Mahkota Untuk Ayah.

Mahkota Untuk Ayah.
Part 26 (Mahkota Untuk Ayah)


__ADS_3

"Perintahkan Afikah ke kamar saya sekarang juga!" perintah Adrian.


Pria itu berucap dengan suara beratnya pada kepala pelayan saat dirinya yang duduk santai di kamar dengan menelpon ke kepala pelayan melalui telpon rumah.


"Baik tuan muda," jawab singkat kepala pelayan.


Kepala pelayan yang masih berucap tidak sadar bahwa telpon pun sudah dimatikan oleh Adrian.


Kepala pelayan yang bingung akan sikap Adrian masih ragu-ragu namun, secepatnya ia menggelengkan kepala dan melangkah pergi menghampiri Afikah yang ada di kamar mandi sedang menganti pakaiannya yang basah akibat siraman air bekas tadi dari Adrian.


Ahhh...


"Aku pikir bertemu dengan Dia hidupku sedikit berubah namun, ternyata aku salah kini aku adalah buangan bekas sampah yang tidak akan hilang dari noda ini," bicara Afikah sendiri di cermin saat melihat bayangan diri yang ada di cermin.


Tatapan dingin nya sempat berubah menjadi tatapan sendu namun, secepatnya ia menarik nafas dalam-dalam lalu menenangkan dirinya kembali.


"Afikah kamu pasti bisa. Kamu itu wanita yang kuat bisa melewati semua ini, Tuhan pasti punya cara tersendiri mengapa sampai Ia yang mempertemukan kamu dengan pria yang merebut mahkotamu. Semangat," bicara Afikah sendiri menyemangati dirinya saat ia menatap bayangan diri masih di cermin sana.


Saat Afikah yang masih menyemangati dirinya tiba-tiba suara ketukan pintu kamar mandi dari luar membuat Gadis ini kaget sendiri dan segera menyelesaikan pembersihan pada dirinya.


Tok... tok...


"Ya!" sahut Afikah pada ketukan pintu yang masih berulang-ulang itu.


"Ini saya nona kepala pelayan!" ucap kepala pelayan.


Dia sedikit mengeraskan suara agar di dengar oleh Afikah.


"Bentar! Sahut Afikah lagi.


"Ada apa kepala pelayan?" tanya Afikah.


Gadis itu berucap saat membuka pintu kamar mandi dan mendapati kepala pelayan yang sedang berdiri di depan pintu.


"Nona tuan muda meminta anda ke kamarnya sekarang juga," ucap kepala pelayan.


"Aku? Mengapa?" tanya balik Afikah tidak percaya.


"Ya nona. Saya tidak tahu mengapa tuan muda memangil nona yang jelas dia ingin nona ke kamarnya sekarang juga. Cepatlah nona nanti tuan akan marah," jawab kepala pelayan mengiyakan ucapan Afikah.


Apes banget aku hari ini... nasib-nasib kenapa harus bertemu dengan manusia es itu shi? Apa cuma aku sendiri yang pelayan di sini? Untung karena utang budi nyawa pada Dia dan juga aku tidak punya tempat tinggal jadi beginilah kalo tidak sudah aku cabai dia pakai terasi sambal, batin Afikah ketika dirinya melangkah dengan lemas pada saat menggunakan lift menuju lantai tiga kamar Adrian.


Di sisi lain Adrian duduk santai di sofa dengan kedua kakinya dinaikan di atas tumpukan meja yang lain ia tersenyum-senyum dengan puas saat melihat cctv di ponselnya.


Namun, keanehan Adrian seperti biasanya kembali ia sudah mengonsumsi obat-obatan terlarang dan meminum alkohol entah apa yang ada dipikirannya intinya ia saat ini sudah dibawah pengaruh obat.


Di tengah-tengah kebahagian Adrian datanglah Afikah dengan wajah yang tidak semangat sama sekali menghampiri Adrian dimana saat itu Afikah sedang berdiri tegap di depan pintu kamar Adrian.


Dengan lemas Afikah mengetuk pintu kamar Adrian yang sedang tertutup rapat.


Tok... tok...


ketukan pintu kamar dari Afikah.


"Masuk saja! Pintu tidak di kunci!" ucap Adrian.


Suara berat itu dari dalam kamar dengan mengukir senyuman di sofa yang sedang ia duduk itu.

__ADS_1


Afikah pun membuka gagang pintu untuk masuk saat masuk mata Afikah melotot lebar-lebar ketika melihat Adrian yang tidak memakai baju sedang duduk dengan senyuman manis di sana.


Ia mempertontonkan tubuh sobek roti sis peak di bidan dadanya yang kekar dan sangat bagus lalu di atas meja ada banyak obat-obatan dan minuman alkohol berserakan di mana-mana. sedangkan tatapan mata Adrian menatap tajam Afikah seperti ingin memakannya dengan senyumannya sangat menakutkan.


Menyadari akan hal yang baru dilihatnya Afikah merasakan sesuatu buruk akan Ia hadapi malam ini dengan segera Gadis itu membalikan tubuhnya menghadap pintu untuk mau pergi.


Adrian tersenyum tipis saat melihat Afikah membelakangi dirinya.


"Untuk apa bersikap polos seperti itu? Bukankah tubuh ini sudah kamu rasakan? Apa kamu lupa malam dimana kita menikmati cinta itu!" ucap Adrian menatap punggung belakang Afikah dengan sorotan mata membunuh.


"Dirimu tidak usah bersikap seakan dirimu itu masih polos dan suci. Itu Sangat memalukan!" lanjut Adrian masih duduk santai menatap tajam punggung Afikah.


Hei aku memang merasakan tubuh itu tapi, waktu melakukan hal itu karena aku terpaksa lah sekarang aku tidak memaksakan diri, batin Afikah kesal.


"Putar tubuhmu itu! Leherku sakit mendongak!" perintah Adrian.


Dengan nada dingin dan masih rendah.


Afikah yang mendengar ucapan Adrian tidak mau memutar tubuhnya Ia masih pada pendiriannya berdiri tetap membelakangi Adrian.


"Berputar Lah!" perintah Adrian.


penuh nada yang tinggi dan mulai dalam emosi.


Namun tetap saja Afikah sama sekali tidak memutar tubuhnya gadis itu sama sekali tidak menangapi ucapan Adrian Pria yang melihat sikap Afikah menarik nafasnya dengan tatapan membunuh dan menahan gigi-giginya dengan sangat kuat di dalam sana.


"Tapi tuan apa tuan sudah..." ( ucapan Afikah terhenti ketika Adrian memotong ucapan nya).


"AKU BILANG PUTAR!!!" teriak Adrian.


Dengan nada tinggi dan wajah geram hingga suaranya bergemuruh keras memenuhi seisi kamar.


"JANGAN MEMANCING AKU MENGULANG KATA-KATAKU APA KAMU PAHAM!!!" Tekan Adrian.


Suara bernada tinggi Adrian dalam emosi sambil membanting kasar tangannya di meja dengan keras dan wajah merah penuh amarah hingga kuping ikut merah saking emosi dia.


Afikah yang mendengar ucapan Adrian ketakutan dengan cepat ia memutar tubuh menghadap Adrian lagi dan mengurungkan niatnya untuk pergi.


Adrian sudah bangkit berdiri menatap tajam Afikah dengan tatapan membunuh di sana, kaki dan tangan Afikah bergementar ketakutan.


"Kamu pikir kamu siapa? Angkat kepalamu itu!" perintah Adrian.


Masih dengan nada dingin namun masih tetap tinggi nadanya.


"Maafkan saya tuan. Tap-" ( suara Afikah putus-putus).


Ia melihat Adrian yang sudah membuka ikat pinggang di celananya sambil berjalan menghampiri Afikah dengan tatapan yang sangat menakutkan.


Apa yang ingin dilakukanya? Tuhan tolong aku...


"Gadis pemuas nafsu seperti kamu pantas mendapatkan hal ini!" kata Adrian dengan nada dingin dan langsung mendorong tubuh Afikah kasar ke ranjang kamar.


Lalu ia melipat ikat pinggang kulit itu dan mulai mencambuk keras tubuh Afikah.


Aaa....


Teriak Afikah kesakitan.

__ADS_1


"Sakit!!!"


Afikah kesakitan saat tubuh ini didaratkan dengan kasar oleh ikat pinggang dimana itu dia dicambuk dengan ikat pinggang yang ada ditangan


Adrian.


Gak kuat maafkan Author 😭


"Apa yang tuan..."


aaa... hiks...


Tangis Afikah ketika Adrian menyiksa dirinya dengan ikat pinggang yang dicambuk pada tubuhnya.


"Tuan jangan bunuh aku!" Afikah menangis.


Gadis malang ini menjerit dengan keras di bawah sana ketika dirinya yang masih ditatap tajam Adrian.


"Kamu pikir kamu siapa? Berani sekali membantah perintahku?" Suara berat Adrian.


Suara keras itu masih menggema dengan keras ketika ia menghentikan cambuknya pada tubuh Afikah.


"Wanita murahan sepertimu tidak pantas melawan aku!" Adrian langsung menjambak kasar rambut Afikah.


Di mana diri Gadis itu masih menangis isyak karena kesakitan.


Afikah tidak mengeluarkan suara rengekannya lagi, Ia hanya diam dengan tatapan dingin menahan rasa sakit ketika Adrian menarik keras rambutnya, tatapan Afikah sangat dingin dengan sisa air mata yang mengering di sana.


"Berani sekali kamu menatap aku seperti itu?" Geram Adrian.


Pria ini semakin marah akan tatapan dingin Afikah padanya tangannya yang satu mencengkram kuat dagu Afikah hingga Gadis kecil itu kesakitan.


"Sepertinya aku harus menyiksa dirimu ini lagi baru kamu turuti aku!" ucap Adrian.


Dengan nada kecil tapi menakutkan.


Lalu Pria itu melepaskan rambut Afikah dengan kasar dan mendorong keras tubuh kasar Afikah di bawah sana, Adrian kembali mengambil ikat pinggangnya untuk kembali menyiksa tubuh Afikah dengan kejam di bawah sana.


Semoga Ia terhenti melihat air mata Afikah namun saat ingatan dia mengatakan bahwa Afikah adalah gadis yang mau menjual harga diri karena uang rasa kasihan Adrian semakin membenci Afikah dan ingatan akan malam itu kembali berputar di kepalanya.


Adrian yang berdiri di hadapan Afikah bukanlah Adrian yang biasanya Melainkan Adrian yang pikirannya sudah dibawah pengaruh obat yang membuatnya melakukan hal kejam pada orang-orang di sekitarnya.


Afikah yang disiksa kembali oleh Adrian Gadis itu menahan sakitnya tanpa mengeluarkan suara namun, air mata terus menetes di bawah sana.


"Sekali lagi kamu hiraukan ucapanku kamu akan rasakan akibatnya sendiri!" ucap Adrian.


Suara tegas pada Afikah ketika ia yang sudah puas menyiksa gadis di bawah sana.


Setelah itu Dia melangkah dengan kaki lang ling lung menuju kamar mandi karena saat ini Adrian sudah terpengaruh oleh mabuk.


Sedangkan Afikah menangis dengan isyak di bawah sana namun, Ia tidak mengeluarkan suara sama sekali Ia hanya menangis dengan diam.


"Siapa pun tolong aku! Aku tidak ingin masuk ke dalam lebih lagi... hiks..." tangis Adrian di dalam kamar mandi.


Adrian menyalahkan dirinya yang menyiksa Gadis yang sama sekali tidak bersalah padanya pengaruh obat dan alkohol membuat Adrian lupa akan segalanya hati Dia benar-benar hancur saat ini.


Afikah yang mendengar Adrian menangis dengan keras di kamar mandi hingga suaranya memenuhi seisi kamar Gadis itu menghapus air matanya dan bangun dari kasur kamar melangkah dengan kaki yang tertatih-tatih menuju kamar mandi untuk melihat dan memastikan apakah benar Adrian yang menangis, saat ia ingin melangkahkan kaki dan tubuh kesakitan semua akibat bekas camb.ukan ikat pinggang tadi pada Afikah.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2