
"Kakak...!" Panggil Seli.
Seli merupakan adik angkat Afikah yang ditugaskan Afikah untuk menjaga Ayahnya di rumah sakit, Seli sudah Afikah anggap sebagai adik kandung sendiri
Gadis kecil itu panik akan kesehatan kondisi ayahnya yang tiba-tiba drop lagi.
Seli yang saat itu kwartir akan keadaan ayahnya segera berlari memeluk tubuh kakaknya dengan erat yang membuat Afikah sulit bernapas. Pelukan Seli pada kakaknya itu ketika ia melihat sang kakak yang baru pulang dan sedang melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
"Kakak syukurlah kakak sudah datang dan tepat pada waktunya, kondisi ayah kembali drop." tangis Seli.
"Tenangkan dirimu percayalah sama kakak semuanya akan baik-baik saja. Kakak sudah berhasil meminjam uang operasi ayah dari bos restoran yang baru kakak kerja," ucap Afikah berbohong.
Afikah menenangkan adiknya yang kwatir akan keadaanya ayahnya, Ia mengatakan pada Seli bahwa uang itu didapat dari hasil pinjaman, Seli yang sama sekali tidak curiga akan uang yang didapatkan kakaknya hanya dalam semalam dengan jumbalah yang sangat banyak, Gadis kecil itu tidak peduli lagi dia yang masih menangis di pelukan Afikah semakin mengeratkan pelukanya pada tubuh kakaknya ketika mendengar kabar baik dari Afikah.
"Terimakasih kakak, betapa berutungnya ayah dan aku memilik kakak sebagai bagian dari keluarga kami," ungkap Seli tersenyum bahagia.
Seli tersenyum saat melepaskan pelukan dari tubuh Afikah.
Afikah menguatkan dirinya Gadis malang itu menghapus air matanya yang ingin menetes disaat memory Dia dan Adrian kembali menyadari akan keadaannya yang sebenarnya, kenyataan pahit akan selalu dikenang Afikah mengorbankan kehormatannya demi biaya operasi sang ayah masa depan dan masa muda sudah dihancurkan oleh dirinya sendiri.
Maafkan aku Tuhan. Maafkan aku ayah... hiks.... maafkan kakamu yang berdosan ini Seli kakak terpaksa membohongi dirimu, batu Afikah.
Gadis malang itu menghapus air matanya agar tidak menetes walau sebenarnya tangis diam itu sangat menyakitkan untuk Afikah yang berpura-pura tegar di hadapan sang adik dan orang lain pada hal sebenarnya dirinya sangat lemah hari itu, Ia berusaha agar terlihat kuat pada hal hatinya sangat hancur saat itu.
Pelukan antara Afikah dan Seli kembali dan beberapa menit pelukan itu akhirnya berakhir selesai menenangkan sang adik Afikah pun pamit pergi sebentar untuk membayar uang administrasi rumah sakit, menyelesaikan biaya administrasi operasi Lucas ayah Afikah yang saat ini terbaring koma dan divonis penyakit tumor otak.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan semua biaya administrasi kariawan yang betugas di meja resepsionis khusus pembayaran operasi di rumah sakit, staf di sana mengabari dokter Diah yang saat itu sedang merawat pasien kangker otak stadium 4, dokter Diah adalah dokter cantik yang spesialis penyakit dalam dan dokter yang akan melakukan operasi bedah pada Lucas.
Dokter Diah yang menerima telpon dari kariawan resepsionis pembayaran akhirnya mulai, bersiap untuk operasi besar ini. Dimana ia mulai mengabari para suster dan perawat yang akan bertugas bersama dirinya dengan dokter Ester melakukan operasi ini, untuk segera menyiapkan peralatan operasi yang akan dilaksanakan pukul 8 pagi.
"Segera siapakan peralatan operasi! Pagi ini kita akan melakukan operasi pada pasien yang divonis tumor otak, beritahu dokter Ester juga untuk bersiap!" Perintah dokter Diah pada salah satu suster magang yang ada dalam rapat meeting mereka.
"Baik dokter," jawab singkat suster tersebut.
perawat yang mejawab singkat perintah sang dokter akhirnya bersama dengan perawat lainya yang sudah selesai rapat segera menyiapkan semua peralatan operasi.
Terlihat sedikit rasa lega pada wajah Afikah yang sendu walau sebenarnya tubuhnya saat itu sangat lemah, setelah semua pembayaran administrasi selesai Afikah kembali melangkah ke arah Seli dengan langkahan kaki yang tertatih-tatih dan kedua kakinya dilebarkan agar tidak sakit pada pangkreasnya.
Seli yang melihat cara jalan kakaknya sedikit aneh baginya, Ia pun menatap sang kakak dengan sedikit kwatir.
Seli bertanya pada sang kakak dengan nada dan ekspresi wajah yang kwatir.
"Ahh ini, mungkin karena efek tadi kakak tersanjung di pintu utama lobi dan jatuh, kamu tidak perlu kwatir kakak baik-baik saja kok," jawab Afikah tersenyum tulus.
Seli yang mendengar ucapan sang kakak merasa lega walau sebenarnya ia masih kwatir dengan kondisi sang kakak, Gadis kecil itu kembali menghampiri sang kakak dan langsung memeluk erat tubuh kakak tirinya ini kembali.
Di tengah-tengah pelukan bahagia itu para tim medis yang akan melakukan operasi pada ayah kedua saudara itu meminta ijin untuk membawa bapak Lucas ke ruang operasi yang akan dilakukan sebentar lagi.
"Kami datang untuk membawa bapak Lucas yang akan dioperasi pada pukul 8 pagi, sebelum itu mohon tandatangani surat persetujuan ini," pinta dokter Diah menatap kedua saudara itu.
"Siapa yang akan menandatangani ini sebagai perwakilan dari keluarga bapak Lucas?" tanya Dokter Diah.
__ADS_1
"Saya dok. Yang akan menandatangani ini," seru Afikah dan langsung meraih surat yang ada di tangan dokter Diah untuk ditandatangani olehnya.
"Terimakasih untuk kerja samanya." Tersenyum manis pada Afikah dan Seli.
"Operasi besar ini kemungkinan berhasil dan kemungkinan tidak, kami sudah menjelaskan semuanya dari awal sebelum kalian menyetujui operasi ini," tutur dokter Diah menatap keduanya.
"Operasi ini juga akan berhasil 30% dan sudah saya jelaskan kemarin namun, kami akan berusaha sebaik mungkin agar operasi ini berhasil," papar dokter Diah sedikit kwatir.
"Dan saya harap kalian membantu dalam doa karena, melihat hasil operasi yang sangat kecil." Harap dokter Ester.
Ya memang sebelum melakukan operasi dokter Diah sebagai dokter yang menangani ayah Afikah sudah menjelaskan hasil operasi jika, pihak keluarga menyetuinya dan dokter Diah juga mengatakan akibat jika pasien Lucas tidak dioperasi maka, dia akan meningal setelah sehari ia koma.
Tentu hal itu adalah dua pilihan berat bagi kedua saudara itu, dengan berat hati keduanya setuju untuk melakukan operasi tanpa persetujuan sang mama Siska yang entah ke mana saat tahu bahwa suaminya dicap sebagai koruptor pengelapan uang perusahaan.
"Terimakasih dokter untuk penjelasanya, kami hanya berharap operasi ini berhasil," jawab Afikah menatap penuh harap pada dokter Diah dan Ester.
"Kami tidak bisa menjamin operasi pengangkatan tumor di otak ayah kalian bisa berhasil namun, kami dan tim medis yang lain akan berusaha semampu kami dan sebisa kami keberhasilan hanya milik Tuhan," jawab dokter Diah.
Ayah kamu harus selamat Tuhan aku mohon dengan penuh harap jangan ambil ayahku ini pertama kali aku meyakinkan keyakinan ini pada dirimu Tuhan, batin Afikah memohon.
Seli kembali memegang erat tangan sang kakak sambil terus meneteskan air mata Afikah hanya berdiri diam dengan air mata yang banyak tergenang di sana namun ia sama sekali tidak meneteskannya sedikit pun.
Kita tidak tahu takdir karena semua itu hanyalah milik Tuhan sebagai manusia siap tidak siap harus selalu siap... satu hal yang harus diingat jangan salahkan segala cobaan masalah yang kita hadapi pada Tuhan karena, Dia tidak menguji kita lebih dari kemampuan hambanya tetapi, jadikalah masalah itu sebagai motivasi untuk bangkit walau harapanmu sekecil debu...
Bersambung.
__ADS_1