
Tiga bulan kemudian sudah pernikahan pura-pura antara Afikah dan Adrian dalam tiga bulan itu perlakuan dan sikap Adrian masih sama seperti dulu.
Sejak Adrian yang kembali menodai Afikah sejak saat itu penyiksaan pada Afikah semakin menjadi, Adrian yang membawa Afikah masuk ke keluarga Dia bukan semata hanya untuk menghancurkan kehidupan Afikah, pertemuan dibalik tragedi yang menimpa Afikah itu bukan membawa Afikah keluar dari masa sulitnya malah semakin menderita hidup Afikah.
Adrian yang semakin kecanduan akan narkoba selalu menyiksa melampiaskan semua amarahnya pada Afikah.
Seperti pagi ini Afikah yang sedang tidur di kamar pembantu nan sempit di mana itu adalah kasur lantai yang tipis, Afikah tidur di sana dan menginap kamar pembantu semua itu atas perintah Adrian walau di tentang oleh sekertaris Kim namun, Adrian yang keras kepala sama sekali tidak mendengarkan sekertaris Kim Ia tetap optimis pada pendiriannya dan sikap dingin ini.
Awalnya Afikah berpikir bahwa Afikah tidak akan diterima oleh sekertaris Kim pada hal wanita itu adalah orang yang paling menerima dirinya dibandingkan dengan Adrian.
Adrian yang sejak awal ingin menurut pada sekertaris Kim tapi, niatnya diurungkan ketika Afikah yang setuju akan perintah Adrian untuk menggunakan kamar pembantu.
Gadis itu sudah terbiasa dengan hal seperti ini jadi ia tidak keberatan dengan permintaan Adrian yang tidak mau sekamar atau pun seranjang dengan dirinya, Afikah juga melakukan ini semua karena tidak ingin ada pertengkaran di antara sekertaris Kim dan Adrian.
Pagi itu suasana yang masih tenang dengan suara burung-burung berkicau di alam yang menandakan hari masih sangat pagi, biasanya Afikah harus bangun pukul 5.30wib.
Jauh sebelum jadwal para pelayan yang lain bangun namun, hari ini gadis itu bangun telat dari jam biasa ia bangun karena kecapean dan kurang enak badan akibat semalam ia dihukum oleh Adrian merendam diri di kolam renang selama kurang lebih dua jam.
Hal itu terjadi karena Afikah yang tidak sengaja menumpahkan sauce tomat pada mantan tersayang Adrian yaitu Jenny sahabat sekaligus mantan kekasih Adrian yang kemarin berkunjung ke rumah Bochi Arifin setelah 5 tahun lamanya sejak Dia dan Adrian berpisah di Amerika.
Srakk...
Siraman air dari ember pada tempat tidur dan tubuh Afikah yang masih tidur di sana.
Sontak hal itu membuat Afikah terbangun dari sana dengan wajah yang kecapean dan masih lesu. Namun, itu sama sekali tidak menghilangkan kecantikannya sedikit pun.
"Berani sekali kamu tidur sampai jam 6 pagi!" ucap Adrian emosi.
Adrian berucap saat melihat Afikah yang baru bangun karena kaget dengan air yang membasahi tubuhnya.
"Maaf tuan aku ketiduran," ucap Afikah dengan penyesalan.
__ADS_1
"Aku tidak membangunkan dirimu karena ingin kata maaf, maaf dan maaf darimu, wanita sampah!!!" hina Adrian menatap tajam.
Dia melototkan mata pada Afikah dengan menahan gigi-giginya di dalam sana.
"Bangun dari sana!" perintah Adrian.
"Sekarang bereskan kolam renang sana! Air di kolam renang di angkut pakai ember dan disiram ke tanaman di halaman rumah! Hanya kamu sendiri yang melakukan tugas ini tidak boleh ada yang lain membantumu apa kamu paham!" Tambah Adrian.
Adrian meneriaki Afikah dengan nada tinggi bagaikan petir besar dalam kamar pembantu itu.
"Paham tuan. Baik akan aku kerjakan," sahut balik Afikah menurut saja.
Afikah menuruti saja apa ucapan Adrian untuk dirinya dimana Afikah mulai menuruni tempat tidur dan melangkah pergi.
Adrian pun melangkah menyusul Afikah lalu ia langsung naik ke kamarnya mengunakan lift rumah dan memantau Afikah dari cctv kamar.
Adrian juga memerintahkan pada para pelayan rumah untuk tidak memberikan makan pada Afikah atau pun minuman hanya boleh setelah ia selesai mengerjakan tugasnya.
"Jika dari kalian ada yang berani membantu dia atau memberikan makan maka, kalian yang akan mendapatkan akibatnya!" ancam Adrian.
Adrian mulai melangkah masuk ke lift untuk mengantarnya menuju kamar yang terletak di lantai tiga.
Di mana Kamar Adrian yang didesain mewah dengan sangat luas balkon kamar Adrian berpapasan langsung dengan keindahan kota A pada malam hari tepat di jalanan keramaian yang sangat terkenal.
Di balkon itu ada kolam renang berbentuk segi empat berada di tengah balkon dengan dua kursi panjang untuk bersantai.
Dan kamar Adrian di lantai tiga itu langsung berpapasan dengan jalan raya yang sangat terkenal akan keramaian.
Pria itu membuka bajunya memperlihatkan tubuh sobek rotinya yang sangat bagus dan kekar lalu, duduk bersantai di kursi panjang sambil melihat cctv kamera yang memperlihatkan Afikah sudah mulai bekerja menguras air kolam mengunakan ember dibawah terik matahari yang sebentar lagi akan memanasi bumi dengan sinarnya.
Di sisi lain Afikah mulai mengangkut air kolam dengan ember di tangannya lalu ia menyiram bunga, pohon, rumput dan tanaman lainya yang ada dihalaman luas itu.
__ADS_1
Kolam yang sangat besar itu membuat Afikah sedikit mengeluh karena kecapean namun, Ia tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa melakukanya dengan ikhlas.
"Kasihan sekali nona muda. Aku ingin membantunya tapi, tuan muda melarang kita," kata salah satu pelayan yang saat itu sedang membersihkan kaca dengan pelayan lainya sambil melihat Afikah yang sedang bekerja dengan keras.
"Nona apa kamu baik-baik saja?" tanya salah satu pelayan ketika sedang melewati pinggiran kolam.
Afikah menatap pelayang itu dengan dalam sambil mengukir senyuman menganggukkan kepala beberapa kali yang mengatakan bahwa Dia baik-baik saja.
"Perintahkan Afikah membawa buah-buahan ke kamar aku! Hanya dia yang boleh membawanya tidak yang lain!" kata Adrian.
Adrian memberi perintah pada kepala pelayan melalui telpon rumah Dia meminta kepala pelayan mengupas beragam buah dan meminta Afikah yang membawa ke kamarnya.
Hari ini betapa puasanya aku menyiksa dirinya. Hahahha...
Mumpung sekertaris Kim si cerewet lagi pergi jadi sesekali saja kerjain dia habis-habisan, batin Adrian tersenyum puas setelah mematikan telpon dari kepala pelayan.
Sebenarnya Sekertaris Kim sedang pergi ke luar negri bersama dengan Antonio yang sudah pulang dua bulan yang lalu. Dia sengaja pergi bersama dengan sekertaris Kim untuk memastikan apakah Adrian benar-benar menikahi wanita pilihan sekertaris Kim karena rasa cinta atau cuma kepura-puraan saja.
"Nona kamu diminta tuan muda membawa buah ini padanya di kamar," ucap kepala pelayan pada Afikah.
kebetulan saat itu Afikah yang sedang mengangkut ember berisi air dengan keringat bercucuran di dahinya di mana itu siang bolong di bawah terik matahari yang sudah sangat panas.
Dia pikir dia siapa Pria gila itu? Apa dia tidak lihat kalo aku sedang bekerja karena perintahnya? Maunya apa sih sebenarnya? Bungkam Afikah kesal.
"Baik nyonya. Akan saya bawakan," jawab Afikah tersenyum paksa dalam hatinya mengomel dan memaki habis Adrian.
Setelah mengambil nampan berisi buah itu, Afikah mulai melangkah menaiki tangga satu persatu hingga tiba di kamar Adrian yang ada di lantai tiga. Ia menarik nafasnya yang ngos-ngosan dengan sebentar lalu, mulai mengetok pintu kamar Pria itu.
Adrian yang sedang melihat Afikah ada di depan pintu kamarnya melalui cctv di ponselnya dengan wajah senyum masam-masam lalu mengambil headset telinganya sengaja memasangkan di kedua telinganya dan menekan tombol pembuka pintu untuk Afikah masuk karena pintu otomatis Dibuka oleh remote kontrol.
Dasar bodoh! Ngapain coba capek dirinya sampai naik turun tangga yang panjang? Tidak tahu cara naik mengunakan lift rumah apa? Otak udang, bisik Adrian tersenyum puas saat menutup kedua matanya berpura-pura tidur.
__ADS_1
Entahlah Adrian bingung dengan dirinya sendiri di depan Afikah Ia begitu membenci Gadis itu namun di jauh dari Lubuh hatinya Ia merasa bersalah dengan Gadis itu bahkan Ia sering melukai diri sendiri karena sering menyakiti Afikah.
Bersambung.