Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 44 ( Mahkota Untuk Ayah).


__ADS_3

Mentari pagi kembali menyapa di pagi hari karena semalam hujan udara terasa berbeda di hari yang baru.


Perlahan Afikah membuka kedua mata yang masih belum bisa dibuka karena rasa mengantuk masih ada pada diri Afikah. Namun, Gadis itu tetap memaksakan diri membuka mata untuk bangun dari rasa ngantuk karena hari sudah pagi.


Mata yang  masih sangat berat dan sulit di buka oleh Gadis itu,  Lalu Afikah tetap memaksakan diri untuk  membuka kedua bola matanya.


Hal pertama yang dilihat gadis itu adalah cahaya mentari pagi yang sudah bersinar dan menembus lubang-lubang kecil tembok menerangi gelapnya gudang.


Afikah bangkit  dari tempat tidur lalu Dia melangkah ke depan pintu melihat indahnya mentari pagi dengan suasana yang sejuk  dan burung-burung berkicau di alam pada pagi hari menandakan kondisi rumah Adrian yang begitu indah di pagi hari.


Afikah mengangkat kedua tangan ke atas menyegarkan tubuh yang begitu terasa remuk akibat tidur di lantai kasar gudang. Saat matanya melihat matahari yang mulai terbit Afikah mengatupkan kedua tangan menutup mata dan mengucapkan doa syukur pada Tuhan karena masih memberikan dia nafas kehidupan untuk menikmati hari yang baru.


Hargailah hari demi hari yang kamu lewati selama nafasmu masih berhembus karena suatu saat semua itu hanya sebuah kata Kenangan, motto hidup yang selalu Afikah terapkan dalam kehidupan memang dari kecil sudah hidup keras penuh dengan air mata.


Ia selalu mengucapkan syukur untuk setiap masalah yang Dia hadapi baik atau buruk di setiap kehidupan yang Dia terima.


Ditengah-tengah Afikah yang masih menikmati suasana pagi tiba-tiba Dia dikagetkan dengan kedatangan seorang pelayan.


"Nona muda, Tuan muda meminta anda ke kamar sekarang juga!" ucap pelayan tersebut dengan nafas ngos-ngosan.


Afikah yang wajahnya belum dibasuh dengan air dan masih kusut namun, kecantikan Gadis muda ini sama sekali tidak memudar.


Pada hal wajah itu belum dibersihkan pakaiannya masih sama namun, mengapa kecantikan Nona muda makin bersinar? bungkam pelayan tersebut mengagumi kecantikan Afikah yang begitu sempurna.


"Baiklah."


Begitulah jawaban Afikah tanpa bertanya lagi atau protes, dengan senyum lebar nan tulus diukir dari bibir Afikah mengambil selimut yang Dia kenakan semalam lalu melangkah pergi bersama dengan pelayan yang menjemputnya.


Entah apa yang akan Dia lakukan lagi pada diriku, ya Tuhan kuatkanlah aku untuk bisa menghadapi sikap Adrian.


"Selamat pagi nona muda," sapa semua pelayan.


Para pelayan yang sedang membersihkan kolam, ada yang melap kaca, menyiram bunga dan tukang kebun yang sedang memendekan rumput yang sudah panjang di depan air mancur sana.


Afikah hanya menundukan kepala ke bawah dengan senyuman manis lalu melangkah masuk ke dalam rumah istana tersebut.


"Mengapa lama sekali kamu? Apa kamu seorang nyonya yang patut ditungguin?" ucap Adrian kesal sendir.

__ADS_1


Pria muda ini langsung dengan emosi dari meja makan ketika Afikah yang sedang melangkah dengan diam dan sedikit kaget akan kehadiran Jenny,  dan  seorang pria yang Afikah kenal Dia adalah orang yang membantu Afikah kemarin malam ketika Gadis muda ini sedang dikurung ketakutan dalam gudang Dia adalah yang tidak lain Roni sahabat Adrian.


"Maaf tuan muda aku..." ucapan Afikah di cela oleh Adrian lagi.


"Apa tidak ada kata lain selain kata itu? Mengapa kamu selalu membuat aku ingin berkata kasar padamu? Sudah aku bilang aku paling tidak suka menunggu apa kamu paham!?" ucap Adrian.


Dengan sorot mata mencekam pada Afikah yang masih berdiri diam di ruang tengah keluarga.


"Dii, Jangan kasar begitu pada seorang pelayan."


"Dia juga manusia," tutur Jenny.


Dia yang merasa kasihan pada Afikah akan sikap kasar Adrian menurut Jenny tidak pantas  mantan pacarnya ini perlakukan kasar seorang Gadis seperti itu seakan  Afikah itu tidak baik padanya.


"Afikah maaf, kan Adrian dia mungkin kurang enak badan. Aku harap kamu tidak memasukan dalam hati ucapan Adrian barusan."


"Tidak apa-apa nona, Aku sudah terbiasa dengan sikap tuan muda seperti ini," seru Afikah tersenyum tulus pada Jenny.


"Untuk apa kamu minta maaf? Namanya sampah adalah sampah dan tidak pantas untuk dihargai derajat Dia dan kita bagaikan langit bumi jadi tidak perlu merendahkan dirimu untuk pelayan rendahan seperti Dia," seru Adrian yang terus menjatuhkan harga diri Afikah di hadapan semua orang termasuk Roni dan Jenny.


"Pelayan adalah ciptaan Tuhan tidak ada beda di anatara ciptaan Allah yang membedakanya hanyalah jalan pikir manusia," kata Roni menatap tajam Adrian dari posisi duduknya.


Sorot mata tajam pada Roni tanpa berkedip sedikit pun.


Jenny yang melihat situasi semakin tegang ketika Adrian mulai membuang sendok dan garpu secara kasar di meja makan yang memang duduknya saling berjauhan karena meja yang sangat panjang dan hanya memiliki enam kursi dan duduk terpisah jarak dengan menu makanan masing-masing memilih pada hal mereka makan di satu meja namun, untuk mengobrlol biasanya harus lewat telpon yang sudah ada atau melalui  petugas juru bicara namun, kali ini Adrian dan Roni melupakan aturan  itu dan mereka berbicara secara lisan saling membalas tatapan dingin dan tegang keduanya.


"Jika kalian masih seperti ini maka aku akan pergi sekarang juga! Aku diundang ke sini bukan untuk melihat pertengkaran atau perdebatan kalian berdua!" ucap Jenny mengancam.


"Aku tidak akan mulai jika dia tidak ikut campur dalam urusan aku dengan si  pelayan rendahan itu!" seru Adrian.


Pria itu mengontrol emosi karena kelemahan Adrian adalah ketika Jenny mulai marah  padanya.


Roni yang memang sikapnya kalem dan mau mengalah akhirnya diam tanpa menjawab ucapan Adrian lagi.


Afikah hanya diam meremas jari jemarinya dengan sangat kuat sambil melihat dengan tatapanya seperti biasa dingin dan mengukir senyum tipis walau tidak ada yang tersenyum dengan Dia.


"Mengapa berdiri diam di sana! Aku tidak suka saat aku duduk dan melihat kamu berdiri dihadapanku karena leherku sakit! Aku tidak suka mendongak kamu tahu itu! Kemari dan layani kami makan!"

__ADS_1


"Kepala pelayan ajarin dia bagaimana melayani aku dan tamu makan!" perintah Adrian.


Dengan nada dingin dan kembali mengangkat sendok dan garpunya untuk makan.


"Baik tuan."


Jawab kepala pelayan Tina.


"Baik tuan muda," jawab Afikah juga.


Dia yang ikut melangkah  bersama kepala pelayan Tina menghampiri meja makan yang panjang besar bagaikan jalan lurus itu.


"Dii, kamu menyukai roti sley blubery bukan? Sini aku oleskan padamu," tawar Jenny.


Menarik piring Adrian untuk dibuatkan sarapan untuknya.


"Benar. Sudah lama aku tidak makan sarapan buatanmu," jawab Adrian tersenyum manis bersikap hangat pada Jenny berbanding balik dengan  sikapnya pada Afikah.


Gadis malang ini hanya diam dan berdiri di belakang Adrian dan Jenny dengan masih mengukir senyuman walau ada sesak yang begitu mendalam di dalam sana. 


Martin yang serius sarapan tadinya kini menaiki matanya melirik Afikah yang masih tersenyum dengan mata sendu yang jelas terlihat sangat tergores luka hati saat ini.


Deg...


Deg...


Pertama kali dalam hidupku setelah sekian lama kini perasaan degupan jantung ini kembali berdetak untuk pertama kali aku melihat seorang wanita, batin Martin menatap dalam Afikah yang sedang tersenyum dan berdiri diam di belakang Adrian dan Jenny seperti pelayan rumah pada umumnya melayani majikan mereka makan di meja besar.


Jika suatu saat hati ini merasakan sesuatu aku Afikah tidak akan dan takan pernah mencintaimu.


Setiap ucapan, sikap kasarmu selama ini padaku tidak akan aku lupakan sampai aku mati, Jika aku mencintaimu yang ada hanyalah dendam dalam diriku untuk menghancurkan hidupmu tuan muda... aku sungguh membencimu...


Kamu seperti rasa yang tidak memiliki hati dan tidak pantas untuk aku berikan cinta bagiku kamu hanya rawa dalam kegelapan.


batin Afikah.


(Note tunggu saja kamu Adrian, btw karakter Jenny yang sebenarnya belum keluar yaa... wkkk)

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2