Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 27( Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

"Aku tidak ingin jatuh ke dalam lagi siapa pun tolong aku!" teriak Adrian.


Dengan penuh tangisan di dalam sana.


Afikah yang semakin penasaran akan apa yang terjadi pada Adrian akhirnya melangkah pergi menghampiri Adrian yang ada di kamar mandi.


"Tuan apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?" tanya Afikah.


Gadis malang ini masih menahan kesakitan di sekujur tubuh yang biru belau akibat pukulan cambuk tadi.


Av...


"Sakit sekali."


lirih Afikah yang merasa kesakitan dan perih di seluruh tubuhnya bagaikan di remuk dan dipukul ulang-ulang.


"Siapa kamu? Pergi sana!? Aku tidak ingin menyakitimu lagi," seru Adrian dari dalam.


Afikah yang mendengar ucapan Adrian kaget tidak biasanya seorang Adrian mengucapkan hal seperti ini pada siapa pun apalagi Afikah.


"Tuan biarkan aku..."


"APA KAMU TULI!!! PERGILAH!!! AKU TIDAK BUTUH BELAS KASIHMU!!!"


ucap Adrian geram sendiri dengan nada tinggi hingga memenuhi seisi kamar dan terdengar sangat tegas.


Afikah yang mendengar ucapan Adrian terdiam beberapa menit ia pun memutar kakinya untuk melangkah pergi namun, tiba-tiba langkahan kakinya terhenti ketika ia mendengar tangis isyak Adrian yang keras di dalam sana.


Sebenarnya apa yang terjadi sama Dia? Tadi menyiksa aku seperti hewan sekarang nangis-nangis.


Apa jangan-jangan Dia berpura-pura tapi kalo pura-pura tidak mungkin dia melarang aku masuk, bungkam Afikah bingung.


"Aku hanya ingin bebas. Aku tidak mau mengonsumsinya lagi namun, jika aku tidak mengonsumsinya maka aku bisa gila. Tuhan tolong hiks..." tangis Adrian.


Pria itu menangis dari dalam sana dengan keras.


"Tuan! Apa kamu baik-baik saja!? Tuan muda..." panggil Afikah kwartir akan kondisi Adrian.


Afikah terus menerus memangil nama Adrian namun, tetap saja ucapannya sama sekali tidak dijawab oleh Pria itu.


Hingga akhirnya gadis itu memberanikan diri mendobrak dengan keras berulang-ulang pada pintu kamar mandi hingga pintu itu terbuka.


Tubuh yang masih sakit di sekujur sana gadis malang ini melihat ke dalam kamar mandi gelap dan matanya tidak bisa melihat apa-apa.


Dimana itu Dia berjalan dengan kakinya tertatih-tatih kesakitan Afikah yang tidak mempedulikan tubuhnya yang sakit walau kadang ia meringis kesakitan tetap masuk mencari keberadaan Adrian.


Afikah melangkah dengan sangat hati-hati dan dihantui dengan rasa takut sambil ia memangil lembut nama Adrian.


"Tuan! Tuan muda!" panggil Afikah.


Saat Dia sudah masuk di dalam kamar mandi yang sangat luas dan gelap itu.

__ADS_1


"Astaga."


aaaa...


Jerit Afikah dengan sangat keras ketika ia melihat sosok pria yang tinggi sedang berdiri di dalam kamar mandi di kegelapan dengan menyalakan pemantik di tangannya dan lidahnya dikeluarkan untuk bermain api tersebut.


"Tuan! Tuan muda!" kaget Afikah.


Gadis malang ini membulatkan bola mata syok akan kemunculan Adrian tiba-tiba seperti hantu yang dari tadi terbayang di pikirannya.


"Apa yang tuan muda lakukan di gelap-gelap ini?" tanya Afikah.


Dengan wajah serius alisnya sedikit diangkat.


Namun, sayang sekali Afikah tidak tahu bahwa saat itu Adrian akan melakukan hal berbahaya karena saat ini dalam pikirannya adalah menodai gadis yang ada di hadapannya itu lalu membunuh Dia pikiran Adrian saat ini sudah dipengaruhi oleh pengaruh obat-obatan itu.


Adrian yang mendengar ucapan Afikah menatap tajam Gadis itu dengan sorot mata tajam menakutkan, Ia mengukir senyum yang tipis dengan alisnya diangkat.


Fu....


Tiupan nafas buatan dari Adrian untuk api yang menyala di pemantik yang dipegang lalu kembali menyoroti tatapan mata pada Afikah dengan tatapan penuh nafsu. Sambil melangkah menghampiri Afikah yang masih berdiri mematung di sana.


"Yang aku ingin lakukan adalah menikmati tubuhmu malam ini," ucap Adrian.


Pria itu mulai memainkan jari-jari nakalnya di kulit mulus dan leher jenjang Afikah.


Afikah yang merasa tidak nyaman akan hal yang sedang dilakukan oleh Adrian padanya dan rasa takut yang semakin tinggi mencoba untuk memundurkan tubuhnya namun, niatnya malah membuat Adrian semakin gemas melingkar kedua tangannya di pinggang kecil Afikah.


"Jangan melawan sayang. Diam dan turuti maka aku tidak akan melakukanya dengan kasar padamu."


Adrian menaikan dagu Afikah hingga tatapan mata mereka bertemu satu sama lain.


Kini nafas mereka saling berhembus membalas satu sama lain dan mengenai pori-pori wajah kulit mereka.


Nafsu birahi semakin menguasai Adrian hal itu membuat Afikah menahan air mata yang mungkin sebentar lagi akan mengalir.


Kaki dan tangan Afikah gementaran ketakutan namun, itu sama sekali tidak dipedulikan oleh Adrian saat ini ia sudah dipengaruhi oleh kecanduan obat terlarang dan pikirannya saat ini hanyalah meniduri wanita.


"Tuan saya mohon jangan lakukan ini! Saya akan lakukan apa pun yang tuan muda inginkan tapi jangan lakukan ini," lirih Afikah memohon.


Suaranya Gadis malang ini mulai bergetar ketakutan.


"Hei sudah aku bilang jangan menolak atau melawan. Menurut sayang..." ucap Adrian.


Dia mulai menelusuri Afikah dengan mengecap tanda merah di sana.


"Tuan, hiks..." panggil Afikah lagi.


Gadis ini masih berusaha melawan aksi Adrian itu.


"Diam! Jangan menangis! Angkatlah wajahmu itu dan jangan melawan jadilah milik aku malam ini maka aku pun akan menjadi milikmu juga." Tatap Adrian.

__ADS_1


Adrian berucap seperti itu saat Afikah yang menundukkan kepala ke bawah namun, secepatnya Pria itu kembali mengangkat dagu Afikah menatap mata Gadis itu dengan Dia me*** kasar kasar bi*** ranum Afikah.


Gadis itu masih berusaha melawan namun, tetap saja kekuatannya kalah dengan seorang pria bertubuh kekar seperti Adrian.


Walau pun begitu tidak mematahkan perlawanan Afikah tangisnya kembali pecah air mata bercucuran membasahi wajahnya di mana bi**** masih di*** Adrian seperti anak kecil yang memakan es krim atau permen lolipop.


Hiks...


tangis isyak Afikah.


Adrian terus me***t bi*** Afikah hingga akhirnya ciu***m kembali ke dagu Afikah saking Gadis itu terus melawan dengan air mata mengalir keras.


"Sudah aku bilang jangan menolak masih tidak paham ya kamu," ucap Adrian


Dia yang mulai emosi dan dengan kasar kembali Ia membuka kasar baju yang dikenakan Afikah hingga baju itu tersobek dan memperlihatkan.


SKIP....


"Ternyata kamu cukup pintar juga memakai double baju."


Gadis itu masih berdiri diam tanpa melakukan pergerakan sama sekali. Ia menundukkan kepala dengan air mata yang terus menetes bercucuran hingga membasahi lantai dibawah sana.


Afikah menahan air matanya gadis itu memberanikan dirinya menatap Pria yang sedang duduk di atas tumpukan bathtub.


"Tuan. Aku mohon..." ucapan Afikah terhenti.


Ketika Adrian yang emosi dengan kasar pria itu menarik kerak baju Afikah dan membuka paksa dari tubuh Gadis itu.


"Sudah aku bilang jangan memaksa aku untuk melakukanya," ucap Adrian.


Dia tersenyum licik ketika melihat Afikah.


"Tubuhmu sangat indah sayang. Berhentilah melawan dan nikmatilah setiap cinta yang aku berikan ini," ucap Adrian.


Dia yang mulai memainkan jari-jari nakalnya di punggung belakang Afikah dan kini bi***


Skip.


Tangannya tidak tinggal diam kini tangan itu mulai menyentuh dan masuk ke dalam


Skip.


"Tuan, hiks... aku moho hiks..." mohon Afikah.


Dengan air mata dan pecahlah suara tangisnya ketika ia merasakan tangan Adrian yang mulai menyentuh...


Skip.


Air mata gadis itu bercucuran dengan sesenggukan hingga suara tangis isyak Afikah memenuhi kamar mandi itu. Namun, tidak ada belas kasih dari Adrian sedikit pun dengan kejam Pria itu memutar tubuh Afikah...


Skip...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2