Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 29 Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

Seperti mentari yang selalu bersinar tanpa peduli dirinya dipandang atau di perhatikan dia akan tetap bersinar.


Di saat dirimu terluka tetaplah tersenyum di saat dirimu menangis tetaplah berdiri seolah kamu adalah tembok yang berdiri dengan tegak walau banyak badai menerpa.


Hidup tidak selalu manis terkadang ada pahitnya maka sempurnalah kehidupanmu.


Dibalik wajah yang dingin dan sikapnya yang berubah di sana dia selalu menangis dengan kepedihan hati.


"Jika Papa bersih keras menyekolahkan Afikah maka aku dan Seli akan angkat kaki dari rumah ini! Inilah pilihan yang harus kamu pilih."


PLAK...


"Siapa kamu! Beraninya menandatangani surat persetujuan operasi!"


"Apa kamu bisa mengembalikan suamiku? Apa kamu bisa membangunkan papa Seli? Apa kamu bisa membangkitnya untuk hidup lagi? DASAR ANAK PEMBAWA SIAL!?" jerit Siska emosi saat menampar wajah Afikah.


"Ibu."


"Jangan memangil aku ibu! Aku bukan ibumu! Nama itu tidak pantas KAMU SEBUTKAN!"


"Dasar sampah! Wanita sampah sepertimu tidak pantas di hargai!"


"Tubuhmu itu sudah aku nikmati seluruhnya! Untuk apa kamu bersikap seakan dirimu itu polos dan masih suci!!!"


"Dia hanyalah pelayan rendahan dan wanita sampah di sini!"



Butiran bening menetes dengan pelan bagaikan tetesan embun yang mencair membasahi dedaunan di pagi hari.


Tetesan air mata kembali mengalir dengan pelan saat kedua bola matanya yang penuh kekosongan hidup menatap terbitnya mentari pagi dari ufuk timur, Cairan bening mengalir dari tatapan yang dingin bagaikan es batu itu.


Sesak di dada sulit untuk bernafas., menarik pelan nafas dan menghembuskan secara pelan ketika suara tangis ingin datang dan berteriak.


Tatapan mata bagaikan tidak ada tanda kehidupan di sana, Afikah kembali meneteskan air mata dalam diam menahan luka dan perih akan hari-hari yang semakin berat dilaluinya.


Gadis malang itu duduk dengan tenang menatap terbitnya mentari pagi di ufuk timur dari bibir pinggiran jendela dengan air mata yang mengalir pelan saat dirinya membayangkan semua ingatan masa lalu dari dirinya yang tidak dihargai ibu angkat, menjual kehormatan untuk membiayai operasi sang ayah, menerima kenyataan ayahnya meningal saat harta Karun Dia susah hilang orang yang satu-satunya menjadi alasan Dia bertahan pergi meninggalkan dirinya saat dunia runtuh tak ada harapan.


Diasingkan dari kampung halaman, kembali dilecehkan oleh tiga pria asing hingga dirinya keguguran.


Sungguh kejam nasib kehidupan Afikah dan takdir yang kembali mempertemukan dirinya dengan orang yang pertama kali merenggut mahkotanya dan orang yang pertama kali menodai dirinya.


Air mata masih mengalir dengan tenang tanpa ada sedikit suara dari sana gadis itu kembali menyandarkan dirinya di tembok kamar dengan berlinang air mata yang masih mengalir dan menahan sesak di dada yang sulit untuk dijelaskan.


****

__ADS_1


Drg... Drg....


Bunyi lonceng alarm darurat muncul di seluruh rumah yang membuat semua pelayan kaget dan berlari dengan keras meninggalkan pekerjaan mereka masing-masing lalu berbaris rapi di lantai satu memanjang saling berhadapan satu sama lain dan melihat ke tangga yang menuju lantai tiga di mana itu kamar tuan muda rumah ini.


Semua pelayan di sana tahu bahwa jika ada bel darurat maka kemarahan besar akan datang dari tuan muda mereka dan kemarahan seperti ini akan banyak yang mendapat masalah.


"APA KALIAN SEMUA TULI!!!" suara keras dari bel.


Suara itu ada di seluruh sudut rumah hingga memenuhi seisi rumah Istana itu bagaikan kilat petir yang besar saking kerasnya suara itu.


Semua pelayan dan para bodyguard yang berjaga di luar rumah ikut mendengar suara bel dari Adrian itu yang membuat mereka semua ketakutan dan kecemasan kehilangan akan pekerjaan mereka masing-masing.


"SEKALI LAGI TIDAK ADA YANG MENGANGKAT TELPON DARI AKU AKAN AKU PECAT KALIAN SEMUA! CAM, KAN KATA-KATAKU INI!" ancam Adrian.


Masih dengan nada tinggi dan marah.


"PERINTAHKAN SI AFIKAH NAIK KE KAMAR AKU SEKARANG JUGA! APA KALIAN MENGERTI!"


Masih dengan suara yang emosi dan nada tinggi yang mengancam.


Tut.... tut....


Bel dimatikan.


Mendengar ucapan dan perintah Adrian semua pelayan segera menghampiri kamar Afikah yang terletak di gudang belakang tanpa mereka menunggu aba-aba dari Kepala pelayan atau pun sekertaris Kim yang masih sibuk mengurus Adrian di kamar.


pukul 08.00 WIB.


"Tuan muda biarkan Afikah beristirahat hari ini. Dia sedang sakit bagaimana mungkin tuan tetap meminta dia bekerja dengan kondisi yang lemah itu!" ucap sekertaris Kim.


Wanita paruh baya itu menolak perintah Adrian di kamar.


Di mana sekertaris Kim dan kepala pelayan yang sudah dari semalam berada di kamar Adrian untuk menjaga kondisi Adrian. Karena rahasia Adrian mengunakan obat terlarang hanya di ketahui oleh mereka dua tidak yang lain.


"Tuan kasihani gadis itu. Semalam anda sudah..." ucapan Kepala pelayan Tina terhenti.


Ketika Adrian yang sudah berpakaian kantor style rapi dengan tatapan dingin dan sorot mata tajam pada kepala pelayan Tina.


"Pergilah!"


"Bukankah kamu tugasnya hanya memasak dan mengatur para pelayan! Lalu untuk apa anda datang dan mengatur urusan pribadiku!" perintah Adrian.


Dengan nada dingin sangat tegas.


"Tapi tu-- Tuan..."

__ADS_1


"Aku tidak ingin berdebat! Pergilah kepala pelayan sebelum rasa hormatku padamu hilang!" seru Adrian lagi.


Dia yang memotong ucapan kepala pelayan Tina.


Kepala pelayan Tina yang mendengar ucapan Adrian akhirnya diam seribu kata dan pamit pergi sedangkan sekertaris Kim masih diam tidak berucap sepatah kata pun.


"Bacalah jadwal aku hari ini! Dan setelah itu pergilah!"


"Aku tidak ingin berdebat denganmu hanya karena gadis sampah itu!" kata Adrian.


Sambil kembali bercermin di kaca dengan penampilannya yang sangat-sangat tampan di mana rambut acak-acakan ke atas mengenakan kemeja putih garis biru.


Celana kain jas hitam sama dengan kainnya dan anting sebelah di telinga dengan kerak kemejanya yang dibuka sedikit memperlihat bidan dada yang sangat seksi dan menawan.


Ketampanan Adrian semakin hari makin sempurna yang membuat orang yang baru saja bertemu dengannya akan langsung terpesona dengan ketampanan Dia bagaikan dewa manusia.


"Yang terakhir anda bertemu dengan klien dari Korea untuk pendiri teknologi canggih di Korea selatan, Tugas tuan muda hanya menemani mereka makan malam di salah satu restoran bintang lima milik kita."


Jelas sekertaris Kim ketika dirinya yang sudah selesai membaca jadwal Adrian hari ini.


"Baiklah! Sekarang tugasmu sudah selesai pergilah!" perintah Adrian.


Dia meminta pada sekertaris Kim dengan sikap dingin yang masih santai bercermin dan tidak mempedulikan ucapan sekertaris Kim.


"Tuan muda anak itu hanyalah korban di sini. jadi harap anda tidak melewati batas seperti semalam lagi," jawab sekertaris kim.


Dia mengingatkan Adrian akan kejadian semalam.


"Apa maksudmu sekertaris Kim?" tanya Adrian suara berat.


Dengan memutar tubuh menatap tajam sekertaris pribadinya itu.


"Pikirkan saja semalam tuan berbuat apa untuk gadis itu," sahut sekertaris Kim.


Lalu pergi meninggalkan Adrian sendiri di sana.


"Apa?"


"Hei? Sekertaris Kim tunggu?" ucap Adrian


Dia yang emosi dan terus memangil nama sekretarisnya itu namun, tetap saja wanita paruh baya itu sama sekali tidak peduli dengan panggilannya.


"Dia menyalahkan aku? Beraninya!" bicara Adrian sendiri emosi sambil membanting tangannya dengan kasar di


meja.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2