
"Pastikan kalian membawa mereka bertiga ke hadapan aku!" perintah Adrian pada beberapa pengawal.
Dia menugaskan mereka untuk mencari ketiga Pria yang pernah melecehkan Afikah hingga menyebabkan keguguran anak pertama Dia.
"Siap tuan muda," jawab serentak pengawal di sana.
Setelah berdiskusi sebentar ke para pengawal akhirnya Adrian kembali masuk ke rumah untuk melihat kondisi Afikah.
"Kenapa kamu belum makan?" tanya Adrian.
Dia melihat nampan bubur yang belum sama sekali di sentuh atau dimakan oleh Gadis itu sejak pelayan bawa masuk sampai sekarang, bubur itu kelihatan sudah dingin.
"Bukan urusan kamu!" jawab Afikah dingin.
"Jelas ini urusan aku, kamu sudah sepakat untuk mau mengandung anak ini jadi harus makan supaya Dia tetap sehat."
Afikah yang mendengar ucapan Adrian hanya menatap Pria ini bingung Afikah tidak pernah menjawab bahwa Dia menginginkan anak ini namun karena keterpaksaan akhirnya Gadis malang ini menuruti ucapan Adrian untuk tidak memperkeruh suasana.
"Aku tidak pernah berkata bahwa akan menerima anak ini," ucap Afikah.
"Bukankah kamu sudah sepakat dengan aku di rumah sakit?" tanya Adrian.
"Itu semua karena kamu yang memaksa aku!" jawab Afikah lagi.
"Kau..!" Adrian mulai kesal.
"Mau sampai kapan kamu hancurkan kehidupan aku?" Mata Afikah berkaca-kaca.
"Apa?" Adrian bingung.
"Kamu mengambil mahkota aku..."
"Bukanya kamu yang mau memberi karena menginginkan uang!" tatap Adrian dingin.
"Sejak bertemu dengan kamu kehidupan aku hancur semua harapan, mimpi, masa depan aku hilang."
"Kamu bukan hanya menghancurkan masa depan aku, keluarga aku, anak aku juga harus pergi, ayah aku juga pergi setelah semua harapan aku hilang."
"Hei! Bukanya..."
Suara Adrian terhenti belum menyelesaikan ucapan Dia Afikah kembali memotongnya Pria ini hanya menarik nafas dalam-dalam bingung menghadapi sikap Afikah.
"Bertemu dengan kamu bukan mengurangi penderitaan aku malah menambah penderitaan aku, mental aku kamu hancurkan, fisik aku kamu lukai habis-habisan, batin aku tersiksa karena perbuatanmu, pikiran aku kacau bahkan masa depan aku pun semua masih tentang kamu apa yang kamu inginkan!"
Afikah kembali menangis dengan sejadi mungkin di hadapan Adrian Dia benar-benar menyesal mengikuti semua kemauan Adrian entah kenapa Afikah kembali menjadi cengeng di hadapan Pria ini pada hal biasanya Dia sama sekali tidak peduli dengan rasa sakit tapi entah kenapa Afikah sekarang lebih baik menangis dari pada menahannya.
"Harusnya aku yang bertanya kenapa kamu menjadi egois seperti ini?" tatap Adrian.
"Tadi di rumah sakit kamu mau mengandung anak ini kamu mengatakan Dia tidak bersalah sekarang kamu tidak mau ya sudah kita pergi ke tempat ABORSI saja!" ucap Adrian emosi.
Kebetulan saat itu sekertaris Kim sedang
pergi ke kamar Afikah membawa mangga muda di nampan atas permintaan Gadis itu yang ingin makan mangga muda.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu terdiam di depan pintu mendengar pertengkaran yang kembali terjadi antara Afikah dan Adrian Dia menarik nafas dalam-dalam lalu terdiam sebentar mengetok pintu yang memang sengaja di kunci oleh Adrian tadi.
Tok..
Tok...
"Siapa?" teriak Adrian dari dalam.
"Maaf tuan muda ini saya!" jawab sekertaris Kim.
Adrian yang masih emosi membuka pintu dengan wajah tidak karuan karena masih kesal.
"Itu apa?" tanya Adrian melihat piring Mangga.
"Ini mangga muda tuan tadi di pesan oleh Afikah," jawab sekertaris Kim menunduk.
Adrian mengerutkan kening bingung Gadis ini katanya tidak mau makan dan tidak mau mengandung anak Dia kenapa Dia meminta mangga? Adrian berbalik badannya menatap Afikah yang menghapus air mata secepat tadi saat Sekertaris Kim masuk.
"Kamu yang pesan?" tanya Adrian.
"Hem..." jawab Afikah.
Dia masih mengontrol suara dan nafasnya agar lebih tenang.
"Makan dulu bubur!" perintah Adrian dingin.
Sekertaris Kim mengerutkan keningnya tidak habis pikir akan ucapan Adrian.
"Ngak suka, bosan maunya mangga," jawab Afikah nada suara manja.
"Berikan saja tuan muda namanya juga orang hamil," jawab sekertaris Kim membela Afikah.
"Kenapa kamu malah membela dia?" tanya Adrian kesal.
Sekertaris Kim yang tidak peduli akan ucapan Adrian Dia melangkah melewati bosnya itu ke arah Afikah menyodorkan piring berisi mangga muda di hadapan Afikah dengan senyuman penuh semangat seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru Gadis itu langsung melahap mangga muda.
"Benar-benar keras kepala ya kamu Afikah!" ucapannya.
Adrian yang melihatnya menarik nafas dalam-dalam kembali melangkah untuk Mau mengambil piring Mangga yang ada di tangan Gadis itu tapi secepatnya dihentikan oleh sekertaris Kim.
"Biarkan saja tuan muda! Ikut aku!" ucap sekretaris Kim.
Dia menarik tangan Adrian pergi keluar dari kamar meninggalkan Afikah yang sedang makan mangga muda dengan lahap di sana.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini? Bagaimana sesuatu terjadi pada istri aku dan anak aku?"
Adrian mengeraskan rahang emosi menatap Sekertaris Kim dingin saat mereka sudah di luar.
Sekretaris Kim yang mendengar ucapan Adrian tersenyum masam menatap Adrian.
Pria itu yang menatap sekertaris Kim tersenyum-senyum mengerutkan kening bingung.
"Kenapa senyum-senyum apa ada yang lucu?"
__ADS_1
"Tidak."
"Terus Kenapa kamu senyum?"
"Aku senyum karena tuan akhirnya mengakui Afikah istri tuan muda," jawab sekertaris Kim.
"Siapa yang bilang aku akui Cih... tidak jelas," Adrian menyangkal.
" Jangan pikir aneh-aneh aku ucap seperti itu Karena Dia mengandung anak aku," kata Adrian percaya diri.
"Jadi jangan pikir aneh-aneh deh setelah dia melahirkan anak ini Dia boleh pergi sesuai kesepakatan kamu di rumah sakit."
"Tuan muda yakin mau lepas Afikah?"
"Yakinlah masa tidak!" jawab Adrian tegas.
"Jangan menyesal loh, oh ya namanya orang hamil biarkan Dia makan apa saja yang dia mau jadi ke depannya tuan muda harus sabar menghadapi sikap Afikah yang tidak terduga dan berbeda dari biasanya," ucap sekertaris Kim memberikan nasehat.
"Maksud kamu?"
"Berikan Afikah waktu untuk menerima semua ini tuan muda," ucap sekertaris Kim.
Dia menatap dalam Adrian yang lagi sedih saat melihat Afikah yang tidak mau melihat Adrian setelah pulang ke rumah.
Sesudah pertengkaran hebat di rumah sakit Adrian akhirnya mengalah untuk Afikah mengingat wanita itu lagi hamil.
"Hal seperti ini tidak muda untuk Doa tuan muda membayangkan apa yang dia alami itu sangat berat tuan jadi jangan kasar pada Afikah."
"Kenapa kamu bela Dia terus sihh?"
"Ini bukan soal bela tuan muda ini soal HARGA diri Afikah telah melewati banyak kesulitan jelas ini masih hal baru untuk Dia."
"Maksud kamu?"
"Aku tidak tahu apa kesepakatan kalian di rumah sakit tapi ingat tuan muda penyesalan tidak pernah datang di awal sebelum semuanya terlambat jangan sia-siakan Afikah untuk melawan gengsi tuan muda," ucap sekertaris Kim.
Adrian terdiam mendengar ucapan Sekertaris Kim Dia tidak berkata sepatah kata pun saat wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Dia sendiri di sana.
Pria ini menatap Afikah yang masih menikmati santapan mangga muda entah kenapa ucapan sekertaris Kim ada benarnya juga.
Adrian terdiam Dia hanya menatap Gadis ini tanpa berkata dan benar seperti Adrian jatuh dalam lingkaran terlarang Dia mengukir senyum lebar Dia tahu kesalahan benar-benar Fatal untuk Afikah maaf'kan tapi untuk mendapatkan kata maaf Afikah maka Adrian harus berjuang sesuai bayaran mahal itu.
Yuhuuu....
Berlayar nihh cie hahahha...
Gimana Nihhh reaksi Afikah tahu kalo Adrian Jatuh cinta sama Dia?
Makin seru...
Hehehehe semoga berakhir bahagia atau tidak???
Spam komen banyak-banyak guys...
__ADS_1
Bersambung
Maaf ya update lama Ini author lagi update tiga bab semoga review cepat ya dan semoga besok bisa update normal seperti biasa.