Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 57 ( Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

Auukhhh...


"Sakit!" keluh Afikah saat tubuhnya yang tiba-tiba dilepas kasar oleh Adrian hingga kepala terbentur ke pintu mobil.


"Maaf. Tangan aku kepleset," jawab Adrian santai tersenyum.


"Apa?" Melotot ke Adrian.


Yang tiba-tiba bersikap aneh kembali menjadi pria dingin.


"Aku tidak suka dengan tatapan matamu itu!" ucap Adrian dingin.


"Tetap saja tubuh aku bukan karung beras yang bisa dilempar  ke sana dan kesini seenak tuan muda!" jawab Afikah kesal.


Memegang kepala bagian belakang yang sakit.


"Kan, sudah aku bilang tangan aku licin, apa kamu masih mau menyalahkan aku?" jawab Adrian menatap Afikah dingin .


"Aku tidak menyalahkan tuan muda tapi itulah fak..." ucapan Afikah terhenti ketika Adrian mencelanya.


"Aku tidak ingin berdebat!"


Menutup kedua mata dengan kepala disandarkan ke kepala kursi mobil sedangkan  tubuhnya lurus memanjang sambil melipat kedua tangan di bidan dada.


"Apa?" Afikah tidak percaya akan sikap Adrian.


"Aku mau tidur bangunkan aku jika sudah tiba di rumah!  Aku cape! Jangan tidur jika tidak mau aku kasih hukuman lebih parah lagi!"


"Tapi bukankah tuan muda yang..."


"Hari ini aku banyak pikiran mari bicara lagi setelah sampai di rumah!" ucap Adrian dingin.


Menutup mata dengan posisi yang sama Sedangkan Afikah terdiam seribu kata masih menatap kesal Adrian yang sudah menyandarkan kepala pada kepala kursi mobil sambil menutup kedua matanya bagaikan orang yang tertidur. 


Entah mengapa Afikah seperti merasa bahwa sikap Adrian hari ini sangat berbeda dari biasanya Dia lebih hangat sikapnya pada Afikah tidak seperti biasanya.


"Aku tahu aku tampan! Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!" ucap Adrian.


"Apa?"


Aku tidak menatapmu tapi aku bingung dengan sikapmu kadang seperti anak kecil, kadang seperti orang dewasa, kadang seperti orang kesurupan setan entahlah kamu  seperti pria yang banyak menyimpan misteri, bungkam Afikah pelan.


Suasana di mobil kembali diam nan membisu seperti biasa hanya mesin mobil yang bunyi dalam keheningan itu, Afikah tidak menjawab ucapan Adrian namun, ia kembali fokus pada keindahan malam di jalanan yang begitu ramai.


Saat menatap jalanan ramai dengan lalu lalang mobil dan motor kejadian sejam  yang lalu kembali terbayang di pikiran Afikah dimana dirinya kembali membayangkan Dia yang hampir dinodai oleh pria tua bangka seumuran dengan ayahnya.


Gadis itu menahan luka yang kembali tergores, Afikah menarik nafas panjang dalam-dalam sambil menghembuskan pelan-pelan.


Adrian yang mendengar suara nafas panjang Afikah Dia membuka kedua bola mata melirik ke arah Afikah yang sedang menatap diam pemandangan jalan dari jendela mobil.


Tatapan Adrian begitu dalam pada Afikah berbeda dengan  tatapannya yang  biasa


Dalam perjalanan yang panjang itu mereka hanya diam membisu tanpa berucap sepatah kata pun hanya suara mesin mobil saja yang menemani kebisingan malam itu.


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan yang panjang akhirnya tibalah kembali ke rumah Istana tempat tujuan. Para bodyguard, pelayan semuanya sudah berbaris rapi menunggu mereka.

__ADS_1


Seperti biasanya karpet merah pun sudah dipasang dari setapak jalan tengah hingga menuju pintu utama.


Mobil yang Adrian yang di tumpangi akhirnya memarkir pada tempat parkiran yang sangat luas sedangkan Afikah dan Adrian sudah melangkah masuk ke dalam halaman yang memiliki rumah besar itu.


Seperti biasa semua pelayan dan bodyguard yang sudah menyambut kedatangan bos mereka membungkuk tubuh mereka ke bawah sebagai rasa hormat sedangkan Adrian melangkah dengan cuek dan sikap dingin hanya Afikah yang menunduk kepala balik pada para pelayan sambil melangkah mengikuti Adrian dari belakang.


"Air hangat tuan muda..." belum selesai berucap suara kepala pelayan Tina kembali terpotong oleh ucapan Adrian.


"Biarkan Afikah saja yang melakukanya! Kalian pergi dan istirahatlah!" ucap Adrian melangkah masuk ke dalam rumah.


"Apa aku salah dengar Surti? Apa ini tuan muda kita?" tanya kepala pelayan Tina.


Dia kaget akan ucapan Adrian yang bagaikan petir besar terjadi saat itu.


"Tidak nyonya. Anda tidak salah dengar malaikat apa yang sedang merasuki tuan muda?" jawab pelayan yang satu ikut kaget.


"Mungkin saja malaikat cinta yang sedang meluluhkan hati tuan muda," sambung kepala pelayan saat melihat Afikah yang sudah masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Adrian menuju kamar Adrian.


"Maksud nyonya?"


"Jangan banyak tanya intinya aku bahagia jika tuan muda bahagia," jawab kepala pelayan Tina tersenyum bahagia.


Para pelayan yang masih bertanya itu hanya diam bingung  sendiri akan ucapan  atasannya itu.


"Siapkan air hangat aku di bathtub! Kita mandi bersama!" perintah Adrian.


Santai sambil membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan itu.


"Apa? Man. Mandi bersama?" suara Afikah putus-putus.


Adrian santai.


"Hei! Mengapa tuan muda membuka baju di depan aku!?"


Afikah kaget lagi yang langsung membelakangi Adrian sambil menutup mulutnya dengan melotot mata kaget.


Cih...


"Jangan so POLOS! Kamu lupa kalo kita sudah berhubungan lebih dari ini? Temani aku mandi!?" kata Adrian.


Pria itu langsung melangkah pergi menuju  kamar mandi hanya mengenakan boxer hitam pendek menunjukan tubuh sis peak sobek roti kotak-kotak pada  bidan dadanya yang tidak mengenakan sehelai kain di sana. Sedangkan Afikah masih berdiri membelakangi Adrian.


"Sayang sekali! Harusnya aku melihat!"


Bicara Afikah dengan dirinya sendiri saat melihat tubuh terbuka Adrian yang sudah masuk dalam kamar mandi.


"Apa aku harus menunggu mengering disini!" teriak Adrian.


Di balik kamar mandi dengan nada tinggi Afikah yang mendengar jeritan Adrian segera berlari menghampiri suaminya itu di kamar mandi.


"Kenapa lama sekali? Apa kamu tuli? Sudah aku bilang temani aku mandi!? Apa kamu harus menunggu aku berbuat kasar padamu?" ucap Adrian emosi.


Dia menatap tajam pada Afikah dengan posisinya yang masih duduk santai di air hangat bathtub sudah disediakan oleh para pelayan sebelum mereka pulang ke rumah.


"Maaf tuan muda aku..." ucapan Afikah terhenti ketika Adrian kembali mencelanya.

__ADS_1


"Maaf-maaf  jika kamu mau buat pengakuan, di  gereja bukan di aku! Cape dengar kata maafmu itu!"


"Sabuni tubuh aku!"


"Apa?"


"Aku tidak suka mengulang ucapanku! Apa kamu paham!" emosi Adrian.


"Baa. Baik tuan muda!" jawab Afikah pasrah.


Ini bayi baru lahir apa? Mengapa memerintah aku? Apa tangannya putus?


"Jangan bengong! Sabuni tubuhku!"


Afikah secepatnya mengambil sabun kamar mandi Adrian yang tidak lain adalah sabun untuk cuci tangan langsung menyabuni sekujur tubuh Adrian, Pria itu seperti tahu harum sabun itu langsung meneriaki Afikah.


"Sabun apa yang kamu pakai untuk tubuh aku?"


"Sabun mandi tuan muda," jawab Afikah biasa.


"Mana? Coba tunjukan!?" perintah Adrian menutup satu matanya yang hampir kemasukan sabun.


"OH TUHAN!" lirih Adrian mengelus dahinya yang tidak gatal.


"Apa ada yang salah tuan muda?" tanya Afikah polos.


"Pake nanya lagi!"


"Apa kamu bodoh? Ini sabun cuci tangan bukan sabun mandi," ucap Adrian naik darah.


"Bukanya tangan adalah tubuh jadi sama saja bukan?"


"Oh my God!!!" Dasar bodoh!"


"Afikah!!!"


"Ya Tuan muda."


"Bisa gila aku sama kamu!?"


"Gila? Siapa yang gila?"


"AFIKAH..." teriak Adrian tidak tahan lagi.


Note: hahhahaha 🤣 tuan muda makin naik pitam ini Afikah 🤦😂


"Ya tuan muda," jawab Afikah biasa.


Adrian menarik nafas panjang dengan mengeluarkan suara yang berat suara khas pria pada umumnya yang bangun tidur.


Bersambung.


Jangan lupa beri like, support komen dan dukungan untuk author selamat kembali menikmati cerita terbaru ~Mahkota untuk Ayah~


Pkailah masker dan patuhi protokol jaga dan lindungi keluarga kita😷🤗 kesehatan itu mahal lho🙏🤗❤️❤️❤️.

__ADS_1


__ADS_2