Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 22 ( Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

Hidup itu bagaikan debu di mana kamu menempatinya maka sikap dan sifat mu berubah, bagaikan angin yang kencang tidak ada tunas yang baru.


"Apa kabar dengan Ibu dan Seli sudah lama aku tidak bertemu mereka," bicara Afikah dengan diri sendiri ketika ia yang duduk di taman belakang sambil melihat langit-langit biru di sana.


"Rasanya seperti mimpi aku ada di sini. Dan ternyata aku tidak bermimpi Aku di buang dari rumah, aku keguguran, dinodai oleh orang-orang yang ingin mengambil nyawa aku lalu kembali bertemu dengan pria yang pertama kali menghancurkan nasib Aku sungguh kejam takdir ini, entah apa yang Tuhan takdirkan untuk gadis malang ini," Bicara Afikah dengan diri sendiri saat menatap langit dengan ukiran senyum dengan mata yang berkaca-kaca.


Afikah benar-benar dibuat bingung sendiri dengan sikap Adrian apalagi kejadian tadi saat Pria itu mencium dadakan Afikah di depan wanita yang menghinanya, entahlah sejak Afikah yang disiksa oleh Adrian dan merasa Ia sama sekali tidak dihargai oleh Pria itu Afikah hanya menganggap bahwa sikap Adrian hanya untuk membuat wanita bernama Jenny cemburu yang Afikah tahu dan dengar dari beberapa pelayan bahwa Dia adalah mantan kekasih Adrian.


Sampai sekarang Adrian masih mencintai Dia jadi Afikah hanya menganggap sesuai apa yang juga orang lain lihat tidak mau lebih percaya akan tipu daya Pria itu.


Di sisi lain setelah mencium Afikah di tempat umum kini Adrian sedang asyik mengobrol dengan Jenny kini mereka akan makan siang bersama di meja, mata Adrian melirik ke sana sini mencari sosok Afikah yang sedari tadi tidak dilihatnya.


Jenny yang melihat sorot mata Adrian seperti mencari sesuatu akhirnya membuka suara ketika mereka sudah duduk di meja makan yang sangat panjang.


Akhirnya Jenny mulai membuka suara di meja makan sambil melihat Adrian yang kelihatan bingung sendiri.


"Ada apa? Kelihatanya kamu seperti mencari sesuatu. Apa yang kamu cari?" tanya Jenny.


Ya setelah mencium Afikah Adrian tidak menjelaskan maksudnya itu Dia malah pergi meninggalkan Afikah yang masih syok akan sikapnya itu, sebenarnya Adrian ingin langsung ke kamar namun, Jenny masih mengatakan bahwa Dia ingin menghabiskan waktu bersama Adrian, entahlah hati Adrian menolak namun, gengsinya sangat tinggi sehingga Ia langsung mengikuti ucapan Jenny.


Ia juga bingung sendiri dengan sikapnya yang langsung mencium Afikah, Adrian merasa seperti Pria bodoh.


Adrian yang mendengar ucapan Jenny menatap Gadis itu dari kejauhan di mana mereka sama-sama duduk di satu meja namun, duduk yang berjauhan karena itulah aturan ketika makan bersama di meja makan yang sangat besar itu.Hidup itu bagaikan debu di mana kamu menempatinya maka sikap dan sifat mu berubah, bagaikan angin yang kencang tidak ada tunas yang baru.


"Apa kabar dengan Ibu dan Seli sudah lama aku tidak bertemu mereka," bicara Afikah dengan diri sendiri ketika ia yang duduk di taman belakang sambil melihat langit-langit biru di sana.


"Rasanya seperti mimpi aku ada di sini. Dan ternyata aku tidak bermimpi Aku di buang dari rumah, aku keguguran, dinodai oleh orang-orang yang ingin mengambil nyawa aku lalu kembali bertemu dengan pria yang pertama kali menghancurkan nasib Aku sungguh kejam takdir ini, entah apa yang Tuhan takdirkan untuk gadis malang ini," Bicara Afikah dengan diri sendiri saat menatap langit dengan ukiran senyum dengan mata yang berkaca-kaca.


Afikah benar-benar dibuat bingung sendiri dengan sikap Adrian apalagi kejadian tadi saat Pria itu mencium dadakan Afikah di depan wanita yang menghinanya, entahlah sejak Afikah yang disiksa oleh Adrian dan merasa Ia sama sekali tidak dihargai oleh Pria itu Afikah hanya menganggap bahwa sikap Adrian hanya untuk membuat wanita bernama Jenny cemburu yang Afikah tahu dan dengar dari beberapa pelayan bahwa Dia adalah mantan kekasih Adrian.


Sampai sekarang Adrian masih mencintai Dia jadi Afikah hanya menganggap sesuai apa yang juga orang lain lihat tidak mau lebih percaya akan tipu daya Pria itu.


Di sisi lain setelah mencium Afikah di tempat umum kini Adrian sedang asyik mengobrol dengan Jenny kini mereka akan makan siang bersama di meja, mata Adrian melirik ke sana sini mencari sosok Afikah yang sedari tadi tidak dilihatnya.


Jenny yang melihat sorot mata Adrian seperti mencari sesuatu akhirnya membuka suara ketika mereka sudah duduk di meja makan yang sangat panjang.


Akhirnya Jenny mulai membuka suara di meja makan sambil melihat Adrian yang kelihatan bingung sendiri.


"Ada apa? Kelihatanya kamu seperti mencari sesuatu. Apa yang kamu cari?" tanya Jenny.


Ya setelah mencium Afikah Adrian tidak menjelaskan maksudnya itu Dia malah pergi meninggalkan Afikah yang masih syok akan sikapnya itu, sebenarnya Adrian ingin langsung ke kamar namun, Jenny masih mengatakan bahwa Dia ingin menghabiskan waktu bersama Adrian, entahlah hati Adrian menolak namun, gengsinya sangat tinggi sehingga Ia langsung mengikuti ucapan Jenny.


Ia juga bingung sendiri dengan sikapnya yang langsung mencium Afikah, Adrian merasa seperti Pria bodoh.


Adrian yang mendengar ucapan Jenny menatap Gadis itu dari kejauhan di mana mereka sama-sama duduk di satu meja namun, duduk yang berjauhan karena itulah aturan ketika makan bersama di meja makan yang sangat besar itu.


"Tidak ada. Ada yang ingin aku tanyakan pada pelayan," jawab Adrian.


Pria itu dengan sikap tenang dan tersenyum menatap balik Jenny.


"Pelayan!" panggil Adrian.


Seorang pelayan datang menghampiri Adrian di meja makan.


"Cari Afikah!" Perintah Adrian.


"Baik tuan muda."


Setelah menjawab ucapan Jenny Adrian memanggil salah satu pelayan yang sedang berbaris rapi saling berhadapan di tengah-tengah meja makan.

__ADS_1


"Kamu juga cepatlah ke sini sebentar!" perintah Adrian dengan satu jari telunjuk menunjuk ke salah satu pelayan menghampirinya di meja makan.


"Carikan Afikah! Perintah dia menghadap saya di meja makan sekarang juga! Dalam waktu 3 menit dia harus di hadapan saya jika tidak tepat waktu maka, kamu yang akan mendapat ganjarannya apa kamu paham!" ucap Adrian.


Nada dingin Adrian dan tatapan dingin pada pelayan tersebut.


"Baik tuan," jawab pelayan itu dengan membungkuk tubuh ke bawah lalu Ia pun segera melangkah pergi.


"Apa itu yang membuatmu tidak tenang?" tanya Jenny menatap Adrian.


"Maksud kamu?"


"Maksud aku apa Dia yang membuatmu duduk tidak tenang? Apa Dia yang membuatmu menunggu? tanya Jenny menatap Adrian penasaran.


"Menunggu? Aku menunggu wanita rendahan itu?" tanya balik Adrian menatap heran Jenny.


Cihhh...


Adrian berdecih kesal.


"Yang benar saja aku menunggunya. Aku meminta Dia ke sini untuk melayani aku dan kamu makan karena itulah tugasnya!" ucap Adrian.


Dengan nada kesal Adrian mulai makan makanan yang kelihatan sudah dingin di piringnya.


Jenny yang mendengar ucapan Adrian terdiam sejenak Gadis itu masih menatap Adrian tidak berucap sepatah kata pun Ia mulai mengikuti Adrian makan.


Dalam beberapa menit suasana menjadi diam hanya ada suara sendok dan piring Jenny membuka percakapan kembali.


"Kamu ini aneh tadi saat aku marah kepada pelayan itu kamu bersikap seolah kamu sangat membela dan tidak suka dengan ucapan aku sekarang kamu malah merendahkan Dia juga," kata Jenny.


Jenny yang berkata sambil memasukkan sesuap makan ke dalam mulutnya, Adrian yang mendengar ucapan Jenny sejenak menghentikan sendok dan garpu namun, dalam beberapa detik kemudian Adrian kembali melanjutkan makan Ia masih memilih diam dan melanjutkan jamuan di meja.


"Carikan nona Afikah dari semua cctv yang ada di seluruh pelosok rumah waktu aku tinggal semenit saja," ucap pelayan tersebut.


Pelayan itu berkata saat sudah masuk dalam ruang pengontrol cctv rumah pada karyawan yang bertugas menjaga keamanan rumah sana.


"Itu nona Afikah Dia ada di taman belakang dekat arah selatan," jawab salah satu karyawan.


Petugas yang menjaga cctv ketika ia yang menemukan Afikah sedang duduk merenung entah memikirkan apa dari monitor komputer yang tersambung langsung dengan cctv.


Melihat hal tersebut Pelayan itu segera berlari ke luar menemui Afikah di taman.


"Hidup itu seperti kopi dan gula, tidak selamanya kamu merasakan yang manis terkadang kamu juga merasakan yang pahit," ucap Afikah.


Afikah masih berucap dengan dirinya sendiri sambil menyeka air mata di sana.


Di tengah-tengah Afikah yang sedang melamun dengan dunia Dia sendiri datanglah pelayan yang tadi ditugasi oleh Adrian mencarinya.


"Nona mu-da" ( suaranya putus-putus karena kehabisan nafas saat berlari).


Afikah yang kaget segera memutar tubuhnya ke arah suara yang memangilnya dari belakang.


"Sherin?" Kaget Afikah menyebut nama pelayan tersebut sambil bangkit berdiri dari duduknya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Afikah kaget.


"Nona segera temui tuan muda di meja makan waktu kita tinggal beberapa detik lagi," jawab Sherin nama dari pelayan itu yang menghiraukan ucapan Afikah.


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Nona aku tidak banyak waktu ayo pergilah! Temui tuan muda nanti akan dijelaskan," jawab Sherli apa adanya.


Afikah yang mendengar ucapan Sherin langsung berlari sekencang mungkin menghampiri Adrian Karena, ia tahu Pria itu pasti memberi batas waktu pada pelayan yang ia perintahkan itu Afikah berlari dengan sangat kencang dan langsung di susul oleh Sherin dari belakang.


Di saat itu Adrian baru ingin memasukan satu sendok nasi ke dalam mulutnya dan tiba-tiba wajah Afikah tertempel di piring makan Jenny di mana karena Ia terlalu fokus berlari jadi pada saat ia berlari dengan kencang dan sudah sampai di hadapan Adrian namun, saat ia yang ingin menghampiri Pria itu tiba-tiba kaki Afikah tersandung di lantai hingga akhirnya ia jatuh menimpakan wajahnya di piring makan Jenny.


Adrian yang kaget akan hal itu melotot matanya dengan sangat lebar.


Sedangkan Jenny ikut kaget Ia langsung emosi menahan gigi-giginya dengan sangat kuat.


Beberapa mata yang ada di sana melihat Afikah dengan sangat syok termasuk Adrian yang langsung bangkit berdiri dari duduknya.


Afikah? Ada apa dengan kamu lagi, lagi kamu Cari masalah lagi dengan Jenny? batin Adrian.


"KAU!!!" jerit Kenny emosi.


Dia menahan gigi-giginya sangat kuat hingga urat besar di lehernya muncul ke permukaan, sifat asli Jenny mulai terlihat.


"Berani sekali kau menimpa wajah sampahmu itu di piring aku!" tatap Kenny tajam.


Wanita dingin itu berdiri dengan menahan gigi-giginya dari dalam dan meremas jari jemarinya kuat.


Matilah aku kenapa juga ini kaki pake acara tersandung segala sial, sial... bungkam Afikah dalam hati.


"Maaf, maaf, 'kan Aku nona muda aku benar-benar tidak sengaja" jawab Afikah ketakutan.


Afikah berucap dengan grogi sambil mengangkat wajahnya dari piring yang penuh makanan di wajahnya.


"Maaf? Tidak sudi aku memaafkan gadis ceroboh sepertimu," kata Jenny.


Jenny masih emosi akan sikap Afikah.


"Jen mungkin memang DIA tidak sengaja ayolah jangan buat masalah," ucap Adrian membela Afikah.


"Nona aku...."


Ucapan Afikah terhenti ketika Jenny yang langsung mengangkat segelas jus jeruk di atas tumpuan meja di salah dan langsung di siram ke wajah Afikah hingga wajah Gadis itu penuh dengan jus jeruk yang menempel di kulit mulus wajahnya itu, rambut dan bajunya.


"Ini jawaban kata maaf dari dirimu," kata Jenny ketika jus jeruk itu sudah disiram olehnya ke wajah Afikah.


Sikap emosi dan reflek Jenny ini sontak membuat Adrian bingung sendiri dalam seketika tatapan dingin Adrian itu berubah ekspresi ketika Ia melihat mata Afikah tidak bisa berbohong.


Lagi... dan lagi makanan kembali di lempar di wajah aku, bungkam Afikah terdiam seribu kata dengan hati yang kembali terukir luka lama.


"Jenny harusnya kamu dengarkan dulu penjelasanya mengapa dia sampai jatuh menimpa makanan kamu," ucap Adrian mencoba untuk menjelaskan pada Jenny yang menurutnya salah.


"Palingan dia sengaja melakukanya untuk mendapatkan perhatian kamu. Biasalah gadis rendahan seperti dia berusaha mencari muka di depan pria kaya untuk bisa dapat perhatian," jawab Jenny santai menatap Afikah yang terdiam di sana.


"Aku malas membahas dia lebih baik kita pergi jalan-jalan. Sudah lama kita tidak pernah berjalan bersama," lanjut Jenny menarik tangan Adrian untuk pergi.


Afikah yang masih diam hanya menatap sikap Jenny dan ia hanya mengukir senyum ketika Jenny meliriknya.


"Aku tahu kamu marah karena sikap aku yang keterlaluan dengan pelayan kamu ini tapi ingat ini masa libur aku jangan bela Dia kecuali aku! Kamu sudah berjanji," ucap Jenny yang seperti paham akan tatapan Adrian pada Afikah.


"TERSERAH!" jawab Adrian penuh tekanan.


Benar-benar sikapnya pada pelayan ini sangat berbeda dengan aku, begitu besar perbedaan itu, batin Jenny.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2