Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 12. ( Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

Di tengah-tengah Afikah yang mulai di kepung saat yang bersamaan mobil Adrian sedang melewati jalanan itu menuju tempat Madam.


"Lepaskan aku! Apa yang ingin kalian lakukan!" kata Afikah.


Dengan nada tegas masih tetap tenang dan tatapan yang sangat dingin tidak ada rasa takut sedikit pun dari sorotan matanya walau dalam diri Afikah saat ini ketakutan layaknya Gadis muda pada umumnya.


"Kami ingin membawamu pergi ke warga yang lain. Namun, sebelum itu haruskah kita nikmati tubuhnya dulu," ucap salah satu dari ketiga pria itu sambil melirik ke kedua temanya.


"Apa?" Afikah ketakutan.


"Maksudmu?" tanya Afikah.


Gadis itu mulai ketakutan terpancar dari matanya.


Mereka yang mendengar ucapan Afikah menghiraukanya lalu saling memberi kode mata satu sama lain, ketiga pria itu pun membawa paksa Afikah ke dalam hutan yang gelap jauh dari jalanan saat Afikah berteriak meminta tolong salah satu pria menodongkan sebilah pisau di lehernya.


Yang membuat Afikah kaget namun, gadis itu tidak peduli dengan ancaman itu ia kembali berteriak dalam sekejap lehernya sudah luka mengeluarkan darah karena tergores pisau tersebut..


Karena tidak berani melukai Afikah salah satu dari mereka membuka baju yang ia kenakan digulunglah baju itu memanjang dan dimasukan ke dalam mulut Afikah agar ia tidak mengeluarkan suara setelah itu mereka membopong tubuh Afikah kembali dalam hutan sesampai di tempat yang sepi pinggiran sungai yang ada di tengah hutan belantara itu dengan nafsu yang susah menguasai mereka memaksa melucuti pakaian yang dikenakan Afikah. Gadis itu berusaha melawan tetap saja ia tidak bisa melawan kekuatan para pria bejat itu.


Air mata Afikah terus mengalir tiada henti dengan tubuh yang hina ini.


Hujan yang besar mengguyur tubuh Afikah hingga basah kuyup. Lalu rambutnya yg lurus basah kuyup sangat basah membuat kecantikan Afikah bersinar walau bibir dan wajahnya masih pucat.


"Kita akan bergiliran ya!" ucap salah satu Pria itu.


Ketiga pria itu yang mulai menelusuri tubuh Afikah yang mulus dengan tangannya bermain di sana, Afikah masih berusaha melawan tapi tetap saja kekuatan pria itu lebih kuat dibandingkan wanita seperti Afikah.


"Jangan kasar sayang. Aku akan bermain halus jika kamu nurut," ucap pria itu berbisik dengan penuh nafsu di daun telinga Afikah lalu kembali menelusuri leher jenjang Afikah


.......


Derasnya hujan yang jatuh menitik tanah membasahi bumi malam hari, sekeras apa kamu berjuang tetap saja masalah akan datang kamu tidak bisa lari, bahkan ketika kamu berlari pada akhirnya akan kami alami lagi.


Seorang pengecut.


Di tengah-tengah deras hujan dengan rintikan air mata diam membisu bagaikan batu angin menerpa dinginnya malam menghiasi tangis penuh air mata.


Di bawah rerumputan hijau dekat sungai berbaringlah tubuh yang penuh luka dan cairan merah kembali tertempel di kulit mulus pahanya, tubuh yang tidak mengenakan sehelai pakaian pun bagaikan wanita malam diluar sana sorotan mata yang kosong tidak ada tanda kehidupan sama sekali melihat langit malam gelap dengan bintang-bintang bertebaran di sana kekosongan kehidupan terlihat pada kedua bola matanya akan bayangan bintang-bintang di langit bagaikan takdir yang kembali mempermainkan hidupnya.


Tak ada cairan bening mengalir yang ada hanyalah kerapuhan kehidupan, Air mata ingin mengalir namun, untuk apa menangis dengan keadaan yang sudah terjadi.


Afikah mengambil pakaiannya yang sobek dilempar berserakan di mana-mana, Gadis itu mengenakan pakaian kembali ke tubuh yang kembali dinodai oleh pria-pria bejat itu.

__ADS_1


Tatapan mata penuh kekosongan melangkah dengan kaki tertatih-tatih menahan sakit di bawah sana jalanya yang melantung tak menentu kaki ingin dihentikan namun, Dia tetap memaksa dirinya untuk melangkah walau banyak kepedihan dalam diri dengan menahan kesakitan di bawah sana.


Sesak di dada hancur hati air mata tidak pernah ia teteskan sedikit pun hanya diam dengan wajah pucat akan kekosongan dalam diri entah harus bertahan atau mati dan menghilang dari dunia yang kejam ini.


Matanya yang dingin terus melangkah entah ke mana ia harus pergi tidak ada hal yang harus ia pertahanan semuanya hilang dalam diri hanya sekejap.


Tidak ada tujuan hidup lagi Gadis malang ini melangkah dalam pikiran saat ini hanyalah keadaan yang kembali Ia terima seperti sebelumnya wajah yang pucat dan bibir yang terluka dengan pipinya yang bengkak akibat tamparan keras berulang-ulang dari ketiga pria itu saat Afikah berusaha melawan mereka waktu menodai tubuhnya secara bergilir.


Sakit sudah pasti, luka jangan ditanya lagi, menangis? Tidak semua yang tidak menangis bukan berarti ia baik-baik saja. Ia memang tidak menangis namun di dalam hatinya hancur bagaikan debu sesak di dada menahan luka yang entah kapan akan sembuh. Dia diam karena dia tidak ingin dilihat lemah oleh orang lain dan itu sangat menyiksa batin.


Setelah menempuh perjalanan yang panjang dengan sakit yang makin menjadi di perutnya akhirnya tibalah Afikah di jalanan yang sangat ramai kendaraan berlalu lalang di mana-mana baik yang beroda dua atau pun beroda empat.


Darah yang masih bersimbah di pahanya hingga mengalir dari sana selalu memberi jejak pada jalanan yang Ia jalan meninggalkan jejak di sana membuat orang-orang baik pria, wanita muda atau tua, dan anak kecil yang menongkrong di jalanan atau sedang berjalan-jalan melihat Afikah dan kadang ada yang mencibir Dia.


Saat Afikah melangkah di tengah-tengah seribu mata yang melihatnya, tatapan Afikah di jalanan awalnya berputar-putar bagaikan putaran jarum jam sedikit demi sedikit jalanan yang terang menjadi gelap di mata Afikah. Suara berisik motor dan mobil memenuhi gendang telinganya.


Afikah kembali merasakan kesakitan yang hebat diperutnya hingga tangannya memegang organ yang sakit di bawah sana, darah segar mengalir pelan dari kedua paha hingga menetes tidak henti di lantai jalan aspal penuh dengan cairan merah yang menetes dari kedua paha sana. Hal itu membuat orang-orang yang melihatnya sangat kaget dan segera menghampiri Afikah.


Ditengah ramainya banyak orang mobil mewah Adrian sedang melewati jalan itu Adrian masih tidak peduli dengan kerumunan orang di depannya itu.


Pria itu sejenak menghentikan mobil untuk menarik nafas dalam-dalam dengan pikiran yang kacau saat ini, tadi Adrian ingin menghabiskan malam dengan para kupu-kupu malam di tempat Mada tapi anehnya Ia tidak melakukan hal itu karena pikiran Adrian dipenuhi dengan malam dimana Ia dengan Afikah.


Hati kecil Adrian merindukan sosok wanita asing itu, wangi tubuh Dia tidak bisa menghilang dari pikiran Adrian.


Pria itu kembali menyalakan mesin mobil untuk melanjutkan perjalanan. Adrian kaget dengan kerumunan orang di depan mobil Ia mengerutkan keningnya dengan tatapan tajam Klakson mobil beberapa kali dilakukan Adrian namun sama sekali tidak dihiraukan oleh orang-orang di sana.


"Apa kamu baik-baik saja anak muda?" tanya salah satu orang tua yang saat itu melihat darah yang mengalir dari kedua paha Afikah.


Gadis malang itu tidak bisa menjawab pertanyaaan salah satu warga yang bertanya padanya karena, saking menahan sakit yang ia rasakan ditambah lagi kepalanya yang berat dan pusing sehingga ia tidak bisa berkonsentrasi dengan pikiran yang baik.


Semakin lama semakin banyak suara yang bertanya tanpa henti-hentinya pada Afikah , hingga suara mereka bagaikan suara berisik bagi Gadis muda itu yang masih menahan sakitnya ditambah lagi suara yang menggangu pikirannya.


Penglihatan yang berputar-putar di jalanan semakin gelap dengan sakit di perutnya, tidak lama kemudian penglihatan Afikah menjadi gelap gulita sedikit demi sedikit matanya menutup dan akhirnya ia kehilangan keseimbangan tubuh dan jatuh ambruk di bawah sana dikerumuni banyak orang.


"Minggir semua! Kalian menghalangi jalan aku!" ucap Adrian emosi dan melerai paksa semua orang di sana untuk jauh.


"Dia pingsan! Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis malang ini!?" tanya salah satu warga saat melihat Afikah yang sudah jatuh pingsan.


Mereka menghiraukan ucapan Adrian.


"Hei cepat bawakan dia ke rumah sakit terdekat!" perintah salah satu dari warga yang kwartir akan kondisi Afikah.


"Dia kesakitan diperutnya kasihan sekali gadis malang ini," tambah yang lain.

__ADS_1


Di saat yang lain pada sibuk masih melihat kondisi Afikah.


Adrian menerobos masuk ke dalam kerumunan itu penasaran dengan siapa yang berani membuat onar di tengah jalan sana dan betapa kagetnya Dia saat melihat tubuh wanita yang wajah tidak asing baginya, tubuh pingsan adalah orang yang saat ini menganggu pikirannya.


Adrian datang dan langsung menolong Afikah lalu dibantu oleh beberapa orang dibawa masuklah tubuh Afikah ke dalam mobilnya untuk segera di bawa ke rumah sakit yang tidak jauh dari tempat keberadaan Afikah.


Sedangkan warga yang lain masih berdebat satu sama lain sambil mengeluarkan pendapat satu berbeda-beda.


"Gadis bodoh! Di mana pun kamu selalu merepotkan orang sekitar kamu!" umpat Adrian.


Adrian berbicara dengan dirinya sendiri melihat tubuh Afikah yang terbaring lemah lewat kaca spion mobil.


Perjalanan ke rumah sakit pun membutuhkan waktu 10 menit dan hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Para perawat medis yang segera membantu Adrian yang kembali membopong tubuh Afikah saat para perawat melihat pasien di depan pintu segera membantu dan membawanya ke ruang gawat darurat.


Dokter pun datang dan memeriksa kondisi Afikah setelah memeriksa kondisi Afikah Dokter tersebut menarik nafasnya dalam-dalam dan menatap Afikah yang masih terbaring lemas di bawah sana yang belum menyadarkan dirinya juga.


Sebenarnya Afikah sudah mulai sadar namun, kepalanya masih pusing dan ia malu membuka kedua matanya melihat dokter yang sepertinya tahu apa yang terjadi pada dirinya.


"Dokter bagaimana kondisinya?"tanya Adrian merasa cemas.


"Apakah Dia kekasihmu?"


Dokter mengabaikan ucapan Adrian dan balik bertanya, Adrian yang mendengar ucapan dokter itu mengerutkan keningnya bingung.


" Bukan. Aku menemukan Dia yang terdapat pingsan di jalan. Tadi aku diberitahu oleh warga setempat terdekat di sana! Yang melihat Dia pingsan di jalanan umum!" jawab Adrian santai.


"Hem..." dokter berdehem sebentar sambil menarik nafasnya dalam-dalam.


"Apakah serius penyakitnya?" tanya Adrian lagi.


"Gadis ini baru saja mendapat pelecehan dan tidak cuma satu orang sepertinya lebih dari itu. Lebih parah dia keguguran yang baru berjalan dua minggu," papar dokter tersebut kembali menatap Afikah.


"Apa?"


"KEGUGURAN???" Adrian tidak percaya.


Adrian kaget membulatkan bola matanya menutup mulut tidak percaya sambil menatap tubuh Afikah.


Kejadian di malam itu kembali diingat oleh Adrian dan Dia baru sadar bahwa Dia lupa memakai pengaman saat berhubungan dengan Afikah.


"Sungguh malang nasibmu cantik," ucap Dokter.


Apakah itu anak aku? Tidak, ini tidak mungkin bisa saja itu anak orang lain? Tapi bagaimana mungkin? Adrian jangan kemakan dengan ucapan dokter bisa saja Dia salah mengecek wanita sampah ini?

__ADS_1


pikir Adrian bingung sendiri.


Bersambung.


__ADS_2