
"Aku tahu aku salah dan kesalahan aku benar-benar SULIT bagi kamu memaafkan di sini aku ingin mengatakan."
"Mau katakan apa?" Tatap Afikah dingin.
"Yang mau aku katakan adalah Maaf. Maaf'kan aku," ucap Adrian.
Dengan penyesalan sambil memandang dengan dalam pada Gadis yang berdiri di hadapannya itu
"Maaf karena berucap kasar padamu. Maaf selalu saja menyakiti hatimu..." lanjut Adrian.
Bagaikan petir yang menyambar ke Afikah, Gadis itu begitu kaget akan ucapan Adrian yang benar-benar bukanlah diri Pria ini.
"Aku benar-benar..." ucapan Adrian terhenti ketika Afikah yang dengan berani tiba-tiba saja memotong ucapan Dia.
"Semua orang pasti melakukan kesalahan dan itu adalah hal biasa. Aku sudah biasa hidup penuh kebencian dengan orang-orang di sekitar jadi tuan muda tidak perlu minta maaf atau menyesal," jawab Afikah tersenyum manis ketika Dia memotong ucapan Adrian.
Entah mengapa Adrian yang tiba-tiba mendengar ucapan bantahan Afikah bukanya langsung marah dan berkata kasar seperti biasanya melainkan Dia hanya diam seribu kata tanpa langsung berkata kasar seperti biasanya.
Adrian ada apa dengan kamu kenapa bersikap seperti ini? Ngapain juga pake acara minta maaf ini bukanlah diri kamu.
"Apa?'" tanya Adrian mengalihkan suasana ketika dirinya merasa sangat berbeda dengan sikapnya.
"Aku melakukan ini karena hanya ingin melihat tanggapan kamu saja jadi jangan berpikir yang tidak-tidak," seru Adrian dingin.
"Aku tidak pernah berpikir lebih jika sikap tuan muda seperti ini. Bagiku itu hal biasa lagian kita hanya menikah di atas perjanjian kertas dan aku rasa masalah tuan muda telah selesai maka seperti kata aku sebelumnya akhiri saja pernikahan kertas ini agar tuan muda juga tidak terbebani!" kata Afikah masih dengan sikap biasanya.
Adrian yang mendengar ucapan Afikah menatap tajam Gadis ini dengan ekspresi wajah yang sangat berbeda dari sebelumnya.
"Apa maksudmu?" tanya Adrian dingin dengan tatapan membunuh pada Afikah.
"Kita menikah di atas kertas dan itu adalah faktanya aku tahu tuan muda menyukai orang lain dan jelas ini adalah beban bagi tuan muda. Jadi jangan menyiksa..." ucapan Afikah terputus.
"CUKUP!!!"
"Jangan berucap hal yang tidak masuk akal! Jika kamu tidak mengetahuinya!Sampai kapan pun aku sendiri yang akan mengakhiri pernikahan ini! Selama itu tidak terjadi maka tidak ada dan takan ada yang mengakhirinya!"
"Tapi tuan..."
"Aku yang MEMULAI AKU JUGA YANG MENGAKHIRI!!!" Tekan Adrian tegas.
"Pergilah! Tugas kamu sudah selesai ada banyak tugas yang belum aku selesaikan jadi jangan ganggu aku!' lanjut Adrian dingin.
Afikah yang mendengar ucapan Adrian ingin Ia kembali berucap akan ucap Pria ini namun, karena tidak ingin berdebat lebih panjang dengan suami Dia akhirnya Afikah memutuskan untuk tidak berucap sepatah kata pun walau ada begitu banyak pertanyaan dipikirannya yang ingin Ia tanyakan pada Adrian akan semua ucapan Pria itu.
"Aku tidak ingin berdebat jadi pergilah! Kita akan bahas ini di rumah saja!" tutur Adrian dingin.
Masih dengan dirinya yang sengaja fokus ke berkas-berkas laporan yang ada di meja.
"Baiklah. Aku pamit pergi maaf jika kehadiran aku menggangu waktu tuan muda," jawab Afikah.
__ADS_1
Dia langsung membungkuk tubuh sebentar ke bawah lalu Ia melangkah pergi meninggalkan Adrian.
Sedangkan Adrian yang mendengar ucapan Afikah terpaku diam membisu hanya memandangi punggung Gadis ini dari belakang dengan tidak berucap sepatah kata pun.
Bukan begitu maksud aku. Ada apa dengan kamu Adrian mengapa kamu merasa begitu peduli dengan Afikah? Mengapa rasannya aku tidak ingin dia pergi dari sisiku? Sebuah rasa yang benar-benar sulit untuk aku jelaskan aku mencintai orang lain tapi, mengapa aku sulit tidak bisa berpaling darinya pada hal Dia sangat aku benci, batin Adrian dengan banyak pertanyaan yang mengangu pikiranya.
Jika aku mencintaimu maka akan sulit bagiku untuk membalas dendamku, jika aku menyukaimu sulit bagiku untuk menyakitimu... Jika aku memikirkanmu maka sulit bagiku untuk membunuhmu karena cinta tidak bisa melukai melainkan memberikan kasih dan itu tidak bisa aku lakukan karena aku membencimu sangat membenci... bungkam Afikah menghapus air mata yang menetes di pipinya.
****
Jam Istirahat makan siang pun telah berakhir semua karyawan perusahaan kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda.
Sekertaris Kim masuk ke dalam kantor pribadi Adrian wanita paruh baya itu bisa melihat wajah Adrian yang kusut tidak bersemangat.
Ehem....
Batuk Sekertaris Kim.
Adrian yang kaget menatap wanita paruh baya itu dingin.
"Apa tuan muda bertengkar dengan Jenny?" tanya Sekertaris Kim.
Dia tidak tahu bahwa Afikah tadi ke sini melihat wajah Adrian yang tidak semangat sekertaris Kim berpikir bahwa bosnya ini bertengkar hebat dengan Jenny.
"Tidak!" jawab Adrian dingin.
"Tidak!" Adrian masih menjawab dengan kata yang sama dengan nada singkat.
Mendengar Adrian yang terus memberi jawaban yang sama Sekertaris Kim menarik nafas dalam-dalam Ia bahagia jika benar Adrian bertengkar dengan Jenny setidaknya bukan dengan Afikah.
Tiba-tiba saja nama Gadis malang itu terlintas di pikiran sekertaris Kim Dia pun Sadar belum memberi tahu Adrian soal kehamilan Afikah, wanita tua ini mengontrol diri lalu Ia pun kembali menatap serius bosnya ini, Adrian yang menatap Dia dingin mengangkat alisnya bingung tiba-tiba Pria ini langsung berucap sesuatu yang membuat Sekertaris Kim juga bingung sendiri.
"Jangan menatap aku seperti itu Bagiku Afikah hanyalah istri di atas kertas aku tidak jatuh cinta pada Dia!"
"Apa?" tanya Sekertaris Kim.
"Perasaan aku tidak menyebut nama Afikah atau membahas Dia?" tanah Sekertaris Kim menggoda Afikah.
"Mak-Su-" suara Arian putus-putus.
"Sudahlah JANGAN bahasa Dia!" ucap Adrian kesal sendiri
hahahaha....
"Awas jatuh tuan muda!" ucap sekertaris tertawa lucu.
"Jatuh apa?" Adrian mengerutkan kening.
"Jatuh CINTA masa jatuh BENCI."
__ADS_1
"Sekertaris Kim!" Adrian mengeraskan rahang.
"Tidak apa-apa tuan itu hal wajar lagian Afikah sedang HAMIL," Ucap Sekertaris tiba-tiba saja.
"Apa? HAMIL?"
"SIAPA yang HAMIL?" Adrian kaget.
Dia bangkit berdiri menatap tajam sekertaris Kim.
Belum sekertaris Kim menyelesaikan penjelasan Dia tentang kehamilan Afikah tiba-tiba saja telpon masuk.
"Biarkan saja! Jelaskan ucapan kamu!" Tatap Adrian.
"Tuan jangan sampai telpon itu penting," ucapan Sekertaris Kim.
"Jangan alihkan suasana sekertaris Kim!" Adrian emosi.
Dia mematikan telpon yang berdering lalu kembali menatap sekertaris Kim serius penuh tatapan intimidasi.
"Ya Afikah hamil. Dia mengandung anakmu tuan muda!" ucap sekertaris.
"Kamu tahu dari siapa?" tanya Adrian tidak percaya.
"Dokter. Pagi tadi Dia memeriksa kondisi Afikah dan mengatakan bahwa Afikah hamil berjalan 1 Minggu kandungnya," jelas sekertaris Kim.
"Kamu tidak sedang berbohong bukan?"
"Untuk apa aku berbohong," ucap Sekertaris Kim serius.
"Sekertaris KIM!!" Adrian langsung memeluk erat sekertaris bahagia.
"Tuan muda kenapa kamu..."
"Benarkah Dia hamil? AKU Bahagia!" ucap Adrian menangis.
Ini pertama kali Adrian menangis di depa. sekertaris dalam keadaan sadar bukan pengaruh obat.
"Permisi tuan muda nona Afikah pingsan di jalanan," ucap seorang Karyawan yang langsung menerobos masuk ke ruang kantor Adrian.
Deg...
Deg...
Bersambung.
Kira-kira bagaimana reaksi Afikah tahu dia hamil apakah bakal terima atau tidak?
Tetap stay setia guys..
__ADS_1