
Ahh....
"Ya benar ak- Aku kaget maaf tuan jika sikap aku tadi kurang sopan sama tuan besar," jawab Afikah.
Dengan grogi karena ini pertama kali Dia berbohong.
Aduhh sekertaris Kim kenapa shi harus bilang aku lulusan terbaik aku hanya lulusan sekolah dasar bagaimana mungkin aku tahu bahasa inggris.
"Maaf jika kedatangan saya tiba-tiba tapi apa..."
"Bukankan kita harus membahas saham perusahaan? Jika tuan besar masih di sini mengobrol panjang lebar dengan nona Afikah bagaimana tanggapan seribu mata yang saat ini sedang melihat kita."
Sekertaris Kim memotong ucapan Antonio.
Antonio yang mendengar ucapan sekertaris Kim melihat ke sekelilingnya dan benar semua tamu sedang berfokus melihat dirinya dengan Afikah.
Lalu, pria tua bangka itu menundukkan kepala dengan senyuman manis pada para tamu dan memutar kakinya mengikuti sekertaris Kim pergi meninggalkan Afikah sendirian di kolam renang.
Gadis itu walau penampilannya sederhana tapi Dia sangat cantik bukan cantik tapi cantik sekali harum maskulin tubuhnya membuat aku ingin memilikinya dari mana Adrian bertemu dengan gadis cantik nan sempurna itu, batin Antonio.
MC acara mulai berbicara di depan panggung karena, acara pesta akan di mulai semua tamu mulai duduk di kursi-kursi yang sudah di sediakan. Kecuali Afikah gadis itu tetap berdiri di tengah-tengah keramaian tamu-tamu dan kerumunan seribu mata yang masih fokus melihatnya walau tamu sebagian tidak.
MC mulai membaca kata sambutan ucapan terimakasih pada semua tamu undangan yang sudah menyempatkan waktu untuk hadir di pesta besar Adrian, Setelah membaca kata sambutan Adrian pun masuk dengan wajah tampan dan penampilan yang sangat mempesona hingga semua tamu terpana pada ketampanan seorang Adrian Arifin namun, semua kaget saat ada seorang wanita yang sangat anggun dan cantik melangkah bersama Adrian ke atas panggung bergandengan tangan begitu romantis wanita itu adalah Jenny.
Afikah yang melihatnya ikut kaget juga sabat Adrian Roni kaget akan keberanian Adrian yang pertama kali memperkenalkan wanita di hadapan semua orang dan publik dimana semua kamera wartawan dari berbagai stasiun televisi sudah menyoroti mereka berdua.
"Halo semua" sapa Adrian.
"Maaf membuat kalian menunggu terimakasih untuk kehadiran kalian semua di sini,."
Adrian berbicara santai di Mic di atas panggung.
"Apa dia calon istrimu? Maksudku wanita di sebelahmu?" tanya seorang wartawan yang saat itu sedang live tv di acara pesta Adrian.
__ADS_1
"Ya benar. Apakah nona ini adalah calon istrimu?" seru wartawan lain lagi dari berbagai stasiun televisi pada Adrian.
Masih dengan pertanyaan yang sama mereka penasaran.
Adrian yang mendengar ucapan para wartawan dan banyak seribu mata dan telinga yang memang saat ini pengen tahu siapa gadis di sebelah Adrian.
Pria itu melihat ke arah Jenny yang tersenyum manis padanya dengan kecantikan Jenny tidak pernah pudar. Lalu, Adrian menatap serius pada semua tamu yang hadir dengan sorot mata yang kembali sangat dalam.
Adrian menggenggam tangan Jenny dengan sangat erat sambil tersenyum manis sekilas pada Jenny dan menatap serius semua orang yang hadir di sana.
"Dia adalah..."
"Aku adalah sahabat Adrian. Kita sudah bersahabat sejak kecil aku baru kembali dari Luar Negri jadi kami baru kembali reuni setelah terpisah lima tahun yang lalu." celah Jenny.
Wanita itu tersenyum menatap Adrian dan memotong ucapan pria disampingnya itu.
Adrian kaget akan jawaban Jenny ada rasa kecewa di wajah pria itu, sebenarnya Dia ingin mengungkapkan perasaanya pada publik, media dan semua orang yang hadir di sana bahwa Dia menyukai Jenny namun, Jenny menghargai posisi Afikah yang saat itu sedang menatap mereka dengan penasaran dari pinggiran kolam sana.
Jenny menatap Afikah dengan tersenyum tulus pada Afikah.
Afikah yang melihat tatapan mata Adrian itu segera membungkukkan tubuh ke bawah sambil tersenyum manis menatap mereka berdua lalu Afikah kembali serius menatap lurus ke depan menghiraukan tatapan sorot mata tajam Adrian masih anteng menatap dirinya.
Pantas saja tuan muda menyukainya apalagi senyum sumringah dan tulus dia begitu cantik dan anggun jadi wajar saja Adrian menyukai Dia sedangkan aku bagaikan langit dan bumi dengan nona Jenny, batin Afikah.
"Nona! tuan muda meminta anda membantu para pelayan melayani antar makanan dan minuman ke tamu," ucap salah seorang pelayan pada Afikah menghampirinya.
"Apa? Me- Melayani? Bagaiman bisa?" tanya Afikah ragu.
"Saya tidak tahu nona tapi tuan muda hanya memerintahkan aku menyampaikan hal ini padamu," jawab pelayan itu dan berlalu pergi.
Afikah yang masih bingung akan ucapan pelayan itu melangkah pergi menyusul pelayan tersebut.
Setelah Afikah sampai di dapur ia melihat begitu banyak pelayan yang sibuk sekali hingga akhirnya Afikah hanya memasang senyum tipis dan diam tak berucap sepatah kata lagi, lalu mengambil nakas yang sudah berisi minuman anggur di gelas tinggi dan pergi tanpa bertanya ke pada siapa minuman itu di siapkan.
__ADS_1
Afikah yang sudah di keramaian para tamu menyimpan nakas yang di bawanya di meja bundar lalu Afikah berdiri dengan memasang senyuman manis dan tidak lama ia pun memberi setiap gelas berisi anggur itu pada tamu yang melewatinya.
"Selamat menikmati." ucap Afikah.
Ketika memberikan minuman itu pada para tamu.
"Terimakasih," ucap salah satu tamu pada Afikah.
Begitulah interaksi Afikah dengan semua tamu undangan yang setiap kali lewat ia berikan dengan penuh keramahan dan senyuman manis.
Namun, jauh dari pikiran Afikah saat itu ada seorang pria yang sedang menatapnya dengan sangat dalam. Pria itu tersenyum dengan manis dari atas lantai dua di mana itu ia berada di kamar tamu dekat dengan tempat teras taman rumah yaitu tempat Afikah berada.
Siapa pelayan cantik itu? Untuk pertama kali setelah sekian lama aku tidak berdebar saat melihat wanita lain lalu mengapa jantungku berdegup kencang ketika melihat gadis itu, bungkam pria nan tampan dengan tatapan dalamnya pada Afikah.
****
Di sisi lain Adrian sedang berkumpul bersama tamu spesial Dia.
"Jenny!" panggil Adrian lembut.
Jenny menatap sebentar ke arah Adrian.
"Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu padamu tapi," Suara Adrian terhenti merasa gugup.
Jenny yang mendengar ucapan Adrian menatapnya dengan kebingungan sedikit mengangkat alisnya saat melihat Adrian.
"Apa?" tanya Jenny tersenyum manis.
"Nanti saja. Jika aku sudah yakin maka akan aku beritahu kamu," jawab Adrian.
Dia membatalkan niatnya yang ingin bertanya apakah Jenny sudah memiliki kekasih atau tidak karena Adrian berpikir bahwa Dia menyukai Jenny.
"Hem." Jenny berdehem melotot matanya pada Adrian.
__ADS_1
Dia bingung sendiri akan sikap mantan kekasihnya ini.
Bersambung.