
Hei kenapa kamu seperti ini Adrian? Bukanya kamu sangat membencinya mengapa kamu jadi bersikap romantis seperti ini? Ayolah Adrian ini bukan dirimu yang sebenarnya.
Auhkkh....
"Sakit..."
Afikah kesakitan pada tubuhnya yang tiba-tiba saja didorong kasar oleh Adrian ke kasur hingga kepalanya terpentok kepala ranjang kamar.
"Itu huk. Hukuman karena kamu berteriak pagi-pagi mengangu aku yang masih ketiduran.
"Apa?"
"Bukanya tuan muda sendiri yang...." ucapan Afikah terhenti ketika Adrian kembali menyeka ucapannya.
"Aku paling tidak suka berdebat!" ucap Adrian.
Menyebut satu-satu kata yang keluar dari bibirnya dengan nada yang sangat dingin sorotan mata tajam menatap Afikah.
"Siapkan air hangat untuk aku! Aku mau mandi!"
"Apa...?"
"Hemm..." tarikan nafas dalam-dalam menahan emosi dari Adrian.
"Sekali lagi kamu masih bertanya seolah tidak tahu apa-apa akan aku sungkam mulutmu itu dengan kaos kakiku yang kotor ini!"
"Dasar aneh. Tadinya bersikap manis sekarang bersikap pahit cihhhh..." bicara Afikah sendiri dengan mulutnya yang berkomat-kamit tidak jelas.
"Apa kamu bilang!"
Adrian menatap dingin Afikah.
"Aku tidak berbicara apa-apa," jawab Afikah asal sambil melangkah menuju kamar mandi.
"Kau beraninya!"
"Tuan muda semalam belum jawab pertanyaan aku."
"Pertanyaan apa?"
"Soal menceraikan aku. Semalam aku hanya diam karena aku pikir tuan muda memang kecapean jadi, aku memutuskan pagi ini membahas hal itu."
Ucap Afikah dengan tatapan serius pada Adrian lalu Ia kembali melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat sesuai pesan Adrian.
__ADS_1
Pria itu yang mendengar ucapan Afikah sangat kaget dan tatapan yang tadi sangat dingin berubah dalam sekejap.
Adrian yang biasanya akan langsung berkata dan bersikap kasar pada Afikah entah mengapa kini semua hilang dalam sekejap dengan memilih diam seribu kata.
"Tuan muda aku sudah siapkan air hangat," ucap Afikah.
Dia berkata pelan saat Dia yang dengan sangat kilat menyiapkan air hangat untuk Adrian karena Gadis ini tahu bahwa Adrian tidak suka menunggu lama.
"Baiklah. Kalau begitu kamu boleh pergi dari kamar aku!" jawab Adrian dingin namun, sedikit aneh dari nada ucapannya seperti menghindari sesuatu.
"Ah...Baiklah. Tapi tuan..."
"Jangan ganggu aku! Jika kamu mau berbicara hal penting pesan saja pada sekertaris Kim!' ucap Adrian.
Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi secepat mungkin menghiraukan Afikah yang masih berdiri menatap diam dan bingung sendiri dengan sikap Adrian.
Ada apa sama Dia biasanya langsung menghina aku tapi mengapa hari ini Dia seperti ini? batin Afikah masih bingung sendiri dengan sikap Adrian dan kembali melangkah pergi.
****
"Antarkan aku ke rumah tuan muda Adrian pak!" perintah Jenny pada supir pribadinya saat Dia di dalam mobil sudah bersiap dengan sangat cantik elegan untuk pergi ke rumah Adrian.
"Baik Nona," jawab supir pribadinya Lalu mobil pun melaju pergi.
Hari ini Jenny tampil begitu berbeda dari biasanya, bisa dibilang Dia lebih cantik, dan elegan. Sebelum sampai ke rumah Adrian Jenny kembali mengenakan lipstik merah di bibir ranumnya sambil melihat kaca spion yang di depan kursi supir sana.
Supir yang melihat hal itu sedikit mengerutkan dahinya karena, tidak biasanya Jenny bersikap seperti itu. Namun, karena tidak mau jauh lebih tahu tentan kehidupan pribadi anak majikannya itu supir pun kembali fokus ke jalanan.
Sekertaris Kim sudah berdiri diam dengan pelayan lainya di meja makan seperti biasanya menemani tuan muda rumah ini sarapan pagi di meja makan.
Afikah telah menyiapkan nasi goreng spesial dan ayam goreng Kentaki untuk Adrian tidak lupa Dia juga menyiapkan susu di gelas.
Setelah menyiapkan sarapan pagi Afikah kembali ke dapur membantu pelayan lainya membersihkan dapur yang cukup berantakan itu walau dilarang kepala pelayan Tina namun, Gadis muda ini tetap bersikap keras kepala untuk membantu karena Ia tahu bahwa Adrian akan marah besar jika pagi-pagi Afikah hanya duduk-duduk saja tanpa melakukan pekerjaan apa pun.
Adrian yang sudah mengenakan style kantor sangat rapi dengan style rambut dinaikan ke atas membuat ketampanan Dia semakin menjadi bak pangeran.
Kini melangkah dengan santai dan wajah yang dingin saat menuruni tangga tatapan Adrian langsung tertuju pada Afikah yang saat itu sedang berdiri di tengah-tengah pelayan lainya.
Yang benar saja mengapa Adrian begitu menatap dalam Afikah ada apa ini? batin sekertaris Kim merasa berbeda dengan sikap bosnya itu.
"Selama pagi tuan muda!" sapa semua pelayan memberi hormat pada Adrian termasuk Afikah sambil menundukkan kepalanya ke bawah.
Seperti biasanya Adrian sama sekali tidak menjawab sapaan para pelayan dengan sikap dingin Dia menarik kursi untuk menyantap sarapan pagi itu.
__ADS_1
Di saat Adrian mau sarapan tiba-tiba datanglah Jenny yang mengagetkan semua orang termasuk kepala pelayan Tina, sekertaris Kim dan Afikah.
"Surprise! Hai Dii! Maaf jika kedatanganku mengagetkan kamu," ucap Jenny.
Dia tersenyum lebar sambil melangkah masuk dengan sangat elegan menghampiri Adrian yang cukup syok.
"Jenny!"
Adrian bingung menatap Jenny.
"Aku merindukanmu ," ucap Jenny yang langsung memeluk.
Tatapan Adrian langsung menatap ke arah Afikah dengan sangat dalam namun, Gadis ini tersenyum manis tanpa ada rasa cemburu atau kecewa melihat hal itu sebagai seorang istri.
Mengapa Dia tidak kecewa atau cemburu? Malah tersenyum tidak jelas seperti itu sangat menjengkelkan... bungkam Adrian yang kembali membalas pelukan Jenny dengan lebih romantis namun, sorotan matanya masih menatap dalam Afikah.
Balasan pelukan hangat inilah yang harus kamu berikan pada aku bukan orang lain, batin Jenny.
Tiba-tiba saja rasa mual kembali di rasakan Afikah Ia baru sadar sudah lebih dari tiga hari rasa mual ini tidak sembuh kepala Afikah berat tanpa menunggu Afikah langsung berlari ke belakang memegang mulutnya yang sudah mau mengeluarkan isi perutnya.
Eoa...
Eoa...
Suara muntah Afikah di kamar mandi yang tidak jauh dari meja makan hingga terdengar suara itu oleh semua orang.
Adrian yang kaget langsung melepaskan pelukan Jenny kasar dan menghampiri Afikah di kamar mandi.
Sekertaris Kim yang juga cemas ikut menyusul Adrian melihat kondisi Afikah.
"Kamu kenapa kepala udang?" tanya Adrian.
"Entahlah sudah tiga hari aku merasa mual seperti ini," jawab Afikah membersikan mulutnya dengan tissue.
"Maksud nona?" tanya Sekertaris Kim.
Adrian yang tidak mengerti maksud Afikah langsung meminta Kepala pelayan Tina memanggil dokter pribadi.
"Kepala pelayan hubungi dokter Nadia!" perintah Adrian.
"Apa kamu kecapean?" tanya Adrian langsung mengelus rambut Afikah lembut.
Bersambung
__ADS_1