Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 38 (Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

"Ok. Para hadiri yang aku hormati. Terimakasih masih setia sampai jam segini acara pesta semakin rame. Sekarang tibalah saatnya kita acara dansa. Namun, sebelum itu di mulai aku ingin mengadakan  sebuah acara dansa pembukaan langsung dari tuan muda Adrian dan tunangannya."


Ungkap MC acara di atas panggung.


Sontak ungkapan Mc tersebut membuat semua orang kaget termasuk kepala pelayan Tina karena setahu mereka Adrian sudah menikah wanita itu adalah Afikah lalu tunangan siapa lagi itulah yang ada di pikiran para pekerja  rumah.


Memang pernikahan Afikah dan Adrian belum di dipublikasikan ke masyarakat namun, secara  jentelmen Adrian sudah sah menikahi Afikah walau itu hanya perjanjian di atas kertas.


"Tunangan? Adrian kamu bertunangan dengan siapa?" tanya Jenny.


Dia kaget sendiri dengan ucapan Mc tersebut.


"Hiraukan ucapan mc. Bolehkah kamu berdansa dengan aku?" jawab Adrian.


Pria CEO ini berdiri di hadapan semua tamu memancarkan senyum manis sambil mengulurkan tangan pada Jenny yang kebingungan.


"Apa?"


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Jenny lagi.


Sambil menggaruk kepala yang tidak gatal dengan malu-malu kucing pada seribu mata yang melihat mereka apalagi sikap Adrian yang begitu manis dan hangat.


Pada hal Adrian di kenal sebagai pria berdarah dingin, cuek dan angkuh namun, malam itu adalah malam bahagia dimana pertama kali bagi semua orang bisa melihat sisi baik Adrian pada wanita yang dia cintai walau selama ini banyak yang tidak tahu siapa wanita yang begitu beruntung memiliki Adrian.


"Berdiri... berdiri..." teriak sorak para tamu.


Dengan menepuk tangan untuk meminta Jenny mau menerima ajakan Adrian berdansa dengan Jenny di hadapan semua tamu.


Wajah yang merah merona Jenny terpaksa menaruh tangannya manis pada tangan Adrian untuk menerima ajakan dansa Pria ini.


Kini Jenny dan Adrian berdiri di tengah-tengah semua tamu lampu di matikan dan yang nyala hanyalah lampu mati hidup dengan warna-warni.


Adrian meraih tangan Jenny dan diletakan tangan itu ke kedua pundak  lebarnya.


Tatapan sangat dalam pada Jenny Pria itu melingkarkan kedua tangan Dia sangat lembut di pinggang Jenny dan menarik dengan sedikit kencang   pinggang ramping Jenny lebih dekat dengan dirinya.


Kini nafas mereka saling mengenai kulit pori-pori wajah mereka satu sama lain.


Dengan tatapan peding Adrian mulai berdansa dengan Jenny sangat romantis yang di iringi musik  "you look so beautiful dari Westlife.


Mereka berdansa dengan sangat romantis di sana hingga semua tamu, kamera banyak yang mengambil gambar, foto dan vidio sambil banyak tamu yang jerit histeris akan suasana romantis saat itu.


Tidak ada yang peduli akan keadaan Afikah yang saat itu benar-benar menggigil kedinginan karena suhu air dan udara yang semakin dingin di seluruh tubuh.


Rasanya aku sulit untuk bernapas semua terasa gelap dan beku di mataku. Kenapa terasa begitu sesak di dada ini seluruh tubuh serasa seperti di salju sulit  bagiku bisa bernapas ada apa ini, batin Afikah.


Sburrr...


Seorang pria tampan  yang langsung menceburkan tubuh ke dalam kolam yang langsung menangkap tubuh Afikah ketika gadis itu yang mau pingsan saat itu.


"Apa kamu baik-baik saja?" Rasa kwartir terlihat jelas di wajahnya.


Tatapan samar-samar terlihat kabur di mata Afikah Dia masih tersenyum manis dan tidak lama kedua matanya menutup Afikah pingsan di tangan pria tersebut yang tidak lain adalah Roni sahabat Adrian Pria memiliki tinggi badan 175cm tidak kalah tampan dengan Adrian.

__ADS_1


Pria berdarah campuran Inggris Indonesia karena ayahnya seorang  inggris.


Roni langsung membawa tubuh Afikah untuk segera keluar dari kolam sana. Bersamaan dengan selesainya musik yang mengiringi Adrian saat tadi dansa dengan Jenny.


"Roni!" Adrian kaget.


Ketika melihat Roni yang sedang membopong tubuh Afikah dan membawanya keluar dari kolam.


"Turunkan! Mau kamu bawa ke mana gadis ini!?" tanya Adrian.


"Atas ijin siapa kamu membawanya keluar dari sana?"


"Aku tidak akan turunkan dia dan aku memang ingin menolongnya." Menatap tajam Adrian.


"Aku pergi..."


"Tunggu! kamu tidak berhak membawa orang yang bekerja dengan aku dengan seenaknya! Berikan dia padaku!" kata Adrian.


Dia menghentikan langkahan kaki Roni.


"Terserah apa maumu. Saat ini pelayanmu membutuhkan pertolongan," seru Roni.


Yang kembali membopong tubuh Afikah untuk di bawa pergi meninggalkan Adrian.


Jenny yang melihat emosi  membara di mata Adrian sedikit merasa aneh akan sikap Pria yang di sampingnya ini.


Jenny sudah mengenal seperti apa Adrian tapi kali ini Jenny akui Adrian cemburu walau Dia tidak sadar akan hal itu.


"Kamu jangan marah seperti itu. Lihatlah semua orang akan berpikir bahwa kamu menyakiti semua pelayan pada hal tidak," ucap Jenny menasehati Adrian.


"Segera akhiri acara hari ini!" perintah Adrian.


Dia meminta mc acara untuk mengakhiri pesta. Mc acara pun akhirnya mengakhiri acara pesta dengan berpamit di atas panggung bersama semua tamu.


Dengan berat hati semua orang mulai meninggalkan acar pesta satu persatu. Adrian hanya tersenyum meminta maaf pada mereka semua, Adrian meremas jari-jemarinya dengan sangat kuat dan tatapan tajam lurus ke depan.


Acara pesta aku semua gagal karena gadis itu.


Aku tidak akan biarkan Dia tenang malam ini, bungkam Adrian.


Dia yang mulai melangkah dengan emosi menyusul Roni yang membawa Afikah ke dalam rumah.


"Kamu mau ke mana? Hei! Tunggu..." teriak Jenny.


Dia yang juga ikut menyusul Adrian pergi.


****


"Aku baik-baik saja terimakasih tuan sudah menolong aku. Namun, aku harus menyelesaikan tugasku dulu," ucap Afikah.


Gadis malang ini yang baru sadar dari pingsannya.


"Ehh...Tidak. kamu itu lagi sakit tugasmu sudah aku perintahkan pelayan lain yang beresin," jawab Roni menatap Afikah dengan senyuman.

__ADS_1


"Tapi...tuan jika..."


"Tidak ada tapi-tapi. Sekarang minum obat ini biar tubuhmu fit lagi! Kesehatan itu mahal jika tubuhmu sakit maka tidak bisa kamu bekerja dengan baik."


"Terimakasih banyak tuan muda. Maaf merepotkan tuan."


"Sama-sama. Minumlah biar tubuhmu ada tenaga!"


Afikah meraih dengan pelan gelas berisi air di tangan Roni untuk di minum. Namun, belum Afikah meminum air dari Martin tiba-tiba Adrian datang dan mengacaukan suasana yang tadinya adem ayam kini menjadi suasana tegang.


Pranggg....


Sebuah pecahan air dari gelas dengan kencang ke lantai ketika ketika Adrian memukul gelas itu dari mulut Afikah yang baru ingin meminum.


"Siapa yang memintamu istirahat! Kamu siapa! Berani sekali kamu melanggar!?"


"Aku yang memintanya. Dia lagi sakit bagaimana mungkin..."


"DIAM!!!" jerit Adrian.


Nada tinggi hingga suaranya memenuhi seisi kamar tamu dan seluruh bagaikan gledek yang besar.


"Aku tidak meminta jawaban kamu!"


"Apa kamu bisu? JAWAB PERTANYAANKU?" tekan Adrian.


Dengan penekanan  kata dan emosi yang mulai menjambak kasar rambut Afikah hinga kepala Afikah menghadap wajah  Adrian seperti singa yang lapar di wajah  itu.


Aakh...


"Sakit..." ucap Afikah.


Dia yang menahan sakit di kepala akibat tarikan Adrian pada rambutnya.


"Dia baru  saja sadar bisakah kamu tidak memperlakukan kasar seperti  ini? Dia seorang wani..."


"DIAM!!!"


"jangan ikut campur urusan pribadiku! Jika kamu tidak tahu akar masalahnya. Kamu di sini hanya seorang tamu bukan keluarga."


"Wanita iblis seperti dia pantas diperlakukan kasar dia bukanlah manusia berkaki dua melainkan sampah yang tidak pantas dipungut!" kata Adrian.


Dengan keras menekan tangan kasar di dagu Afikah hingga gadis itu meringis kesakitan namun, sama sekali tidak dipedulikan Adrian.


Afikah menatap Adrian dengan tatapan tajam dan dingin tanpa ada setetes bening keluar dari sana.


"Berani sekali kamu menatap aku seperti itu..."


Plak... plak... plak...


Tamparan keras yang didaratkan dari tangan Adrian berulang-berulang  pada wajah Afikah.


"ADRIAN!!!" Emosi Roni.

__ADS_1


Langsung menarik kerak kemeja Adrian kenakan dengan tatapan bunuh padanya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2