Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 13 ( Mahkota Untuk Ayah).


__ADS_3

Di sisi lain Seli sadar dari pingsannya, di mana saat ia harus menghadapi kenyataan Ibunya dibakar hidup-hidup oleh warga setempat dengan rumahnya.


Seli yang melihat kejadian itu secara langsung menangis dengan keras sampai dirinya ingin ikut membakar diri bersama sang ibu namun, ia dihalangi oleh warga yang lain. Hingga akhirnya ia menangis dengan sejadi-jadinya sampai ia pingsan di tempat kejadian.


Seli yang baru sadar melihat sekeliling kamar yang ia tinggali saat itu, Gadis itu bangun dari pingsannya menatap dengan bingung dan tidak lama kemudian datanglah seorang wanita paru baya membawa nampan di tangannya yang berisi teh hangat untuk diberikan pada Seli.


"Kamu sudah sadar? Minumlah teh hangat ini agar bisa menenangkan pikiranmu terlebih dahulu," ucap wanita paru baya.


Dia duduk di samping ranjang kamar tempat dimana gadis itu dibaringkan.


Dimana aku sebenarnya ini? Ibu bagaimana dengan ibu? Siapa wanita ini? Aah... kepalaku kembali pusing, batin Seli dengan pikiran hingga kepalanya sakit.


"Terimakasih. Di mana ibuku? Dan bagaimana dengan debu bakar dalam rumah kami?" jawab Seli langsung pada intinya yang sedari tadi ada dalam pikirannya.


"Kamu tenang saja abu bakar ibumu sudah aku pungut, tinggal nanti kamu taburi di laut dan berdoa sekalian ikhlas akan kepergian ibumu," jawab wanita paru baya itu tersenyum manis pada Seli.


Seli yang mendengar ucapan wanita paru baya itu, meremas jari jemarinya dengan kuat di bawah sana. Dengan tatapan dingin namun, masih tergenang air di dalam sana ia menahan sakit dan luka di dalam dengan penuh derita. Saat melihat senyuman wanita paru baya yang saat ini ada di hadapan Seli ia baru sadar bahwa wanita ini adalah wanita yang sangat aktif waktu pengrebekan rumah Seli hingga ia yang paling memanas-manasi warga untuk menghancurkan dan membakar rumah Seli dengan ibunya.

__ADS_1


Aku baru sadar siapa dia. Seli sabarlah tenangkan emosimu untuk saat ini kamu harus fokus dulu pada abu ibu. Lihat dan tunggu saja pembalasan aku, batin Seli sambil meminum teh yang diberikan wanita paru baya itu yang tidak lain adalah Nining istri dari ketua pimpinan di kampung yang Seli tinggali.


"Setelah ini kamu harus mencari tempat tinggal nak kami tidak bisa menampung kamu di sini. Kamu tahu sendiri seperti apa aturan kampung ini."


"Jika mereka tahu kamu masih ada mereka akan kembali melukai kamu saran Tante pergilah ke diskotik Madam yang tidak jauh dari sini tinggallah di sana," ucap wanita tua itu.


Ucap Wanita seolah mengingatkan Seli pada kejadian dua Minggu lalu di mana seharusnya Dia yang memberikan mahkota untuk mendapatkan uang namun secepatnya dihalangi oleh Afikah dan pada akhirnya Afikah yang mengorbankan Mahkota Untuk Ayah mereka.


**** skip.


Lelah bersandiwara menjadi wanita yang dingin namun, sebenarnya aku rapuh, lelah untuk tidak mau mengeluh padamu namun, air mataku mengatakan aku harus mengeluh, Lelah dan aku lelah menahan air mata yang menyisakan hati ini


Aku cape Tuhan hiks...


Tuhan peluklah aku hapus air mataku, berikanlah sandaran bahu agar aku bisa menangis hiks....


Pecahlah sudah air mata yang selama ini ia tahan. Pecahlah sudah tangisan yang selama ini selalu ia usahakan untuk tidak menangis, Pecahlah sudah luka yang selama ini ia diamkan agar tidak terlihat betapa rapuhnya hidup ini, tangisan keras ketika ia melangkah di jalanan umum dan berhenti di pinggiran sungai. Akhirnya air mata yang ia tahan dan luka yang tahan selama ini kini mengalir dengan deras saat batin Dia hancur.

__ADS_1


"Ayah! Aku cape!" suara keras Afikah.


Hiks...


"Afikah lelah Afikah butuh sandaran hiks... Afikah ingin pergi ayah! Afikah sudah cape dengan semua ini hiks..." suara sesenggukan terdengar dan memenuhi pinggiran sungai yang sepi.


Jika aku tahu takdir aku seperti ini maka aku tidak akan mengatakan aku baik-baik saja. Jika aku tahu garis takdir seperti ini maka aku tidak akan bertahan selama ini.


Aku benci kenapa aku harus terlahir seperti ini jika aku hanya terluka


Bersambung.


Satu kata Dong untuk Afikah


Afikah kuat, jangan menyerah ya


peluk kamu

__ADS_1


__ADS_2