
Stres kamu Adrian, batinnya.
Tok...
Tok...
Huffff...
Tarikan nafas panjang Adrian saat mendengar ketokan suara pintu Dia berpikir itu Afikah.
"AFIKAH! Apa kamu mau aku lempar dari rumah ini!" jerit Adrian emosi.
Dia menatap tajam suara ketokan pintu yang tiba-tiba langsung di buka oleh Adrian yang tidak lain adalah sekertaris Kim yang dikira oleh Dia adalah Afikah karena terus menggoda dan mengganggunya.
"Afikah? Apa aku salah dengar tuan muda? Aku tidak paham maksud tuan muda?" tanya sekertaris Kim bingung sendiri.
"Kamu toh. Aku pikir si gadis sampah itu!" jawab Adrian.
Masih emosi menghiraukan ucapan sekertaris Kim.
"Ada apa ini? Apa tuan muda tertarik dengan pilihan ini? Atau semacam jatuh cin..." ucapan sekertaris Kim langsung dicela oleh Adrian kembali.
"Jangan geer! Aku lagi tidak dalam mud baik membahas anak itu! Ambil ini! Dan siapkan mobil aku untuk pergi ke kantor!"
"Baik tuan muda. Tapi apa terjadi sesuatu antara tuan muda dengan nona?" tanya Sekertaris Kim penasaran.
Dia menerima jas kantor Adrian yang tadi dilempar padanya.
"Jangan banyak menyimpulkan sesuatu yang belum tentu kamu tahu kebenaranya!" jawab balik Adrian.
Masih dengan wajah dingin yang bagaikan es batu di kulkas sambil merapikan penampilan di cermin dengan kancing di kerak kemeja yang dibuka memperlihatkan kulit mulus putih bidan dada Adrian karena memang dia tidak menyukai kerak baju di kancing full hal itu semakin membuat Adrian tampan bak pangeran komik.
Setelah menjawab ucapan sekertaris Kim Adrian menyemprotkan parfum maskulin ke tubuh lalu Dia melangkah pergi dengan menyembunyikan kedua tangan di saku celana, mengambil salah satu kacamata hitam di tempat kacamata dan jam tangan.
Adrian melangkah dengan santai penuh kharisma yang membuat semua pelayan di rumah sedang bekerja di sudut-sudut rumah dibuat semakin tergila-gila padanya.
"Oh Tuhan...tuan muda semakin hari makin tampan," ucap salah satu pelayan rumah.
"Dia bukan manusia melainkan dewa dunia," imbuh yang satu lagi.
"Sangat tampan. Beruntung yang menjadi istrinya, nona muda..." lanjut yang lain.
Sekertaris Kim yang melihat dan mendengar ucapan para pelayan hanya tersenyum sambil melangkah mengikuti bosnya itu dari belakang.
Sebentar lagi Bucin akan datang padamu tuan muda, sebentar lagi gunung es itu perlahan mencair sama Afikah.
"Apa yang kalian lihat! Lanjutkan pekerjaan kalian! kaya tidak pernah melihat aku di rumah ini! ucap Adrian dingin.
__ADS_1
Menuruni anakan tangga menuju meja makan untuk segera sarapan.
"Maaf tuan muda!" jawab serentak pelayan rumah.
Membungkuk tubuh mereka ke bawah sebagai rasa hormat pada Adrian.
Adrian sama sekali tidak menangapi ucapan para pelayan dengan sikap dingin Dia melangkah terus menerus menuruni anakan tangga yang satu ke yang lain.
"Jidatnya meresahkan kenapa tuan muda mau style rambutnya seperti itu?Membuat jantungku seketika pindah ke ginjal," kata pelayan satu dengan pelan pada temanya yang lain.
"Selamat pagi tuan muda," ucap serentak semua kepala koki rumah dan anggota.
Para pelayan lain yang berbaris rapi memanjang dari samping kiri dan kanan di meja makan.
Seperti biasanya Adrian dengan wajah dingin tidak menangapi ucapan salam pelayan Dia mulai menarik kursi meja makan untuk segera menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh semua koki juru masak rumah.
"Hari ini apa menu sarapan pagi?" tanya Adrian.
"Hari ini aku menyiapkan menu sarapan roti telur sarapan khas masyarakat dari Italia, Mungkin tuan muda menyukainya," jawab kepala pelayan koki yang membuat sarapan roti dari Khae Italia.
"Enak. Sempurna masakanmu !" puji Adrian pada koki tersebut Setelah Ia mencicipi makanan itu.
Ini pertama kali Adrian memuji masakan koki biasanya Dia hanya menjawab "hem" atau menganggukkan kepala tanpa merespon atau menjawab seperti ini.
Hal itulah yang membuat semuanya menjadi bingung sendiri melihat satu sama lain termasuk sekertaris Kim dan kepala pelayan rumah Tina.
"Ada apa? Mengapa Anda menatap saya seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Adrian.
Di mana dirinya membersihkan mulut menggunakan kain khusus membersihkan mulut setelah makan.
"Hem...tuan muda lagi baik pagi ini, jadi jangan salah paham," seru sekertaris Kim.
Sambil batuk sedikit keras untuk memperjelas situasi yang sedikit aneh bagi semuanya.
Tuan mudaku lagi bucin wahai para pembingun jadi siap-siap akan perubahan sikap es batu yang pelan-pelan akan mencair...
Di mana si bodoh itu? Apa dia sengaja memancing amarahku? Karena terlalu baik padanya hari ini? batin Adrian.
Matanya mencari-cari setiap pelosok sudut rumah akan keberadaan Afikah yang sedari tadi tidak menampakan diri.
"Nona muda sedang menyiapkan bekal makan siang kantor untuk anda bawa tuan muda," ucap kepala pelayan Tina yang seperti tahu akan maksud dari gerak-gerik mimik wajah Adrian.
"Siapa yang mencari si otak idiot itu? Jangan mengucapkan hal tidak masuk akal!? ketus Adrian menyangkal.
"Nona apa anda sedang menyiapkan bekal makan siang tuan muda?" tanya sekertaris Kim.
Afikah ang saat itu muncul di tengah-tengah perdebatan Adrian dan kepala pelayan.
__ADS_1
Ah....
Kaget Afikah akan pertanyaan sekertaris Kim yang tersenyum manis padanya.
Adrian yang juga terkejut memutar tubuh menatap sekilas Afikah yang sedang memegang rantang makanan dengan ditutupi tas pink diluar.
Tas pink lagi! Dia pikir aku anak sd!
"Ya. Aku rasa tuan muda mungkin membutuhkan di kantor," jawab Afikah semangat.
Dia tersenyum penuh bahagia.
"Aku tidak butuh bekal! Aku bukan anak kecil!" jawab Adrian.
Bangkit berdiri dari duduk untuk segera pergi meningalkan meja makan.
"Mengapa? Ini masakan buatanku? Apa tuan muda tidak menyukainya?" tanya Afikah kecewa.
"Pake nanya lagi! Jika aku lapar tinggal aku makan di luar! Makan kembali masakanmu itu jika sayang kamu buang!" jawab Adrian dingin.
"Ini aku yang buat khusus untuk tuan muda masa aku makan kembali."
"Jangan karena sikap baik aku semalam sampai pagi ini kamu mengap bahwa aku melupakan masalah kita. Itu takan terjadi hapus jauh-jauh pikiran aneh dari otak bodohmu itu karena kamu bukan wanitaku!" tutur Adrian dengan kata panjang dan penekanan.
"JADI JANGAN MELEWATI BATASANMU!" tekan Adrian.
Masih dengan suara tegas akan ucapan pada kata-kata yang keluar dari mulut.
Terasa sesak di dada Afikah Ia menarik nafas dalam-dalam lalu meremas jari-jemarinya kuat dan tatapan dingin pada Adrian.
Sekertaris Kim yang mendengar dan melihat ucapan Adrian yang sama sekali tidak menghargai masakan Afikah. Mengelengkan kepala pelan masih heran dengan sifat keras kepala Adrian ini.
"Tidak apa-apa nona tuan muda tidak mau mungkin saja tuan Roni mau karena hari ini dia mengunjungi perusahaan tuan muda jadi dia akan bahagia jika mendapatkan masakan ini dari nona muda," ucap sekertaris Kim sengaja.
"Apa? Tuan muda Roni? Oh benar aku ingat sunguh sekertaris Kim?" tanya Afikah tidak percaya.
"Untuk apa aku bohong nona," jawab sekertaris Kim dengan suara keras.
"Kalo begitu bawa dan berikan pada tuan Roni."
Loh...loh...mengapa jadi Roni?
"Hei berani sekali kamu memasak makanan untuk pria lain? Tidak boleh!?"
"Kenapa?"
Pake nanya lagi bodoh..
__ADS_1
batin Adrian (hahhahah makanya jangan gengsi 😬)
Bersambung