
"Buka bajumu! Aku ingin kamu melayani aku malam ini!" perintah Adrian.
Pria itu berucap setelah sekertaris Kim dan para pelayan yang sudah pergi dan kini tinggal Afikah dan Adrian sendiri di kamar.
"Apa?" tanya Afikah bingung.
"Aku ingin menghabiskan malam bersamamu. Bukankah ini malam pertama kita? Lagian kita sudah pernah melakukanya untuk apa kamu harus malu?" ungkap Adrian tersenyum licik pada Afikah.
Afikah yang mendengar ucapan Adrian terdiam tanpa berucap sepatah kata pun. Gadis itu menatap kosong dengan hati yang kembali terluka mengingat memory lama Ia harus menerima pahitnya hidup bahwa ia akan kembali melayani pria yang pertama kali merenggut mahkotanya.
Bodohnya Dia terlalu percaya dengan ucapan manis Pria ini saat mereka bertemu, Afikah menyalakan dirinya yang terlalu mudah percaya pada orang asing.
Gadis itu menahan air matanya berusaha untuk tidak meneteskan air mata sama sekali ia hanya menatap dingin pada Adrian yang sudah melangkah menghampiri dirinya.
Adrian menatap lekat-lekat Afikah yang tidak bereaksi sama sekali ketika ia mulai menyentuh tubuh Afikah.
"Aku tahu uang adalah raja gadis miskin dan kampung seperti kamu datang ke rumah ini hanya untuk mendapatkan uang. Kamu tenang saja aku akan berikan uang lebih padamu dari bayaran sebelumnya asalkan kamu nurut untuk berhubungan dengan aku," ucap Adrian.
Pria itu merendahkan Afikah sambil tersenyum pada gadis itu dengan jari-jarinya yang mulai menelusuri tubuh Afikah secara pelan-pelan untuk membangkitkan hal yang diinginkan dirinya.
"Aku tidak membutuhkan uang. Aku melakukan ini karena tulus membantu kedua orang tua aku, aku juga yang terlalu bodoh percaya pada ucapan manis mu, jika tuan menginginkan tubuh ini silakan saja aku sudah tidak punya alasan menjaga tubuh ini," jawab Afikah dingin menahan perih di dalam sana.
Hahahaha...
"Semua wanita sama saja memberikan alasan tulus agar dikasihani aku sudah muak akan alasan bodoh itu. Coba jelaskan pada aku alasan mengapa pria asing menikahi wanita yang bukan ia cintai? Menurutmu apakah itu hanya semata kebetulan? Atau ada terselubung maksud lain?" tanya Adrian.
Pria itu tersenyum sambil menarik kancing belakang gaun Afikah yang menutup di sana.
"Uang adalah segalanya di dunia ini. Orang yang beda kasta seperti kalian pasti ingin menikahi pria kaya raya agar hidup kalian berubah itulah kalian orang-orang miskin," lanjut Adrian lagi.
Dia yang mulai meniup nafasnya pelan pada kulit belakang Afikah di mana kancing gaun gadis itu sudah terbuka.
__ADS_1
Afikah yang mendengar ucapan Adrian menahan sakitnya ia mengepal jari-jari tangannya dengan kuat menahan air mata yang kembali berlinang di dalam sana agar tidak menetes di hadapan pria yang sama sekali tidak menghargai dirinya.
"Kamu berbicara seperti itu karena anda terlahir dari keluarga yang kaya raya apa yang anda miliki ini tidak dimiliki oleh orang lain. Mungkin bagi anda uang, kekuasaan dan harta adalah hal berharga dalam hidup anda," kata Afikah.
Afikah tersenyum dan masih mengontrol sikap emosionalnya.
"Namun, perlu anda ketahui dibalik kekuasaan yang anda miliki sekarang aku tahu betul bahwa itu hanyalah warisan orang tuamu bukan kerja kerasmu," tambah Afikah yang berani melawan Adrian.
Pria yang sedang dalam aktifitas menggoda Afikah ketika tangannya yang memeluk gadis itu dari belakang dengan kedua tangannya mulai memainkan dua gunung kembar Afikah yang masih dalam balutan kain.
Adrian yang mendengar ucapan Afikah menghentikan aktifitasnya dengan sorotan mata yang tajam ia langsung menarik tubuh Afikah dengan kasar lalu
Adrian melempar tubuh Afikah dengan kasar pula dilantai hingga wajah Afikah terbentur keras di meja.
"Beraninya dirimu mengatakan aku seperti itu!" teriak Adrian.
Dengan menahan gigi-giginya kuat di dalam sana dan wajah tampannya yang merah melihat tajam Afikah di bawah sana.
"Diam!!!" Teriak Adrian.
"Gadis bodoh!" geram Adrian.
Pria itu emosi dengan menjerit nada tinggi hingga suaranya bergemuruh bagaikan petir di kamar.
Adrian yang emosi dengan wajah yang merah membuat dirinya mengepal kuat tangan-tangannya yang mungkin sebentar lagi akan ia layangkan pada wajah cantik Afikah.
"Hei tubuhmu yang sampah itu sudah aku sentuh bahkan sudah aku rasakan. Bagi aku menyetujui pernikahan kontrak ini hanya untuk memuaskan nafsu belaka. Kamu hanyalah gadis simpanan yang TIDAK ADA HARGA DIRI DIHADAPAN SEORANG PRIA!"
"BAHKAN KAMU KEMBALI MENGEMIS UANG DI KELUARGA AKU!" tekan Adrian.
Dia mengukir senyuman lalu ia menarik kasar gaun yang ada di tubuh Afikah di bawah sana hingga memperlihat kulit mulus Afikah yang penuh memar luka akibat kejadian yang Ia terima beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Maka terekspos lah tubuh Afikah kini hanya tinggal dalaman pakaiannya atas ke bawah.
Yang sobek di pinggir-pinggir di sana juga Adrian melihat luka-luka di seluruh tubuh gadis itu, Afikah menahan sakit hatinya dengan menatap dingin Adrian tanpa ada sedikit pun tetesan bening tatapan tajamnya pada pria yang ada di hadapanya itu tanpa ada rasa takut sedikit pun dari sorot matanya.
"Lakukanlah sesuai keinginanmu! Mungkin inilah ciri khas kamu sebagai seorang Ceo terkaya! Hidup ini penuh warna kehidupan kadang kita harus memilih warna yang mungkin tidak kita sukai dalam hidup!"
"Uang adalah segalanya tanpa uang maka kamu bukanlah siapa-siapa di mata orang lain. Namun, perlu kamu ketahui dibalik kekuasaan terselip jeruji besi yang mungkin mengelilingi kamu aku pernah mengalami hal itu dan aku menerima warna kehidupan penuh dengan luka," ucap Afikah menahan perih hati yang terasa di sayat pisau.
"Aku lelah mengatakan aku baik-baik saja pada hal sebenarnya aku tidak baik-baik saja. Hidup aku sudah hancur sejak kepergian ayahku jadi aku ikhlas untuk apa yang akan aku alami mungkin inilah takdir aku sebagai gadis berkasta rendah," lanjut Afikah lagi.
Gadis malang itu berusaha menahan luka dan serpihan luka terukir di dalam sana namun, tetap saja ia ingin menangis saat itu.
Kehilangan kehormatan demi sang ayah tapi, takdir berkata lain ternyata sang ayah meningal, kembali dilecehkan oleh tiga pria hingga ia keguguran bayinya. Di saat bersamaan ia kembali dipertemukan dengan pria yang merenggut mahkotanya namun, sayang pria itu tidak sadar bahwa Afikah saat itu kehilangan bayinya anak mereka sendiri dan hari ini ia kembali lagi direndahkan oleh orang yang sama orang yang menghancurkan hidupnya.
Adrian yang mendengar ucapan Afikah terdiam namun, tiba-tiba pikiran Adrian sudah dipengaruhi oleh obat terlarang hingga ia tidak sadar lagi akan apa yang terjadi.
Rasa emosi Adrian mengebu-gebu dengan emosi dan nafsu yang menjalar tubuh Dia kembali menodai Afikah.
Adrian memaksa menarik tangan Afikah lalu ia memeluk gadis itu dan akhirnya mereka kembali dalam cinta untuk kedua kalinya dengan luka yang kembali terukir di hati Afikah.
Malam itu Afikah menerima pahitnya hidup ketika tangan Adrian yang mulai membuka paksa dua sehelai kain masih menutup di sana.
"Tenanglah dan nurut lah aku akan bersikap lembut jika kamu menurut, aku milikmu dan kamu milik aku," bisik Adrian.
Di daun telinga Afikah dengan banyak tanda merah yang mulai menelusuri seluruh tubuh Afikah untuk memberi bekas tanda merah di sana.
Hal ini sudah pernah dirasakannya untuk kedua kalinya lalu, dengan nafsu yang semakin menjadi Adrian kembali mengecup bibir Afikah dengan penuh gairah tanpa henti atau memberi jeda sedikit pun untuk Afikah bernapas sementara itu tangannya mulai memainkan....
Skip...
jangan lupa like, komen dan berikan support untuk author biar makin semangat, Masukan di favorite biar ada bab terbaru bisa langsung muncul notifikasi... tidak memaksa vote karena menulis adalah hobi author semoga bisa menghibur pembaca ya hehehe.... selamat membaca.
__ADS_1
Bersambung.