Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 61 ( Mahkota Untuk Ayah).


__ADS_3

"Semenjak Jenny mengenal Adrian aku lihat Dia sepertinya menemukan kembali kehidupan," ucap mama Jenny ketika sedang makan bersama keluarga.


"Ibu juga sangat menyukai Adrian. Sudah waktunya bagi Jenny untuk mencari calon suaminya dan ibu rasa Adrian adalah pilihan tepat untuk Jenny," seru nenek Jenny menatap dengan senyuman bahagia pada menantu, dan putrinya.


"Tapi masalahnya apakah Pria ini sudah ada tunangan atau belum? Bagaimana jika Dia sudah memiliki seorang tunangan atau wanita spesial dalam hidupnya apa mungkin masih ada tempat untuk Jenny?" tanya ayah Jenny mengerutkan dahinya.


"Soal itu aku tidak tahu tapi, jika Jenny nyaman dengan Adrian kita harus hentikan itu."


"Maksudmu?" tanya ayah Jenny pada Ibunya.


"Maksudku adalah jika Adrian benar memiliki seorang wanita spesial maka Jenny yang menyukai Dia harus kita hentikan ."


"Mengapa?" tanya Ayah Jenny lagi.


"Karena aku tidak mau nasib putri aku sama seperti gadis sampah 28 tahun yang lalu, kita masih bisa berikan Jenny makan dan minum, harta masih banyak jadi dengan pria lain saja," seru Ibunda Jenny alias Miranda adik kandung dari ibu Afikah.


"Nasib putri sampah itu tidak akan dan takan pernah sama dengan cucu kesayangan aku!" jawab nenek Jenny dengan tatapan menakutkan.


"Terkadang kita harus kembali ke masa lalu untuk mencapai tujuan yang diinginkan."


"Maksud Ibu?" tanya Miranda mengerutkan kening.


"Nanti juga kamu paham sendiri maksud ibumu ini!" jawab wanita paruh baya itu menatap dalam anaknya dan menantu yang ada di hadapannya itu.


****


Sudah pukul 12.00 yang menandakan hari telah siang semua karyawan perusahaan akhirnya bisa keluar untuk makan siang ada yang hanya pesan makanan dari online saja, ada yang keluar makan bersama di restoran terdekat. Adrian, sekertaris Kim dan Jenny sedang duduk di ruang kantor pribadi, Jenny yang sedari tadi sibuk dengan handphone di tangannya tersebut.


Tiba-tiba ketokan pintu masuk dari luar yang membuat Adrian sedikit tersenyum manis membuat sekertaris Kim bingung sendiri, Jenny yang kebetulan duduk dekat pintu akhirnya melangkah untuk membuka pintu.


"Terimakasih pak," ucap Jenny.


Dia mengambil plastik putih yang di dalam ada tiga box makanan yang tadi dipesan Jenny dari online.


Wajah sumringah Adrian tiba-tiba berubah dalam sekejap menjadi kembali dingin. Pria ini menatap dalam Jenny dengan dingin sambil menatap plastik yang ada di tangan Jenny.


"Itu apa?" tanya Adrian dingin menatap Jenny.


"Tadi aku memesan makan siang untuk kita," jawab Jenny.


Dia tersenyum puas meletakan plastik itu di atas tumpuan meja.


"Apa?" Adrian kaget.

__ADS_1


Tatapan dingin dan mulai kesal.


"Apa-apanya? Aku memesan makanan untuk kita jadi..." (Suara Jenny terhenti).


Belum selesai berucap perkataan wanita cantik ini dicela Adrian.


"Aku tidak pernah meminta! Mengapa kamu bersikap seolah aku inginkan!" ucap Adrian dingin.


"Maksudmu?" tanya Jenny.


Wanita itu seolah yang mengerti akan ucapan Adrian namun, Dia sengaja berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Kamu tahu bahwa aku ingin makan makanan buatan istri aku tapi! Mengapa kamu tiba-tiba bersikap seolah aku menginginkannya!" ucap Adrian.


Masih dengan nada dingin dan tidak suka akan sikap Jenny yang melakukan sesuatu seenaknya saja.


"Apa? Istri?" Jenny tidak percaya akan ucapan Adrian.


Hem... Jenny berdehem nafas panjang sambil mengeluarkan suara.


"Adrian. Aku tahu dan tidak lupa soal itu kita ini temanan sangat lama apa salahnya jika aku membelikan kamu makanan, Jika kamu tidak suka kehadiran aku maka beritahu aku agar aku bisa pergi menjauh darimu."


Sekertaris Kim yang melihat perdebatan semakin menjadi diantara Adrian dan Jenny memanas mencoba untuk menghentikan namun, sekertaris Kim tahu seperti apa bosannya ini yang memang paling tidak suka dengan hal bukan urusan kantor dan sekertaris Kim ikut campur.


Lagian ini bukan urusan sekertaris Kim selama tidak menyangkut Afikah maka wanita paru baya itu akan bersikap biasa saja dan seolah tidak mau terlibat lebih akhirnya sekertaris Kim memutuskan untuk pergi meninggalkan Adrian dan Jenny sendiri di ruang kantor itu.


Wanita paruh baya ini sejak tadi selalu memikirkan cara memberitahu Adrian soal kehamilan Afikah walau Ia tahu Adrian tidak suka mungkin tidak mengakui anak yang dikandung Afikah tetap saja sekertaris Kim tidak peduli akan hal itu kabar dan berita baik ini harus segera Adrian ketahui.


Melihat situasi yang tidak memungkinkan Dia pun memutuskan untuk pergi memikirkan cara yang tepat saat memberitahu Adrian.


"Aku pergi makan di luar saja tuan muda. Maaf aku tidak ingin mendengar pertengkaran tuan muda dan nona Jenny," ucap sekertaris Kim.


Dia membungkuk tubuh sedikit ke bawah lalu melangkah pergi meninggalkan Adrian dan Jenny di dalam ruang kantor sendiri.


Jenny dan Adrian yang melihat kepergian sekertaris Kim diam dalam sekejap hingga pungung wanita paru baya itu menghilang dari pandangan mereka satu sama lain.


"Maaf!"


Suara yang berat namun, terdengar seksi tiba-tiba saja keluar dari bibir Adrian.


"Apa?" tanya Jenny.


Dia kaget akan ucapan Adrian yang tiba-tiba saja sambil kembali memalingkan pandangannya fokus pada Pria di hadapannya itu.

__ADS_1


"Kamu bilang apa?" tanya Jenny masih tidak percaya.


"Aku bilang maaf. Maaf'kan aku karena berucap seperti tadi!" jawab Adrian.


Masih dengan nada dingin.


Jenny yang mendengar ucapan maaf Adrian menarik dua sudut bibir tersenyum lebar sambil berlari beberapa langkah menghampiri Pria itu dan kedua tangan Jenny langsung melingkar dengan erat di punggung kekar Adrian lalu memeluk Pria ini dengan erat.


Bertepatan dengan adegan romantis itu tiba-tiba Afikah datang dengan asisten resepsionis yang dari tadi beberapa kali mengetok pintu tapi, sayang tidak dibuka oleh Adrian atau pun Jenny saking sibuknya mereka dua dengan situasi penuh cinta ini.


Mata Adrian langsung terbelalak dengan lebar saat melihat Afikah yang sedang berdiri sambil memegang rantang makanan di tangan.


"Aku tidak marah Adrian. Jadi kamu tidak perlu minta maaf,"


Lirih Jenny lembut dan semakin mengeratkan pelukannya pada Adrian dengan senyuman bahagia.


Ini kesempatan aku untuk kasih panas Afikah aku ingin lihat seberapa jauh Dia memendamkan rasa untuk aku, batin Adrian.


Dia tersenyum manis lalu Ia pun yang tadinya tidak membalas pelukan Jenny akhirnya melingkarkan kedua tangan di tubuh Jenny untuk membalas Pelukan Gadis itu sambil mengelus lembut rambut Jenny berpura-pura tidak peduli akan kehadiran Afikah.


Afikah mengukir senyum manis di depan sambil melangkah masuk dengan santai lalu Ia menyimpan rantang makan di atas meja,


"Maaf jika aku menggangu tuan muda tapi, ini rantang makan siang tuan kalo begitu aku pamit," ucap Afikah.


Dia tersenyum lebar santai dan bahagia tanpa sedikit ada rasa atau ekspresi wajah yang mengatakan Dia cemburu semua sikapnya menyatu dengan isi hatinya yang tidak sama sekali ada luka di sana.


Kurang ajar segitu respon Dia melihat aku berpelukan dengan Jenny, kesal Adrian.


"Afikah!" Jenny kaget akan kehadiran Afikah.


Jenny pun segera melepas pelukan dari tubuh Adrian sambil memutar dirinya menatap dengan dingin tidak suka pada Afikah.


"Silakan lanjutkan adegan romantis itu nona aku menyukai jika hubungan kalian baik-baik saja," seru Afikah tersenyum bahagia.


Tentu saja Jenny yang mendengarnya sangat bahagia tapi, tidak dengan Adrian tatapan pria itu berubah dalam sekejap dengan banyak pertanyaan di kepalanya sedangkan tatapan sangat tajam menatap serius Afikah.


Apa maksudnya bicara seperti itu! Berpura-pura baik-baik saja cihhh... Akan aku buat sampai kamu mengakui perasaan itu dan setelahnya aku akan tinggalkan kamu seperti wanita lain, batin Adrian diam.


Kenapa aku merasa lelah ya badan aku terasa capek semua ada apa ini?


Cast Tuan Muda ADRIAN ARIFIN 🥰


__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2