
"LEPAS!" Adrian mengeraskan rahang.
"Apa begini cara kamu memperlakukan seorang wanita? Bagaimana bisa kamu begitu hina menyiksa."
"CUKUP!!!"
"Jika kamu tidak tahu masalahnya jangan ikut campur."
"Acara sudah selesai mengapa kamu masih di sini? Apa kamu tidak punya rumah?"
"PENGWAL!" panggil Adrian.
Dengan keras dan tatapan sorot mata tajam pada Roni.
Para bodyguard datang saat mendengar panggilan keras Adrian, setelah tiba mereka berbaris dengan sangat rapi nan siaga mengelilingi Adrian dan Roni.
"BAWA DIA PERGI DARI HADAPANKU!" perintah Adrian.
Dengan wajah memerah akibat emosi yang meluap dan amarah yang sangat besar pada Roni yang berani menarik kerak baju Adrian hanya karena Afikah.
"Baik tuan muda," jawab serentak semua bodyguard ini.
Mereka membungkukkan tubuh mereka ke bawah sebagai tanda hormat pada Adrian lalu mereka segera menghampiri Roni.
"Mari tuan muda ikut dengan kami!" ucap seorang bodyguard pada Roni sahabat Adrian.
"Lepaskan! Aku bilang lepaskan tanganku! Apa kamu tuli!!!"
Tatap Roni dengan keras menolak para bodyguard itu.
"Aku tidak menyangka caramu memperlakukan wanita seperti ini! Apa lagi Dia seorang pelayan dengan kasar kamu begitu kejam pada Afikah!"
kata Roni menatap tajam Adrian sambil melepaskan tangannya dari genggaman para bodyguard itu.
"Aku tidak melukai Dia! Jika Dia tidak berbuat kasar pada aku." Menatap Roni tajam.
Mereka terus beradu mulut dengan emosi yang meluap dan menyala-nyala. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah satu sama lain hingga akhirnya Jenny yang dari tadi hanya diam dan masih syok akan sikap Adrian begitu kasar pada Afikah dan untuk pertama kali dalam hidup Jenny dia melihat seorang Adrian yang memperlakukan kasar perempuan sampai menampar wajah Afikah seperti itu.
"Adrian. Aku tahu kamu sangat marah tapi ini sudah malam tidak baik jika kalian berdua terus menerus beradu mulut."
"Hal ini tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak akan kelar jika terus begini," kata Jenny.
Dia mencoba mengalihkan suasana yang menenangkan itu agar bisa menghindari perkelahian antara dua sahabat baik ini di malam itu yang mungkin sebentar lagi akan terjadi.
"Lagian semua tamu baik dari teman kamu atau aku mereka tidak keberatan akan anggur itu, mereka semua sudah pergi kita bisa memesan anggur itu lagi, tapi berhentilah memarahi Afikah apalagi memperlakukan dia seperti ini."
Baik dari Adrian atau Roni diam seribu kata walau masih terlihat kemarahan besar ada di diri mereka masing-masing.
Keduanya saling menatap penuh emosi satu sama lain.
"Kali ini berikan Afikah kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, Dia juga tidak sengaja memberikan anggur itu pada para tamu."
"Ambil sisi positifnya saja semua orang memujimu dan sangat menghargai kamu," tutur Jenny.
Gadis ini terus menerus menasehati Adrian untuk berhenti memperpanjang masalah anggur ini yang menurut Jenny itu hal sepele saja.
Adrian yang mendengar ucapan Jenny mulai mereda amarahnya. Wajahnya yang tadi merah merona seperti tomat akhirnya kembali normal, tatapannya yang menakutkan mulai berubah seperti biasa, memang hanya Jenny yang bisa menenangkan emosi Adrian jika yang lain tidak akan di dengar sama sekali oleh Adrian.
__ADS_1
"Baiklah aku tidak akan mengasari wanita ini namun, hukuman untuk dia akan kelalaian dalam kerjaan masih tetap berlaku,l."
Seru Adrian kejam menatap bunuh pada Afikah.
Gadis malang ini yang masih memegang wajahnya karena tamparan dari Adrian mengukir senyuman manis di bibirnya sambil menatap dingin Adrian dengan sorot mata yang sama sekali tidak ada ketakutan di sana ketika matanya bertemu dengan mata Pria itu.
"Aku sudah terbiasa dengan perlakuan kasar kamu, aku sudah biasa dengan..."
"Afikah! Apa maksud kamu? ayolah jangan memperkeruh suasana lagi," seru Jenny mencela ucapan Afikah..
"Memperkeruh?" Afikah tidak percaya akan ucapan Jenny.
Cihhh...
Dia berdecih dengan penuh rasa sakit.
"Aku berterimakasih pada nona karena sudah membela aku dan bisa mengontrol emosi tuan muda yang sangat manis ini. Tapi aku tidak butuh belas kasihan baik dari nona atau pun tuan muda ini," lanjut Afikah.
Dia menundukkan kepala pada Jenny dan Adrian.
"Apa mau kamu? Mengapa kamu bersikap seakan dirimu sama sekali tidak bersalah? Apa kamu tahu anggur...." ucapan Adrian terhenti.
Afikah kembali mencela ucapan Pria ini.
"Aku tahu anggur itu adalah anggur termahal dunia dan anggur yang tuan muda siapkan untuk tamu istimewa anda."
Tersenyum lagi dengan tipis menatapnya.
"Oh...jadi kamu melakukan semua ini karena sengaja? Lihat dia sendiri yang mengakuinya bukan? Dia sengaja melakukannya hanya untuk menjatuhkan harga diri aku orang seperti ini tidak akan aku maafkan," ucap Adrian.
Dengan emosi dan langsung menjambak kasar rambut Afikah menyeretnya menuju ke gudang belakang rumah.
"Tidak Jen. Dia sengaja melakukannya untuk mempermalukan aku untuk apa aku harus bersikap baik pada orang seperti ini," seru Adrian emosi membara.
Dia yang langsung menghempaskan Afikah dengan kasar ke dalam gudang yang sangat gelap.
Di dalam gudang itu tidak ada lampu bangunan yang sudah sangat tua dan sedikit menyeramkan.
Afikah ketakutan akan kegelapan ingin berteriak tapi dia tidak bisa karena gadis ini tidak ingin dilihat lemah. Ia hanya diam membisu tanpa berucap sepatah kata pun menunjukan bahwa dirinya sama sekali tidak takut pada hal dalam diri Gadis ini ketakutan.
"Inilah tempatmu mulai malam ini kamu di kurung di tempat ini! Aku ingin melihat seberapa kuat seorang Afikah."
Adrian menghempas kasar tubuh Afikah ke dalam gudang hingga kepala Gadis itu terbentur kelantai di bawah sana.
Sedangkan Jenny, Roni dan semua pelayan yang ingin membantu Afikah mereka diam seribu kata walau Roni ingin membantu tetap saja keras kepala dan emosi Adrian memang sangat sulit di kontrol apalagi Adrian begitu emosi sama saja berurusan di situasi yang panas begini yang ada akan menambah percekcokan mereka.
"Jika ada yang berani memberi dia makan, minum atau pun mencoba membebaskan dia maka akan berurusan panjang dengan aku termasuk kamu Roni" ancam Adrian.
Dengan tegas dan tatapan dingin pada Afikah lalu menatap membunuh ke arah Roni.
"Tapi Adrian.."
"Jen. Aku lagi capek supir yang akan mengantarmu pulang kita bicara nanti saja," ucap Adrian.
Dia langsung memotong ucapan Jenny dengan sikap dingin bagaikan es batu dan melangkah pergi meninggalkan Afikah, Jenny dan semuanya di gudang.
Jenny melihat ke arah Afikah yang masih tersenyum manis pada Jenny. Gadis itu menatap Jenny dengan mata yang sama sekali tidak ada ketakutan atau menyesal akan semua ini, Ingin sekali Jenny mengucapkan kata semua baik-baik saja namun, saat melihat kondisi Afikah yang baik-baik saja Jenny kembali memutar diri melangkah pergi meninggalkan Afikah dan menyusul Adrian yang sudah menjauh darinya.
__ADS_1
Tatapan Afikah seketika berubah sebentar namun, Dia kembali tersenyum.
"Nona maafkan aku.." ucap kepala pelayan.
Dia yang mulai menarik pintu besi gudang untuk di kunci.
Roni yang melihatnya hanya diam menatap Afikah yang masih tersenyum manis padanya, sebenarnya Roni bisa membantu Afikah tapi kekuatan Roni dan kekuasaan Adrian sangatlah jauh jika Roni menentang Adrian maka jelas semua usaha dan keluarga Roni bakal dalam bahaya mengingat Adrian adalah salah satu orang yang merupakan bos kejahatan terorganisir.
Setelah mengunci pintu kepala pelayan membungkukkan tubuh pada Roni sebentar dan melangkah pergi. Sedangkan empat pengawal ditugaskan untuk menjaga pintu dan empat pengawal lainya menunggu Roni untuk pulang.
"Apa kamu bisa mendengarkan aku nona?" tanya Roni.
Dengan suara yang sedikit keras dari depan pintu yang sudah di kunci pada Afikah.
"Hem." Afikah menjawab berdehem.
"Maaf." ucap Roni lembut.
Dia menyesal sangat menyesal saat masih berdiri tegap di depan pintu Gudang yang sudah mengurung Afikah di dalam sana.
"Maksud tuan?" tanya Afikah dari dalam.
"Aku bilang maaf. Maafkan kan aku karena tidak bisa membantumu atau menolong kamu saat ini." jawab Roni.
Dia menarik nafas dalam-dalam terasa sesak di dada.
"Apa di dalam sangat gelap? Kamu takut?" lanjut Roni dari luar pintu yang sudah menutup di sana.
"Aku baik-baik saja tuan. Terimakasih sudah menghawatirkan aku, hidup di kegelapan sudah biasa bagiku jadi tuan tidak perlu mengkhawatirkan diriku."
"Jaga dirimu dan tetap kuat aku pasti akan menyelamatkanmu. Semua baik-baik saja aku pamit pergi," kata Roni.
Afikah menarik nafas yang sebenarnya tidak bisa bernafas lagi sesak di dada hanya menahan niatnya yang ingin berteriak bahwa saat ini dia sangat ketakutan.
Afikah menahan air mata yang sudah mengalir dan semua begitu menyiksa dirinya.
Kamulah takdirku... mencintaimu bagaikan bintang yang jauh di langit... wanita seperti aku tidak akan mungkin mendapatkan cinta itu, batin Afikah.
Hiks....
Pecahlah tangis itu.
Tangis yang sedari tadi di tahan los keluar dari sana.
( Guys Ko Author merasa Jahat sekali dengan Afikah 😭😭).
Dengan keras suara tangis di dalam gudang yang gelap akan semua penderitaan, inilah sisi lemah Afikah
kelemahan Dia adalah menahan tangis sendiri dan memikul beban sendiri jujur ini sulit dilakukanya ketika dirinya rapuh namun situasi dan dunia memaksanya tersenyum dan berpura-pura.
BERSAMBUNG.
Hai semua terimakasih ya sudah setia baca cerita ini... maaf jika ceritanya sangat menyiksa.
Jangan lupa like, komen dan share atau support author selalu ya satu like saja dari kalian semua itu sangat membantu author apalagi sampai komen terus menerus itu sangat membantu semakin semangat.
Terimakasih....
__ADS_1
Jaga kesehatan kalian semua ya dan keluarga covid-19 masih disekitar kita jadi gunakan masker dan patuhi protokol kesehatan😍🥰😘😘🤗🤗❤❤🙏🙏🙏🙏🙏