Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 14 ( Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

Seli berdiri kembali di depan pintu Diskotik Madam dimana Diskotik itu sebelumnya telah Ia datang saat mau membantu kakaknya mencari uang, memory lama kembali Seli bayangkan kisah yang harmonis sebelum Badai menerpa Dia dan kakaknya.


(Dua Minggu yang lalu)


Plak...


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah gadis kecil yang saat ini sedang berdiri di tengah jalan.


"Kenapa kamu menampar aku kakak? Tamparan kamu ini tidak berpengaruh padaku. Aku akan tetap melakukanya demi papa."


"Apa kamu bodoh. Biaya operasi Ayah lima miliar kamu pikir dengan seratus juta ayah bisa dioperasi? Kamu mengorbankan mahkotamu demi Ayah? Jangankan seratus juta, 1 miliar saja belum cukup untuk biaya operasi papa."


"Jelaskan pada kakak Jika, malam ini kamu korbankan mahkotamu lalu apa? Apa uang seratus juta itu bisa menyembuhkan ayah dalam semalam?"


Tanya Afikah pada adiknya Seli yang saat itu ingin menjual dirinya di tempat wanita malam demi biaya operasi ayahnya, Untungnya Afikah cepat datang menghentikan semua itu jika dia telat semenit saja maka adiknya sudah ditiduri sama om-om yang membeli tubuh Seli.


Afikah berucap pada Seli dengan air mata yang mengalir sambil menatap tajam gadis kecil berusia 17 tahun di hadapannya itu, Seli pun ikut menangis menatap kakaknya dengan terus menundukkan kepala ke bawah sambil menangis dengan suara sesenggukan.


"Katakan padaku apa yang harus kita lakukan kakak? Hiks... Dalam waktu 8 jam nyawa Ayah terancam jangankan 5 miliar untuk sejuta saja kita tidak mampu mendapatkannya dalam semalam." ucap Seli.


Seli berucap dan terus menangis di hadapan Afikah.


"Apa aku harus duduk dan menangis saja melihat ayah menghembuskan nafas terakhir di hadapan aku tanpa berbuat sesuatu menolong nyawanya?"


"Kenapa? Mengapa kamu menghentikan aku ka?" suara deru tangis Seli semakin keras dan meninggi air mata terus mengalir di bawah sana.

__ADS_1


Air mata penuh keputusasaan datang pada dua Gadis muda ini, suasana yang sepi jalanan diisi dengan tangis adik kakak ini, perasaaan bercampur aduk harus melakukan apa demi menolong sang ayah yang saat ini kritis di rumah sakit dan tidak diurusi pihak rumah sakit karena tidak ada biaya bayaran untuk pasien.


Langkahan kaki berat menghadapi kenyataan hidup yang dulu diwarnai kemewahan kini hilang dalam semalam, Kemana harus mencari situasi yang penuh dengan air mata, Seli terjatuh lemas di aspal dengan kedua lututnya menempel di aspal jalan butiran bening mengalir deras dari mata yang membasahi aspal nan hitam itu.


Afikah ikut membungkuk tubuh ke bawah memberi kekuatan pada sang adik bahwa semua baik-baik saja, dengan penuh rasa sakit hati Seli menumpahkan tangisnya di pelukan sang kakak, suara sesenggukan tangis kedua kakak dan adik ini memenuhi jalanan malam ramai.


Afikah ikut menangis meratapi nasib keluarga mereka yang hancur dalam sehari, orang-orang yang dulu sangat menghormati mereka kini berlalu lalang dijalan dengan membuang ludah pada mereka setiap kali melihat keduanya, Afikah sadar bahwa hal itu terjadi karena berita tentang ayahnya sudah beredar di masyarakat.


Yang mengatakan bahwa Lucas adalah seorang korupsi besar yang mendapatkan kekayaan dengan uang gelap, kini semua aset kekayaan mereka ditarik oleh pihak bank mobil , kartu kredit perusahan, dan uang asuransi di bank semuanya direbut oleh pihak bank untuk membayar semua hutang-hutang papanya, yang tersisa hanyalah rumah itu pun belum ada kepastian apakah rumah yang mereka tempati akan disita juga.


Hal itulah yang membuat papanya serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit namun, mereka diberitahu dokter bahwa jantung papanya normal ada kendala di otaknya yaitu tumor.


Jika tidak dilakukan operasi besok pagi maka nyawa papanya tidak akan selamat dan, jika mereka menyetujuinya maka harus siap membayar biaya adminstrasi operasi 4 miliar untuk operasi besar itu. Kini sang Ayah hanya terbaring koma di ruang perawatan biasa saja, mereka diberi waktu hanya malam ini untuk menuntaskan uang adminstrasi karena tidak memiliki uang akhirnya Afikah meminta kelonggaran pihak rumah sakit memberi mereka waktu 8 jam untuk mencari pinjaman uang.


Afikah mengelus lembut rambut sang adik ia meminta agar Seli pergi menunggu papanya di rumah sakit, ia yang mencari uang, kebetulan Ia bekerja di salah satu restoran terkenal di kota A ia meyakinkan, Seli bahwa Ia pasti akan mendapatkan uang itu. Seli bertanya mamanya di mana Afikah hanya menjawab bahwa ia tidak tahu, sejak mamanya mengetahui papanya bangkrut entah ke mana wanita itu sampai sekarang Afikah tidak menemukan mamanya sampai saat ini.


Seli masih memegang tas yang ada ditangannya Gadis itu menyeka air mata menarik nafas dalam-dalam untuk masuk hujan yang deras menemani malam itu.


****


Dunia ini penuh dengan kejutan setiap masalah yang kamu hadapi adalah pendewasaan, aku mencoba untuk bertahan, mencoba menangapi semua masalah ini dengan tenang, menjadi diriku yang kuat bagaikan baja namun pada akhirnya aku kalah, aku lelah terus berpura-pura, aku cape bersandiwara, aku cape membodohi diri yang sebenarnya rapuh.


Terkadang memilih salah jalan untuk lari dari masalah atau menghilang bagaikan di telan bumi, Mungkin itu lebih baik daripada berdiri tegak namun kamu rapuh dalam kekuatan.


Melihat persimpangan jembatan pikiran kotor merasuki Afikah.

__ADS_1


Mungkin inilah akhir bahwa aku harus menghilang agar tidak merasakan lukai ini, dengan menghilang aku tidak terpikirkan cara untuk tidak menangis, Ibu dan Seli sudah bahagia untuk apa aku bertahan sedangkan hidupku sudah tidak ada artinya lagi, menghilang pun tidak akan ada yang mencari, anak haram ini sudah tidak ada alasan bagi aku untuk hidup Afikah menaiki tebing jembatan mencoba melakukan bunuh diri.


Gadis malang ini menyeka air mata setelah Ia ada di ketinggian pagar besi jembatan gadis itu menutup kedua matanya dengan lentik alis yang indah membayangkan semua luka yang selama ini ia terima.


Mulai dari menyadari pahit dan kenyataan bahwa ia tidak memiliki seorang ibu atau ayah ia harus menerima kenyataan lagi Ia lahir dari hubungan terlarang, anak yang terbuang di sampah, lagi dan lagi menerima kenyataan hinaan banyak orang akan dirinya.


Pahit merasakan siksaan akan ibu angkat yang tidak merima dirinya sebagai seorang anak.


Luka kembali menerima tuduhan sang ayah yang meningal karena dirinya


Seakan takdir terus mempermainkan dirinya.


Luka, luka, dan luka yang harus ia terima menyadari dirinya kehilangan mahkotanya dan seperti takdir mempermainkan dirinya terus menerus yang kembali dilecehkan disaat kerapuhan, kesakitan dan kepahitan ketika dirinya yang ditendang keluar dari rumah dan kampung halamannya hanya karena dosa yang tidak merugikan orang lain.


Tetesan bening kembali membasahi wajahnya yang mengalir dengan tenang dari mata yang masih tertutup rapat di sana, saat kaki Afikah dimajukan untuk menjatuhkan dirinya ke dalam sungai yang ada di bawah sana tiba-tiba ia mendengar suara seseorang yang memanggil namanya malam sepi dan gelap seperti membawa kekosongan hidup Afikah dengan suara air sungai yang mengalir di bawah sana menghantarkan kehidupan baru bagi dirinya.


"Gadis bodoh! Jangan lakukan itu!"


"Dengarkan aku. Aku akan membawa kamu ke rumah," ucap Adrian.


Ya suara yang memanggil Afikah adalah Adrian yang berhasil menemukan Afikah setelah Ia mendapat kabar bahwa Afikah melarikan diri.


Saat itu Adrian sedang menebus obat Afikah dan tiba-tiba saja Ia mendapat kabar dari para perawat yang bertugas di ruang rawat Afikah bahwa Gadis itu melarikan diri mendengar hal itu Adrian yang cemas dan kwartir langsung mencari Afikah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2