Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 46 ( Mahkota Untuk Ayah).


__ADS_3

"Aku seperti melihat Dia ada padamu," kata Roni sambil menghapus air mata saat kembali terbayang kenangan dirinya dengan Naina.


"Apa? Siapa maksud tuan? Aku kurang paham," tanya Afikah.


Dia mengerutkan kening karena tidak mengerti dengan ucapan  Roni.


"Aku membicarakan cinta pertamaku yang sudah tiada untuk selamanya. Namun, aku bahagia karena ada kamu," jawab Roni tersenyum.


Afikah yang mendengar kaget namun, Dia masih berusaha mengontrol sikapnya. Lalu Dia hanya tersenyum dan kembali berucap.


"Mungkin Dia adalah salah  satu orang yang sangat berharga untuk tuan. Aku tahu mungkin ini berat bagi kita menjalani namun,  hidup tidak selamanya harus dikelilingi labirin masa lalu. Hidup harus maju jadi aku percaya tuan  pasti menemukan yang tepat," ucap Afikah.


"Aku ikut berduka akan cinta pertama tuan dan maaf jika aku salah menanyakan," tambah Afikah.


"Awalnya memang sulit bagiku namun, tidak dengan saat ini kamu benar hidup tidak harus dikelilingi labirin masa lalu maka dari itu aku sedang meyakinkan perasaanku dan aku rasa aku tidak salah jika jatuh cinta lagi," ucap Roni menatap dalam Afikah.


"Apa?" tanya Afikah kaget dan bingung sendiri.


Tidak. Pria tampan seperti dia tidak mungkin jatuh cinta dengan gadis tidak punya duit seperti aku Afikah fokus bungkam Afikah.


Dia terus menggelengkan kepala saat sedang membereskan lemari pakaian Adrian sambil kembali membayangi perkataan beberapa jam yang lalu dengan Roni.


"Siapkan air hangat untuk aku! Aku mau mandi!" perintah Adrian pada Afikah di saat Dia dan Afikah lagi bersama di kamar.


Hari ini Adrian begitu lelah sekali karena kepala yang tiba-tiba pusing siang tadi setelah dirinya mengantar Jenny jalan-jalan keliling semua Mol dan mengantar pulang Jenny tentu saja ini hari yang melelahkan untuk Adrian. 


Sedangkan Afikah Dia hanya mengobrol basa-basi dengan Roni walau banyak pertanyaan dari Pria itu yang begitu membuat Afikah tidak nyaman dan banyak membahayakan.


Hari ini Roni terus mengatakan hal-hal aneh membuat aku merasa sangat tidak nyaman. Namun, aku yakin dia hanya ingin menenangkan aku, batin Afikah saat sedang menyiapkan air hangat di bak bathtub kamar mandi untuk Adrian yang mau mandi.


"Apa menyiapkan air di bathtub membutuhkan waktu 1 jam?" tanya Adrian.


Suara dari luar membuat Gadis ini segera berlari keluar dari kamar mandi dengan cepat menghampiri Adrian.


"Dasar lemot! Apa kamu punya otak!? Siapkan handuk dan pakaian tidur, Lalu ke kamar mandi!" perintah Adrian.


"Aku tidak suka menunggu ingat itu!" tambah Adrian.


  Dengan masih kesal sambil melempar baju dalaman yang kotor ke wajah Afikah.


"Maaf tuan muda sudah membuatmu menunggu," kata Afikah.


Dia membungkuk kepala ke bawah dengan mengambil baju dalam Adrian yang tadi dilempar  ke wajah Afikah dan berserakan  saat jatuh di lantai.


"Maaf...maaf... aku tidak butuh kata maafmu," jawab kesal Adrian tidak peduli sama sekali dengan perasaan Afikah.


Gadis ini hanya diam menarik nafas akan sikap Adrian kembali. Ia segera mengambil handuk dan menyiapkan pakaian tidur Pria itu sama sepeti perintahnya lalu, Afikah kembali melangkah menghampiri Adrian yang ada di kamar mandi.


"Astaga!"


" Maaf tuan aku tidak sengaja," ucap Afikah yang memutar tubuh ketika melihat Adrian sudah merendam diri di bak bathtub dengan mengenakan boxer hitam pendek saja.


"Jangan sok suci. Lagian kita sudah lebih dari ini! Sini ambil shampo dan keramas rambut aku!" Perintah Adrian.


Dengan nada dingin menatap Afikah.


"Apa?"


"Aku tidak suka mengulang kata-kata!"


Adrian menarik nafas dalam-dalam dengan sorot mata dingin saat melirik Afikah.

__ADS_1


"Leherku sakit saat  mendongak melihat kamu!" ucap Adrian dingin.


lalu Pria itu menutup mata dengan santai di bathtub.


"Baik tuan muda," jawab Afikah.


Gadis muda ini segera mengambil shampo lalu ia mulai menuangkan di telapak tangan dan keramas rambut Adrian


Afikah terkejut dengan tubuh indah Adrian, Sis Peak tubuhnya berbentuk kotak-kotak di belahan dada hingga perut dan memiliki otot yang begitu sempurna layaknya Pria pada umumnya.


Mata Afikah terbelalak namun, sadar akan pikiran kotor di otaknya Afikah segera melakukan tugas yang diperintahkan Adrian padanya.


Sangat disayangkan jika aku melewati ini yakin shi di luar sana pasti banyak fansnya yang menjadi kang Zoom untuk zoom setiap foto yang Dia upload di media sosialnya ya Tuhan Afikah apa yang kau pikirkan bodoh?


"Pijatin! Jangan kasar apa kamu paham! perintah Adrian masih dengan sikap kasar pada Afikah.


"Ya Tuan muda."


Ya Tuhan maaf, kan atas mata hambamu ini. Benar-benar kamu mas Adrian menodai mataku walau kita pernah melakukan tapi tetap saja aku masih wanita normal.


Afikah menutup matanya walau masih dibuka sedikit untuk melihat tubuh indah Adrian.


Ia mengambil shampo Adrian dan mulai keramas rambut Pria ini dengan pelan dan lembut dia mulai memijat kepala Adrian yang penuh dengan busa shampo.


"Apa kamu tidak makan? Pijat yang kencang!?" ucap Adrian dengan nada tinggi.


Apa? Pijat kencang? Dia sendiri yang mengatakan jangan kasar giliran aku pijat lembut ehhh katanya tidak makan. Hem dasar pria... benar-benar ya.... bungkam Afikah menarik dua bibirnya sedikit bengkok dan mempraktekan ucapan Adrian di sudut bibirnya seperti anak itik yang meminta makan.


"Baik tuan muda," jawab Afikah.


Kadang baik kadang bikin kesal maunya apa ha...


Setelah beberapa menit Afikah memijat kepala Adrian tidak lama Pria itu meminta Gadis ink untuk segera membilas rambut.


"Cukup! Bilas! Pijatan kamu benar-benar sangat tidak bagus apa kamu belum makan? Makanya tidak ada tenaga sama sekali," ucap Adrian.


Dia yang emosi menarik kasar tangan Afikah dari kepala dan menatap dengan sorot mata dingin pada Afikah.


Beberapa detik mereka saling menatap satu sama lain dalam suasana diam, wajah Adrian masih dingin tapi berseri-seri cerah.


"Jangan mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan melihat tubuhku. Kamu bukan tipe ideal aku apa kamu paham!" kata Adrian.


Masih emosi dan suara dingin yang seperti paham akan tatapan Afikah.


Cih...


Siapa juga yang mau jadi pasanganmu dasar manusia kubi...


"Baik tuan muda," jawab Afikah tersenyum manis.


"Cepat sana nyalakan shower air! Aku tidak suka berdua dengan sampah sepertimu!" perintah Adrian.


Kembali menghina Afikah.


Afikah yang mendengar ucapan Adrian tersenyum manis lalu bangkit berdiri dan  mulai menyalakan shower air lalu Gadis itu pun membilas rambut Adrian.


Kalo aku sampah untuk apa kamu biarkan sampah seperti aku menyentuh tubuhmu? Benar-benar menjengkelkan...


Kesal Afikah sendiri menahan sesak dada yang tidak terima akan hinaan Adrian terus-menerus padanya.


"Pergi!" perintah Adrian dingin.

__ADS_1


"Aku mau mandi! Jangan ke mana-mana! Mulai malam ini kamu tidur di kamar aku," ucap Adrian.


Masih dengan nada dingin setelah Afikah selesai membilas rambutnya.


"Apa?" kaget Afikah.


"Tidur di kamar tuan ?" ucap Afikah ragu.


"Jangan banyak tanya. Sudah aku bilang aku tidak suka mengulang ucapanku."


"Tapi tuan..."


"Tidak ada tapi-tapi!" kata Adrian memotong ucapan Afikah.


Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembus pelan hingga nafas suara terdengar oleh Afikah.


Tatapan mata dingin pada Afikah yang tidak berkutik lagi.


"Hem..." Berdehem pelan.


Afikah melangkah pergi meninggalkan Adrian dengan banyak pikiran akan arti tidur di kama aku sedangkan Adrian untuk pertama kali menarik dua sudut bibir tersenyum tipis menahan tawanya dalam hati saat menatap punggung belakang Afikah.


Tiduri di kamar aku mulai malam ini! Apa yang dia ucapkan? Apa dia mau... ahh... Afikah kamu jangan pikiran negatif tapi, dia sudah berapa kali lakukan itu pada aku...ahh tau ah ah... kesal Afikah sendiri di luar.


Di dalam sana Adrian tertawa puas karena berhasil buat Gadis itu bingung jujur dalam lubuk hati Adrian paling dalam Doa bahagia sekali.


Yakin shi pasti pikirannya menuju ke sana akan apa yang aku ucapkan hahahaha...


Hampir satu jam Afikah menunggu Adrian di luar karena saking lama menunggu Adrian mata Afikah sangat berat dalam beberapa menit kemudian Afikah ketiduran di lantai yang Ia duduki.


Gadis itu tidak bisa duduk di sofa Adrian karena Ia sadar bahwa Pria itu akan marah besar jika Ia duduk di sana tanpa minta ijin sama Dia apalagi Afikah ketiduran habislah dirinya itulah yang dipikirkan Gadis itu jadi Ia memutuskan untuk duduk di lantai kamar.


Tidak lama kemudian Adrian ke luar dengan mengenakan handuk bermodel Jas warna hitam sambil mengeringkan rambut yang basah dengan handuk yang kecil.


"Ambilkan hairdryer aku!" perintah Adrian.


Tapi Adrian belum melihat ke arah Afikah Dia masih fokus mengaca ketampanan Dia di cermin.


Adrian menarik nafas kesal.


"Sudah aku bi- Bilang jangan mem..." ucapan Adrian terhenti.


Dia memutar tubuh ingin marah pada Afikah namun suaranya terdiam ketika melihat Afikah yang ketiduran di lantai dengan posisi tengkurap dan kedua tangan Gadis itu di alas sebagai bantal kepala.


anak-anak rambut panjang Afikah sedikit menutup wajahnya namun, itu tidak menghilangkan kecantikan Gadis itu.


Adrian melangkah dengan tatapan yang dalam dan berjongkok agar posisi tubuhnya sama dengan tubuh Afikah yang tertidur.


Tatapan Adrian yang dalam dan entah mengapa Pria itu merasakan keganjalan dalam hati yang sulit dijelaskan karena ini pertama kali Dia merasakan perasaan yang  jauh   berbeda dengan perasaanya pada Jenny. Rasa yang benar-benar tidak dipahami oleh Adrian.


Dasar bodoh aku minta Dia menunggu aku Dia malah tertidur pulas seperti ini.


Aku baru sadar ternyata Dia cantik juga jika tertidur tenang seperti ini.


Cup...


(note: Apa Nihhh 🙈😂)



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2