
Di sisi lain Adrian sudah sampai di depan gerbang utama bersama dengan Afikah menepi mobil untuk parkir di tempat parkir mobil yang luas seperti parkiran umumnya atau fila perumahan di puncak.
Afikah yang kaget dengan apa yang ia lihat melongo mata bulat-bulat sambil membuka mulut mengagumi rumah itu dengan membentuk mulutnya huruf O dan melihat dengan penuh kekaguman pada rumah yang menurut Afikah bagaikan sebuah istana megah.
Apa aku bermimpi, ini bukan rumah tapi istana seperti sinetron Cinderella waktu kecil aku sering menonton di tv, batin Afikah.
Dia terus mengangkat leher melihat ke sekeliling rumah megah yang saat ini ada di hadapan ini.
"Tuan muda bukanya kita mau ke rumah kamu? Lalu mengapa kita ada di istana Cinderella yang megah ini?" tanya Afikah polos.
Gadis ini terus melihat sekeliling rumah yang sangat-sangat mewah apalagi di parkiran mobil ada mobil-mobil mewah Lamborghini, Alphard, Villareal, Aston Martins Lagonda dan masih banyak merek mobil mewah nan mahal yang menjadi koleksi pribadi seorang anak sultan Adrian.
Ketika memasuki halam rumah Afikah semakin dibuat gila dengan kemewahan rumah ini apalagi konsep rumahnya yang sangat-sangat mewah, di tambah lagi penyambutan mereka sudah bagaikan presiden di mana karpet merah sudah menempati jalan gerbang hingga masuk ke depan rumah tepat di pintu pusat rumah, selain itu para pelayan dan bodyguard berdiri dari sisi mana saja dengan wajah yang tanpa ada senyum atau pun tertawa mereka memasang wajah dingin bagaikan patung es.
__ADS_1
Adrian yang tersenyum dengan pertanyaan Afikah hanya melangkah masuk sambil memberi salam pada para pelayan yang memberi salam padanya dengan tersenyum dan dibalas oleh Pria itu.
Dia juga menundukkan kepala ke bawah yang juga diikuti Afikah dan kembali tersenyum pada para pelayan yang bersikap manis padanya.
Saat sampai di depan pintu utama rumah Adrian langsung bicara bahasa Jerman dengan salah satu kepala bodyguard Jerman yang biasanya selalu bersama dengan salah satu klien mereka dari Jerman bernama Frans.
"Ist Sekretärin Kim zu Hause?" ( Apalah sekertaris Kim ada di rumah?), tanya Adrian.
Setelah bercakap dengan Bodyguard Jerman itu Adrian meminta pelayan yang lain untuk membawa Afikah ke Salon rumah untuk mendandani Afikah sebelum ia bertemu dengan sekertaris Kim.
"Antarkan nona ini ke salon rumah kita!" perintah para penata rias.
" Dandani Dia secantik mungkin! Nanti bawa dia ke ruang keluarga, hormati dia sama kaya nyonya muda dia adalah tamunya mengerti kalian!" ucap Adrian tegas.
__ADS_1
"Mengerti tuan muda!" jawab salah satu pekerja rumah.
"Mari nona ikut dengan kami," tawar salah satu pekerja rumah pada Afikah.
Dengan nada halus dan lembu Afikah yang kaget melihat ke arah Adrian dan Pria itu menganggukkan kepala pelan lalu Afikah pun hanya mengikuti mereka tanpa berucap sepatah kata pun karena pikirannya saat ini hanya terpesona dengan kemewahan rumah Adrian.
Afikah tahu bahwa Pria ini dingin dan tegas tapi sebenarnya Dia sangat baik dan peduli dengan orang sekitar, Ia juga tahu bahwa Adrian adalah orang yang merenggut mahkota Afikah tapi itu bukan kesalahan Adrian karena Afikah juga hari itu membutuhkan uang dan semua terjadi karena kemauan Dia sendiri.
Rasa sakit akibat keguguran masih dirasakan oleh Afikah Ia hancur akan semua yang terjadi apalagi menyadari akan dirinya yang dilecehkan oleh tiga pria asing sungguh nasib Afikah sangat menderita kini Ia kembali bertemu dengan seorang yang memang awal dalam semua cerita kisah hidupnya entah takdir apa yang Tuhan rencanakan sehingga mereka kembali bertemu dengan tragedi dalam hidup Afikah.
Sedangkan disisi lain jauh dari pikiran Afikah tentang Adrian ternyata Pria itu memiliki maksud lain untuk dirinya entah itu apa hanya Adrian dan Tuhan yang tau.
Bersambung
__ADS_1