
"Apa maksud kamu mengatakan salah satu saham kita mengalami sedikit penurunan?" tanya Adrian.
Kemarahan tiba-tiba meledak akan laporan bulanan tentang saham-saham perusahaan di rapat besar perusahaan. Hal itulah yang membuat semua klien dari perusahaan sukses dan karyawan terpercayanya termasuk Antonio merasa aneh dengan sikap Adrian tersebut.
Karena biasanya Dia sama sekali bahkan tidak peduli, jangankan menanggapi duduk mengikuti rapat saja hampir tidak pernah.
Setiap kali ada rapat besar perusahaan Adrian selalu lu tidak hadir dengan alasan yang selalu sama ada halangan dan semuanya dibebankan pada sekertaris Kim yang menangani dan mengendalikan semuanya. Ini untuk pertama kali Adrian ikut rapat perusahaan dan menangapi soal urusan perusahaan tiba-tiba seperti ini.
"Maaf tuan muda. Ini hanya penurunan yang kecil namun, keuntungan saham kita yang lain di bulan ini rata-rata di atas 20% tuan muda. Jadi..." belum selesai komentator pemimpin rapat pagi itu menyelesaikan penjelasanya ucapan Dia kembali dipotong oleh Adrian.
"Apa?"
Prakk....
Pukulan meja dengan keras oleh kedua tangan Adrian dibanting di atas meja dan bangkit berdiri dari kursi dengan sorot mata melotot ke komentator yang memimpin rapat hari ini.
"Penurunan kecil? Anda pikir penurunan saham hotel Melon 2,3% itu kecil?"
"Bagaimana cara berpikir otak bodoh itu mengatakan ini kecil!?" jerit Adrian keras.
Dengan penekanan dan tegas penuh wibawa dan karismatik visual ketampanan walau wajah merah bagaikan tomat itu semua karena emosi membara di dalam sana.
"Jangan karena aku tidak pernah mengikuti rapat perusahaan kamu anggap aku tidak tahu apa-apa! Aku tahu segalanya! Aku bukan manusia bodoh yang bisa kalian bodohi!" ucap Adrian.
"Hanya karena aku tidak ikut dalam pertemuan rapat, kalian bisa seenaknya mengerjakan hal tidak masuk akal! Aku adalah bos besar dari semua perusahaan sukses di luar sana bahkan dunia pun mengetahui namaku!"
"Aku tidak mau tahu bulan depan saham hotel Melon harus sama dengan semua saham perusahaan kita yang lain!"
"Jika, bulan depan tidak mencapai target aku akan menendang kamu keluar dari sini! Apa kamu mengerti!!!" ancam Adrian.
Tatapan tajam dan sorot mata dingin hingga semua urat di lehernya muncul.
"Kali ini aku berikan kamu kesempatan sekali lagi kamu lakukan kesalahan seperti ini aku tidak akan segan-segan hancurkan karir kamu! Kamu paham bukan maksud aku!" kata Adrian masih dengan nada tegas dan mematikan.
Semua orang yang ada dalam rapat itu diam seribu kata mereka tidak bisa berkata apa-apa termasuk membantah.
Bahkan Antonio paman Adrian hanya duduk diam melihat tanpa mencelah ucapan ponakannya ini karena posisi Dia dengan Adrian jauh berbeda.
Walau dalam hati Dia menumpahkan Adrian yang tidak-tidak.
"Bereskan semuanya hari ini! Apa pun caranya aku mau hari ini semua berkas ini beres!" perintah Adrian.
Dia melempar semua berkas laporan perusahaan di tengah-tengah rapat hinga semua berkas itu melayang berantakan di lantai, tidak peduli dengan situasi Adrian melangkah pergi meninggalkan ruang meeting yang belum selesai rapat hari itu.
"Bagaimana bisa Adrian jadi berubah drastis seperti ini tuan? Apa kita bisa mencapai misi kita?" tanya pelan seorang bos perusahan yang mengikuti rapat tersebut dan merupakan salah satu kaki tangan Antonio.
"Aku juga sangat kaget! Bocah itu semakin hari semakin berubah kita harus memulai aksi rencana kita padanya sama seperti rencana kita sebelumnya pada kedua orang tuanya."
__ADS_1
"Sebelum itu pertama menyusun rencana untuk melenyapkan salah satu sayapnya, sama seperti burung yang tidak bisa terbang tanpa salah satu sayapnya!" lanjut Antonio.
Dengan tatapan membunuh dan senyuman misterius saat menatap punggung Adrian dan sekertaris Kim yang jauh di sana.
"Sayap? Apa maksud anda tuan? Saya kurang paham?" tanya kaki tangan Antonio mengerutkan dahi dan menatap bingung.
"Sayap artinya orang yang sangat sulit kita hilangkan selama ini. Orang yang seharusnya aku hilangkan dari muka bumi ini Dia adalah sekertaris Kim."
" Selama Dia masih ada di samping Adrian maka sulit bagi kita duduk di kursi sana," jawab Antonio menatap tajam kursi tempat duduk Adrian.
Mendengar ucapan Antonio pria tua itu menganggukkan kepala pelan sebagai tanda bahwa ia paham betul akan ucapan bosnya tanpa berucap atau mengatakan lagi.
"Tuan muda untuk pertama kalinya anda melakukan hal yang seharusnya anda lakukan sejak dulu. Namun, aku puas akan tanggapan anda hari ini," ucap sekertaris Kim saat dengan Adrian ada di lift menuju ruang kantor pribadi Adrian
"Jangan terlalu lebay, aku melakukan itu karena kewajiban sebagai pewaris papa," jawab Adrian dingin.
Kembali melangkah keluar saat pintu lift terbuka.
"Apa pun itu aku tetap tersanjung akan sikap anda di rapat hari ini. Jika tuan besar dan nyonya besar saat ini masih ada mereka pasti akan sangat bangga sama anda tuan," seru sekertaris Kim.
Dia melepaskan jas kantor Adrian ketika mereka sudah ada di dalam ruang kantor pribadi.
"Terserah! Aku tidak ingin bahas mami dan papi, sekarang siapkan tempat makan siang aku! Aku ingin menenangkan pikiranku!" jawab Adrian dingin bagaikan es sambil duduk santai memijat kepalanya yang tidak sakit.
"Baik tuan muda. Tapi apa anda tidak mau menyicipi masakan nona Afikah? Lagian hari ini Roni tidak ikut rapat karena ada halangan jadi aku rasa..." ucapan sekertaris Kim dicela kembali oleh Adrian.
Sekertaris Kim yang mendengar ucapan bosnya ini hanya diam tidak berucap sepatah kata pun, sempat terjadi kebisingan diantara keduanya dalam beberapa detik namun, kebisingan itu hilang ketika bunyi ketokan pintu memecahkan keheningan.
Tok... tok....
"Siapa?" tanya sekertaris Kim yang menghampiri suara ketokan itu. Mendadak wanita paru baya itu terkejut ketika membuka pintu ada asisten resepsionis dan Jenny yang sedang membawa rantang makan di tangannya.
"Nona Jenny?"
"Halo sekertaris Kim, maaf jika kedatangan aku mendadak."
"Tidak apa-apa nona anda sama sekali tidak ganggu," jawab sekertaris Kim pada Jenny.
"Siapa sekertaris Kim?" tanya Adrian dari dalam.
"Kejutan..." sapa Jenny yang muncul di balik pintu membuat Pria dingin itu kaget dan langsung bangkit berdiri dari duduk.
"Jenny! Apa yang kamu lakukan di sini!?" tanya Adrian.
Masih tidak percaya kalo Jenny datang ke perusahaanya.
"Apanya? Aku datang membawa kamu makan siang, apa aku menggangu waktumu?"
__ADS_1
"Sama sekali tidak Jen. Aku sangat senang kamu datang baiklah sekarang jam istirahat aku jadi ayo kita makan bersama!"
"Sama sekertaris Kim?" tanya Jenny lagi.
"Tidak perlu nona aku akan makan di luar bersama karyawan yang lain," jawab sekertaris Kim lebih dahulu sebelum Adrian menjawab pertanyaan Jenny.
"Ohh...baiklah," jawab singkat Jenny.
Sekertaris Kim tersenyum tipis lalu Ia mengambil bekal makan yang diberikan Afikah dan membungkuk tubuh ke bawah lalu melangkah pergi meninggalkan Adrian dan Jenny.
Sedangkan Adrian hanya menatap dingin sekertaris Kim sambil tersenyum dengan wajah yang sedikit canggung.
**** Di rumah Adrian.
Afikah menarik napas dalam-dalam saat dirinya duduk diam di taman, Gadis itu melihat langit biru di atas sana dengan tatapan yang mendalam.
Banyak pikiran di otaknya Dia masih bertanya soal kabar Seli dan Siska yang tidak ada kabar sama sekali dari mereka.
Seandainya aku tahu takdir seperti ini aku tidak akan bertahan hidup. Banyak cobaan yang aku jalani namun, nasib selalu tidak berpihak padaku... bungkam Afikah.
"Nona muda tuan muda meminta anda bersiap sekarang! 20 menit tuan akan menjemput anda nona," ucap seorang pelayan dengan nafas ngos-ngosan saat menghampiri Afikah di taman.
"Siap? Mau ke mana?" tanyanya.
Afikah mengerutkan dahi bingung sendiri sambil bangkit berdiri.
"Aku tidak tahu nona. Intinya tuan meminta nona bersiap sekarang dan kami sudah menyiapkan dua koper satu pakaian nona dan satu punya tuan muda."
"Apa? Kenapa mendadak? Aku tidak tahu apa yang harus aku kenakan," jawab Afikah bingung.
Dia selalu melakukan hal dadakan tapi ini tidak benar...
Tiba-tiba Afikah merasa mula, kepalanya pusing Gadis ini masih berdiri diam menahan rasa mual yang begitu kuat di mulutnya.
Entah kenapa Afikah ingin makan mangga muda atau stroberi.
"Ayo nona! Kita tidak banyak waktu," seru pelayan itu meminta Afikah untuk segera pergi bersiap.
Afikah yang sadar akan ucapan Pelayan segera menarik nafasnya masih mengontrol rasa mual ya ini.
Ada apa ini kenapa perut aku tidak enak? Kenapa aku ingin makan strawberry dan Mangga, batin Afikah.
"Baiklah." jawab Afikah.
Kalo diminta masuk ke jurang pun pasti ikut saja, bisik pelan Afikah kesal sambil melangkah pergi.
Bersambung.
__ADS_1