Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 30 ( Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

Semua pelayan yang berlari ke kamar dibelakang gudang akhirnya terhenti ketika melihat Afikah yang berjalan masih dengan kaki tertatih-tatih karena kesakitan di seluruh tubuh.


"Kalian tenang saja aku tidak akan biarkan kalian kehilangan pekerjaan hanya karena diriku," ucap Afikah.


Dengan senyuman yang seakan tidak ada masalah sama sekali, seakan dari wajahnya tidak ada tanda masalah penyiksaan pada dirinya.


Gadis itu memakai celana hitam panjang dan baju lengan panjang dengan leher menutup.


Ia sengaja memakai serba panjang untuk menutupi tubuhnya yang penuh dengan lebam biru.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya kepala pelayan Tina.


Dia yang baru saja ke luar dari pintu lift dan bertanya mengapa tidak ada pelayan sama sekali hinga dirinya teringat akan Adrian yang tadi menekan tombol bel darurat rumah.


Seribu mata di sana ketakutan sambil menunduk kepala mereka semua ketika mendengar suara keras kepala pelayan dari sana.


"Aku bertanya apa yang kalian lakukan di sini? Jawab!" tanya kepala pelan Tina.


Masih Dengan ucapan yang sama sambil menjerit keras yang membuat semua pelayan itu ketakutan.


"Maaf nyonya, kami hanya me-" ucapan pelayan itu putus.


Afikah memotong ucapan nya.


"Mereka hanya memberitahu aku akan panggilan tuan muda. Karena bel di kamar aku rusak."


" Jangan marahin mereka, Mereka tidak bersalah," papar Afikah menjelaskan.


Dengan senyuman dan tatapan sendu pada kepala pelayan Tina.

__ADS_1


"Apa nona baik-baik saja?" tanya kepala pelayan Tina lagi.


Dia yang kwartir akan kondisi Afikah apa lagi saat melihat gadis itu memakai serba tutup menutupi tubuhnya dengan rambut panjang merombaknya yang terurai di belakang, kepala pelayan Tina bisa mengerti akan hal itu.


Mendengar ucapan kepala pelayan seketika mata Afikah berkaca-kaca ia memalingkan wajahnya lurus ke depan menghindari tatapan kepala pelayan itu.


"Aku baik-baik saja," jawab Afikah.


Dia menahan perih bagaikan teriris pisau di dalam sana, Gadis malang ini kembali berjalan.


Tanpa di sadari setetes bening kembali mengalir namun, secepatnya tangan Afikah menghapus air matanya dan tetap berusaha untuk tidak menangis Walaupun sebenarnya ia ingin menangis dan berteriak sekeras mungkin.


Klek...


"Kenapa lama sekali? Apa aku ini budakmu?"


Afikah terdiam berdiri di depan pintu sebentar, lalu dengan sikap tenang ia berjalan masuk ke kamar Adrian tanpa menjawab ucapan Pria tampan nan seorang Ceo terhormat berdiri di sana menatap tajam dirinya dengan tatapan sorot mata bunuh pada Afikah.


"APA KAMU TULI!"


Suara keras Adrian dengan nada tinggi hingga suara itu mengema di seluruh kamar bagaikan gempa dadakan.


"Maaf. Maaf'kan aku tuan. Tadi lift sedikit eror makanya sulit bagiku untuk cepat sampai di sini," ucap Afikah.


Dengan nada tenang tanpa sedikit pun rasa takut di matanya saat menatap matanya bertemu mata Adrian yang sedang menatapnya juga d sangat tajam.


"Sudah berani ya kamu melawanku!"


"Aku tidak pernah melawan tuan muda aku hanya menjawab pertanyaan tuan muda."

__ADS_1


"Apa? Beraninya kau!!!" Menatap bunuh pada wanita di hadapanya itu.


Adrian mulai emosi.


Afikah hanya diam dengan tatapan kosong dalam mata, sorot tatapan matanya yang dingin pada Adrian semakin membuat pria itu semakin naik darah dan emosi.


"Berani sekali kamu menatap aku seperti itu! Kamu pikir siapa dirimu WANITA ******!!!"


ucap Adrian emosi dengan suara yang bagaikan petir sedang menyambar di dalam kamar.


"Lalu aku harus menatap tuan muda seperti apa? menangis? Atau ter--" ( Suara Afikah putus-putus).


Prang...


Aakh...


Afikah berteriak dengan keras ketika sebuah botol kaca yang berisi air putih melayang di tembok dan salah satu beling menanjak di lengan bahu Afikah yang di mana saat itu menahan wajahnya untuk tidak terkena pecahan kaca dari botol ketika ingin mengenai wajahnya.


Gadis itu menutup kedua telinganya ketakutan dengan seluruh anggota tubuhnya gemetaran semua.


"ITU ADALAH HUKUMAN UNTUK WANITA YANG TIDAK ADA HARGA DIRI SEPERTI KAMU!!!" Suara keras Adrian.


Dengan punuh penekanan bernada tinggi hingga suaranya bergema di dalam seluruh kamar.


"Mengapa?" Tatap Afikah.


"Apa?" mengerutkan keningnya.


"Anda sebenarnya MAU APA!!!" Teriak Afikah dengan suara gemetar menatap Adrian.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2