Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 52 ( Mahkota Untuk Ayah).


__ADS_3

"Terimakasih banyak Adrian sudah mau ajak Afikah ikut, dan makasih juga buat kamu Fikah sudah luangkan waktu untuk ikut," ucap Jenny.


Jenny menatap dalam Afikah di dalam mobil saat mereka sampai di tempat tujuan yaitu Bandung untuk merayakan pesta ulang tahun oma Jenny.


"Tidak perlu berterimakasih padanya! Dia seorang pelayan jadi wajar jika aku meminta datang itu hak aku," ucap Adrian dingin.


Kepala Afikah pusing tapi masih ditahan rasa mual begitu kuat di mulut Afikah namun, masih di tahan.


Afikah hanya menarik nafas dalam-dalam menahan perih di dalam sana, air mata seketika ingin ia luapkan sadar akan keadaan ia mengontrol emosi dan mengipas kedua mata dengan dua tangan sebagai kipas angin.


"Jangan turunin barang-barang! Kamu  urusi saja omamu biarkan semuanya diturunin Afikah! Dia bukan bos di sini!ucap Adrian.


Pada Jenny ketika Gadis itu membuka bagasi mobil untuk mengangkut koper dari sana.


"Tapi Adi," ucapan Jenny terhenti ketika Afikah yang juga saat itu berdiri di hadapan memotong perkataanya.


"Tidak apa-apa nona. Kata tuan muda benar seharusnya aku yang akan menuruni semua barang-barang di bagasi mobil," jawab Afikah tersenyum.


"Baguslah kalo kamu sadar diri!" lanjut Adrian melirik Afikah dengan sorot mata dingin.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Jenny merasa tidak enak.


"Tidak. Ini tangung jawab aku nona," jawab Afikah masih tersenyum.


Di tengah  perdebatan mereka tiba-tiba suara seorang wanita tua  yang  berusia 50 tahun memangil nama Jenny yang mengagetkan mereka semua.


"Cucuku..." begitulah pangilan itu pada cucu tersayang orang yang tidak lain adalah oma Jenny sendiri.


"Oma..." jawab Jenny memutar tubuh ke arah suara yang sedang melangkah menghampiri.


"Oma kangen banget sama kamu tadi aku bertanya sama mama dan papamu mereka bilang kamu sedang dalam perjalanan sudah lama sekali kamu tidak mengunjungi oma," ucap wanita paru baya itu sambil memeluk Jenny dengan erat.


"Jalanan macet makanya aku sedikit telat. Maaf membuat oma menunggu, Jenny juga merindukan oma," seru Jenny saat  melepaskan pelukan dari tubuh wanita tua itu.


Keduanya saling melepaskan rindu mereka satu sama lain. Oma Jenny menatap Adrian dan Afikah mengerutkan kening dan melirik sebentar ke arah cucunya dengan wajahnya yang keriput sambil bertanya pada Jenny,


Afikah masih menahan kepal yang semakin pusing kembali Adrian menatap ke arah Afikah yang sudah berkeringat halus rasa Kwartir terlihat di wajah Adrian.


"Siapa mereka?" tanya nenek Jenny.


"Oh. Aku lupa memperkenalkan  kedua sahabat aku pada oma."


"Ini Adrian sahabat aku sejak kecil dan yang ini namanya Afikah  teman baru aku," kata Jenny saat memperkenalkan.


Adrian dan Afikah yang tersenyum tipis menundukan kepala mereka sedikit ke bawah sebagai rasa hormat mereka.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bilang kalo punya sahabat tampan dan cantik seperti mereka."


"Oma... ingat umur," ucap Jenny tersenyum malu.


"Apa mereka pasangan suami istri atau semacam  pacaran?" tanya Oma Jenny lagi.


"Apa?" kaget Jenny.


"Tidak. Dia adalah asi..."


"Dia adalah teman baru Jenny," jawab Jenny secepat mungkin memotong ucapan Adrian.


Jenny tahu kalo sampe Adrian bilang bahwa Afikah adalah asisten rumah tanganya maka jelas Afikah tidak akan diijinkan masuk apalagi merayakan pesta ulang tahun oma Jenny semua itu karen ada sistem kasta dalam keluarga Jenny.


Adrian menatap Jenny bingung dengan sikap dia yang tidak menyukainya.


"Ohh... ya sudah ayo masuk biarkan barang-barang kalian dibawa oleh bodyguard dan pelayan rumah kami," tutur oma Jenny.


Wanita paruh baya itu meminta Adrian Afikah untuk masuk.


Mereka pun mulai masuk Afikah melihat ke Adrian sekilas namun, Jenny meminta Afikah dan Adrian cepat masuk, tidak lama klakson mobil lain datang namun, ketiga orang itu sudah masuk ke dalam fila sedangkan para pengawal sedang membereskan barang-barang bawaan mereka.


Mobil yang datang itu adalah mobil Ronj yang mengikuti Adrian, Jenny dan Afikah dari belakang alasanya Dia membawa mobil sendiri karena  sahabatnya tidak mau satu mobil dengan Roni.


****


"Untuk sementara kita akan  tinggal di Jakarta dulu untuk menghindar dari istri dan anak-anak aku," jawab pria berusia 30 tahun saat menatap dalam Seli ketika mereka ada di dalam mobil perjalanan menuju Jakarta.


"Sampai kapan aku kamu perkenalkan pada istrimu mas. Karena dirimu aku memutuskan pacar aku jadi aku harap kamu tidak mengingkar janjimu," seru Seli kembali merangkul leher Jony sangat dekat dengan wajahnya.


Jonny menarik nafas dalam-dalam ketika Seli yang mulai memancingnya untuk berciuman. Namun, pria itu menolak karena saat itu mereka masih berada di jalanan yang rame dan macet.


"Maaf. Maafkan aku, kita tidak bisa melakukanya karena saat ini kamu dan aku ada di tempat umum," ucap Jonny menolak.


"Ayolah mas tingal tarik korden kaca... siapa juga yang mau lihat kita?" ucap Seli tersenyum manis.


Sambil tersenyum Seli akhirnya mendekatkan bibir ke wajah Jonny lalu,  Ia yang memulai ciuman bibir manis di sana. Jony yang sedang menyetir mobil awalnya menolak namun, Seli terus meransangnya hingga akhirnya mereka berdua melakukan ciuman ganas di dalam dan lupa bahwa mereka ada di tempat umum.


**** Fila keluarga Jenny.


Mata hari mulai terbenam menunjukan hari mulai gelap, Afikah gadis itu berdiri diam di atas balkon kamar sambil melihat-lihat  keindahan di sore hari itu dengan ditemani terbenamnya sang mentari.


Untungnya tadi Dia minum obat untuk mengurangi rasa mual dan kepalanya yang pening.


Gadis itu menarik nafas dalam-dalam lalu secara pelan Dia menghembuskan, Afikah pun tersenyum tipis memutar tubuh untuk bersiap-siap menghadiri acara pesta yang sebentar lagi akan dimulai.

__ADS_1


Afikah mengenakan dres brokat lengan panjang berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuh, Dia mengenakan make up tipis  dipadukan dengan lipstik merah juga pas-pasan di bibir namun,  itu tidak menghilangkan kecantikan Afikah.


Setelah mengenakan pakaian yang rapi dan bersiap Gadis itu memasukan kedua kakinya ke dalam sepatu hitam dasar karena Dia tidak menyukai memakai haighils yang memang sudah disiapkan Adrian.


Lalu Gadis itu melangkah pergi ke luar untuk siap menghadiri acara pesta ulang tahun oma Jenny yang sebentar lagi akan dimulai.


Terlihat semua kursi putih sudah penuh semua dengan masing-masing meja yang disediakan.  Afikah melangkah keluar dengan memasang senyum sambil melirik ke sana dan kesini seperti mencari sesuatu.


Lalu datanglah seorang pagar ayu cantik menyapa Afikah.


"Apa yang sedang anda cari nona?" tanya pagar ayu tersebut.


Ahh...


Afikah reflek.


"Tidak. Aku hanya melihat kursi yang pas untuk aku tempati," jawab Afikah.


"Mari saya antarkan ke kursi yang nyaman untuk nona!" tawar pagar ayu tersebut.


Dengan suara yang lembut sambil menuntun Afikah ke meja tengah yang berada tepat di depan panggung.


Afikah duduk di meja bundaran pertama sambil melihat-melihat kemewahan pesta ulang tahun nenek Jenny dimana semuanya super ketat, bodyguard berada di mana-mana baik dari pintu timur, barat, selatan maupun utara, pagar ayu pada sibuk melayani tamu-tamu undangan.


Roni melangkah diam mempesona ketampanan sambil diam membisu, mata Roni seperti tidak asing melihat sosok wanita yang sedang membelakangi dirinya itu tatapan Pria ini semakin dalam Dia tidak menyangka wanita yang dari tadi dalam pikiranya kini ada tepat di hadapan,  Ia mengukir senyum tipis menghampiri sosok yang tidak asing baginya.


"Afikah!" ucap Martin saat berdiri di hadapannya.


Gadis malang itu kaget  akan suara tiba-tiba menyapa dirinya dan terdengar tidak asing bagi Dia,  langsung memutar tubuh menatap asal suara.


"Tuan muda!" sapa Afikah balik.


Dengan kaget sambil bangkit berdiri dari kursi yang diduduki.


"Jangan sebut aku seperti itu panggi aku Roni saja," ucap Roni.


Dia tersenyum menatap dalam Afikah sambil meletakan bokong di kursi putih tepat disamping Afikah.


Ya Tuhan betapa cantiknya gadis ini,  meke upnya yang sederhana dan pakaian  sangat sopan membuat aku ingin semakin kuat memilikinya, batin Roni menatap dalam Afikah


"Mengapa kamu duduk diam sendiri di sini?" tanya Roni memulai obrolan sambil memuji kecantikan Afikah dalam hati.


Bersambung....


Maaf author telat update kemarin sibuk sekali dua hari ini maaf ya terimakasih masih setia dengan novel ini.

__ADS_1


__ADS_2