Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 48 ( Mahkota Untuk Ayah).


__ADS_3

"Pakailah obat ini! Dia akan membuat hidupmu lebih bahagia. Kamu tidak akan merasakan kesepian lagi rasa stres akan hilang setelah kamu menggunakan," pinta seorang Pria berkaca mata yang saat itu sedang bertamu Adrian di perusahaan.


"Apa kamu yakin obat ini bisa membantu memulihkan rasa sakit aku?" tanya Adrian ragu.


Sikap dingin sambil menunjuk plastik kecil obat entah apa itu intinya dia berbentuk seperti diamond kecil.


"Yakin 100%. Jika tuan muda tidak percaya cobalah minum malam ini yakin semua akan terasa lebih baik," jawab Pria kacamata itu dengan senyuman manis.


"Baiklah akan aku coba. Karena aku lagi butuh hiburan diri sendiri!" ucap Adrian tersenyum manis pada Pria itu.


"Anda tidak akan menyesal setelah menggunakan tuan muda," sambung pria itu.


Dia bangkit berdiri dan menyodorkan tangan pada Adrian yang sedang duduk manis dengan kaki kirinya menumpukan sementara pada paha kaki kanan.


"Aku akan pergi setelah menerima tip sesuai janji bayaran. Di dunia ini tidak ada yang gratis tuan muda dan aku tahu anda paham bukan maksud aku Uang adalah segalanya dan raja apa pun bisa kita lakukan jika itu demi uang."


"Untuk ini aku kasih kamu 2 miliar secara Cas! Sisanya aku transfer jika dia berhasil menghibur diri aku," tutur Adrian.


Memberikan amplop coklat tebal pada tangan pria kacamata itu dengan sikap santai.


Setelah menerima uang bayaran pria itu melangkah pergi meninggalkan Adrian sedangkan Adrian dia langsung meminum obat yang diberikan pria itu yang tidak lain adalah obat terlarang.


"Aku tidak suka terang aku menyukai gelap! Tubuhku sakit mana dia di mana kamu!" jerit Adrian menangis di kegelapan kamar yang sudah dihancurkan bagaikan rongsokan sampah.


"Ehmm...aku menginginkan malam ini!" bicara Adrian sendiri.


Menghisap darah dari urat nadi di pergelangan tangan kanan yang dilukainya sendiri.


"Tuan muda! Apa yang anda lakukan!?"


"Pergi! Aku bilang pergi! Hiks...siapa pun tolong aku! Aku tidak ingin seperti ini!"


Tangis Adrian mengacak rambut dan wajah hingga kusut dan tidak terawat.


Terlihat keringat halus mulai bercucuran dari dahi Adrian , tangan Dia gemetaran air mata mengalir pelan dari kedua sudut matanya.


Dia membuka kedua bola mata dengan kaget Dia melotot menatap plafon kamar. Nafasnya tersengal-sengal, Adrian merasa lega akan hal ini karena cuma mimpi.


"Hanya mimpi!" bicara Adrian sendiri pelan sambil mengusap wajah.


Mata Adrian yang tadi melirik ke segala arah kamar tiba-tiba mata itu terhenti ketika melihat  ada tangan seseorang yang sedang memegang tanganya membuat Ia kaget mengerutkan kening.


Hangatnya sinar sang surya di pagi hari kembali menyapa dua sejoli yang sedang tertidur  di sana, sinar yang menembus kaca jendela menyoroti   ketampanan dan kecantikan kulit keduanya.


Adrian melirik ke arah tangan yang saat ini sedang memegang tanganya.


Tangan itu adalah tangan Afikah kulit mulus wajah membuat sinar mentari menerpanya yang semakin bersinar, rambut Afikah sedikit menutupi wajah membuat Adrian yang menatap terganggu.


Entah mengapa tangan Pria muda ini tiba-tiba langsung menyelipkan rambut yang menutup wajah Afikah diselipkan rambut-rambut itu ke telinga Gadis itu, tatapan Adrian pada Afikah semakin dalam rasanya menatap dengan begini saja menghilangkan pikiran yang kacau dan mimpi buruk dalam sekejap.


Mengapa hatiku kembali tenang saat menatap wajah ini? Wajah yang paling aku benci  di dunia ini namun, mengapa terasa adem di sini saat melihatnya?

__ADS_1


"Aku tahu wajahku cantik jangan ditatap seperti itu," ucap Afikah.


Membuka mata menatap Adrian.


Sebenarnya Afikah sudah bangun sejak tadi di mana Dia merasakan kehangatan di tanganya akan keringat halus  di dalam telapak tangan Adrian.


Gadis ini melihat keringat halus muncul di dahi Adrian Ia juga melihat gementaran dan ketakutan jelas pada tangan dan wajah Adrian oleh sebab itu Gadis tersebut memegang tangan Adrian agar Dia tidak ketakutan  lagi.


Saat melihat Pria itu yang sadar Afikah segera berpura-pura kembali tidur agar tidak disalah pahami oleh Adrian.


Mata mereka saling bertemu satu sama lain dalam beberapa detik, Afikah mengukir senyum lebar sambil menatap Adrian dalam dimana Pria itu sedang mengerutkan dahi dengan alis sedikit diangkat menatap Afikah.


"Kenapa senyum-senyum? Apa ada yang lucu di wajahku?" tanya Adrian dengan sikap dingin.


"Apa tuan muda diam-diam mencuri perhatian kecantikan wajahku?"  ucap Afikah percaya diri.


Gadis ini berucap tanpa menjawab pertanyaan Adrian, Ia menjawab dengan wajah yang senyum masam-masam dan menghiraukan ucapan Pria itu yang dianggap angin berlalu.


"Apa? CURI PERHATIAN?"


Cih...


"Percaya diri sekali kamu!" ucap Adrian.


Masih dingin penuh penekanan dan wajah yang kesal.


"Lah dimana percaya diri aku? Emang nyatanya tuan muda sedang menatap aku bukan? Saat sedang tidur," jawab Afikah.


Tukk....


"Sakit!" ketus Afikah.


Mengelus dahi yang dijitak oleh tangan Adrian dengan kekesalan ada terlihat di ekspresi wajah.


"Tuh jitak buat sadarkan kamu supaya jadi orang jangan terlalu percaya diri! Kamu itu bukan tipe idealku."


"Ya. Aku tahu," jawab Afikah cepat.


"Sudah tahu ngapain mengatakan?"


"Siapin air hangat aku di bathtub! Aku mau mandi!" perintah Adrian pada Afikah.


"Selalu saja kalo ketangkap basah pasti mengelas kalo tidak benar," bicara Afikah mengomel dengan pelan sambil bangkit berdiri.


"Apa?"  tanya Adrian melotot mata tajam.


"Apa?"


"Apa yang kamu bicarakan barusan?"


"Aku tidak ngomong apa-apa tuan muda. Dari tadi mulutku diam," jawab Afikah.

__ADS_1


Tersenyum mengemaskan pada Adrian yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang kamar dengan bantal alaskan di punggung belakang.


"Awas saja berani kamu mengucapkan yang  tidak-tidak akan aku habisi kamu!" ancam Adrian.


Emang aku  makanan apa? Main habis-habisi...


"Setelah siapkan aku air hangat di bathtub kamu boleh pergi! Bersihkan rambutmu yang bau itu! Aku tidak tahan dengan aromanya!" ucap Adrian dingin.


"Rambut siapa yang bau?"


"Ya rambut kamulah masa aku?"


"Ena- Hem... baiklah," jawab Afikah.


Yang tidak jadi melanjutkan ucapan awalnya seperti menyadari sesuatu di pikiran.


Afikah kembali tersenyum Dia masih menahan tawa membuat Adrian semakin bingung akan sikap aneh Afikah ini.


"Apa kamu kerasukan setan? Dari tadi  senyam-senyum kaya orang gila saja?"


"Tidak. Aku sama sekali tidak kerasukan setan..." jawab Afikah.


Memajukan bibirnya ke depan dengan menarik huruf n dari nada suaranya agak panjang.


"Lalu?"


"Apa diam-diam tuan muda mencium rambutku? Atau kening aku? Seperti di drama korea romantis gitu, tadi kan tuan muda bilang rambut aku bau."


"APA! Kau...." Menarik nafas panjang.


"Pergi! Aku bilang pergi!" perintah Adrian tidak mau berdebat lagi.


"Jangan galak. Nanti cepat tua..." goda Afikah lagi sambil melangkah dengan cepat pergi.


"APA? DASAR SINTING!?"


"Tapi ketahuan tuan muda mencuri perhatian aku," lanjut Afikah.


Memunculkan wajah dibalik pintu kamar Adrian dengan senyuman lebar penuh kemenangan.


"KAU! SUDAH BESAR KEPALA YA SAMA AKU!" jerit Adrian.


Menatap tajam Afikah habis kesabaran Adrian dengan godaan Afikah yang dianggap sama sekali tidak masuk akal.


"Aku pergi tuan muda..." jawab Afikah.


Masih tersenyum bahagia dan melangkah pergi meninggalkan Adrian yang sedang emosi membara api.


Awas saja kamu akan aku balas nanti malam. Baik malah besar kepala dia... batin Adrian.


Mengeraskan rahangnya tidak suka.

__ADS_1


Setelah  memastikan Afikah yang benaran pergi ada ukiran senyuman tipis dibibir Adrian sambil menggelengkan kepalanya seperti remaja yang baru jatuh cinta.


BERSAMBUNG.


__ADS_2