Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 8 ( Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

Tiga minggu kemudian Afikah masih di dalam gudang wajahnya kini semakin pucat, lehernya sedikit melancong karena badan yang semakin kurus.


Wajar saja semua itu terjadi selama dikurung oleh ibu angkatnya di gudang semua makanan yang dibawa oleh Seli dengan menukarkan makanan basi yang ditukar oleh Seli diganti dengan makanan yang baru.


Selama makan Afikah terus memuntahkan semua makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya dikeluarin dari mulut oleh isi perut apa pun yang dikonsumsinya akan ia keluarkan membuat tubuhnya semakin melemas dan pusing.


Pagi itu Afikah lemas dengan tubuh yang sulit untuk berdiri namun, gadis itu tetap memaksakan diri untuk bangkit dari tidur. Saat sudah bangkit berdiri kepala Dia sangat sakit dan membuat ia melihat sekeliling berputar seperti arah jarum jam, sedangkan tatapan Dia semakin lama semakin gelap gulita hingga tubuhnya yang sudah kehilangan tenaga karena dari semalam ia kembali memuntahkan semua isi perut.


Kepalanya semakin berat penglihatan buram tidak bisa melihat apa-apa, tubuhnya yang semakin lemah sulit untuk Afikah berjalan semakin lama rasa pusing datang di kepala Afikah ia kehilangan keseimbangan tubuh hingga akhirnya Jatuh bersimbah di lantai.


"Kakak!" panggil Seli ketika melihat tubuh Afikah yang tergeletak di lantai.


Seli yang mengantar makanan ke gudang untuk kakaknya kaget hingga makanan yang di nampan dipegang oleh tangannya tumpah berserakan di sembarang tempat di bawah sana.


"Kakak!" jerit Seli lagi


"Kamu kenapa? Bangun Kakak hiks..." tangis Seli.


Seli bersujud dibawah sana sambil memangku tubuh Afikah dengan kepala Afikah diletakan di atas tumpuan pahanya yang lain sebagai alas bantal.


Siska yang mendengar teriakan Seli dari gudang di mana saat itu ia sedang asyik menonton acara di televisi yang terletak di ruang keluarga, dia segera bangkit dan berlari menghampiri arah suara Seli di gudang sana.


"Apa yang kamu lakukan Seli?" Menatap kaget.


Siska melihat putrinya dari balik pintu.


"Ibu, kakak pingsan cepat panggilkan dokter Ibu! hiks.... Seli mohon Kali ini ibu turuti permintaan Seli" Menatap mamanya penuh dengan air mata.


"Tidak Seli. Dia palingan sengaja melakukanya agar ibu bisa mengasihaninya dan membebaskan," jawab Siska tidak percaya.


"Ibu teganya ibu mengatakan seperti itu! Wajah kakak sangat pucat bagaimana mungkin kaka membohongi kita," ucap Seli menatap ibunya masih dengan air matanya.


Siska yang tidak peduli dan sama sekali tidak kwartir akan kondisi Afikah tersenyum. Ia menghiraukan ucapan Seli lalu pergi mengambil air di ember yang ada di kamar mandi, tujuan Siska melakukan itu untuk memastikan dan membuktikan pada Seli bahwa Afikah berbohong padanya, bagi Siska saat ini gadis malang itu berpura-pura mencari perhatian dia lalu, Ia kembali ke gudang dan langsung siram air yang ada di ember ke tubuh Afikah.

__ADS_1


"BANGUN!" jerit Siska.


Siska berucap dengan nada tinggi hingga bagaikan petir saat itu dengan tatapan melotot mata bunuh pada Afikah.


"Kamu pikir aku percaya dengan sandiwara basi kamu itu?" papar Siska.


Siska yang emosi kembali bersikap kasar menendang-nendang kaki Afikah dengan kuat tapi, sayang gadis itu sama sekali tidak terpengaruh atau membuka matanya dan bangun dari sana.


Seli yang melihat sikap mamanya dan sudah keterlaluan pada kakaknya meremas jari jemarinya dengan sangat kuat Ia menatap tajam ibunya dan bersuara,


"Hentikan Ibu!" geram Seli.


Seli yang berucap dengan nada tinggi pada ibunya karena, dirinya yang sudah tidak tahan lagi dengan ucapan dan perilaku kasar Siska pada Afikah.


"Jika ibu tidak mau memangil dokter biar aku saja dan jangan berani ibu berbuat hal hina ini di hadapan aku! Mau Dia seperti apa Dia tetap kakak dimata aku dan dia tetap saudara aku!" tegas Seli menatap tajam Siska.


"Beraninya kamu memarahi mama hanya karena anak sampah ini Ibu tidak akan biarkan kamu memangil dokter," ucap Siska masih menahan amarahnya.


"Ibu Seli mohon untuk kali ini dengarkan Seli panggilkan dokter hiks..." memohon dengan tangisan sambil berlutut di bawah kaki.


"Apa yang kamu lakukan? Jangan merendahkan dirimu hanya demi gadis pembawa sial ini!" tutur Siska geram akan aksi putrinya itu.


"Seli tidak akan bangkit berdiri dari sini sebelum ibu mengabulkan permintaan Seli," jawab Seli memohon.


Siska yang melihat aksi putri kesayangannya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia menarik nafas dalam-dalam masih mendengus emosi pelan.


Hufff....


"Baiklah ibu akan panggilkan dokter, aku melakukan semua ini hanya untuk kamu," pinta Siska akhirnya menuruti kemauan putrinya itu.


Siska mengikuti ucapan Seli dengan secepatnya ia menelpon ke dokter yang ada di rumah sakit terdekat, sedangkan Seli gadis itu membopong tubuh Afikah untuk segera membawa tubuh kakaknya ke kamar.


Setelah meletakan tubuh Afikah terlentang di kasur kamar Seli masih setia duduk di samping kakaknya dan menatap dalam wajah pucat nan cantik yang sedang berbaring di sana.

__ADS_1


30 menit kemudian dokter wanita yang tadi dipanggil oleh Siska datang, Ia pun segera mengikuti Siska yang menuntutnya masuk ke kamar Seli.


Para tetangga yang sedang bergosip di penjual sayur gerobak saling berbisik-bisik satau sama lain dengan mengatakan siapa yang sedang sakit? Karena menurut mereka yang sakit sudah pergi yaitu Lucas.


Dokter pun mulai memeriksa suhu tubuh Afikah dan memastikan kondisinya melalui pergelangan urat nadi Afikah, dokter juga mulai memakai peralatan dokter untuk memeriksa tubuh Afikah dan memastikan apa yang terjadi pada gadis itu, setelah lima menit memeriksa kondisi Afikah Dokter tersebut tersenyum bahagia menatap Seli dan Siska yang sedang serius memastikan kondisi Afikah.


"Dokter bagaimana kondisi kakak saya? Apa dia baik-baik saja?"tanya Seli cemas.


Dokter yang mendengar ucapan Seli tersenyum bangkit berdiri ia mengulurkan satu tangannya dihadapan Seli dan Siska untuk menyalami mereka sebagai tanda ungkapan bahagia.


"Selamat ya nyonya, putri anda positif hamil. Kehamilannya sudah berjalan 2 minggu."


"Hamil?" Siska kaget.


Siska dan Seli yang saling menatap satu sama lain tidak percaya mereka kembali menatap dokter itu dan berucap bersama,


"Hamil?" suara serentak Seli dan Siska.


"Bagaimana mungkin kakak hamil? Pada hal dia tidak..." ucapan Seli terdiam saat ia yang seperti merasakan sesuatu yang tidak ia sadari.


Seketika memory otak Seli kembai mengingat kejadian di rumah sakit dimana saat itu Afikah datang mengatakan pada Seli bahwa ia sudah mendapatkan biaya operasi ayahnya, Seli yang sadar akan hal tersebut jatuh lemas di lantai.


"Kakak! hiks...." tangis Seli merasa bersalah di bawah sana karena baru menyadari hal itu.


Siska yang melihat Seli menangis merasa aneh dengan sikap putrinya itu. Namun, ia masih mengontrol emosinya untuk tidak bertanya pada Seli karena masih ada dokter.


wanita itu hanya tersenyum paksa pada dokter yang menatap mereka sedikit bingung lalu dokter itu pun pamit untuk pergi.


Siska mengantar dokter tersebut ke depan dan mengucapkan terimakasih karena mau menyempatkan waktu untuk datang memeriksa kondisi putrinya. saat di depan teras Siska melihat para tetangga yang sedang bergosip di gerobak tukang sayur, Dia meremas jari jemarinya dan menongkak kuat rahang giginya dengan tatapan tajam penuh amarah Siska segera melangkah masuk kembali untuk menghampiri Seli dan Afikah.


Dasar gadis pembawa sial, Dia sok polos di hadapan aku tapi mempermalukan aku dan anakku sebelum orang-orang kampung mengetahuinya aku harus meminta menggugurkan kandungannya batin Siska.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2