
Dinginnya malam menerpa tubuh yang kini tengah basah kuyup, seruan suara petir di mana-mana berdiri menatap ombak air laut yang datang dan pergi.
Langkah kaki yang diiringi dengan tangis dibawah hujan tidak bisa dilihat oleh siapa pun. Rambut yang panjang nan hitam kini dibasahi kuyup dengan hujan yang besar. Rasa putus asa kini sudah ada di hadapannya.
Seli gadis malang ini menatap langit yang gelap dengan tatapan mata yang kosong.
Ia kembali mengingat masa sejak kecil bersama kakaknya Afikah yang sejak lahir Afikah sudah ditemukan di tempat penampungan sampah.
Gadis kecil yang memiliki mata berbinar, kulit mulus bagaikan putihnya salju pada hal ia selalu di terik matahari untuk bekerja setelah tragedi besar menimpa dirinya dan keluarganya Seli kini bekerja sebagai wanita malam di tempat Madam di mana tempat yang merupakan pertama kali Afikah memberikan mahkota Untuk Ayah mereka.
Jangankan merawat kulitnya menyisir rambutnya pun jarang, saking sibuknya dia dengan pekerjaan apa saja yang diberikan padanya.
Selama ini Seli menghasilkan uang yang tidak halal untuk bertahan hidup walau begitu Seli tetap bersyukur karena Dia masih bertahan sampai sekarang.
Gadis yang memiliki rambut hitam nan panjang serta lebat, memiliki tai lalat di dagu kananya dan lesung pipi membuat dia memiliki kecantikan yang tidak dimiliki semua gadis di kampung yang ia tinggali.
Di usianya masih sangat muda ini Ia bekerja begitu keras untuk melupakan segala perkara hidup Seli sampai sekarang sudah menganggap kakaknya meninggal karena dari yang Dia dengar bahwa kakaknya dilecehkan oleh tiga Pria dan dibunuh dibuang ke sungai Seli begitu hancur saat mendengar berita itu Ia menangis histeris menyalakan dirinya untuk semua yang terjadi.
Seli benci dengan kampung yang Ia tinggal perkampungan jauh dari Kota A.
Seli benci dengan Peraturan di kampungnya masih mengikuti tradisi Zaman dulu di mana anak gadis tidak boleh keluar dari rumah setelah jam 7 malam.
Anak gadis yang belum menikah namun hamil diluar nikah maka akan dihakimi hingga mati jika masih ingin tetap tinggal di kampung tersebut, karena aturan itu Ia kehilangan kehidupan, kehilangan mama, papa dan kakaknya Afikah.
Seli meneteskan air mata Gadis itu menangis saat mengingat masa kecil mereka yang sangat bahagia, walau Afikah tidak tapi Seli rindu dengan masa itu sungguh Gadis kecil ini benar-benar hilang harapan untuk bertahan hidup.
Setiap hari Ia melayani banyak Pria dengan tubuh dan bayaran yang sangat memuaskan tujuan Seli melakukan itu hanya untuk mendapatkan penyakit agar Ia cepat mati karena Ia sudah lelah dengan hidupnya yang tidak memiliki siapapun di dunia ini.
Seli bertemu dengan seorang Pria tapi sayang Pria itu anak orang kaya dan Dia sudah memiliki tunangan walau Seli menyukai Pria itu tapi tetap saja kenyataan selalu menyadarkan dirinya.
Dan Madam juga selalu menasehati Seli untuk tidak mengharapkan lebih pada Pria yang Ia cintai mengingat dirinya adalah pelacur.
Madam tidak akan setuju dengan ini. Seli juga akan mengerti mengapa Dia tidak boleh jatuh cinta dengan Pria kaya itu Karen pada dasarnya seorang Pria tidak mungkin mau menerima seorang bekas seperti dirinya.
Seli kembali mengingat masa lalu masa dimana kedua orang tuanya bertengkar perkara mau menyekolahkan Afikah atau tidak memory luka lama kakaknya masih diingat jelas oleh Seli.
__ADS_1
( Masa lalu)
Lucas duduk lemas dengan banyak pikiran di kepalanya. Afikah yang saat itu berusia 12 tahun mendengar semua pertengkaran kedua orang tuanya, Ia melihat dari luar ayahya duduk dengan banyak pikiran di dalam kamar gadis itu meneteskan air mata kembali menangis ketika melihat kondisi ayahnya seperti itu.
"Yah. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Afikah saat masuk ke dalam kamar papanya.
"Papa baik-baik saja. Kenapa kamu ke sini? Sana siapkan pakaian sekolahmu, papa akan melanjutkan kamu ke smp jangan pikirkan ucapan mamamu, Dia seperti itu karena..." ucapan Lucas dicekal dengan Afikah yang langsung memeluk ayahnya itu.
Masa dulu Seli disayang oleh Siska sedangkan papanya sangat menyayangi kakaknya, Gadis kecil ini menghapus air mata dengan memori lama itu.
Gadis 12 tahun itu tahu seperti apa saat ini rasa keputusasaan terlihat jelas di wajah Lucas. Gadis kecil itu menghapus air matanya sambil memegang lembut tangan sang ayah.
"Afikah tidak apa-apa ayah jika tidak melanjutkan sekolah lagi, memiliki keluarga saja sudah cukup bagi aku. Afikah lebih bersyukur dari itu dibandingkan lanjut sekolah, Lagian sekolah itu sangat ribet yah, Sudah cukup aku tahu baca dan tulis itu sudah sangat- sangat cukup bagi Fikah."
"Tapi nak.." Lucas menatap Afikah.
"Ayah Afikah tidak mau ibu dan Seli pergi meninggalkan kita, sudah cukup bagi Afikah kehilangan keluarga sejak di panti, jangan karena hal sepele ini keluarga kita berantakan hem..."
Gadis kecil itu menahan perih saat mengatakan hal itu, terlihat jelas matanya berkaca-kaca namun, ia tidak bisa menangis karena tidak ingin terlihat oleh sang Ayah.
Hapus bening air mata yang terus mengalir membuat ia menahan semua luka itu, kadang ia pikir bahwa mungkin ada rencana Tuhan yang indah untuknya. kakaknya yang sejak kecil menahan luka perih di hatinya Seli yang masih membuka memory saat ia kembali membuka memory lama waktu masih bersama sang ayah, kakaknya yang kini semua sudah pergi meninggalkan Seli sendiri.
Di sisi lain Marvin sedang mencari Seli Pria tampan itu dibuat gila saat tahu dari Madam bahwa Seli tidak ada di tempat Madam.
Hujan yang semakin deras dengan langit sudah gelap Marvin menatap seorang Wanita yang saat ini sedang berdiri di pinggir pantai.
Marvin melangkah mendekati sosok wanita itu dan semakin dekat Ia sadar wanita itu adalah Seli orang yang sejak tadi menggangu pikirannya.
Tanpa menunggu Marvin mendekati Seli Ia langsung menarik tangan Gadis itu dan memeluk Seli sangat erat.
"Syukurlah kamu baik-baik saja kamu buat aku gila jika sesuatu terjadi padamu," ucap Marvin.
Marvin menghembuskan nafasnya lega sambil mengelus lembut rambut Seli, sedangkan Gadis itu kaget Ia segera menghapus air matanya.
"Dari mana tuan Marvin tahu aku ada di sini?" tanya Seli.
__ADS_1
"Ke mana pun kamu pergi dan di mana kamu berada kamu tetap milik aku, mengerti!" ucap Marvin.
Marvin melepaskan pelukannya kini Ia menatap dalam Seli hujan yang deras membuat keduanya kedinginan namun saling menghangatkan tubuh mereka dalam pelukan.
"Tapi tuan sudah memiliki tunangan aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan tuan ini, lagian aku bukan wanita baik aku..." ucapan Seli terhenti.
Marvin menempel jari telunjuk di bibir Seli dengan tatapan yang dalan.
Shut...
"Sekali kamu bicara seperti itu lagi maka aku akan mencium kamu!" ancam Marvin.
Afikah ikut terdiam mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan penuh cinta lalu Seli kembali membuka suara.
"Tuan apa yang aku..." suara Seli terdiam saat Marvin reflek mencium bibirnya.
Seli yang kaget membulatkan matanya melihat mata Marvin yang menutup sedang menikmati ciumannya ini.
Dalam beberapa detik Marvin melepaskan ciuman singkat itu dan kembali menatap Seli dalam.
Suara hujan dengan langit yang tidak membuat kedua sejoli ini merasa kedinginan justru mereka panas dingin dengan aksi Marvin ini.
"Tuan," panggil Seli lembut.
Masih menatap Marvin yang juga menatapnya.
"Kamu milik aku! Sudah aku jelaskan itu!" suara berat Marvin.
Marvin Pun kembali mencium Seli dengan lebih dalam lagi Seli yang tadi diam kini Ia melingkar kedua tangannya di leher Marvin dan membalas ciuman Marvin mulutnya dibuka memberi kode agar Marvin memperdalam aksinya ini.
Yang awalnya biasa saja kini menjadi lebih liar tangan Marvin mulai memainkan kedua gunung kembar Seli merasa dan menginkan lebih
Seli pun ikut memainkan peran Dia dengan meladeni aksi Marvin ini
Aksi Marvin itu sontak membuat Seli mengeluarkan suara yang dinginkan Marvin menikmati hal itu keduanya kini penuh cinta.
__ADS_1
Skip
Bersambung