.
Adrian berpikir sejenak benar apa yang dikatakan oleh wanita itu Dia sendiri yang tidak mau melihat wanita itu lalu kenapa Dia menolong Afikah pada hal jika Dia mati Adrian tidak perlu repot-repot untuk bertanggung jawab untuk semuanya, entahlah hati Adrian benar-benar tidak sejalan dengan pikirannya.
"Sekali lagi terimakasih mau menolong aku," ucap Afikah lembut.
"Terimakasih pada Tuhan!" kata Adrian dingin.
"Tetap saja anda adalah penyelamat aku. Aku tadi kehilangan kekosongan hidup, ada begitu banyak masalah yang datang dalam takdir aku tapi berkat anda aku sadar bahwa di dunia ini bukan aku yang memiliki masalah sendiri melainkan orang lain juga dan mungkin masalah mereka lebih berat dari aku," jelas Afikah.
Afikah yang kembali meneteskan air mata lalu secepatnya ia menghapus air mata itu dan tersenyum bahagia pada Adrian yang sedang menatapnya juga.
Sepertinya gadis ini seumuran dengan aku, Ini kesempatan emas aku yang sedang mencari istri pura-pura untuk meyakinkan paman bahwa keponakan ini sudah memiliki seorang istri sebelum dirinya datang dari luar negeri.
Dengan begitu Aku tidak perlu didesak oleh sekertaris Kim untuk mencari pasangan dan tidak perlu untuk menikah dengan gadis pilihannya, batin Adrian. menemukan ide bagus.
Ya sebenarnya selama ini sekertaris Kim sedang mencari seorang gadis untuk menjadi istri kontrakan dalam perjanjian kertas. Dalam arti Afikah akan menjadi istri pura-pura Adrian di hadapan Antonio paman Adrian yang dari dulu mencoba rebut semua kekayaan orang tua Adrian.
Namun, rencananya selalu gagal bahkan ia adalah dalang dibalik kematian kedua orang tua Adrian, Antonio adalah pelaku pembunuhan mama dan papa Adrian.
Tapi selama bertahun-tahun rencananya menguasai harta kekayaan keluarga Arifin masih gagal karena, Adrian yang mengambil alih semua bisnis ayahnya. Oleh sebab itu selama bertahun-tahun ia tinggal menyendiri di Amerika serikat dan Ia akan kembali ke Indonesia setelah sekian lamanya untuk membahas pernikahan Adrian dengan gadis pilihannya hal itu tidak disetujui oleh sekertaris Kim.
"Aku tidak memiliki tempat tinggal. Aku baru saja kehilangan keluarga aku dan tidak tahu harus ke mana?" jawab Afikah jujur.
"Maaf. Bukan maksud aku seperti itu tapi aku turut prihatin dengan masalah keluargamu," seru Adrian merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti dengan maksud tuan muda dan terimakasih," jawab Afikah tersenyum tulus.
"Jadi inilah alasan kamu mengakhiri hidup kamu?" Bertanya dengan tatapan masih dalam pada gadis di hadapannya ini.
"Ya begitulah tuan," Afikah tersenyum.
"Sekarang tujuanmu ke mana? Apa kamu punya tujuan?" tanya Afikah lagi.
Adrian bertanya pada Afikah dan dalam hatinya berharap tidak ada agar dia bisa membawa gadis ini pulang bersama dia ke rumah.
"Tidak ada nyonya aku belum memiliki tujuan," Menundukkan kepala ke bawah tanpa menatap wajah Adrian
"Jika kamu mau kamu boleh tinggal di rumah aku. Tapi kamu bisa membantu aku dengan syarat dari aku," tawar Adrian.
Adrian penuh harap pada Gadis ini.
__ADS_1
Afikah yang mendengar ucapan sekertaris cowok di depannya ini mengangkat wajahnya syok namun, ia bahagia. Tapi ia takut jika syarat yang diberikan pria itu adalah hal yang sama menimpa dirinya apalagi mereka sebelumnya pernah melakukannya.
Karena masih berpikir aneh-aneh Afikah secepatnya membuang pikiran kotor itu dari pikirannya dan berpikir positif untuk hal ini.
"Apa kamu tidak keberatan?" Afikah ragu.
Gadis itu bertanya dengan hati-hati dan masih sedikit ragu.
"Sama sekali tidak. Jika kamu mau boleh ikut aku pulang ke rumah, asalkan ada satu syarat yang harus kamu setujui," tutur sekertaris Adrian tersenyum.
Senyuman itu penuh arti untuk Adrian.
"Apa syarat tuan?"
"Syarat aku hanyalah satu. Sebelum itu aku akan memberi penjelasan padamu lebih dulu agar tidak ada salah paham diantara kita. Aku adalah anak orang kaya raya di kota A ini,
Aku kehilangan kedua orang tua saat masih umur delapan tahun. Aku memiliki seorang sekretaris yang merawat aku sejak kecil Nah saat ini Dia sedang menjodohkan dirinya dengan gadis pilihannya."
"Tapi aku sama sekali tidak setuju akan hal itu karena, aku tahu apa rencana sekertaris itu. Dari kecil Dia yang merawatnya hingga tumbuh Aku dewasa, dari kecil pula aku sama sekali tidak merasakan indahnya masa kecil tumbuh dengan tanggung jawab yang besar mengurus usaha orang tuanya dari masih 8 tahun."
"Mungkin bagi banyak orang termasuk kamu bawa aku adalah pria yang arogan dan egois tapi yang mereka lihat hanya kasat mata luar saja, sebenarnya aku menangis pada malam hari rumah yang mewah bagaikan tembok jeruji besi penjara hidup pada aku hidup kesepian karena tidak memiliki sahabat. Orang yang bersahabat dengan aku hanyalah orang-orang yang ingin dapat nama mereka terkenal saja. "
"Itulah kisah aku. Jika anda mau membantu aku syaratnya jadilah istri pura-pura aku untuk sementara waktu saja supaya sekertaris aku berhenti mencarikan jodoh untuk Aku jika kamu tidak mau aku bisa memahami itu," jelas Adrian.
Adrian tidak mengerti kenapa Dia bisa mencurahkan isi hatinya pada Gadis yang asing ini pada hal mereka bukan pasangan tapi nyatanya Adrian nyaman.
Afikah yang mendengar penjelasan panjang lebar dari Adrian hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia memahami situasi seperti ini. Setelah lama berpikir Afikah pun akhirnya memutuskan jawabannya.
Dia sudah menyelamatkan nyawa aku. Jika tidak ada dia mungkin saja tubuh aku sudah dimakan habis oleh buaya atau binatang buas di bawah sungai sana. Hanya menjadi istri pura-pura setelah orang yang tadi ia maksud pergi maka ia akan pulangkan aku kembali, Tidak apa-apa Afikah ini hanya membalas kebaikan penyelamatmu ini, bungkam Afikah tersenyum.
"Aku mau. Jika itu hal yang akan mengurangi beban kamu Aku siap membantu anda sebagai balas budi aku pada anda," jawab Afikah menyetujui persyaratan yang ditawarkan oleh Adrian.
"Benarkah? Ahh terimakasih aku janji tidak akan ada hal yang aneh-aneh menimpa dirimu," jawab Afikah.
"Baiklah. Karena kamu sudah setuju maka sekarang ikut aku masuk ke mobil , kita akan ke rumah aku" tambah Adrian masih dengan senyuman lebar.
Afikah yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala mengikuti Adrian ke mobilnya tidak berpikir bahwa siapa ini .
Bagaikan takdir kembali menyatukan dua cinta dalam garis takdir Tuhan yang memang sudah tertulis. Lalu ia pun masuk ke dalam mobil Adrian setelah masuk mesin mobil kembali dinyalakan dan mobil melaju pergi dari meninggalkan pinggir sungai yang tadi banyak air mata Afikah.
Bersambung.
__ADS_1