Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 60 ( Mahkota Untuk Ayah).


__ADS_3

"Dia hamil, selamat Untuk tuan muda Adrian," ucap Dokter Nadia.


"Maksud dokter?" tanya Sekertaris Kim.


Ya Adrian yang masih gengsi dengan sikapnya yang tiba-tiba cemas dengan kondisi Afikah langsung bersikap dingin dan kembali fokus makan bersama Jenny di meja makan dan meminta Sekertaris Kim yang menemani Afikah.


Setelah diperiksa Gadis malang ini kembali ke meja makan untuk melayani Adrian dan Jenny seperti pelayan rumah pada umumnya.


Walau badannya lemas namun Afikah tidak peduli Ia tetap masih berusaha menjadi pelayan yang teladan.


Sedangkan Sekertaris Kim yang masih terbayang akan ucapan Dokter Nadia sangat bahagia walau ini hanya Sekertaris Kim yang tahu dan semua belum mengetahui hal ini termasuk Afikah yang percaya bahwa Dia hanya kecapean saja.


Dokter Dia sudah pergi saat ini semua orang ada di meja makan termasuk Afikah dan Adrian.


"Hari ini aku ingin pergi bersama kamu ke kantor tidak apa-apa, 'kan kalo aku ikut?" tanya Jenny.


Dia berkata saat makan bersama dengan Adrian di meja makan sambil menatap dengan dalam.


Ohok-ohok...


Batuk Adrian yang langsung kaget akan ucapan Jenny tersebut.


"Maksudmu?" tanya Pria itu bingung sendiri.


"Minumlah dulu. Aku tahu pasti kamu kaget karena tidak biasanya aku bersikap seperti ini," ucap Jenny tersenyum manis.


"Aku hanya ingin lebih dekat dengan kamu saja," tambah Jenny dengan tatapan dalam nan serius pada Pria dihadapanya itu.


Ucapan Jenny yang langsung pada intinya itu membuat Adrian cepat mengerti akan maksud ucapan Wanita ini.


Entah mengapa jawaban yang dulu Adrian pernah rasakan terasa biasa saja di benaknya seakan Pria ini sama sekali tidak ada rasa sedikit pun untuk Jenny dan Dia hanya menganggap Jenny sebatas teman tidak lebih dari itu.


Afikah yang saat itu sedang berdiri melangkah diam sambil menuangkan air putih yang ada di teko ke dalam gelas untuk diberikan pada Jenny dan Adrian.


Jenny yang melihat Afikah hanya diam tanpa tersenyum atau bersikap manis seperti biasanya pada Afikah.


"Kamu duduk di sini! Temani aku makan!" perintah Adrian.


Tiba-tiba yang langsung membuat kaget semua orang yang ada di sana termasuk Afikah.


Apa maksud tuan muda? batin sekertaris Kim yang kaget.


"Bukanya Dia tidak boleh makan bersama kita di meja? Mengapa tiba-tiba kamu bersikap seperti ini?" tanya Jenny.


"Dia adalah istri aku jadi wajar saja jika aku menginkan Dia makan bersama aku," jawab Adrian yang semakin mengagetkan semua orang termasuk Afikah lagi dan lagi.


"Apa?"


"Tapi Adrian bukanya kamu sendiri yang bilang kalo Dia adalah istri kontrakmu bukan sah jadi mengapa kamu seperti ini?"


Jenny yang semakin kesal akan sikap Adrian.

__ADS_1


"Itu karena..." jawaban Adrian tiba-tiba terhenti.


Afikah dengan berani mencela ucapan Adrian walau Gadis itu tahu bahwa Adrian paling tidak suka jika ucapanya dipotong oleh orang lain apalagi orang itu adalah Afikah.


"Hentikan tuan muda! Jangan memperumit keadaan maaf jika aku lancang," ucap Afikah tegas menatap dingin Adrian.


"Berani sekali kamu memotong ucapanku! Kamu pikir..."


"Maaf. Aku tahu aku adalah seorang pelayan biasa di sini jadi maaf,'kan aku. Tapi apa ..." belum selesai Afikah berucap ucapannya kembali dicela oleh Adrian.


"CUKUP!!!"


" Aku tidak suka berdebat!" Adrian mengeraskan rahang menatap dingin.


"Siapkan makan siang aku! Bawa ke kantor jangan telat! jika tidak ingin aku kasih hukuman lebih."


"Apa?"


"Sekertaris Kim siapkan mobil untuk aku ke kantor mudku hilang untuk sarapan,"


Adrian bangkit berdiri dengan sikap dingin menghiraukan ucapan Afikah dan tidak memberi kesempatan untuk Gadis itu berucap.


"Jen. Jika kamu mau ikut dengan aku ayo kita pergi bersama."


Adrian menatap Jenny yang sebenarnya masih bingung tapi seperti merasakan perbedaan dari sikap Adrian.


"Ah...Baiklah," jawab singkat Jenny bangkit berdiri juga dari kursi yang didudukinya.


"Jangan sibuk urusi itu ada pelayan yang nanti akan berisin tugasmu adalah antar aku ke mobil layaknya seorang istri," ucap Adrian dingin.


Dia melempar jas kantor ke wajah arah Afikah sambil dirinya melangkah dengan sangat kharisma dimana kedua tangannya disembunyikan ke dalam saku celananya.


Ini pertama kali tuan muda memerintah Afikah dengan terus mengatakan istri pada hal biasanya tuan muda akan berucap sampah lalu mengapa tiba-tiba Dia berucap seperti ini? Apa tuan muda menyukai Afikah? batin sekertaris Kim saat menunggu lebih dulu Adrian di mobil dengan pengawal lainya.


Jika benar maka berita kehamilan Afikah harus segera aku beritahu Adrian mau Dia suka atau tidak tapi ini merupakan kabar bahagia bahwa Tuan muda Adrian Arifin akan memiliki seorang keturunan.


Ada apa ini mengapa Adrian sama sekali tidak memanggil Afikah dengan sebutan sampah seperti biasanya, bungkam Jenny.


"Tepat pukul 12.00 wib antarkan makan siang aku! Ingat aku tidak suka menunggu," ucap Adrian dingin nan tegas.


Dia menatap Afikah dalam sambil membuka pintu mempersilakan Jenny masuk ke dalam mobil bersamanya namun, mata Adrian tertuju pada Afikah.


"Sekertaris Kim kamu bersama mobil pengawal lainya!"


"Siap tuan muda," jawab sekertaris Kim tegas sambil masih memantau Adrian.


Yang sudah masuk ke dalam mobil bersama Jenn, sedangkan Afikah tidak peduli akan sikap manis Adrian pada Jenny Gadis itu malah membungkuk tubuhnya ke bawah layaknya pelayan yang lainya saat mobil Adrian melaju pergi diikuti pengawal lainya.


Mengapa Dia sama sekali tidak cemburu? Ahh... jangan pedulikan hal sekecil ini sangat tidak Penting, batin Adrian.


Entah mengapa tiba-tiba Adrian menghentikan mobilnya sambil menelpon kepala pelayan Tina untuk memerintah Afikah tetap menunggu di depan pintu gerbang rumah.

__ADS_1


"Putar balik mobil kembali ke rumah!" perintah Adrian dingin pada supir.


"Apa kamu ketinggalan sesuatu?" tanya Jenny bingung.


"Hemm."


Adrian menjawab singkat dengan berdehem suara serak dan berat Dia.


Ada apa ini? Tidak biasanya tuan muda bersikap seperti ini, batin pelayan Tina.


Apa kesalahan tadi pagi karena memotong ucapanya? Makanya Dia mau memberikan hukuman untuk aku? batin Afikah polos bingung sendiri.


Saat Afikah yang masih dalam pikirannya sendiri tiba-tiba mobil Adrian sudah berhenti di hadapan Dia.


Dengan cepat Afikah segera membungkukan tubuh sebelum Adrian keluar dari mobil yang ditumpangi nya itu.


"Aku hampir lupakan kewajiban aku."


"Maksud tu--?" (Suara Afikah putus-putus).


CUP!


Adrian yang langsung menarik tubuh Afikah dan diberikan kecupan suara tapi terdengar manis dan romantis di kening Afikah di depan semua orang yang ada di sana.


Mereka semua kaget termasuk Afikah, sekertaris Kim dan Jenny serta yang lainnya.


"Aku menunggu kamu di kantor! Jangan telat atau aku akan berikan hukuman untukmu!"


Lanjut Adrian memeluk erat tubuh Afikah ke dalam dekapannya dalam beberapa detik.


"Apa yang tuan muda lakukan?" tanya Afikah.


Dia bingung sambil mendorong tubuh Adrian untuk jauh dari pelukannya itu namun tidak dengan Pria itu,


Adrian kembali menarik tubuh Afikah kembali memeluk Gadis kecil ini mengeratkan pelukannya pada tubuhnya.


Apa tuan muda mau kasih cemburu nona Jenny?


Hal seperti ini tidak mampan dengan aku Adrian Aku tahu kamu hanya mencintai Aku bukan Afikah jadi aku tidak akan cemburu...


Entah mengapa aku seperti tahu maksud tuan muda Dia sepertinya merasakan perbedaan sikap nona Jenny jadi Dia hanya ingin mengatakan bahwa Afikah adalah wanitanya bukan yang lain walau Tuan muda sendiri tidak menyadari hal itu.


inilah jawaban aku Jenny untuk ucapanmu tadi pagi, batin Adrian.


Sambil mengelus lembut rambut Afikah dengan menutup kedua matanya seperti pelukan hangat dan sangat ternyaman bagi Adrian sedangkan Afikah gadis itu malah bersikap biasa saja tanpa ada balasan pelukannya darinya.


Adrian hanyalah milik aku tidak yang lain termasuk kamu Afikah.


Akan aku pastikan pernikahan kertas ini berakhir dengan jelas, batin Jenny menatap tajam Afikah dengan meremas jari jemarinya sangat kuat.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2