
"Apa tuan muda sudah pulang?" tanya sekertaris Kim.
Dia bertanya sambil mulai mencuci tangan di baskom air yang sedang dipegang oleh salah satu pelayan rumah ketika dirinya yang baru saja sampai di rumah di mana semua pelayan dan para bodyguard berbaris rapi memanjang dengan posisi barisan berhadapan satu sama lain.
Setelah mencuci tangannya sekertaris Kim mengeringkan di handuk yang sudah di sediakan oleh pelayan juga.
Kepala pelayan Tina akhirnya menjawab ucapan sekertaris Kim yang sudah diperlakukan layaknya seorang nyonya rumah tapi, memang itulah tempat sekertaris Kim karena sejak kepergian orang tuan Adrian ia adalah pengasuh pengganti kedua orang tuan Adrian.
"Tuan muda sudah pulang nona Kim saat ini tuan muda sedang bersama nona muda di kamar," jawab kepala pelayan Tina.
Dia berucap sambil membungkukkan badanya pada sekertaris Kim.
"Apa?" Suara tidak percaya.
"Ber- Bersama Afikah? Sudah berapa lama mereka bersama?" tanya sekertaris Kim.
Masih dengan sikap dingin nya sambil melangkah masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh kepala pelayan Tina dengan pelayan lainnya sedangkan para bodyguard rumah kembali berjaga-jaga di depan rumah dan sekeliling rumah seperti biasanya.
"Sudah satu jam yang lalu nona Kim mereka bersama," jelas kepala pelayan Tina lagi.
Mereka masih melangkah mengikuti langkahan kaki sekertaris Kim.
"Satu jam lebih? Mengapa tidak kalian hentikan gadis itu untuk tidak pergi ke kamar tuan muda!? Apa yang kamu kerjakan seharian ini kepala PELAYAN TINA!!!" Marah Sekertaris Kim.
Dia jerit s emosi yang langsung memasuki Lift rumah menuju kamar Kim Adrian yang terletak di lantai tiga.
"Jangan ikuti aku!" perintah Sekertaris Kim.
ucapan tegas sekertaris Kim pada kepala pelayan dan yang lainya ketika melihat mereka yang juga kwartir akan keadaan Afikah.
"Kerjakan tugas kalian yang lainya! Jika terjadi sesuatu pada tuan muda atau Afikah maka aku akan memangil kalian lewat bunyi lonceng darurat seperti biasanya," lanjut sekertaris Kim.
Masih dengan nada dingin dan tegas sebelum pintu lift ditutup kembali.
Tiga menit akhirnya sekertaris Kim sampailah di lantai tiga.
Tanpa menunggu sekertaris Kim segera berjalan dengan langkahan yang melalui beberapa lorong-lorong sebelum sampai di kamar Adrian.
Tok... tok...
"Tuan muda, ini saya sekertaris Kim," panggil sekertaris Kim saat mengetok pintu kamar Adrian.
Namun, sayang panggilan sekertaris Kim sama sekali tidak ada jawaban dari pemilik kamar.
__ADS_1
"Tuan muda! Nona Afikah ini saya sekertaris Kim boleh saya masuk?" ucap Sekertaris Kim lagi.
Dia terus memangil nama Adrian dan Afikah tetap saja tidak dari satu pun kedua nama yang di sebut menyahut balik panggilan sekretaris Kim.
Karena merasakan firasat buruk dari hatinya dan menyadari sesuatu akhirnya sekertaris Kim mengambil kunci pribadinya untuk membuka pintu kamar Adrian.
Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu terbuka sendiri, Sekertaris Kim kaget dan secepatnya masuk agar tidak ada yang curiga atau melihat apa yang terjadi di kamar Adrian.
Tuan muda mengapa kamu ceroboh seperti ini jika sampai salah satu pelayan tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu akan sangat berbahaya untuk perusahaan dan kamu, batin sekretaris Kim.
Dia yang seperti sudah tahu apa yang terjadi di dalam kamar saat melihat seisi kamar Adrian yang hancur berantakan bagaikan tidak terurus sama sekali.
Sekertaris Kim bergumam sambil melihat sekeliling namun, tidak ada siapa-siapa di dalam kamar yang membuat sekertaris Kim semakin khawatir takut terjadi sesuatu pada Afikah mengingat apa yang selalu terjadi setiap malam pada tuan mudanya itu.
"Tuan muda, nona Afikah di mana kalian?" ucap sekertaris Kim yang masih memangil.
Sekertaris Kim terus memangil nama Adrian dan Afikah sambil melangkah hati-hati mencari di sekeliling kamar namun, Dia tidak menemuka siapa-siapa di kamar.
Ia pergi ke bagian teras balkon kamar Adrian tetap saja tidak ada siapa-siapa di sana, saat masuk sekertaris Kim yang terus menerus memangil nama Adrian tetap saja tidak ada yang menjawab ucapannya di sana Ia seperti mendengar suara nafas sehabis lari marathon dari kamar mandi.
Perempuan baya itu secepat melangkahkan kaki menuju kamar mandi, saat tiba di depan pintu ia bisa mendengar suara yang semakin keras namun, ia tidak bisa melihat apa-apa akhirnya sekertaris Kim menekan tombol menyalakan lampu kamar mandi.
"Ya Tuhan tuan muda apa kamu lakukan?" tanya sekertaris Kim.
Dia yang kaget melebarkan bola matanya tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat dibawah sana dimana dua tubuh terbuka semua tanpa sehelai kain di bawa sana di mana itu tepat di depan mata sekertaris Kim dengan hal yang sangat memalukan.
Tekan Adrian dengan suara yang keras penuh nada emosi hingga suara memenuhi seisi kamar
"BERANINYA KAMU Menggangu HAL PRIBADIKU!!!" teriak Adrian lagi.
Adrian yang masih emosi hingga wajahnya memerah dan urat besar di lehernya muncul ke permukaan.
Dia berucap dengan posisi tubuh Dia yang skip. sedangkan Gadis itu dengan perih di hatinya memalingkan wajahnya ke samping ketika sekretaris Kim melihat apa yang terjadi di kamar mandi.
Tidak terasa tetesan bening pun ikut mengalir seakan menjelaskan semua isi hatinya yang benar-benar hancur.
"Maaf. Maaf, kan saya tuan muda. Namun, tidak sepantasnya anda melakukan hal ini bagaiman tanggapan para pelayan rumah ini jika ada yang melihat hal ini!" seru sekertaris Kim yang sangat merasa bersalah pada Gadis malang di bawah sana.
"DIAM!!!" teriak Adrian.
"KAMU TIDAK PUNYA HAK MENGATUR AKU! KAMU HANYALAH SEORANG SEKERTARIS IBARATNYA PELAYAN SAMA SEPERTI MEREKA!"
"PERGI SANA! APA YANG KAMU LIHAT INI BUKANLAH HAL BAR--" suara Adrian putus.
__ADS_1
Saat Adrian yang belum selesai mengucapkan perkataanya tiba-tiba ia langsung pingsan ketika sekertaris Kim memukul keras di titik kelemahannya yaitu tengkuk lehernya dengan sangat keras.
Tujuannya hanya satu menyelesaikan hal memalukan ini agar gadis malang di bawah sana tidak menanggung malu akan hal yang dilakukan oleh Adrian.
"Apa kamu baik-baik saja?" Kwartir sekertaris Kim.
Dia bertanya saat menutupi tubuh Afikah dengan handuk kamar mandi ketika dirinya sudah memindahkan Adrian dari tubuh Afikah.
Gadis itu hanya diam seribu kata tanpa berucap sepatah kata pun atau menjawab ucapan Sekertaris Kim.
Afikah menahan perih dihatinya ingin rasanya ia terdiam dengan tangis diam tanpa suara.
Afikah memungut pakaiannya yang sudah rusak dan tidak bisa dikenakan kembali. Ia memaksakan tubuhnya untuk berdiri menahan perih di sekujur tubuh.
Karena pakaiannya tidak bisa ia kenakan terpaksa Afikah memakai handuk Adrian yang cukup besar menutup seluruh tubuhnya walau tidak sampai di kakinya yang putih karena, memar dan biru belau semua.
Afikah menghiraukan ucapan sekertaris Kim dan berjalan pergi menuju kamarnya yang ada di lantai satu, Sekertaris Kim yang melihat sikap dingin Afikah memakluminya mungkin gadis itu syok berat dan trauma dari pada terus membahasnya dan melukai hatinya lebih baik diam seribu kata dan membiarkan dia pergi menenangkan pikiran dan hatinya.
Gadis itu melangkah dengan kakinya yang tertatih-tatih menuju lift kamar. Sambil meringis kesakitan pada luka yang ada di tubuhnya.
"Nona muda. Apa kamu baik-baik saja?" tanya kepala pelayan Tina Kwartir.
Beberapa pelayan rumah ikut kwartir akan kondisi Afikah saat melihat lebam biru di lengan dan kaki Afikah dan tanda merah di lehernya.
Afikah hanya diam tidak menjawab ucapan kepala pelayan Ia terus melangkah dengan kaki masih tertatih-tatih tatapannya kosong tersirat luka yang tidak bisa dijelaskan lagi.
Air mata jatuh pun tidak bisa mengubah nasib buruk yang ia terima ini. Matanya yang berkaca-kaca dan bibirnya menutup rapat perih saat mendengar kata baik-baik saja rasanya saat itu ia ingin menangis sejadi mungkin di depan orang-orang yang menanyakan kondisinya.
"Nona muda!" panggil kepala pelayan pada Afikah yang sama sekali tidak menjawab ucapan nya.
"Nona. Apa kamu baik-baik saja?" tanya kepala pelayan Tina masih dengan pertanyaan yang sama.
Afikah yang mendengar ucapan kepala pelayan yang terus menanyakan kondisinya, Ia menghentikan kakinya sebentar dan memutar tubuhnya dengan mata berkaca-kaca menarik dua sudut bibirnya ke atas dan tersenyum pada kepala pelayan Tina tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lalu kembali melangkah masuk ke kamar kecilnya.
Afikah yang sudah di kamar berjalan menuju kamar mandi kecil yang sudah ada di kamarnya untuk membersihkan tubuh.
Dia mengambil gayung untuk mengambil air yang sudah ditampungnya di ember untuk mandi ia menahan perih dan sakit ketika air mengenai seluruh tubuhnya yang terluka.
Sehabis mandi Gadis itu mengambil pakaian tidur yang sudah ia bawakan tadi, matanya terhenti ketika melihat luka-luka di tubuhnya yang berpapasan langsung dengan cermin.
Di sana luka bekas cambuk ikat pinggang terlihat merah di seluruh tubuhnya yang putih dan bersih bagaikan tissue, Lebam biru di tangan, kaki, bekas merah bibir dan gigitan di leher dan masih banyak luka, tanda lain di sekujur tubuhnya.
Melihat banyak luka di sana seketika air mata terjatuh membasahi wajahnya saat tangannya menyentuh bekas merah yang ada di lehernya.
__ADS_1
Kejam sekali Kamu Adrian.
Bersambung.