
"Apa?" tanya Adrian.
"Aku ingin Kita BERCERAI!" jawab Afikah menekan.
Masih sama dan tatapan yang sangat dingin.
"Hentikan omong kosong itu! Ayo ikut aku!" ucap Adrian tidak peduli dan langsung menarik tangan Afikah pergi dari sana malam itu.
"Mari kita bicara di rumah!" kata Adrian lagi.
Skip...
Suara mobil dan motor berlalu lalang dimana-mana keindahan malam di kota A terutama pusat Ibukota begitu indah dan sejuk apalagi salah satu tempat yang mereka lewati adalah tempat terkenal di sana yang sangat bermakna.
Dalam keheningan Afikah dan Adrian diam dalam kebisuan tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka.
Sepanjang perjalanan pulang kedua diam dengan keheningan hanya bunyi mesin mobil yang menemani suasana dalam hening itu.
Adrian sibuk dengan mengkutak -atik laptop sendiri entah apa yang dikerjakannya sedangkan Afikah duduk disamping Adrian melihat pemandangan malam di kota lewat jendela mobil.
Gadis itu hanya diam dalam keheningan tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya.
Adrian melirik ke arah Afikah Pria itu menarik nafas panjang Dia masih memikirkan ucapan Afikah yang berani mengakhiri pernikahan mereka, jujur awalnya Adrian memang ingin dari dulu hal itu namun entah kenapa sekarang Ia tidak mau Ia begitu takut untuk hal itu apalagi mengingat perlakuan Roni yang makin lama bikin Adrian emosi.
"Mulai sekarang jangan berteman dengan pria mana pun termasuk Roni!" ucap Adrian.
Mulai membuka percakapakan dengan nada dingin masih fokus menatap laptop kembali.
Afikah yang mendengar ucapan Adrian segera memutar tubuh yang tadi membelakangi Pria itu dengan tatapan aneh dahi dikerutkan dan mata masih menatap diam Adrian.
"Ini perintahku jika kamu tidak ingin ada pertumpahan darah diantara kami!" ancam Adrian dengan sorot mata dingin serius.
"Mengapa kamu melihat aku dengan tatapan seperti itu? Apa kamu pikir..."
"Apa maksud tuan muda mengatakan hal tidak masuk akal seperti ini?" tanya Afikah dengan sorot mata intimidasi pada Adrian.
"Tidak masuk akal? Kamu pikir aku sedang bercanda dengan kamu!?" tanya Adrian.
Nada yang mulai meninggi namun, masih dalam nada suara biasa.
"Aku tidak tahu apa yang tuan muda inginkan? Namun, jika tuan melarang aku berteman dengan tuan muda Roni maka tuan muda sudah melanggar aturan perjanjian dalam surat kontrak kita yaitu hak pribadi," ucap Afikah.
Dengan gentar tidak ada ketakutan sedikit pun dimata pada Adrian mengingkatkan Pria dingin dihadapanya itu tentang aturan perjanjian selama mereka menjadi sepasang suami dan istri.
"Apa?"
"Hei otak udang sejak kapan aku memasuki aturan pribadimu? Apa kamu lupa dengan perjanjian yang ada di pasal tiga dalam hal jangan BERSELINGKUH dibelakang suamimu! Dasar otak udang!"
'Apa? Ot. otak udang? Apa maksud tuan muda bilang aku otak udang? Otak aku adalah manusia bukan udang!?"
Afikah kesal menatap Adrian.
Hahahaha....
Tawa Adrian.
"Memang kamu otak udang! Berapa nilai bahasamu tidak tahu ungkapan kata otak udang!?" tanya Adrian tertawa lebar.
"Apa?"
"Apa? Apa? Hei otak udang alias bodoh apa kamu tidak tahu?"
"Aku tahu tapi aku tidak suka tuan muda mengantikan nama aku dengan sebutan otak udang lagian memang tuan muda sudah melanggar aturan perjanjian kita bukan?"
seru Afikah masih kesal dengan kesombongan Adrian.
"Sudah aku bilang itu adalah aturan dalam pasal 3 apa kamu masih ingin berdebat denganku?"
"Cih...aku saja tidak temukan aturan itu dalam teks bagaimana bisa ada di sana? Bilang saja tuan muda cemburu?" Ucap Afikah dengan wajah masam menatap Adrian.
"Apa kamu bilang? Coba sebutkan kata itu lagi akan aku sob..." ucapan Adrian yang emosi kembali terputus saat Afikah mencela ucapan Dia kembali.
"CEMBURU!!! Puas tuan muda?" jawab Afikah.
__ADS_1
Dengan penuh tekanan di kata cemburu dan lembut dengan senyuman yang ditahan Afikah di wajahnya.
"BERANI SEKALI KAMU!!!" Adrian tidak terima.
Dia yang langsung mencekram kuat dagu Afikah dengan tangan kekar dan penuh penekanan di sana hingga gadis itu kesakitan.
"Aku tidak cemburu! Sekali lagi kamu katakan hal seperti itu akan aku patahkan leher kamu ini!" ancam Adrian.
Sorot mata bunuh saat menatap mata Afikah yang juga sedang menatapnya.
Afikah yang mendengar ucapan Adrian dengan tatapan menakutkan pada dirinya bukanya takut Afikah malah tersenyum dengan kedua sudut bibirnya ditarik miring sambil menahan senyum manis.
Adrian yang melihat senyuman Afikah semakin dibuat bingung sendiri oleh gadis bertubuh kecil di hadapan itu dengan kesal Dia melepas kasar dagu Afikah tatapan sorot mata dingin pada gadis kecil samping itu.
"Kenapa senyam-senyum? Apa ada yang lucu dengan wajahku? Tidak jelas banget!?"
Adrian menahan gigi-gigi dari dalam sana ingin sekali ia berbuat kasar pada Afikah namun, ia tidak serendah itu.
"Mengapa tuan muda tidak menampar aku? Atau menyiksa aku? Seperti yang biasa tuan muda lakukan sebelumnya."
"Apa maksudmu?"
"Jika tuan muda jatuh cinta maka tuan tidak akan berbuat kasar padaku itu berarti aku menang dong dalam merebut hati seorang tuan mud..."
Tikkkk...
Sebuah jitakan dari tangan Adrian dengan kencang di daratkan pada dahi Afikah hingga gadis bertubuh kecil itu kesakitan dan berhenti melanjutkan perkataanya lalu meringis kesakitan.
Auhhhhh....
"Sakit!"
Afikah yang kesal sambil mengelus-elus dahi karena kesakitan menatap Adrian dengan kekesalan di wajahnya.
"Jadi orang itu jangan baperan! Jadi orang itu jangan kecentilan! Kalo dibilang sama suami itu nurut bukan malah melawan tidak jelas!"
"Sejak kapan tuan akui aku sebagai ISTRI!"
"Kamu itu menerjemahkan maksud aku ke mana eh otak udang mu itu ke mana," ucap Adrian mengalihkan maksud Afikah yang memang benar.
"Siapa juga yang percaya diri emang tuan muda berkata..."
"DIAM!!!"
"Aku tidak suka berdebat! Mulai sekarang jangan dekat dengan siapa pun baik pria atau wanita aku tidak suka itu!"
"Apa?"
"Sudah aku bilang jangan berdebat!!! Apa kupingmu itu pangsit!?"
"Tapi...."
"Tidak ada tapi-tapi selama kamu masih status menikah dengan aku maka ikuti aturanku! Apa kamu paham!!!"
Tidak. Aku tidak paham bilang saja kamu ketahuan cemburu...
"APA KAMU MENGERTI!!!" jerit Adrian dengan nada tinggi hingga memenuhi seisi mobil bahkan dimana setiap persimpangan jalan yang dilewati mobil penuh dengan suara Dia.
"Hem..."
Afikah berdehem dengan pasrah walau ia tidak terima dengan aturan Adrian yang menurut dia tidak masuk akal.
"Dan juga jangan sekali-kali berkata Cerai itu hak aku tidak dengan kamu!"
"Apa?"
"Jangan banyak tanya!"
"Tapi...!
"Tidak ada tapi-tapi. Jangan berdebat ikuti kata SUAMI jadilah istri yang Soleh!"
Adrian memasang wajah dingin tanpa Afikah sadar Pria itu mengukir senyum tipis sebelum dilihat oleh Afikah.
__ADS_1
(Kang Bucin🤣🤣🤣).
Bagaimana mungkin dia jatuh cinta sama aku? Itu sangat mustahil mengingat aku dan dia seperti langit dan bumi tapi mengapa dia melarang aku berteman dengan tuan muda Roni? Dimana tuan Roni yang jelas-jelas sangat baik pada aku dibandingkan Adrian.
"Bagus." Menjawab dengan singkat dan sikap dingin.
"Apa dia menyukaiku?" tiba-tiba saja suara itu keluar dari mulut Afikah.
Ucapan Afikah membuat Adrian mengerutkan dahi sambil memutar tubuh menatap Afikah dengan tatapan bingung.
Ini mulut? Ya Tuhan benar-benar tidak singkron sama situasi bagaimana bisa dia berucap kata-kata dalam hatiku? batin Afikah membelakangi diri Adrian menghgadap ke arah pintu mobil sambil memukul-mukul bibir berulang-ulang dan memaki dirinya sendiri dalam hati.
(Hahhahaha ya Ampun Afikah 😂🙉).
"Apa maksudmu otak udang?" tanya Adrian menatap heran Afikah.
Matilah aku ini mulut benar-benar.
Afikah bungkam saat mendengar suara Adrian sambil menutup matanya merasa malu hingga kedua pipinya merah merona.
Ehem...
Suara batuk Afikah sengaja saat menatap balik mata Adrian dengan wajah yang grogi.
"Kenapa kamu? Sakit? Atau sengaja?" tanya Adrian dingin.
"Apa? Tidak. Aku baik-baik saja tuan muda," jawab Afikah tersenyum manis.
"Apa maksud ucapanmu tadi?"
"Ucapan apa? Aku tidak berucap apa-apa tuan muda."
Tersenyum dengan wajah yang paksa sambil berbalik menutup matanya lalu kembali menatap Adrian.
"Kamu bukan tipe aku dan bukan orang yang aku cintai, jadi berhenti berhalu terlalu tinggi," kata Adrian dingin.
"Aku tahu itu. Aku juga tahu posisi aku hanya istri diatas kertas." jawab Afikah sadar.
"Bagus kalo kamu tahu posisi kamu jadi aku tidak bisa buat kamu salah paham."
"Tapi aku ingin bertanya apa alasan tuan muda melarang aku berteman sama tuan muda Roni"
"Apa kamu buta atau otak bodoh itu tambah bodoh?"
"Mengapa tuan muda..."
"Hei!"
Ahhhh...
Jerit Afikah yang tiba-tiba kaget akan suara keras Adrian ketika menjawab ucapannya.
Saking syoknya diri Afikah kepala Dia hampir terbentur ke kaca mobil untung secepatnya ditahan oleh Adrian dengan posisi satu tangan Adrian ditempel ke kaca mobil sedangkan satu tangan Adrian melingkar di pinggang kecil Afikah dengan tatapan yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dalam saat menatap Afikah.
Adrian menatap dalam Afikah sambil melihat wajah mulus Gadis itu begitu juga sebaliknya Afikah menatap bingung ke arah Adrian dengan jantung keduanya yang saat ini berputar lebih dari dua kali lipat seperti biasa.
"Bodoh! Kau bisa saja melukai dirimu!" ucap Adrian lembut.
Namun masih dengan tatapan dalam dan posisi yang sama.
"Apa?" tanya Afikah tidak suka.
Apa-apaan ini? Hei Adrian mengapa kamu mengucapkan kata romantis? Sudah gila Ya Kamu.
Yuhuuuu ....😂💃💃
Komen banyak-banyak biar author Up cepat🤭😆
Cocok tidak nih jadi tuan muda ADRIAN ARIFIN ✋
Bersambung.
__ADS_1