Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 47 ( Mahkota Untuk Ayah).


__ADS_3

Adrian segera menjauhkan wajahnya dari Afikah saat Ia yang tidak sadar mengecup kening Gadis ini dengan tiba-tiba.


"Biarkan saja dia ketiduran di sana, Aku mau mengeringkan rambutku dengan header tapi bagaimana jika dia sadar?" Bicara Adrian dengan diri sendiri.


Ah...bodoh amat sama dia


batin Adrian bingung.


Adrian sendiri seperti orang kebingungan mengacak-acak rambutnya.


Akhirnya setelah beberapa detik berbicara sendiri dalam kamar Adrian akhirnya memutuskan untuk tidak mengeringkan rambutnya dengan header melainkan mengunakan handuk sambil dirinya duduk di tepi ranjang kamar dengan wajah dingin dan tatapan masih tertuju pada Afikah.


"Sepertinya lantai itu sangat dingin di tambah lagi ac yang nyala, Tunggu... ngapain aku jadi memikirkan hal-hal kecil yang sangat tidak penting ini?"


"Dia mau dingin ke, panas ke bukan urusanku. Dia bukan gadis  penting untuk aku," bicara Adrian masih bingung dengan sikapnya ini.


Bodoh amat aku mau tidur...


Pria tampan ini langsung membaringkan diri tempat tidur, lalu ia mencoba untuk menutup matanya tetap saja pikiran dan batin Adrian tidak tenang.


"Baiklah aku akan mengangkat tubuhnya ke sofa anggap saja ini rasa terimakasih aku karena dia mau menolong aku waktu itu."


Adrian kembali bangkit dari tempat tidur, Ia mengambil selimut hangat di lemari selimut dan salah satu bantal kepalanya untuk di berikan pada Afikah sebagai alas kepala.


"Sangat merepotkan! Awas saja kamu akan aku balas besok."


Adrian kesal saat dirinya yang berdiri di hadapan Afikah untuk segera mengangkat tubuh Gadis mandi ini agar di baringkan tubuh itu ke sofa.


di saat Adrian yang sudah mengangkat tubuh Afikah dengan posisi  kedua kaki Afikah di salah satu tangannya dan satu tangan di tengkuk leher Gadis itu di mana rambut panjang hitam Afikah terurai ke bawah yang semakin memperlihatkan  kulit wajah dan leher mulusnya membuat Adrian sedikit menelan ludah.


Bodoh.


Di luar sana banyak wanita yang kulitnya lebih mulus dari Dia kamu sudah berapa kali melihatnya jadi stop untuk berpikir yang tidak-tidak, batin Adrian.


Saat dirinya yang menahan diri akan kekaguman pada leher jenjang Afikah.


"Apa yang tuan muda lakukan?" tutur pelan Afikah.


Dia yang kaget ketika membuka mata melihat Adrian yang sedang membopong tubuhnya.


"Astaga!" kaget Adrian.


Ketika Dia melihat Afikah sedang menatap dirinya dengan kebingungan.


Aaa....


jerit Adrian dan Afikah bersamaan.


Bruk...


Auh...


"Sakit..." 


Afikah kesakitan sambil memegang pinggang yang kesakitan dibawah sana karena tubuhnya langsung dilepas oleh cowok itu seperti karung beras.


"Itu hukuman untuk wanita seperti kamu yang tidak tahu malu dan berani sekali kamu tidur sebelum diriku!" ucap Adrian.


Dengan nada dingin menatap lurus ke depan kedua tangan di sembunyikan di belakang punggung, tujuan agar Gadis itu tidak salah paham dengan sikapnya barusan.

__ADS_1


"Apa? Tapi tubuh aku bukan karung beras  yang bisa dilempar seperti itu..." jawab Afikah kesal bangkit berdiri masih memegang pinggang yang sakit.


"Berani sekali kamu menjawab ucapanku! Kamu pikir siapa kamu!" tatap tajam Adrian.


Menahan semua gigi-giginya dan mengeraskan rahangnya.


"Sudah aku bilang aku paling tidak suka ucapanku terus dicela. Tadi aku sudah jelaskan tiduri aku! Apa perkataanku kurang jelas di kuping budak kamu itu!"


Teriak Adrian dengan emosi dan nada tinggi hingga suara itu menggema di dalam seluruh isi kamar.


Afikah yang mendengar ucapan Adrian bukanya ketakutan akan suara tinggi pria di hadapannya ini, Ia malah tersenyum masam yang membuat cowok itu menatap heran dengan melotot mata dan alis sedikit diangkat ke atas.


"Ngapain kamu senyum seperti itu? Apa ada yang lucu?"


"Tidak. Tidak ada yang lucu," sahut Afikah.


Menatap Adrian seperti paham sendiri.


"Terus kenapa kamu tersenyum?" masih bertanya dengan pertanyaan yang sama.


"Malam ini aku bisa melihat sisik baik tuan muda, walau niat baik itu tidak tulus dari hati tuan muda tapi, setidaknya aku tidak salah bahwa anda adalah orang baik," jawab Afikah.


Dia menatap dalam Adrian.


"Apa?"


"Hei! Dengar aku tadi mengangkat tubuhmu itu mau di cebur ke kolam renang sana biar kamu itu sadar bukan mengangkat tubuhmu seperti pikiran otak bodoh itu!" ucap Adrian.


Dia segera mencela akan tebakan Afikah yang memang benar.


"Masa!" Tekan Afikah senyum.


"Yes!" Jawab Adrian menekan balik ucapannya dengan wajah kesal.


Afikah yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala dengan memajukan bibirnya ke depan sambil menahan tawa.


karena  Adrian berusaha membuatnya berpikir yang tidak aneh-aneh tentang pria itu.


"Lalu kenapa ada selimut sofa dan bantal kepala di sini? Apa itu mau di lempar  juga ke kolam?" tanya Afikah.


Gadis ini menahan tawanya yang sudah hampir meledak.


"Apa? Hei it-Itu  karena..." jawab Adrian dengan suara putus-putus dan bingung sendiri.


"Memang kamu tidak sadar kalo dari tadi aku di sana tidur santai? jadi orang jangan geer kamu itu bukan tipe aku."


"Oh...berarti itu karena tuan muda mau jagain aku ya?" goda Afikah tersenyum lagi.


"Apa?"


"Jagain kamu? Pede amat kamu!?"


"Jadi orang harus pede tuan  dari pada gengsi..."


Cih..


Adrian berdecih.


"Yang benar saja aku jagain kamu... kaya tidak ada kerjaan saja!" ucap Adrian.

__ADS_1


Pria ini berusaha membela diri dengan wajah tatapan dingin.


"Orang tiduran santai ko dibilang jagain kamu, yang benar saja kamu dasar manusia tidak jelas..." ngomel Adrian.


Dia tidak terima dengan ucapan Afikah.


"Tiduran santai ko mengangkat tubuhku! Aneh-aneh saja perkataan kebalik dengan fakta,"  bisik pelan Afikah masih senyum masam-masam.


"Apa kamu bilang?" tanya Adrian.


Yang kembali bernada tinggi hingga urat-urat lehernya muncul ke permukaan.


"Apa? Aku tidak ngomong apa-apa," seru Afikah.


Dia tidak peduli dengan suara tinggi Adrian seperti petir.


Ini anak tidak takut benar sama suara aku biasanya dia hanya diam, kenapa malam ini dia jadi cerewet sekali?


Kamu juga Kim Adrian ngapain juga bawa bantal, selimut segala ke sana jadi mikirnya 'kan, aku  perhatian sama dia? Tapi memang faktanya aku ingin membuatnya tidak kedinginan... lain kali Adrian jangan lakukan hal aneh seperti itu... bungkam Adrian menyalahkan dirinya.


"Berani kamu jawab ucapan aku lagi akan aku lempar kamu ke kolam renang!" ancam Adrian.


Melotot mata dengan sorot tajam pada Afikah.


Main lempar-lempar saja memang aku karung beras? Dasar pria gengsi tingkat dewa...


"Mengerti!" ucap Adrian lagi.


"Mengerti tuan  muda," jawab Afikah.


Tersenyum manis pada Adrian.


"Tiduri aku! Aku ngantuk."


"Apa?" Bingung sendiri.


"Tiduri maksudnya baca dongeng untuk aku biar aku ketiduran. Karena sekertaris Kim masih di perusahaan jadi kamu gantiin dia baca cerita dongeng untuk aku."


"Jangan pikir yang aneh-aneh! Dasar mesum!" cetus Adrian emosi.


Sambil membaringkan diri di kasur menunggu Afikah datang.


"Ba. Baca cerita dongeng? Apa aku salah dengar?" bisik Afikah pelan.


"Aku tidak suka menunggu! Apalagi mengulang ucapanku!"


"Ba. Baik tuan muda..."


"Ini Pria dewasa atau anak-anak!" Bicara Afikah pelan.


"Jangan banyak ngomong kupingku sakit.! Aku minta kamu bacain bukan minta kamu duduk diam menatap ketampanan aku! Aku tahu diriku ini tampan!"


Adrian percaya diri masih dengan sikap dingin.


Baru aku sadar bahwa Adrian jadi animasi bos beby....


"Sini! Kamu duduk di sini!" perintah Adrian.


Dia menepuk kursi kosong yang ada di pinggir kasur menatap Afikah yang belum bergerak.

__ADS_1


Setelah duduk Afikah mulai membaca cerita dongeng Cinderella sedangkan Adrian sudah ketiduran sedari tadi. Saking membacanya serius Afikah pun akhirnya ketiduran di samping Adrian dengan posisi Dia duduk di kursi dan kepalanya dibaringkan di pinggir kasur.


Bersambung.


__ADS_2