
"Jangan pernah mengucapkan sesuatu dari mulut sampahmu itu mengatakan hal yang tidak aku lakukan dari hati. Aku menikmati tubuhmu itu karena aku..."
"Tuan muda!" panggil sekertaris Kim.
Wanita karir itu memotong ucapan Adrian yang hampir mengatakan kalo dirinya dibawah pengaruh obat.
"Anda sudah telat. Klien sedang menunggu tuan di kantor. Ingat tuan ini klien penting kita seharusnya kita yang menunggunya bukan dirinya," papar sekertaris Kim.
Adrian yang mendengar ucapan sekertaris Kim menghentikan aksi tanganya yang tadi langsung mencekram kuat dagu Afikah ketika dirinya habis menampar Afikah.
"URUSAN KITA BELUM SELESAI!" tegas Adrian.
Pria itu langsung melepaskan kasar dagu Afikah yang hampir dipatahkan tulangnya oleh tangan kekar Adrian.
"Ambil Jasku! Jam tangan kesukaan aku lalu pakailah di tubuh dan tanganku! Kamu bilang istri aku bukan! Jadi mulai sekarang lakukanlah tugasmu sebagai seorang istri!" perintah Adrian.
Ketika dirinya yang sudah ingin pergi.
Afikah yang mendengar ucapan Adrian menarik nafasnya dalam-dalam sambil meremas jari-jemarinya dengan sangat kuat dibawah sana lalu Ia melangkah dengan diam tanpa berucap sepatah kata pun pada Adrian.
Sedangkan sekertaris Kim menarik nafas lega karena hampir saja Adrian membongkar rahasianya sendiri.
Hampir saja. Untung aku masih di sini bagaiman jika tadi aku sudah pergi bisa terjadi masalah besar kalo sampe Afikah tahu dan memberitahu media apa kata semua orang, bisik pelan sekertaris Kim yang lega dan masih berdiri diam di sana.
"Apa mulutmu itu bisu? Ingin aku patahkan mulut menjijikan itu!?" kata Adrian.
Dia geram dan tidak suka jika ucapannya di cuek oleh lawan bicara.
Gadis itu menghentikan kaki memutar tubuh dan menatap Adrian dingin.
"Tuan mau apa? Aku hanya melaksanakan perintah tuan muda lalu..."
" Berani sekali kamu bertanya balik sama aku! Setidaknya jawab ucapanku! Baik tuan muda bukan diam dengan mulutmu yang seakan bisu," kesal Adrian.
"Hem. Baik tuan muda tampan," kata Afikah.
Dia menarik nafasnya karena merasa apa yang Pria ini debatkan hanya masalah sepele.
__ADS_1
Tampan? Tumben dia bilang aku tampan? cih baru sadar kamu? ke mana saja selama ini?
Adrian berbisik dalam hati dengan hidung kembang kempis karena ini pertama kali Afikah mengatakan dirinya tampan.
Walau kata tampan sudah biasa bagi Adrian tapi entah mengapa ada keganjalan saat kata itu disebut oleh Afikah.
Walau begitu Pria itu tetap memasang wajah dingin, culas, dan kakunya itu seakan dirinya tidak mendengar apa-apa. Namun, ada sedikit ukiran senyuman tipis di bibir Adrian tapi tidak ada yang bisa melihat senyuman tipis nan bahagia itu kecuali sekertaris Kim.
Tumben tuan muda tersenyum? Hahaha... dasar bucin hati-hati entar sikap es batu mu itu akan dipatok sama wanita yang kamu anggap sampah ini, batin sekertaris Kim tersenyum melihat aksi tuan mudanya itu.
Afikah yang sudah berdiri di depan lemari khusus Jas mulai memilih berbagai Jas yang bermerek mahal dan trend dunia.
Walau ia tahu bahwa dia dari kampung dan sama sekali tidak mengenal style fashion namun, Dia pintar dalam mencocokan dengan pakaian yang dikenakan orang itu.
Lalu Afikah mengambil Jas bermerek dari Zara salah satu Jas Brand terkenal dari di dunia produk Spanyol yang sangat terkenal di Spanyol, Di mana Jas itu bermerek Blazer With Sateen Lapel yang Afikah cocokan dengan Kemeja Adrian bergaris biru putih.
Setelah memilih merek jas yang cocok dengan fashion style Adrian akhirnya Gadis itu pergi ke laci-laci khusus jam tangan yang memang sudah Afikah hafal ketika dirinya pertama kali ke rumah ini Ia sudah diberitahu semua oleh kepala pelayan Tina tentang penyimpanan Adrian di kamarnya mulai dari baju tidur, rumah, baju santai sampai semua parfum mahal Adrian yang dari merek terkenal di seluruh negara.
Oleh sebab itu Dia tahu semua letak jam mulai dari yang tidak disukai Adrian sampai yang sangat pria itu sukai.
Selesai memilih jas dan jam tangan Afikah kembali melangkah menghampiri Adrian menunjukkan pada Pria itu dengan jam tangan yang dipilihnya.
"Selera kamu ternyata tidak serendah dirimu! Pakaikan di tubuhku dan tanganku!" perintah Adrian.
Dia yang kembali merendahkan Afikah namun, Dia mengakui pilihan gadis itu sangat tepat sesuai fashion Dia.
Tanpa berkomentar menangapi omongan Adrian, Afikah yang berdiri di pundak belakang Adrian mulai mengenakan Jas pada tubuh kekar Pria tinggi itu dengan Jas yang ada di tanganya itu.
"Ngapain sekertaris Kim wajahmu itu senyam-senyum tidak jelas emang ada yang lucu?" tanya Adrian.
Dia yang bingung sendiri akan sikap sekertaris Kim yang tersenyum saat melihat Afikah memakaikan jas di tubuh Adrian.
Ini pertama kali sekertaris Kim sedikit melihat perubahan sikap Adrian walau itu belum tentu sepenuhnya berubah.
"Tidak ada tuan muda. Aku hanya melihat sesuatu yang indah," jawab sekertaris Kim masih tersenyum.
"Jangan harap apa yang ada di kepalamu itu akan terjadi! Dia hanyalah janji di atas kertas bukan janji di altar?" ucap Adrian.
__ADS_1
Dia yang mengerti akan ucapan sekertaris Kim.
"Pergi sana! Lanjutkan tugasmu seperti biasa saat aku mau berangkat kantor!" Mengusir sekertaris Kim kesal sendiri.
"Baik tuan muda. Aku pamit."
Setelah melihat sekertaris Kim yang sudah menghilang dari kamar, Adrian menarik kasar rambut Afikah dengan kuat hingga Gadis itu kesakitan.
Aaaaakhh..
"Selesaikan tugasmu menguras kolam! Kemarin belum selesai bukan? Jika saat aku pulang air kolam itu belum dibersihkan lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu."
"Kamu tidak ingin bukan aku dan sekertaris Kim bercekcok lagi! Jadi lakukan tugasmu hari ini dengan baik seperti kemarin Apa kamu mengerti!"
Tatap Adrian bahagia dengan senyuman lebar.
"Sakit!"
Aaakh..
"Baik tuan mu- Muda," jawab Afikah.
Dengan suara putus-putus sambil mengeluh kesakitan di kepalanya.
Setelah mendengar ucapan Afikah
Adrian melepas kasar rambut Afikah hingga menceburkan kepala Afikah ke lantai dengan kasar.
Lalu ia makai kacamata hitam dengan senyuman lebar yang membuat dirinya semakin tampan berjalan pergi meningalkan Afikah yang meringis kesakitan di belakang sana.
Aku capek berpura-pura baik-baik saja, capek mengatakan aku baik namun, nyatanya aku hancur terasa sesak saat mulutku mengucapkan kata baik-baik saja.
Mulai sekarang aku ingin menjadi diriku bukan sebuah cermin, batin Afikah menahan luka yang kembali tergores di dalam sana dengan semua kejadian hari ini.
Kembali terbendung air di dalam sana dengan perih dalam serpihan luka yang sama sekali tidak dilihat.
Bersambung
__ADS_1