
"Hem." Jenny berdehem melotot matanya pada Adrian.
"Ya sudah. Oh ya anggur yang aku pesan untuk teman-teman aku apa sudah siap?" tanya Jenny.
"Sepertinya sudah sih. Tunggu sebentar aku tanya ke kepala pelayan dulu," jawab Adrian.
Sambil meraih ponsel di atas meja menghubungi ibu Tina.
"Halo!" suara wanita paruh baya itu yang terdengar dari ponsel Adrian.
"Apa anggur yang aku perintahkan sudah siap? Jika sudah siap dalam 5 menit bawa ke ruang prevate room di lantai dua!?" perintah Adrian.
"Sudah tuan. Baik tuan muda..." jawab Tina.
Tut... tut...
Panggilan di matikan Adrian sebelum kepala pelayan menyelamatkan ucapan Dia.
"Jangan kasar dengan pelayan, mereka juga manusia Tae," ucap Jenny menasehati Adrian.
"Baik ibu." jawab Adrian.
Dengan kesal menatap langit di taman Jenny hanya tersenyum melihat wajah Adrian yang benar-benar kesal.
Emang Adrian hanya mendengar Jenny entah siapa pun yang menasehati Pria ini dari mereka satu pun tidak akan didengar oleh Dia.
Di sisi lain semua tamu mulai membahas betapa enaknya anggur yang di berikan oleh Afikah pada mereka.
Bahkan seribu mulut mulai memuji betapa mahalnya anggur itu di dunia bahkan hanya tersedia terbatas di empat negara saja mereka semua tidak menyangka bahwa Adrian bisa-bisanya menyajikan minuman anggur termahal dunia itu pada semua tamu.
"Sungguh ini sangat enak dan benar-benar nikmat aku sangat bersyukur bisa hadir di acara ini dan menyicipi anggur terkenal itu," ungkap tamu yang satu pada yang lain.
"Ahhh...aku ingin mencobanya lagi tapi sayang stoknya terbatas hanya ada anggur biasa saja," seru yang lainya.
Afikah mengukir senyuman sambil menggeleng-gelengkan kepala mendengar pujian semua orang pada Adrian, di saat Gadis ini yang berdiri dengan senyuman tiba-tiba datanglah kepala pelayan menghampiri Dia.
"Nona muda ikut aku sekarang juga!" ucap kepala pelayan.
Wanita tua ini menarik tangan Afikah untuk pergi ke dapur pesta.
Seribu mata yang tadi sedang berbincang mereka terdiam saat melihat Afikah yang diperlakukan kasar oleh pelayan lain.
"Mengapa anda tidak bertanya soal anggur mana yang di berikan ke tamu mana yang khusus;" ucap kepala pelayan emosi.
"Maksud nyonya apa? Aku sama sekali tidak mengerti?"
"Maksud aku anggur yang sudah nona muda habiskan untuk semua tamu."
"Nona tahu itu adalah anggur khusus tamu istimewa tuan muda dan anggur itu bukan sembarang di beli tapi, itu pesan khusus dari negara lain anggur itu stoknya terbatas."
__ADS_1
"Apa?"
"Sekarang tuan muda sedang memintanya bagaimana bisa aku jelaskan padanya akan kejadian anggur ini?" kata kepala pelayan.
Dia mulai panik karena tidak ada stok anggur itu lagi di gudang anggur.
Di tengah-tengah percakapan kepala pelayan dengan Afikah semua tamu mulai mengucapkan terimakasih pada Adrian namun, Pria itu tidak tahu mengapa semua tamu berterimakasih padanya.
"Tuan muda anda sangat baik hati bisa memberikan anggur termahal untuk kami semua," ucap salah satu bos dari perusahaan Adrian.
"Apa maksudmu? Aku tidak paham?" tanya balik Adrian.
Dia mengerutkan keningnya.
"Masa anda tidak paham? Bukankah anda sendiri meminta pelayan anda membagikan salah satu anggur termahal di dunia untuk kami."
"Apa?"
"Maksudmu aku meminta pelayan aku berikan anggur merek dunia pada semua tamu? Apa kamu sudah tidak waras? Siapa pelayan yang memberikan?"
"Kalo bukan kamu yang meminta lalu siapa lagi tuan muda yang berani berikan anggur dunia itu pada tamu? tanya pria kebaya itu.
Dia tersenyum lucu pada Adrian yang sama sekali tidak tersenyum.
"Jenny coba kamu telpon dan tanya anak-anak di atas apa anggur yang mereka minta sudah sampai?" ucap Adrian menatap Jenny.
"Baiklah. Tunggu sebentar," jawab Jenny.
"Jen. Mana anggurnya? Apa tidak ada?"
Suara dari ponsel Jenny yang di speaker langsung oleh Jenny dan didengar oleh Adrian.
Adrian meremas jari-jemarinya dengan sangat kuat sambil menatap bunuh dari sorot matanya pada kepala pelayan apalagi Afikah.
"Nah ini pelayan yang membagikan anggur itu tuan muda."
"Afikah! Beraninya kamu!!!" Mengeraskan rahangnya marah besar.
Adrian emosi dengan wajah yang sangat merah dan urat-urat di lehernya muncul ke permukaan.
"Tuan aku.."
"DIAM!!!" jerit Adrian.
Dengan keras pada kepala pelayan yang mencoba membela Afikah.
"Aku tidak meminta pendapatmu! Kamu ikut aku!"
Adrian menarik kasar lengan Afikah dan di seret ke arah kolam renang seribu mata melihat di sana namun, sama sekali tidak peduli Adrian.
__ADS_1
Walau pun Jenny menahan Adrian tetap saja ucapan Jenny diabaikan oleh seorang Adrian Arifin.
"Sakit" ungkap Afikah.
Dia yang kesakitan di pergelangan tangan ketika Adrian menyeretnya dengan kasar melewati setapak jalan halaman rumah menuju kolam.
Sruppp....
Tubuh Afikah langsung cemburi ke kolam renang dengan kasar tanpa peduli dengan keluhan Afikah akan rasa sakit di tangan.
Semua orang menutup mulut mereka sambil melotot kan mata mereka tidak percaya akan sikap Adrian yang kasar pada pelayan sendiri bahkan Jenny menutup wajahnya akan hal yang dilakukan mantan kekasihnya yang menurut Jenny mempermalukan citra dirinya sendiri dimata semua orang.
"Oh may god. Apa ini pangeran Adrian?"
Ucap salah satu tamu yang kaget dengan sikap Adrian.
"Aku melakukan ini ada alasannya. Wanita atau pelayan rendahan ini... adalah wanita ular berbisa yang mematikan, dengan licik dari wajah polos tapi sampah ini, Dia ingin mempermalukan aku akan hal lain."
"Apa maksud Dia?" bicara tamu yang lain.
"Anggur yang kalian cicipi itu bukan anggur dunia melainkan itu anggur dari paris. Bahkan dia ingin mempermalukan derajat aku di hadapan kalian semua karena Dia sangat membenci aku."
"Oh Tuhan... dasar gadis sampah..."
"Dia benar-benar ular."
"Wanita hina..."
"Jadi sebelum kalian sadar akan hal itu aku memberitahu kalian lebih dulu. Dan maaf akan hal ini. Maaf akan kelalaian kariawan saya..."
Ucap Adrian dengan senyuman penuh arti menundukan kepala ke bawah sambil meremas jari jemarinya dengan sangat kuat di bawah sana.
Afikah yang menahan air mata di sana hanya diam membisu tanpa berucap sepatah kata pun, Ia berdiri dengan tenang di dalam air kolam sana menahan dinginnya malam itu untuk tubuh yang masih dibilang sakit akibat siksaan Adrian beberapa hari yang lalu.
"Ini hukuman untukmu. Jangan mencoba atau sedikit saja kamu mengangkat kaki dari sini maka nyawa keluargamu dalam bahaya!" ancam Adrian.
Dengan sorot mata bunuh pada Afikah lalu melangkah pergi meninggalkan Afikah sendiri di sana.
Bukan Adrian Arifin jika Dia tidak mengetahui siapa keluarga aku... bicara keluarga mengapa aku sangat merindukan Seli dan Ibu? Sudah enam bulan lebih aku meninggalkan mereka... apa kabar dengan mereka? bagaimana keadaan mereka sekarang? bungkam Afikah menahan rindu pada keluarganya.
Kembali terasa sangat sesak di dada Afikah ketika ia mengangkat wajah menatap seribu mata yang saat itu menatap dengan penuh kata hina pada dirinya.
Gadis itu hanya tersenyum pada hal saat itu ingin sekali Dia menangis meneteskan air mata, Remasan jari jemari di dalam sana menahan bening air yang tergenang akan membanjir di matanya.
Ia hanya diam menatap punggung belakang Adrian yang sudah pergi dimana tangan Adrian melangkah sambil menggenggam tangan Jenny dengan erat.
Pria ini melangkah pergi bersama dengan Jenny melewati semua tamu yang saat itu melihat mereka.
Afikah senyum jangan menangis atau marah walau keadaanmu memang sudah di ambang kerapuhan, batin Afikah mengangkat wajah menatap langit malam agar air matanya tidak menetes walau sudah menetes.
__ADS_1
Aku butuh pelukanmu Tuhan peluklah aku sebentar saja, batin Afikah.
Bersambung.