Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 64 ( Mahkota Untuk Ayah).


__ADS_3

Adrian melepaskan pelukannya dari sekertaris Kim berlari kencang penuh kecemasan di wajah.


"Maaf tuan muda kami sudah membawa ke rumah sakit," ucap karyawan itu lagi.


Adrian yang tidak peduli akan ucapan karyawan itu terus berlari menuruni anakan tangga dengan cepat sekertaris Kim pun mengikuti Adrian dari belakang memberitahu beberapa pengawal untuk siapkan mobil di depan pintu utama.


"AFIKAH!!!" teriak Adrian histeris.


Dia memegang kepalanya pusing di tengah melihat ke sana ke sini seperti orang yang kebingungan di jalan sana semua orang yang ada di jalan atau pun karyawan perusahaan melihat Adrian dengan bingung sambil berbisik-bisik satu sama lain.


"Nona sudah di bawak ke rumah sakit tuan muda," ucap sekertaris Kim.


"Siapa yang memberitahu kamu?" tanya Adrian.


"Asisten resepsionis yang tadi memberitahu kita," jawab sekertaris Kim.


"Ada di rumah sakit mana Dia?"


"Masuk ke dalam mobil dulu soal rumah sakit aku bisa melacaknya," ucap sekertaris Kim.


Adrian yang mendengar ucapan sekertaris Kim langsung melangkah masuk ke mobil yang sudah di depan.


Diikuti oleh sekertaris Kim pintu mobil kembali tertutup otomatis dan melaju pergi dikawal oleh beberapa kendaraan mobil pengawal.


****


"Apa? Hamil?"


Afikah tidak percaya.


"Apa maksud dokter?" tanya Afikah.


"Nona Hamil. Kehamilan anda sudah berjalan seminggu," jelas dokter.


"Hamil? Itu tidak mungkin?"


Afikah bangkit dari ranjang rumah sakit Dia melepas infus di tangan dengan kasar.


"Nona anda tidak boleh banyak gerak dulu tubuh anda perlu istirahat jika tidak..."


"Aku TIDAK PEDULI!!!"


"Aku tidak mau mengandung anak ini! Aku tidak MAU!!!"


Hiks...


Afikah menangis histeris Gadis malang ini kembali jatuh tersungkur di bawah lantai sambil menangis dengan histeris.


Dokter rumah sakit yang melihatnya bingung mereka berpikir bahwa Afikah seperti ini karena Dia tidak memiliki suami mungkin sang kekasihnya pergi meninggalkan Dia saat tahu bahwa Wanita ini hamil.


"Saya tahu ini berat tapi anak ini tidak bersalah Dia juga tidak mungkin menginginkan ini tapi semua sudah takdir Tuhan nona," ucap lembut dokter rumah sakit.


Wanita ini seperti paham akan kondisi Afikah Dia berjongkok lalu menepuk-nepuk punggung Afikah memberi ketenangan pada Gadis malang ini.


"Aku tidak mau hamil lagi dokter. Aku benci hal itu! Aku TIDAK MAU HAMIL!"


Afikah memukul-mukul perutnya berulangkali menangis histeris kejadian enam bulan lalu kembali terlintas di kepala Afikah bagaikan trauma yang besar untuk Afikah.


"Tolong bantu aku Dokter untuk Aborsi anak ini Hiks..." tangis Afikah tiada henti.

__ADS_1


****


" Aku tidak menyangka kamu berkhianat Seli!" tatap Gadis yang merupakan sahabat Seli.


Gadis ini baru tahu bahwa sahabat yang ditolong keluarga Dia ternyata berselingkuh dengan ayahnya sendiri.


"Ini tidak seperti yang kamu lihat nak ayah bisa jelaskan," ucap seorang pria berumur.


Pria ini memegang tangan putrinya menatap Dia dalam.


"Jelaskan apa ayah? Hiks...ayah mau bilang Nina salah lihat ha...?"


"Jelas-jelas Perutnya semakin membesar apakah ini ayah bilang Nina yang salah? Ayah tidak hadir di perayaan ulang tahun aku okay aku paham."


"Ayah tidak datang di anniversary pernikahan ayah dan ibu aku masih bisa mengerti Namun, Ayah tidak hadir saat Ibu lagi kritis rumah sakit alasan ayah sibuk."


"SIBUK apa? sibuk berselingkuh sibuk mengurus wanita pelakor ini? Ha..."


Nina menatap tajam Seli yang menatapnya dingin tanpa rasa bersalah diwajah.


"Bagaimana bisa kamu masih bersikap santai pada hal kamu tahu bahwa kamu salah," Nina semakin emosi.


Tanpa menjawab ucapan Nina Seli hanya mengukir senyum Dia mengelus perutnya yang membuncit.


"Ini bukan salah aku yang salah adalah kenapa kamu tidak menjaga Ibumu," ucap Seli dingin.


"Kamu BILANG APA?"


Naina yang mendengar ucapan Seli langsung emosi dan pergi mendekat ke arah Seli untuk mau menjambak Dia.


"Nina hentikan ini! Dia lagi hamil!"


"Apa?"


"Ini bukan salah atau benar! Ini soal HARGA diri bagaimana bisa wanita tidak tahu diri ini tidak merasa bersalah setelah Dia menghancurkan keluarga aku!"


"Ayah meninggalkan ibu di saat kondisi dia kritis, ayah berselingkuh dengan dia saat kondisi ibu tidak baik-baik saja! Apakah ini salah? Benar ha? JAWAB!!?"


Tatap Nina tajam.


****


"Apa kamu yakin mau gugurkan kandungan ini?" tanya dokter menatap Afikah.


Dia hanya mau memastikan gadis ini yakin dengan keputusan Dia atau tidak.


"Aku yakin dok," jawab Afikah percaya diri.


"Di mana pasien yang tadi dibawa ke rumah sakit ini karena jatuh pingsan di pinggir jalan?" tanya Adrian pada resepsionis rumah sakit.


"Dia ada di ruang kehamilan pak," jawab suster yang bertugas di meja resepsionis.


Adrian yang mendengar ucapan suster itu langsung berlari ke ruang kehamilan yang memang tidak jauh.


"Terimakasih Suster," ucap sekertaris Kim.


Wanita paruh baya ini pun melangkah mengikuti Adrian yang juga di susul oleh beberapa pengawal pribadi Adrian.


"Baiklah kalo begitu mari aku antarkan kamu ke ruang aborsi," ucap dokter yang sudah bersiap.

__ADS_1


"Aku TIDAK mengijinkannya!" ucap Adrian.


Adrian yang emosi mendengar bahwa Afikah mau mengugurkan anaknya segera masuk dengan raut wajah yang marah besar Pria ini meremas jari-jemarinya kuat di bawah sana.


Semua wajahnya merah bagaikan tomat dokter rumah sakit yang mengenali Adrian kaget dan langsung melepaskan tangan Afikah.


"Tuan muda!" kaget Afikah.


"BERANI SEKALI KAMU!!!"


Teriak Adrian marah besar menatap bunuh pada Afikah atau pun dokter rumah sakit.


Dia menatap tajam Afikah dengan bunuh semua tangannya gemetaran, Adrian mengeraskan rahangnya sangat emosi saat ini.


"Sekertaris Kim PECAT dokter ini segera dari rumah sakit ini!' perintah Adrian.


"Maaf tuan itu bukan salah aku mohon ampuni aku tuan ARIFIN hiks..." tangis dokter ketakutan.


"Kamu sudah tahu Dia adalah istri aku Berani sekali kamu mau BUNUH anak aku!!!" Adrian mengeras rahang.


"INI BUKAN SALAH do..."


"DIAM!!!"


"KAMU yang DIAM!!!" teriak balik Afikah.


Afikah yang emosi kembali berdiri menatap Adrian tajam.


"Kenapa? kamu Kaget?" tanya Afikah dingin.


"Kamu tidak punya hak mengugurkan anak ini! Dia anak aku!" tekan Adrian.


"Aku punya hak untuk apa aku harus butuh persetujuan kamu!" jawab Afikah tajam.


Adrian atau Afikah sama-sama keras kepala pada pendirian mereka masing-masing sekertaris Kim yang mendengarnya menarik nafas dalam-dalam Ia juga tidak menyangka bahwa Afikah bisa berpikir sejahat itu mengugurkan anak yang selama ini diinginkan sekertaris Kim.


Sedangkan dokter yang tadi sudah dibawah pengawal keluar dari ruangan sana kini tinggal Afikah, Adrian di dalam sedangkan sekertaris Kim menjaga mereka dari luar pintu Ia tidak bisa masuk karena ini adalah pertengkaran suami dan istri.


"Coba saja kamu Gugurkan kandungan itu! Maka kamu akan melihat semua orang di rumah sakit ini akan aku bunuh satu persatu tidak peduli mereka pasien atau bukan!" Ancam Adrian.


Kali ini ucapan Adrian benar-benar serius Dia tidak main-main dengan ucapannya sedikit pun.


"Apa?"


"Kamu pikir aku..."


"AFIKAH!!!"


PRANG...


PRANG...


"Apa yang kamu lakukan?"


Afikah kaget melihat Adrian yang memukul tembak keras hingga mengeluarkan darah di tangan Dia.


"Aku tidak main-main dengan ucapan aku!" ucap Adrian menatap Afikah tajam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2