Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 42 ( Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

"Mengapa kamu masih diam? Bukankah kamu tidak makan dari semalam?" tanya Adrian.


Dengan sikap dingin duduk santai di salah satu bangku kayu menghadap Afikah ketika dirinya yang sama sekali tidak merasa bersalah setelah menampar Gadis ini.


Gadis malang ini hanya diam Dia menahan sakit di di wajah di mana luka di bibir yang kembali mengeluarkan darah dan dahi yang  masih dengan luka parah akibat ulah Adrian di siang.


Afikah menarik nafas dengan sangat dalam Dia berusaha mengontrol rasa sesak di dada sambil mengubah ekspresi wajah saat menatap Adrian kembali dengan memberikan senyuman manis pada Adrian.


"Bagaimana bisa aku makan jika kedua tangan aku masih diikat seperti ini. Apa tuan muda yang mau menyuapi aku," ucap Afikah.


Memperlihatkan tangan yang masih terikat dengan tali.


"Apa?" Mengerutkan keningnya.


"Menyuapi?"


Cih...


Adrian berdecih kesal


"Bahkan menjadi orang baik padamu saja tidak  sudi bagi aku," seru Adrian.


"Dia yang mengerutkan dahi dengan mengangkat alis menatap Afikah dengan tatapan dingin."


"Jika tuan muda jijik maka lepaskan tali ini dari tanganku agar aku bisa makan sendiri," jawab Afikah.


Dengan santai dan tidak peduli dengan ucapan Adrian yang terus menghina dirinya.


"Lepaskan tali itu dari tanganya untuk sementara!" perintah Adrian.


Pada salah satu anak buah yang berdiri dan berjaga di sana.


Bodyguard tersebut segera melepaskan tali dari tangan Afikah lalu ia kembali berdiri siaga seperti tadi. 


Afikah yang merasa sedikit lega akan tanganya yang sudah dilepaskan dari ikatan tali.


Melihat memar biru hitam pada kulit pergelangan tanganya. Ia sempat diam sebentar dan kembali tersenyum menahan sesak yang semakin menjadi di dada.


Sempat air mata ingin jatuh di pipi namun gadis itu memaksakan wajah tersenyum untuk menghilangkan rasa sakit dan sesak itu.


"Makanlah! Nasi itu adalah nasi basi gadis sampah sepertimu pantas memakan makanan basi."


Afikah tidak peduli dengan ucapan Adrian yang terus menghina dirinya, dengan senyuman manis Afikah menarik piring yang sempat tadi dibuang Adrian ke lantai di sana ada nasi putih ayam dan sayur-sayuran.


Gadis itu mulai memakan dengan mengunakan tanganya sebagai sendok tanpa mencuci tanganya karena memang tidak ada air di sana.

__ADS_1


Awalnya Afikah berpikir benar bahwa makanan itu basi ternyata tidak, Ia memakan sangat lahap karena emang dia kelaparan walau banyak pertanyaan di kepala Dia yang bertanya siapa yang memberikan makanan tidak basi ini padanya  yang jelas bukan seorang Adrian, begitulah pikir Afikah.


"Sangat jorok! Bagaimana bisa kamu memakan dengan tanganmu yang kotor itu?! Menjijikan!" ucap Adrian.


"Apa tuan muda ingin aku suap?" tawar Afikah.


Menyodorkan paha ayam pada Adrian dengan senyuman karena pria itu terus mengoceh banyak pertanyaan pada dirinya.


"Beraninya kamu! Apa kamu ingin aku tampar wajah sampahmu itu?" tutur Adrian.


Mengangkat tangan ke langit dengan sorot mata tajam pada Afikah.


Gadis ini hanya tersenyum manis kembali memakan paha ayam itu dengan lahap sampai habis.


Ini pertama kali bagi Afikah yang mengobrol biasa dengan Adrian walau pria di hadapannya itu tidak pernah mengucapkan kata baik padanya dan berbicara meliriknya dengan tatapan manis seperti tatapannya pada Jenny namun Afikah sadar bahwa gadis seperti dia memang sulit mendapatkan cinta itu walau pun itu terjadi Afikah sudah membenci Adrian sangat.


Hatiku sudah terlanjur membencimu tuan muda sampai kapan pun... batin Afikah.


sekilas melirik Adrian dengan tatapan dingin.


Pria itu mulai   meminum minuman  keras  bir bintang  yang dibawanya tadi. Dengan  tatapan dingin kembali pada Afikah seperti sikap biasanya dia.


"Aku sama sekali tidak menyukaimu! Kamu itu bukan! Tipe idealku dan semua gadis yang aku kencani jauh berbalik dengan dirimu. Apa kamu tahu itu!" ucap Adrian.


Sambil mengapit kedua pipi Afikah dengan kencang dan tersenyum licik padanya.


Perih sangat menusuk di hati Afikah bagaikan sayatan pisau yang berkali-kali dengan berusaha bersikap baik-baik saja Gadis muda ini hanya melihat Adrian diam membisu sambil membersihkan darah yang terus bercucuran dari luka di dahi.


"Aku penasaran mengapa sekertaris Kim begitu membelamu pada hal dibandingkan kamu dengan gadis lain di luar sana jauh lebih istimewa mereka," lanjut Adrian.


Tanpa rasa bersalah di wajah yang sudah melukai anak orang begitu kejam.


Adrian merapikan poni rambut namun Afikah yang sementara membereskan darah di dahinya tiba-tiba melihat tangan Adrian yang mengeluarkan banyak darah dark perban.


"Apa yang kamu lihat? Aku tahu wajahku tampan namun, wanita sepertimu bukanlah selera aku," ucap Adrian percaya diri.


Saat melihat Afikah yang menatap dirinya dengan sangat serius.


"Apa tuan muda melukai diri anda lagi? Maksudku tanganmu terluka," seru Afikah.


Dengan serius menatap dalam pada luka Adrian yang ada di tangan.


"Jangan mencari per..." ucapan Adrian terhenti.


Ketika Afikah dengan paksa menarik lembut tangan Dia lalu meminta bodyguard mengambil kotak p3k di rumah besar.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan wanita sampah? Mengapa menyentuh tanganku dengan tangan sampahmu itu!?"


Adrian melotot pada Afikah dan menghempaskan kasar tanganya dari genggaman Gadis muda ini.


"Aku hanya ingin mengobati luka anda tuan muda. Jika dibiarkan maka akan mengeluarkan banyak darah nanti yang ada akan membahayakan diri tuan muda," seru Afikah menatap dalam pada  Adrian.


Entah malaikat apa yang masuk dan merasuki hati Adrian, seketika Ia diam seribu kata dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Afikah pada dirinya. 


Pengawal yang tadi pergi mengambil kotak P3k kini telah datang membawanya.


Afikah pun segera membuka perban yang penuh darah dari tangan Adrian.


Lalu Gadis itu mengambil kapas dan memasukan alkohol sedikit untuk membersihkan  noda darah  yang mengering di kulit.


Setelah itu Afikah mulai mengobati luka Adrian dengan lembut, sedangkan Adrian diam seribu kata seperti orang bisu menuruti permintaan Afikah.


"Jangan lukai dirimu tuan muda karena tubuh anda sangat berharga. Jangalah tubuhmu, karena kesehatan itu penting dan sangat mahal," ucap Afikah.


Dia menasehati Adrian ketika mengobati luka Pria ini dimana kepalanya ditundukan ke bawah saat perban luka Adrian yang ada di tangan.


Aku banyak menyiksa Dia dan saat ini dirinya  juga terluka tapi mengapa dia menghwatirkan diriku? Dibandingkan luka di tanganku ini lebih kejam penyiksaan aku.


Selama ini aku banyak berbuat kasar padanya namun, mengapa dia begitu kwatir dengan luka kecil di tanganku?


Adrian bungkam dalam hati sambil menatap dengan dalam pada  wajah Afikah dengan tatapan sangat berbeda dari biasanya dan kini tatapan Adrian makin lama makin dekat dengan wajah Afikah.


Tiba-tiba Afikah mengangkat wajahnya untuk menyampaikan pada Adrian bahwa Dia sudah selesai mengobati luka di tangannya namun, ucapan Gadis ini terhenti ketika mata Dia bertemu dan sangat dekat dengan wajah Adrian.


"Tuan muda... aku..." ucapan terhenti.


Wajah mereka  sangat dekat hinga nafas mereka saling membalas mengenai pori-pori kulit wajah satu sama lain ketika mata mereka bertemu dan bertatapan satu sama lain.


Deg..


Deg...


Tatapan  mata yang sangat dalam dari Adrian pada Afikah Gadis itu mengerutkan keningnya bingung sendiri saat Afikah yang ingin mengalihkan suasana karena Canggung tiba-tiba saja Adrian menarik tubuh Afikah memeluk Gadis ini dengan sangat erat entah mengapa Pria ini melakukannya yang jelas Dia hanya ingin.


Afikah kaget melebarkan bola mata tidak percaya pelukan Adrian begitu erat hingga suara berat itu kembali berucap.


"Mengapa?" suara berat Adrian masih memeluk Afikah tanpa balasan dari Gadis ini.


🎶 You are my everything....


Hujan deras di luar menemani suasana malam itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2