Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 55 ( Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

"Jangan ikut campur urusanku, urusin saja dirimu sendiri," ucap Adrian dingin.


Afikah menahan sakit yang kembali teriris di wajahnya entah mengapa Adrian yang melihat tangan Dia tiba-tiba menyentuh wajah Afikah terdiam seribu kata.


Wajahnya berubah mengapresiasikan bahwa Adrian seakan menyesal dengan perbuatanya.


Semua tamu yang melihat tindakan Adrian menutup mulut mereka kaget termasuk Jenny dan keluarganya namun, anehnya Jenny seperti melihat sesuatu yang berbeda dari diri Adrian tidak biasanya Pria itu bersikap aneh apalagi mengekspresikan wajah yang seakan menunjukan bahwa Dia menyesal akan perbuatanya.


Adrian kamu menyakiti Dia lagi, batin Adrian menyesal.


"Jika aku bilang jangan ikut campur maka jangan melawan! Kamu bukan anak kecil yang harus diajarin berulang kali!" ucap Adrian dingin.


Dia menatap tajam melotot yang berbahaya.


Afikah yang mendengar ucapan Adrian menahan sakit hati, Ia mengangkat wajah menatap balik Adrian dengan dingin.


"Berani sekali kamu menatap aku seperti itu kamu pikir..." ucapan Adrian kembali dipotong oleh Adrian.


"Aku minta maaf tuan muda," seru Afikah tersenyum tulus.


"Aku yang salah, aku yang bodoh, aku bodoh menjelaskan situasiku pada semua orang aku bodoh menjadikan diri ini seakan baik-baik saja...."


Suara Afikah terhenti seketika air mata mengalir deras rasa sesak memenuhi suara Afikah.


"Ingin aku berteriak hah..." suara Afikah bergetar.


Seakan untuk sekejap Ia ingin mengekspresikan semua lukanya selama ini pada Adrian ingin rasanya ia menangis dan berteriak tapi dirinya tidak bisa ia tidak sebodoh itu mempermalukan dirinya didepan seribu mata yang menatapnya saat ini.


Tetesan bening mengalir deras dari bola mata Afikah dan menetes di bawah kaki sepatu hitamnya.


Gadis malang ini tersenyum seakan dirinya benar-benar bodoh dihadapan semua orang disaat situasi seperti ini. Semakin Afikah menahan air mata serpihan luka di hati semakin sesak dan menyiksa diri.


Aku membenci kamu Adrian aku membenci kamu...


Tatapan tajam Afikah dan remasan jari-jemari seketika berubah kembali normal.


Adrian peluk Dia kamu sudah bersalah.


Tidak sanggup lagi Afikah langsung berlari pergi meninggalkan Adrian dan semua orang yang melihatnya dengan heran sendiri ada yang iba pada Afikah ada yang mencaci maki Gadis itu hancur karena memperburuk dan menghancurkan semua acara pesta ini mereka adalah nenek Jenny dan Ibunda Jenny.


"Semuanya kembali menikmati suasana malam ini anggap saja ini hanyalah tontonan yang tidak penting," ucap nenek Jenny mengalihkan kembali suasana.


"Tidak aku sangka seorang Adrian Arifin memperlakukan kasar asisten rumahnya seperti itu," ucap salah satu tamu yang lain.


"Sangat kasihan gadis malang itu," tambah yang lain.


Jenny yang mendengar ucapan semua tamu berbisik satu sama lain hanya diam ia menatap Adrian dengan sangat dalam. Lalu Jenny menghampiri Adrian untuk bertanya mengapa dia bersikap kasar seperti itu pada Afikah.


Walau yang dikatakan Antonio benar tidak seharusnya Adrian kamu percaya begitu saja pada paman kenapa kamu kembali lukai Dia?


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jenny menatap Adrian.


"Kata baik-baik saja tidak pantas untuk aku," jawab Adrian dingin.


Dia lalu melangkah pergi meninggalkan Jenny dengan wajah yang dingin dan masih penuh penyesalan.

__ADS_1


Jenny menarik nafas dalam-dalam melihat punggung belakang Adrian ia pun melangkah pergi mengikuti Pria itu dari belakang.


**** skip


"Jika kamu ingin menangis, menangislah dan berteriak lah selama itu membuat hatimu tenang. Jangan ditahan seolah kamu kuat berdamai lah dengan dirimu dan menangislah dari pada menahan akan menyiksa diri kamu sendiri," ucap Roni.


Ketika ia menghampiri Afikah yang ada di taman belakang vila menyendirikan diri sendiri di belakang taman yang gelap hanya lampu-lampu kecil menyala tapi tidak seterang lampu yang lain.


Roni berucap sambil membuka jas baju yang ia kenakan menutup tubuh Afikah di mana  saat itu ia melihat salah satu lengan baju Gadis itu sobek akibat perbuatan Antonio.


Afikah menarik nafas dalam-dalam untuk sekejap Dia ingin menangis dan berteriak ia diam menutup kedua matanya tidak peduli dengan kehadiran Roni yang sedang berdiri di sampingnya Afikah menahan luka yang kembali ia takuti akan hal tadi yang hampir dilakukan oleh  Antonio pada dirinya.


"Kamu bukan mesin atau robot kamu adalah manusia, banyak orang berkata bahwa dia tidak ingin menangis karena tidak mau dilihat lemah oleh orang lain. Tapi dia salah dalam hal seperti ini dengan menangis maka itu akan membuatmu tenang setidaknya kamu bisa berbagi dengan air matamu."


"Banyak orang selalu berkata seperti itu tapi, mereka tidak tahu bagaimana rasanya ketika kamu menangis hingga air mata dan suaramu kering tapi keadaan tetap sama tidak ada satu pun yang berubah," jawab Afikah berkaca-kaca.


Roni yang mendengar ucapan Afikah melihat gadis itu dengan tatapan dalam.


"Aku tahu itu tapi sampai kapan kamu harus menyiksa diri? Menangislah jika itu membuatmu lebih baik," kata Roni masih dengan tatapan dalam.


Entah mengapa hati Afikah begitu sesak ia menunduk kepala ke bawah menarik nafas dalam-dalam Afikah menatap Roni yang masih menatapnya.


"Bisa pinjam aku punggung kamu aku hanya ingin bersandar sebentar," kata Afikah.


Roni yang mendengar ucapan Afikah memutar tubuhnya membelakangi Afikah dengan punggung lebarnya.


Afikah mendekatkan kepalanya untuk disandarkan pada punggung kekar Roni dimana posisi tubuh mereka  berdua  seperti terikat lem menempel rapat namun saling membelakangi.


Afikah menutup kedua matanya dan seketika cairan itu mengalir los di sana membasahi wajah Gadis muda ini air matanya mengalir dengan deras di sana.


"Biarkan sedetik saja aku menangis untuk mengeluh sebagai Afikah yang lemah, biarkan aku menangis sebagai Afikah yang haus akan kasih sayang hiks..." pecahlah sudah tangis Afikah.


*** SKIP.


Jenny yang sedari tadi mencari sosok Adrian akhirnya ia menemukan pria itu. Kaki Jenny terhenti melihat Adrian yang berdiri diam seperti melihat sesuatu, mata Jenny mengikuti arah tatapan Adrian matanya melotot melihat Afikah yang sedang menyandarkan kepala pada tubuh Roni dan menangis sejadinya di sana.


Kedua tangan Jenny meremas kuat dibawah sana dengan tatapan berbeda dari Jenny biasanya.


Tidak akan itu Takan terjadi Adrian hanyalah milik aku.


Akhirnya Jenny berlari menghampiri Adrian langsung memeluk Adrian dari belakang kedua tangan Jenny dilingkarkan diperut Pria itu sedangkan kepalanya disandarkan pada tubuh kekar Adrian.


Adrian yang kaget dengan sikap orang yang tidak dikenal olehnya segera melepaskan kedua tangannya yang saat itu sedang memeluknya.


"Lepaskan! Berani sekali.." ucapan Adrian terhenti ketika suara Jenny memotong ucapannya.


"Aku hanya ingin menenangkan kamu aku tahu kamu juga tidak mungkin melakukan hal itu karena sengaja aku sungguh percaya padamu jadi jangan salahkan dirimu," kata Jenny pelan.


"Jenny! Apa yang kamu lakukan?" tanya Adrian


"Tenanglah aku tahu kamu cemburu atau apa tapi..."


"Cemburu? Aku tidak pernah cemburu pada gadis sampah itu Dia bukanlah tipe aku."


Ketua Adrian emosi karena tidak terima ketika Jenny mengatakan bahwa dirinya cemburu dengan Afikah.

__ADS_1


"Aku tidak sebut nama siapa yang kamu cemburu. Mengapa kamu menyebut nama Afikah?" tanya Jenny mengerutkan kening tidak suka.


"Apa? It. Itu maksud  aku...ahhh sudahlah ucapanmu memang arahnya ke sana bukan?" Jawab Adrian.


Dia mengalihkan ucapan Jenny karena menyadari sesuatu sudah terjadi padanya.


"Aku ada urusan sama anak itu!" ucap Adrian.


Dia menatap tajam Afikah dan Roni  yang masih berdiri dengan posisi yang sama.


Seharusnya aku yang di sana bukan Pria asing itu Afikah aku baru sadar Kamu hanya milik aku, aku sudah kehilangan kedua orang tua aku hanya kamu satu-satu yang aku miliki.


Di sisi lain Afikah menarik nafas saat air mata Afikah ingin menghapus wajahnya yang basah akibat menangis tiba-tiba datanglah Adrian yang langsung menarik kasar Afikah.


"Ayo kita pulang!" ucap Adrian   menyeret kasar tangan Afikah dan kembali melangkah pergi.


"Apa?"


"Lepaskan!!!"


"Sakit!!!"


Tolak Afikah yang syok saat tubuhnya yang hampir jatuh akibat tarikan tangan Adrian begitu kuat yang menyeretnya seperti karung beras.


Roni yang kaget memutar tubuh lalu segera mencela sikap Adrian yang begitu kasar pada Afikah dengan kembali menarik tangan Afikah menatap tajam Adrian marah.


"Lepaskan! Apa kamu tidak dengar ucapannya!?" ucap Roni.


Menatap kejam pada Adrian yang juga tidak kalah tajam saat menatap wajah Roni.


"Ini bukan urusanmu!" Kata Adrian dingin dengan wajah yang sangat menakutkan.


"Ini adalah urusanku! Jangan kasar pada Afikah atau!"


"Atau apa!!!" teriak Adrian nada tinggi.


"Jangan memancing aku! Semakin kamu berusaha keras itu akan membuat aku semakin menghancurkannya!!!" ancam Adrian.


Dengan tatapan dingin dan nada pelan namun, sangat serius saat ia berucap.


"Cobalah maka aku..."


"Hentikan!!!!"


"Ayo kita pergi! Jika ini tujuanmu datang ke sini," teriak Afikah menghentikan suasana yang semakin tegang antara Roni dan Adrian.


"Jangan membentak aku dengan suara hina itu! Kamu hanyalah sampah bekas di mataku!!!" kata Adrian.


Menatap emosi Afikah lalu melangkah pergi dengan melepas kasar tangan Afikah dari genggamannya.


"Jika kamu terus membenci aku maka mari akhiri PERNIKAHAN INI! Aku CAPEK! AKU LELAH SANGAT lelah! Hiks..."


Teriak Afikah tiba-tiba dengan tatapan penuh air mata pada Adrian untuk pertama kali Ia mengucapkan kata itu dari mulutnya.


"APA?"

__ADS_1


Adrian kaget.


Bersambung.


__ADS_2