
"Kenapa berdiri lama di sana? Sini bawa buah-buahan itu dan suap aku!" perintah Adrian.
Adrian berucap dengan nada suara dingin ketika Ia yang kembali membuka kedua matanya saat beberapa menit menunggu Afikah tak kunjung-kunjung menghampiri dirinya dimana Gadis itu masih berdiri diam di kamar Adrian.
Wao Ini kamar atau hotel? batin Afikah melongo kagum sendiri akan besar dan luasnya kamar seorang Adrian.
"Fikah!" Panggil Adrian.
ahhh...
Sadar Afikah.
"Maaf." Ucapannya.
"Baik tuan muda." lanjut Afikah lagi.
Gadis itu balik menjawab dan mengiyakan ucapan Adrian sambil melangkah cepat dengan membawa nampan di tangannya ketika sadar dari lamunannya.
"Ini tuan muda buahmu," ucap Afikah santai.
Gadis itu menyodorkan piring berisi buah-buahan itu.
"Hei! aku meminta kamu membawanya ke sini bukan untuk menyodorkan ke aku!" kata Adrian.
Pria itu membuka matanya dan mengangkat alis sedikit ke atas ketika Afikah menyodorkan piring berisi buah untuk dirinya makan sendiri.
"Maksud tuan muda?" tanya Afikah bingung.
"Suapi aku! Tanganku cape! kata Adrian santai.
Apa-apaan ini?
Afikah mengerutkan keningnya heran.
Ini bayi atau orang dewasa sih? Dia tidak tahu apa kalo aku lagi mengerjakan tugas yang diberikannya padaku.
"Suap aku! Apa kamu tuli! ucap Adrian mulai rada kesal.
"Baik tuan muda." Mengambil garpu.
Afikah menusuk garpu itu ke salah satu buah yang ada di piring dan mulai menyuap pada mulut Adrian.
Bayi besar yang baru lahir dari maut Tuhan maafkan aku bolehkah aku remukan dia menjadi kecil? batin Afikah masih kesal.
"Ingat habis ini lanjutkan tugasmu! Aku memerintah kamu menyuapiku bukan berarti aku membebaskan kamu dari tugasmu itu, apa kamu paham!" Melirik ke arah wanita yang ada di hadapannya ini.
Terus kenapa perintah aku suap kamu? Apa kamu bodoh? Kolam itu sangat luas bagaimana mungkin selesai dalam sehari lagian buang-buang waktuku saja melayani kamu dengan hal yang sebenarnya bisa kamu lakukan sendiri, bungkam Afikah emosi sendiri.
"Pengen tabok muka tembokmu itu," ucap Afikah .
Gadis itu yang tidak sadar kata-kata dalam pikirannya keluar sendiri dari mulutnya.
"Siapa yang kamu sebut tembok?" tanya Adrian kaget.
Ini mulut tidak singkong sekali kamu, kenapa juga bisa keluarkan kata-kata tidak jelas dari pikiran aku? Dasar mulut sialan, batin Afikah memukul-mukul bibirnya saat sadar akan ucapannya.
"Hei jangan membuat aku mengulangi kata-kata aku! Itu salah satu hal yang paling tidak disukai aku," ucap Adrian.
__ADS_1
Bodoh amat!
Bungkam Afikah.
Adrian menatap dingin dengan masih menutup matanya namun, mulutnya masih mengunyah buah-buah yang disuapin pada mulutnya dan dari nada suaranya juga sudah terdengar mulai emosi.
Afikah yang menyadari akan ucapan Adrian secepatnya memutar otaknya untuk memberikan alasan yang masuk akal biar tidak dicurigai oleh Pria itu karena sebenarnya kata-kata itu Ia tunjukan pada orang yang sedang tidur dibawah kursi panjang di bawah sana alias Adrian sendiri.
"It-Itu maksud aku pengen tabuk pala aku tuan." ( suara Afikah terputus-putus).
"Tidak masuk akal ucapanmu! Dasar bodoh! Sana pergi! Aku tidak membutuhkanmu lagi!" Adrian tidak percaya.
Bodoh? Otakmu yang benar-benar kuprit, Afikah emosi.
"Baik tuan muda. Saya pamit," jawab Afikah.
Gadis itu terpaksa tersenyum manis tapi dalam hatinya memaki habis Adrian sambil melangkah pergi setelah selesai menyuapi Pria itu dengan buah-buahan yang tadi dibawanya.
Setelah dibawah lantai satu Afikah kembali melakukan tugas Dia yang tertunda sebelumnya Gadis itu melakukan pengurasan air pada kolam Ia kembali mengikat rambut panjangnya dengan dikucir sedangkan Adrian pun masih tersenyum santai dan puas di balkon kamar sana saat memantau Afikah dari cctv.
Tidak lama kemudian Jenny datang dan kembali mengunjungi Adrian Kepala pelayan segera mengabari Adrian akan kedatangan Jenny yang sudah masuk menerobos ke dalam rumah Adrian.
seperti rumah sendir untuknya saat mengelilingi seisi rumah Adrian Gadis itu melihat Afikah dari jendela ruang keluarga yang kebetulan berpapasan langsung dengan kolam renang.
Bukankah gadis itu yang semalam dihukum Adrian?
"Halo! Ada apa kamu memangil aku? ucap Adrian.
Suara berat dan dingin tetap terlihat kool dari ponselnya saat mendapat panggilan telpon dari kepala pelayan.
"Maaf tuan ada nona Jenny di rumah dia baru saja datang," jawab kepala pelayan menjelaskan.
Sikap Adrian langsung kwartir dan bangkit berdiri dari tidur santainya.
Jika tahu begini tadi sudah aku perintahkan si Afikah i sini saja, aduhhh puyeng pala aku.
Adrian secepatnya pergi menghampiri Jenny sahabat lamanya itu sekaligus mantan pacarnya.
Wajah tampannya yang bagaikan animasi komik membuat ketampanan Adrian semakin bersinar Ia mengunakan lift untuk secepat mungkin menghampiri Jenny yang lagi duduk santai sambil melihat para pelayan yang membereskan kolam renang sedangkan Afikah , Gadis itu sudah diperintahkan oleh kepala pelayan untuk menyelesaikan tugasnya.
Afikah diminta oleh kepala pelayan membawa teh hangat untuk Jenny di ruang keluarga. Kepala pelayan juga menjelaskan pada Afikah bahwa di sana sudah ada tuan muda jadi berharap Afikah tidak ceroboh melakukan tugas ini seperti semalam karena Jenny adalah wanita spesial di hati Adrian sejak dulu.
Saat Afikah pergi sambil membawa nampan di tangannya ia melihat Adrian dan Jenny sedang berpelukan romantis di sana.
Entah mengapa hati kecil Afikah sakit namun, gadis itu tidak bisa menjelaskan mengapa hatinya sakit. Ia juga merasa iri dengan Sikap Adrian yang begitu memperlakukan Jenny sangat hangat sedangkan dia malah sebaliknya.
Gadis itu mengukir senyuman sambil menarik nafasnya dalam-dalam lalu, melangkah menghampiri mereka, Jenny yang melihat kehadiran Afikah segera melepaskan pelukannya dari tubuh Ardian yang kaget tiba-tiba melihat kehadiran Afikah walau pelukan tadi dari Jenny sudah lama mereka berpisah, entah kenapa Adrian sama sekali tidak membalas pelukan Jenny dan hatinya juga biasa saja pada Jenny pada hal dulu Dia sangat bucin dengan wanita ini.
"Maaf jika saya menggangu tuan muda," ucap Afikah.
Gadis polos itu menyesal sambil membungkukkan tubuhnya ke bawah.
"Lain kali jika mau ke sini buka suaramu itu lebih dulu sebelum menghampiri kami. Apa kamu paham! Kamu itu hanyalah pelayan di rumah ini jadi bekerjalah dengan benar," ucap Jenny sombong.
Sikap dingin dan cuek Jenny pada Afikah. Adrian yang mendengar ucapan Jenny kaget dan tidak suka Ia *******-***** jari jemarinya kuat.
"Baik nona muda. Maaf, kan sikap saya ini," jawab Afikah bersalah pasrah.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh kasar sama Dia. Biar bagaimana pun kamu hanyalah tamu di sini! Hargai Dia!" ucap Adrian tersenyum manis pada Afikah.
"Tidak bisa Adrian Makin dibikin makin melonjak dia," jawab Kenny tidak terima.
"Seorang pelayan rendahan seperti dia tidak pantas dihargai. Dari luar saja sok polos pada hal sebenarnya adalah gadis nakal," papar Jenny yang mulai merendahkan harga diri Afikah di hadapan Adrian.
"Sana pergi! Lain kali perintah kepala pelayan yang layani aku bukan pelayan rendahan seperti kamu!" ucap Jenny .
Seketika hati Afikah hancur berkeping-keping. Walau begitu gadis itu tetap tersenyum tulus dari bibirnya dengan wajah yang sama sekali tidak ada kesedihan pada hal sebenarnya hatinya sangat hancur dan saat ini terasa sesak di dadanya.
"Baik nona muda. Maaf jika kehadiran aku menggangu dirimu," kata Afikah tersenyum.
"AFIKAH!!!" teriak Adrian.
Suara Adrian seketika langsung memenuhi seisi rumah, Jenny kaget melihat kemarahan besar di wajah Adrian.
"Tidak usah tanggapi ucapan Dia. Anggap saja itu angin lalu, Ini adalah rumah kamu! kata Adrian menguatkan Afikah.
Cihhh Dia sendiri menyiksa aku semalam
batin Afikah.
"Baik tuan. Terimakasih. Aku baik-baik saja hal seperti ini sudah biasa aku alami sejak kecil," kata Afikah yang berlalu dari hadapan Adrian dan Jenny setelah Ia membungkukkan tubuhnya ke bawah.
"Tidak seharusnya kamu bersikap kasar pada seorang pelayan seperti itu. Dia juga manusia dan pantas dihargai," kata Adrian emosi.
Adrian berucap ketika Afikah sudah menghilang dari tatapan mereka.
"Kita sudah lama tidak saling tukar pikiran jadi jangan bahas pelayan rendahan itu. Aku tidak ingin pertemuan kita diawali dengan perdebatan hal kecil yang tidak jelas ini," kata Jenny yang terdengar kesal.
Adrian yang mendengar ucapan Jenny menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia pun diam seribu kata dan tidak banyak bicara karena entah kenapa hati Adrian tidak terima akan hinaan dari mulut Jenny pada Afikah memang Adrian sering merendahkan Afikah tapi bukan berarti orang luar pun boleh menghina Afikah
"KAMU mau apa ke sini? Kamu yang pergi bukan aku? Jadi jangan merasa kamu masih seperti dulu?" Tatap Adrian tajam.
Jenny yang mendengar ucapan Adrian mengerutkan keningnya tidak mengerti akan ucapan mantan kekasihnya ini.
"Maksud kamu?" tanya Jenny.
"Pikirkan sendiri! dan ingat lain kali jika kamu ke sini beritahu aku!"
"Untuk apa Aku ha---" (suara Jenny putus)
"Jangan MENGHINA atau MERENDAHKAN AFIKAH!!" tekan Adrian dengan tatapan tajam.
Pria itu menatap serius Jenny.
"Bukankah semalam ka---"
"Itu urusan aku. Aku pergi!" ucap Adrian.
Adrian memotong ucapan Jenny dengan kembali menatap tajam wanita itu lalu Ia melangkah pergi meninggalkan Jenny sendiri.
"AFIKAH!" panggil Adrian keras.
Afikah yang kaget memutar tubuh yang masih belum jauh dari Adrian, Adrian melangkahkan kaki panjangnya dengan cepat menghampiri Afikah yang saat ini sedang menatapnya Bingung tangan Adrian mengangkat dagu Afikah Ia langsung mencium bibir Afikah dengan dalam.
Mata Afikah membulat tidak percaya saat Adrian yang langsung mencium Dia di dihadapan Jenny.
__ADS_1
Afikah memukul-mukul dada Adrian karena kaget.
Bersambung.