
"Apa maksudmu bahwa tuan muda tidak di rumah?" tanya sekertaris Kim.
Sekertaris Kim bertanya pada kepala pelayan ketika dirinya tiba di rumah istana Adrian.
"Maaf nona Kim. Tuan muda pergi bersama dengan nona Jenny katanya ingin menghabiskan waktu bersama nona muda karena sudah lama mereka tidak pergi bersama," jawab kepala pelayan menjelaskan.
"Lalu mengapa kamu tidak mengabari aku? Kamu tahu bahwa tuan muda sudah menikah? Apa tanggapan orang luar akan hal ini!?" Emosi Sekertaris Kim.
Wanita paruh baya itu marah besar emosi dengan tatapan membunuh pada kepala pelayan.
"Saya sudah mencoba untuk menghentikan tuan muda nyonya Kim. Namun, tuan sendiri mengancam akan memecat saya jika saya menghalangi jalanya," seru kepala pelayan yang mulai ketakutan akan ucapan sekertaris Kim.
"Tidak becus kalian semua di sini bekerja!"
"Pengawal!" panggil sekertaris Kim pada para bodyguard yang sedang menjaga di luar.
"Ya nona Kim!" ucap salah satu bodyguard.
Bodyguard itu menjawab ketika masuk berbaris memanjang berhadapan satu sama lain dengan pengawal lain yang ada di sana sedangkan sekertaris Kim ada di tengah-tengah barisan.
"Cepat siapkan mobil! Kita pergi menjemput tuan muda! Cari lokasi tuan muda menggunakan Gps untuk melacak tempat tuan muda saat ini!" perintah sekertaris Kim pada seluruh pengawal.
Setelah memerintahkan semua pengawal itu untuk pergi menjemput Adrian sekertaris Kim mengatakan pada para bodyguard untuk tetap memaksa Adrian pulang walau pun dia menolaknya.
Sedangkan dirinya harus pergi bersama Antonio menemui klien bisnis perusahaan yang akan bergabung dengan perusahaan T Adrian.
"Jika tuan muda menolak tetap paksa dia untuk masuk ke mobil! Apa kalian mengerti!" tegas sekertaris Kim menatap tajam pada para bodyguard itu.
"Mengerti nona Kim!!!" Sahut rame-rame semua pengawal itu.
**** skip.
Di sisi lain Adrian sedang menikmati indahnya malam kota Jakarta bersama Jenny di rerumputan taman, Adrian membaringkan tubuh di atas tumpukan rumput-rumput hijau dengan kedua tangannya alaskan sebagai bantal menyandar kepalanya sedangkan, Jenny duduk di samping Adrian sambil menatap indah langit-langit.
"Kamu tahu Adrian. Saat aku pergi ke luar negri aku selalu duduk dibibir jendela kamar untuk melihat keindahan langit dan saat itu terjadi maka aku selalu terbayang akan dirimu," kata Jenny
Jenn melihat langit yang indah di atas sana sambil sesekali melirik ke arah Adrian yang juga sedang menatap langit dengan mengukir senyuman manis di wajahnya.
"Langit bagaikan sebuah menara yang tinggi dan sulit aku dapat. Ketika aku mengingat hal ini aku selalu terobsesi untuk memiliki banyak hal yang belum tercapai dalam hidupku. Namun, saat sadar aku tahu bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang," ucap Adrian.
Pria itu berkata dengan melirik ke Gadis yang ada disampingnya ini.
"Maksudmu?" tanya Jenny.
Jenny mengerutkan keningnya saat melirik ke Adrian di bawah sana.
"Rahasia. Kepo amat."
__ADS_1
hahhaha....
Jawab Adrian tertawa bahagia menatap Jenny sekilas dan kembali melirik langit di atas sana dengan senyuman mengembang karena bercandanya.
Bisa dibilang Jenny adalah satu-satunya wanita dan orang yang bisa membuat seorang Arisan tertawa bahagia dan lepas.
Biasanya jika Dia berada bersama siapa pun Dia selalu menunjukan sisi dingin, sikap sombongnya, dan menyembunyikan luka yang sebenarnya ia alami.
Namun sejak bertemu dengan Afikah bayang-bayang tentang Jenny hanyalah sebatas teman di hati Adrian tidak lebih dari itu.
"Saat kita menjalin hubungan yang lebih dari sahabat kadang aku selalu bertanya apakah seorang Adrian Arifin benaran sayang sama aku? Ataukah dia hanya ingin memiliki aku karena taruhan dengan temanya?" Jenny menatap dalam Adrian.
Adrian yang mendengarnya hanya mengukir senyum dengan wajah yang santai dan memiliki banyak cerita di sana.
"Ko senyum?" bingung Jenny.
Jenny mengerutkan keningnya menatap Adrian.
"Hem..." Adrian berdehem.
Pria itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan pelan Ia seperti ingin menjelaskan sesuatu pada Jenny.
"Kadang aku berusaha untuk memahami. Memaksakan diri aku berusaha sebaik mungkin menjadi seseorang yang benar-benar penting dalam hidupmu namun, saat kamu pergi meninggalkan aku, di sana aku sadar bahwa aku bukanlah yang terbaik untukmu dan hal terbaik bukanlah meninggalkan melainkan berusaha walau itu terasa sulit," ucap Adrian.
Adrian berucap dengan menatap Jenny menahan sesak di dadanya mengingat luka yang Jenny berikan padanya saat Ia benar-benar membutuhkan sosok seorang suporter ketika Ia lagi dalam masalah besar.
Cita-cita Jenny adalah ingin menjadi wanita yang berstatus tinggi sepadan dengan pria dan ingin menjadi seorang wanita yang memiliki karir bagus oleh, sebab itu ia memilih memutuskan hubungannya dengan Adrian dan pergi mengejar cita-citanya hingga Ia sukses,
Kenny meninggalkan Adrian saat Pei itu benar-benar di titik yang membutuhkan dirinya.
"Yang namanya masa lalu adalah masa lalu kita tidak bisa mengubahnya sampai kapan pun. Walau kadang situasi itu membuat kita terluka setidaknya dia menjadi cerita kenangan tersendiri bagi kita ketika di masa depan kamu bisa menceritakan hal itu pada anak-anakmu," ungkap Adrian masih santai menatap langit dalam diam.
"Walau ini terlambat. Melirik ke arah Jenny, aku minta maaf karena tidak memberitahumu soal Afikah," lanjut Adrian.
Pria dingin ini menatap Jenny sangat dalam dengan posisi tidurnya itu.
"Omg!"
hahhahaha...
Tawa Jenny lepas ketika ia melihat ekspresi Adrian yang sangat lucu ketika mengatakan maaf karena itu pertama kali seorang Adrian Arifin mengatakan maaf setelah bertahun-tahun lamanya mereka berteman bahkan menjalin hubungan tidak sekali pun Adrian mengatakan maaf pada Jenny.
"Hei apa ada yang lucu? Sepertinya kamu sangat menikmatinya," ucap Adrian.
Dia menatap aneh Jenny mengerutkan dahinya dengan mengangkat alisnya saat masih menatap Jenny.
"Jelas lucu lah setelah tujuh tahun purnama ini pertama kali kamu mengucapkan kata maaf."
__ADS_1
Hahhahaha...
Jawab Jenny masih terus tertawa terbahak-bahak hingga Adrian pun ikut tertawa tipis.
"Mungkin setan lagi masuk ke diri aku."
hahhaha....
Seru Adrian balik dan tertawa juga.
Akhirnya keduanya tertawa lepas malam itu dengan bahagia sambil, satu sama lain saling berbalas memainkan jari seperti menggoda di perut mereka masing-masing hingga keduanya tertawa terbahak dengan bahagia.
Dan akhirnya mereka tidur bersama di atas tumpukan rumput-rumput hijau itu dan menatap langit di atas sana bersama dengan tatapan dalam masing-masing. Sempat terjadi kebisingan selama beberapa menit namun, akhirnya Jenny kembali membuka suara memecahkan keheningan itu ketika di mana mata keduanya saling bertemu satu sama lain dengan tatapan yang sangat dalam.
"Ehmm... ehmm... " batuk Jenny.
Jenny mengalihkan tatapannya pada langit dengan detak jantung yang sangat kencang di dalam sana, sedangkan Adrian Kiki pikirannya berputar pada Afikah.
"Tapi Jenny Mengapa sikapmu sangat dingin? Bukan dingin melainkan sangat kejam pada Afikah?" ucap Adrian dengan menyebut nama Afikah.
"Pada hal menurut aku Dia gadis yang baik dan sopan lagian dia hanya seorang pelayan bukan?" Lanjut Adrian menatap dalam Jenny.
"Entahlah aku tidak suka pelayan kamu itu!" Jawab Jenny malas.
"Kenapa?" tanya Adrian serius.
"Ya pokoknya tidak suka. Lagian Dia hanya seorang pelayan bukan?" Jawa. Jenny kesal.
Jenny tidak suka Adrian menyebut nama Afikah di tengah-tengah kebahagiaan mereka itu sangat menggangu pikiran Jenny.
"Dia bukan pelayan melainkan istri kontrakan aku," jawab Adrian.
"Istri kontrak? Maksudmu?" tanya Jenny masih belum paham akan ucapan Kim Adrian.
"Ceritanya panjang nanti aku jelaskan. Lagian tidak penting juga bahas tuh anak di tengah-tengah obrolan kita. Dia hanyalah gadis miskin yang haus akan uang," jawab Adrian.
Pria itu merasa bersalah dengan ucapannya pada Afikah hati kecilnya tidak tenang namun, Ia tidak bisa membela Afikah di depan Jenny yang memang sangat kesal dengan Afikah.
"Apa kamu memben..."
"Jen. Please jangan bahas dia aku tidak sedang dalam mud yang baik membahas anak itu. Intinya Dia hanya istri kontrak di mata aku. Kamu sama dia bagaikan ujung kaki dan kepala jadi jangan membicarakan Dia ketika mud aku lagi bagus," jawab Adrian memotong ucapan Jenny dengan wajah yang kesal.
Aku ingin tahu apakah kamu mencintai aku? Apakah kamu merindukan aku? Karena aku sangat merindukanmu. Aku sengaja mengatakan soal Afikah hanya untuk menutupi dua rasa ini yang sangat berguncang dalam hatiku, bungkam Jenny dengan tatapan mata berkaca-kaca saat Ia dan Adrian saling membalas tatapan satu sama lain.
Apakah benar Adrian kamu sudah melupakan aku karena Gadis kampung itu? batin Jenny.
Bersambung.
__ADS_1