Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 31 ( Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

Adrian menatap Afikah dengan masih emosi namun tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Afikah kembali mengatakan ucapan sama pada Adrian.


"Mengapa harus aku yang kamu siksa? Apa salahku padamu? apa kesalahan masa laluku yang menyakitimu sehingga aku menerima semua siksaan yang sama sekali tidak pantas aku terima!" mata Afikah berkaca-kaca menatap Adrian.


.


Terbendung begitu banyak air yang tergenang di sana namun, sulit bagi gadis itu mengeluarkannya.


Afikah tersenyum tipis sambil menarik nafasnya ketika ia menatap mata Adrian.


"Bahkan aku sama sekali tidak pernah melukai dirimu dan keluargamu lalu untuk apa kamu menyiksa aku. Apa hakmu meny--"


"DIAM!"


"Wanita sampah sepertimu tidak pantas untuk aku hargai di rumah ini bahkan melihat wajahmu membuatku ingin muntah."


"Serendah itu, kah diriku di matamu?"


"Berani sekali lidah sampahmu itu bertanya balik padaku!"


plak...


Tamparan keras mengenai wajah Afikah saat tangan kekar Adrian yang kembali di layangkan dengan kasar pada wajah cantik Afikah.


Adrian menarik kerak baju Afikah hingga menjepit leher Gadis itu dengan kejam pria itu mendorong tubuh Afikah hingga terbentur keras di tembok lalu tangan Adrian menekan dengan kuat pada dagu Afikah dengan tatapan sorot mata membunuh pada gadis itu.


Di tengah-tengah suasana yang panas dan penuh ketegangan tiba-tiba pintu terbuka lebar datanglah sekertaris Kim yang langsung berteriak karena kaget akan sikap kasar Adrian yang begitu kasar pada seorang wanita.


"Tuan muda! Apa yang kamu lakukan!" jerit sekertaris Kim.


Dia tidak percaya akan sikap Adrian yang sama sekali tidak menghargai wanita.


"Jangan ikut campur sekertaris Kim!" ucap Adrian.


Adrian menjawab masih menekan kuat dagu Afikah dan ingin mematahkan tulang rahang Gadis itu.


"Hentikan tuan muda! Apa kamu tidak mau men-" (Suara Sekertaris Kim putus).


"DIAM!"


"Gadis seperti ini memang pantas dikasari"


" Adrian Arifin! APA KAMU TIDAK MAU MENDENGARKAN PENGASUHMU!"


Teriak sekertaris Kim yang emosi dengan suara yang keras hingga bergemuruh di seluruh kamar dan suaranya terdengar hingga di lantai satu.


Adrian yang mendengar ucapan sekertaris Kim melepas kasar wajah Afikah lalu menatap sekertaris Kim yang berdiri tertegun di depan pintu kamarnya.


Afikah yang tadi hampir kehabisan nafas akibat tekanan kuat dari tangan Adrian untuk dirinya hingga sulit bernafas. Akhirnya ia bisa kembali bernafas dengan lega sambil sesekali batuk karena hampir kehabisan oksigen nafas.

__ADS_1


Ohok... ohok...


"Kamu bilang apa?" tanya Adrian.


Dengan nada dingin menatap sekertaris Kim.


"ADRIAN ARIFIN!"


"Hanya karena gadis sampah ini untuk pertama kali kamu memangil namaku?"


"Sungguh luar biasa dirimu sekertaris Kim."


"wao..."


Tepukan tangan dari Adrian dengan santai namun, penuh emosi dan tersenyum miring di ukir dari bibirnya.


"Hanya karena orang yang sama sekali tidak kamu kenal. Bertahun-tahun kamu bersama aku untuk pertama kalinya kamu memangil aku dengan namaku."


Adrian mengangkat alisnya sedikit ke atas sambil menatap sekertaris Kim.


"Dia bukan orang lain. Dia adalah orang yang kamu bawa dan pilih sendiri rumah ini untuk jadi istrimu. Jika tuan muda tidak menghargainya maka sama saja tuan muda juga tidak menghargai keputusanmu," jawab sekertaris Kim.


"Dia adalah pilihan tuan mud..."


"SEKERTARIS KIM!!!" terik Adrian.


Adrian berteriak dengan nada tinggi dan wajah yang sangat marah hingga wajahnya merah merona bagaikan semangka merah dengan urat-urat besar pada lehernya muncul ke permukaaan.


"Jangan memancing aku untuk murka!!!"


"Afikah adalah istri kamu tuan MUDA!"


"Apa tuan muda ingin memecat saya? jika itu terjadi saya akan angkat kaki dari rumah ini!"


ucap sekertaris Kim menatap tajam Adrian yang wajahnya pun sedang marah besar pada sekertaris Kim.


Afikah yang melihat pertengkaran semakin panas dan tidak henti-henti akhirnya memecahkan suaranya dengan tenang untuk menenangkan suasana.


Apa lagi saat Afikah dengar ucapan sekertaris Kim yang ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya.


"Pergi!" ucap Adrian.


"Keluar dari sini! Aku tidak ingin berdebat denganmu!"


Lirih Adrian yang mulai mereda amarahnya walau masih dalam emosi dan sikap dingin nya.


"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum Afikah ikut aku pergi," sahut balik sekertaris Kim menantang ucapan T Adrian.


"Apa?"


"Tuan muda saya menghargai anda tapi tidak..."

__ADS_1


"HENTIKAN!!!"


Ucap Afikah tiba-tiba memotong ucapan sekertaris Kim.


Adrian dan sekertaris Kim kaget dan langsung memutar tubuh mereka menatap Afikah yang berteriak.


"Sekertaris Kim aku baik-baik saja. Biarkan aku melakukan kewajibanku sebagai seorang istri."


"Tapi nona muda.."


"Aku baik-baik saja. Akhiri ini dan pergilah aku sungguh baik-baik saja," ujar Afikah menahan perih di dalam sana.


"Berani sekali kamu meneriaki aku dan sekertaris Kim! Siapa dirimu hingga se-"


"Aku adalah istrimu dan aku punya-"


"Apa kamu lupa? kalo pernikahan ini hanyalah kontrak di atas kertas?"


"Aku tidak lupa dan takan pernah lupa."


"Bekas merah di seluruh tubuhku ini dan cincin ini membuktikan aku istrimu. Walau kita belum resmi dalam ikatan suci pernikahan," seru Afikah.


"Apa?"


"Hei! Kamu itu hanyalah sampah yang tidak pantas untuk dihargai..."


"Terserah apa yang mau kamu katakan. Aku rasa aku tidak perlu membongkar sikapmu semalam pada tubuh sampah ini..."


"AFIKAH!!!"


"BERANINYA KAMU MENGUJI KESABARANKU!!!"


Geram Adrian yang sangat emosi menatap membunuh pada Afikah.


"Wanita sampah sepertimu tidaklah pantas untuk bersanding dengan diriku. Aku tahu kamu ingin awalnya menyetujui permintaan aku hanya untuk mendapatkan uang bukan karena ketulusan."


"Mungkin di matamu aku kotor dan terhina namun, tubuh sampah ini sudah tuan nikmati. Anda mengatakan tubuh ini sampah tapi, anda menelah lidah anda sendiri tuan muda."


"AFIKAH!!!"


Plak...


"Tuan muda!"


Kaget sekertaris Kim ketika melihat Adrian yang langsung mendaratkan satu tamparan keras di wajah Afikah.


Afikah menarik nafasnya dalam-dalam sambil kembali menatap Adrian.


"Batin aku kamu hancurkan, fisik aku kamu remukan, pikiran aku kamu sadarkan tuan muda sebenarnya apa mau Kamu!"


"Masih belum puas kah kamu? Hiks...

__ADS_1


Kenapa tidak sekalian kamu bunuh aku saja dari pada kamu siksa aku seperti ini!!!"


BERSAMBUNG.


__ADS_2