
Afikah yang bergumam dalam hati hanya menahan tangisnya dari dalam yang begitu melukai hatinya.
Setelah menjelaskan secara rinci resiko besar operasi yang akan terjadi pada Lucas, akhirnya dokter Diah pun bersama perawat yang lain mulai membawa pasien atau ayah Afikah ke ruang operasi yang juga ditemani oleh kedua putrinya.
"Ayah kamu harus selamat...Tuhan aku mohon jangan ambil ayah aku masih membutuhkan ayah hiks...," ucap Seli.
Seli memohon sambil menangis terus menerus menggenggam lembut tangan sang ayah yang terbaring lemah tidak sadarkan diri di bawah sana.
Saat mereka melangkah dokter Diah sempat melihat cara jalan Afikah yang aneh dan dari tatapan dokter Diah sepertinya dokter Diah tahu apa yang terjadi.
"Mohon menunggu di luar dilarang masuk ke ruang operasi kecuali petugas," pekik seorang suster di mana tubuh Lucas sudah dibawa masuk ke dalam sana.
Setelah berucap demikian suster itu pun menutup pintu, dan lampu merah operasi berubah mejadi hijau yang artinya operasi segera di mulai.
"Ayah hiks... aku mohon Tuhan selamatkan ayahku," pinta Seli lagi.
Gadis kecil ini menangis di depan pintu sambil memukul-mukul pintu ruang operasi.
Di saat bersamaan tiba-tiba penglihatan Afikah menjadi rabun dan lama kelamaan gelap, tubuh Afikah lemas kekuatan tubuh tidak seimbang, kening gadis itu tiba-tiba mengeluarkan keringat halus, wajahnya menjadi pucat seperti orang yang baru habis melahirkan atau sembuh dari sakit yang pada akhirnya penglihatan gadis malang itu lama kelamaan semakin gelap hinga diri Afikah tidak bisa menahannya lagi karena kekuatan tubuh sudah habis terkuras.
Bruk...
Tubuh Afikah ambruk tiba-tiba di depan pintu operasi.
Seli yang sedang menangis akan operasi sang ayah dan sedih tiba-tiba kaget melihat ke arah kakaknya yang sudah tergeletak pingsan di bawah lantai.
"Kakak...!" Jerit Seli.
Tanpa menunggu dengan cepat gadis kecil itu berlari menghampiri sang kakak yang sudah pingsan di sana.
"Kakak bangun! Jangan kaya begini hiks..." panggil Seli menangis dengan keras.
Gadis kecil itu menangis dengan keras dan ia pun segera meminta tolong pada suster atau petugas medis yang sedang berlalu lalang di sana.
"Tolong! Suster atau siapa pun yang ada di sana tolong kakak saya! Hiks..." papar Seli dengan terus menangis sejadinya dibawah sana.
Seli yang terus menangis sambil memangku tubuh Kakaknya di atas tumpuan paha sebagai alas bantal, tangannya tidak berhenti memegang lembut wajah pucat kakaknya yang terbaring dengan mata tertutup tidak sadarkan diri di sana.
Perawat dan Office boy yang sedang bertugas di rumah sakit saat itu segera menghampiri suara yang menggangu ketenangan pasien lain, saat mereka melihat gadis kecil yang masih menangis di sana segera dua perawat wanita dan dua pria office boy menghampiri Seli.
"Apa yang terjadi?" tanya perawat wanita yang satu.
__ADS_1
"Suster tolong kakak say! hiks... aku tidak tahu tapi dia tiba-tiba pingsan hiks..." jelas Seli masih menangis.
Seli yang berucap dengan air mata yang terus mengalir deras di sana, menatap suster-suster yang ada di hadapannya dengan memohon.
"Cepat angkat tubuh gadis ini dan bawa dia ke ruang gawat darurat rumah sakit!" perintah salah satu suster itu pada kedua cowok office boy yang ada dihadapan mereka saat itu.
Kedua office boy itu pun belum menjawab ucapan suster itu mereka dengan cepat mengangkat tubuh Afikah dengan pelan lalu mereka segera membawa Afikah ke ruang gawat darurat .
Sedangkan Seli masih menangis di bawah sana gadis itu bingung harus berbuat apa, di satu sisi ia menunggu hasil operasi pada ayahnya sedangkan di sisi lain ia kwatir dengan keadaan sang kakak.
"Kakak hiks... suster tolong jaga kakak saya!" Mohon Seli menangis.
"Kami akan merawat kakak jangan kwartir kamu yang kuat ya," Alus lembut suster itu pada pundak Seli menenangkan gadis kecil itu.
Kedua Suster itu berucap dengan memberi kekuatan pada Seli yang terus menangis, mereka merasa iba pada gadis muda itu namun, apa yang harus mereka lakukan setelah menenangkan Seli mereka pun pamit untuk pergi mengerjakan pekerjaan mereka yang tertunda.
"Tuhan aku mohon selamatkan ayahku... kakak sudah berjuang demi ayah aku percayakan semua ini padamu Tuhan," tangis Seli berlutut di depan pintu.
Gadis kecil itu memohon dengan penuh tangisan sambil mengatup kedua tangannya di depan pintu ruang operasi.
Para perawat yang lain dan orang-orang yang ada di rumah sakit hanya menatap Seli dengan kasihan bahkan ada yang meneteskan air mata melihat kesedihan yang begitu mendalam pada gadis itu.
**** flash back.
Antonio adalah pria yang sangat kejam dan licik, mata keranjang dan bernafsu tinggi dalam hal gairah, ia merupakan salah satu bos besar perdagangan manusia yang juga bekerja sama dengan para bos-bos besar yang lain merupakan pemimpin-pemimpin yang sering melakukan perdagangan manusia, pria itu juga memiliki tinggi badan 176cm, orang yang dari dulu mengincar harta kekayaan keluarga Adrian, Dia adalah paman kandung Adrian.
Pria itu berucap pada wanita dewasa yang sudah memuaskan dirinya dari kemarin malam hingga pagi ini, Antonio adalah dalang kehancuran perusahaan Lucas, Dia mengatakan nada halus namun sangat menakutkan pada wanita dewasa yang ada di kamar hotel bersamanya dari semalam dia adalah Siska istri Lucas dan ibu Afikah dan Seli.
Siska adalah wanita dengan tinggi badan 155cm, wanita yang mata duitan dan memiliki hati yang kejam pada Afikah, Dia memang sudah berselingkuh dengan Antonio sejak Lucas masih sehat dan Afikah anak angkatnya mengetahui hal itu.
Saat Dia tahu suaminya bangkrut semua uang, mobil dan perusahaan disita oleh pihak bank demi membayar hutang sang suami, Wanita itu bukanya membantu kedua putrinya membawa Lucas ke rumah sakit dia malah menikmati malam bersama dengan sang pujaan hati yang juga memiliki seorang istri yang tidak lain adalah sahabat dekat Siska.
Semua rahasianya diketahui oleh Afikah sejak dulu namun, gadis malang itu tidak bisa memberitahu sang ayah karena mengingat ayahnya menderita penyakit serangan jantung sebelum divonis tumor otak.
"Itu pasti sayang. dan akan aku buat dirimu tidak akan berpaling dari diriku." Menarik dagu Antonio lalu kembali ******* bibir Antonio dengan lembut.
Antonio yang tidak kaget lagi dengan aksi Siska hanya tersenyum walau masih dibaluti dengan cinta itu.
Siska melakukan hal itu kembali walau bukan yang pertama kali ia menjadi kekasih gelap Antonio namun hal itu ia lakukan lagi agar bisa mempertahankan rumahnya supaya ia dan Seli memiliki tempat tinggal, sedangkan wanita itu sudah berencana akan mengusir Afikah dan menceraikan suaminya setelah pria itu sadar dari komanya tapi, Siska tidak tahu bahwa saat ini suaminya sedang dalam operasi besar.
****
__ADS_1
30 menit operasi akhirnya diselesaikan secara tiba-tiba.
"Dokter!" panggil seorang suster pada dokter Diah.
Suster itu memangil dokter Diah sambil melirik ke arah dokter Ester, yang tiba-tiba menghentikan operasi saat detak jantung Lucas berhenti total.
Dokter Dia mengangkat wajah yang sendu sambil menatap dokter Ester yang juga menatap dokter Diah dengan kesedihan. Lalu mereka sama-sama menggelengkan kepala masing-masing yang saat itu saling menatapnya satu sama lain, bukan hanya mereka yang sedih para perawat yang ikut membantu mereka melakukan operasi itu pun semuanya sedih karena operasi mereka gagal nyawa Lucas tidak selamat dalam operasi besar itu.
"Tugas kita selesai sampai di sini, rencana Tuhan tidak bisa kita ubah," pinta dokter Diah sambil membuka tutupan masker dari mulutnya.
Dia membuka masker dengan wajah yang sangat sedih dan menarik kain kafan putih rumah sakit menutupi seluruh tubuh Lucas yang tidak bernyawa lagi, Seli yang masih menangis dan memohon di luar secepatnya menghapus air mata saat melihat lampu ruang operasi yang sudah mati dalam arti operasi telah selesai.
"Dokter..." lirih Seli menghapus air matanya.
Seli berucap sambil menepis asal air mata yang masih mengalir dari pipinya ketika berlari menghampiri dokter Diah dan yang lainya pada saat baru keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana hasil operasi?" tanya Seli.
"Dokter bagaimana keadaan suami saya? Dia baik-baik saja bukan?" tanya Siska bersandiwara.
Siska bertanya dengan sengaja seolah dia sangat kwatir pada hal dalam hatinya mengutuk Afikah yang mau mengorbankan lima miliar hanya untuk operasi suaminya yang sama sekali tidak diharapkan Siska selamat.
Dasar gadis bodoh mengapa korbankan uang sebesar itu hanya untuk pria yang tidak berguna ini tunggu saja kamu Afikah, batin Siska emosi.
"Ibu!" Lirih Seli menatap bingung mamanya.
Siska mengetahui semua hal ini dari para tetangga rumah saat dirinya yang berpura-pura menangis akan kebangkrutan suami, jadi saat ada ibu-ibu yang lewat memberitahu Siska tentang semua hal yang terjadi di rumah sakit karena ibu itu juga salah satu anaknya masuk rumah sakit yang sama dengan rumah sakit yang merawat Lucas suami Siska.
Dokter Diah menarik nafas dalam-dalam sebelum memberitahu pihak keluarga akan kematian Lucas.
"Maaf. Maafkan kami, suami ibu tidak tertolong kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi kehendak Tuhan berkata lain," ungkap dokter Diah dengan nada sedih.
"Apa maksud dokter? Kami sudah mengorbankan lima miliar untuk operasi ini dan kamu mengatakan suami aku tidak selamat? Apa ini yang kamu bilang operasi berhasil?" Emosi Siska.
Siska berucap dengan nada tinggi sambil menatap tajam dokter Diah melotot mata yang emosi dan tidak terima.
"Tidak. Ini tidak mungkin! Hiks.... ayah!" tangis Seli berlari ke ruang operasi.
**** flash back.
"Ayah!" suara Afikah saat sadar dari pingsannya di mana dirinya berada di ruang gawat darurat waktu itu namun, masih dengan kondisi yang lemah.
__ADS_1
Bersambung.