
"Jangan terlalu membenci dan jangan terlalu mendendam kadang kebencian akan membuatmu mencintai lebih dalam," ucap Roni.
Dia berkata saat Adrian duduk di ruang keluarga.
"Aku tidak pernah membenci namun, aku punya alasan untuk tidak menyukainya. Apa kamu menyukai Afikah?" jawab Adrian.
Dengan tatapan sorot mata dingin menatap Roni.
Cihhh...
Roni berdecih santai.
"Sekarang tidak sih, tapi tidak tahu ke depannya," ucap Roni.
"Maksud kamu?" tanya Adrian.
Dia mengerutkan kening bingung.
"Tidak ada Pria yang mau menolak Afikah kecuali Pria bodoh," jawab Roni dalam.
"Mungkin aku salah satu yang menyukainya."
Adrian menatap Roni kesal sendiri dan entah kenapa hati Adrian seperti tidak suka akan ucapan Roni.
"Jika kamu tidak menyukainya maka keluarkan Afikah dari rumahmu. Dari pada menyengsarakan Gadis tidak bersalah itu."
Roni melanjutkan kembali ucapan Dia dengan tatapan yang tidak kalah dingin pada Adrian.
Kelihatan keduanya tidak mau saling mengalah atau pun diam dalam tatapan mereka, dalam suasana yang semakin tegang itu datanglah Jenny membawa kue putu makanan khas Nusantara.
Jenny yang membuatnya di dapur dengan bantuan Afikah dan pelayan yang lainya, Jenny tahu bahwa Adrian menyukai kue tersebut dan sudah lama Dia tidak membuatnya untuk Adrian.
"Akhirnya kue putu buatanku jadi. Coba makan enak tidak? Kurang apa?" ucap Jenny semangat.
Dia meletakan kue putu di atas meja dan langsung duduk santai meletakan pantatnya di atas tumpuan sofa ada.
"Wah...tau saja kamu Jen. Kalo aku lagi kangen dengan makanan ini," seru Adrian.
Dia juga tidak kalah semangat yang langsung memakan kue putu.
Roni hanya diam karena Dia tidak menyukai kue tersebut, di saat Adrian yang sedang nikmati kue buatan Jenny namun, di sana mata Afikah berdiri diam di dapur menatap dalam sikap Adrian yang begitu hangat untuk Jenny dan berbanding balik dengan diri Afikah.
Gadis malang ini menarik nafas dengan sangat dalam, hatinya sangat sakit Dia merasa sedikit iri dengan Jenny namun, wajar jika sikap Adrian hangat pada Jenny karena mereka sudah saling mengenal sudah lama sedangkan Afikah Dia mengenal Pria itu dari cinta terlarang di mana itu harus terpaksa mengorbankan mahkotanya untuk menyembuhkan ayahnya namun, semua sirna karena jalan takdir.
__ADS_1
Seandainya hidupku seperti Jenny pasti sangat bahagia dikelilingi orang-orang yang mencintai kita, lahir dari keluarga terpandang dan masa kecil dipenuhi dengan kebahagian, sangat berbalik dengan kehidupanku...
Afikah menarik nafas dalam- dalam menutup wajah dengan kedua tangan menghapus air mata yang akan mengalir. Setelah itu ia tersenyum tegar sambil menggelengkan kepala lalu Dia memutar tubuh menatap ke tempat lain tatapan itu terhenti ketika mata Afikah bertemu dengan dua mata yang sedari tadi menatapnya dengan sangat dalam tanpa disadari Afikah sendiri Dia adalah Roni.
Pria baru ini menatap Afikah dalam hingga Gadis itu salah tingkah namun, takut dilihat oleh Adrian Afikah segera membungkuk tubuh ke bawah dengan senyum menyelipkan sebagian rambut ke daun telinga lalu ia pergi melakukan pekerjaannya.
Roni yang melihat hal itu segera bangkit berdiri untuk niatnya mau menyusul Afikah.
"Kamu mau ke mana?" tanya Jenny.
Jenny kaget ketika melihat Roni bangkit berdiri dari duduknya.
"Aku ingin jalan-jalan keliling sebentar. Di sini aku hanya penjaga nyamuk untuk kalian berdua," jawab Roni.
Tersenyum pada Jenny lalu sekilas melihat Adrian dan dia pun melangkah pergi.
"Penjaga nyamuk? Dia pikir Dia siapa berani sekali mengatakan hal seperti itu!?" ucap Adrian kesal.
"Dia adalah sahabat kamu Dii. Ingat hanya dia yang peduli dengan kamu selama ini aku juga merasa aneh dengan sikap Roni akhir-akhir ini namun, aku bahagia akhirnya dia bisa kembali seperti dulu setelah tiga tahun dia diam sejak kepergian Naina," tutur Jenny tersenyum sambil melihat punggung Roni yang menjauh dari mereka.
Roni pernah memiliki kekasih bernama Naina bahkan mereka ingin menikah namun, semuanya berakhir saat Naina yang meningal karena sakit kangker rahim stadium empat.
Sejak kepergian Naina Roni menjadi pria yang murung, kalem dan menjadi pria misterius selama tiga tahun, dan selama masa itu Adrian dan Jenny yang selalu bersama dengan Dia melewati masa-masa sulit itu walau antara Adrian dan Roni tidak akur namun, hubungan mereka sebenarnya sangat spesial lebih dari sahabat.
"Hari ini aku tidak ke kantor karena aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu dan Roni. Semua pekerjaan di perusahaan sudah di handel oleh sekertaris Kim aku tinggal tanda tangan berkas-berkas penting saja," papar Adrian.
Dengan duduk santai di sofa menatap Jenny biasa, entahlah sikap Adrian seperti biasa ke Jenny berbeda dengan Afikah.
Kenapa aku yang deg-degan dengan tatapan Adrian? Jenny sadarlah dia sudah memiliki seorang istri, bungkam Jenny salah tingkah.
Entahlah jantung aku tidak berdegup saat bertatapan dengan Dia seperti ini berbeda dengan Gadis kampung itu, batin Adrian.
"Ada apa? Apa kamu ada rencana?
"Ya. Hari Kamis adalah ulang tahun nenek aku di Bandung ada perayaan untuknya jadi aku ingin ajak kamu, Martin dan Afikah pergi bersama aku ke pesta ulang tahun nenek aku," jelas Jenny.
"Aku setuju akan pergi bersama dengan Roni tapi tidak dengan gadis kusut itu," jawab Adrian.
Yang tidak setuju bahwa Jenny mau ajak Afikah ikut pergi ke acara pesta ulang tahun neneknya di Bandung.
"Aku tahu ini kamu tidak akan setuju. Tapi kali ini ajaklah Afikah walau bagaimana pun dia adalah istrimu lagian di sana aku tidak ada teman perempuan karena semua sahabat aku pada hari Kamis mereka ada acara semua jadi anggap saja Afikah jadi teman obrol aku."
"Bukan istri sah Jen. Dia Istri kontrak," ucap Adrian kesal.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak setuju!"
"Please izinin Afikah ikut hem..." mohon Jenny dengan wajah mengemaskan pada Adrian.
"Tapi Jenny dia adalah gadis pembawa masalah bagaimana..." ucapan Adrian dipotong oleh Jenny.
"Aku janji Afikah tidak akan buat masalah. Jika dia buat masalah maka aku sendiri yang akan usir dia."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi ini sudah jadi keputusan aku."
"Terserah tapi, jika gadis sampah itu buat masalah lagi maka aku tidak akan segan-segan maafkan dia," jawab Adrian.
Dia masih emosi namun, harus mengalah untuk Jenny.
Afikah berdiri diam di pinggir bibir kolam gadis itu ingin istirahat sejenak setelah menguras air kolam tadi dan menyiram taman rumput-rumput hijau di taman, Dia menatap air yang mengalir ke dalam kolam dengan menarik nafasnya dalam.
Terkadang jadilah seperti air yang terus menetes tanpa hentinya, batin Afikah.
Di tengah-tengah Afikah yang lagi murung Tiba-tiba ia mendengar langkahan sepatu dari belakang, Afikah segera memutar tubuh ke arah langkahan itu dan di sana,
"Hai!" Sapa Roni tersenyum manis pada Afikah sambil melangkah menghampiri.
"Tuan! Kamu..." ucap Afikah kaget mengerutkan dahi.
"Aku adalah sahabat Adrian, Apa kamu lupa dengan aku?"
"Tidak. Bagaimana aku bisa melupakan orang yang pernah menemani aku dalam ketakutan." Tersenyum manis.
Roni menatap dalam Afikah entah mengapa bayangan Naina seperti ada pada Gadis ini dan seketika mata Roni berkaca-kaca dengan tatapan dalam pada wajah Afikah yang sedang tersenyum manis padanya.
Aku terkubur dalam tanah dengan banyak kerinduan padamu...
Jika kamu memeluk aku maka aku akan baik-baik saja sekarang... rintikan hujan akan bayanganmu dan tangisan air mata ada dalam diriku akan bayanganmu..
( Note: Setuju gak Afikah dengan Roni hahahhaha biar si kang Gengsi paham ya gak 😬).
Maaf ya author baru Up soalnya semalam ketiduran sebagai gantinya author up double up hari ini Terimakasih masih setia untuk cerita ini,
Sayang kalian Guys...
Bersambung
__ADS_1